
Keesokan harinya, Encik Johan mengajak mereka mengunjungi Putrajaya. Sebuah kota yang ditata dengan sangat cantik dan terlihat sangat futuristik.
Nama kota ini diambil dari nama perdana menteri Malaysia yang pertama, Tunku Abdurrahman Putera.
Puan Norima tidak ikut. Mereka sengaja pergi naik transportasi umum, seperti bus dan kereta api. Encik Johan ingin Rumi terbiasa dengan transportasi umum di negaranya.
Di Stasiun KL sentral, Encik Johan menjelaskan bagaimana caranya membeli tiket kereta komuter KTM dan ERL, juga bagaimana cara membeli token monorel dengan menggunakan mesin otomatis. Uang kertas dimasukkan, dan langsung keluar uang kembalianya secera otomatis beserta tokennya. Kemudian cara memilih lokasi tujuan pada layar mesin.
"Kalau kamu ingin pergi ke tempat-tempat yang berada dalam wilayah Kuala lumpur ini, kamu bisa naik LRT, " Encik Johan memberi penjelasan. "Kalau kamu ingin pergi keluar kota Kuala lumpur, misalnya ke Bangi, Nilai, Seremban, dan lain-lain, silahkan naik KTM. Dan kalau ingin pergi ke Putrajaya, Cyberjaya, Sepang atau ke airport, silahkan naik ERL. Hanya 30 menit saja. Tapi harganya agak mahal."
"Kalau naik taksi, bagaimana, Encik? " Ibu bertanya.
"Oh, taksi sangat mahal di sini. Lebih hemat naik kereta api saja."
Dengan naik kereta cepat, mereka pergi menuju Putrajaya, sekitar 35 kilometer dari pusat kota Kuala lumpur.
Kini, Putrajaya merupakan pusat pemerintahan Malaysia, menggantikan Kuala lumpur. Jalanan di Putrajaya tidak terlalu padat seperti di Kuala lumpur.
Sesampai di Putrajaya, mereka naik bus Nadi Putera menuju dataran Putra yang berada di presint 1, sebuah lapangan dimana terdapat bendera-bendera dari seluruh negara bagian di Malaysia.
Di depan dataran Putra, terlihat bangunan kantor Perdana Menteri Malaysia, yang bernama Perdana Putera. Bersebelahan dengan Perdana Putra, terdapat Masjid Putera. Masjid ini dibangun pada tahun 1997 dan selesai pada tahun 1999. Letaknya berhadapan dengan danau Putrajaya.
Para wisatawan asyik menyusuri danau Putrajaya dengan menggunakan perahu boat. Dari danau Putrajaya, terlihat pemandangan Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin atau Masjid besi, Millenium monument, dan jembatan Seri Wawasan di presint 2. Karena letaknya ditepi danau, secara sepintas, masjid ini terlihat seperti masjid terapung.
Rumi, Syam, dan Ibu melihat bangunan gerbang masjid yang sangat tinggi dan megah dengan penuh kekaguman, perpaduan arsitektur modern dan tradisional yang berasal dari berbagai kebudayaan Islam.
Syam terus memotret dengan detail setiap hiasan Islami berbentuk geometris dan seni kaligrafi yang menghiasi masjid. Bentuk gerbang itu mirip dengan Masjid Hasan II di Maroko. Gerbang itu terbuat dari batu granit berwarna merah, berpadu dengan kayu bercorak coklat. Gerbang ini dilengkapi dengan ruang informasi dan tangga menuju tempat wudhu dilantai dasar. Bangunan masjid sendiri merupakan perpaduan arsitektur modern dan tradisional yang berasal dari berbagai kebudayaan Islam. Hampir seluruh bangunannya berwarna merah muda.
Mereka menyempatkan diri sholat disitu. Syam dan Rumi mengamati gedung-gedung megah dan berarsitektur cantik di Putrajaya. Mereka melewati Masjid Besi, Istana Darul Ehsan, Istana Melawati, Jembatan Seri Wawasan, Jembatan Seri Gemilang, dan masih banyak lagi.
Syam terus mengambil gambar tanpa henti. Sementara, ibu asyik berbincang-bincang dengan Encik Johan.
Mamangmurka mengikuti perjalanan mereka. Namun, ia melihat Rumi dan Syam tengah bersama seorang Kesatria Cahaya yang cukup hebat. Ia tidak mau gegabah melancarkan serangannya.
*
Hari terakhir, Ibu dan Syam di Malaysia.
Dari stasiun KL sentral, mereka naik kereta komuter menuju Batu Caves.
Mamangmurka juga ikut naik bersama mereka. Encik Johan merasakan ada Pekerja kegelapan yang mengikuti perjalanan mereka. Ia berniat menyergap Pekerja Kegelapan itu.
"Rumi, Syam,"katanya. "Kalian jaga Ibu disini."
"Baik, Encik," jawab Rumi dan Syam seretak.
Encik Johan terus mendeteksi dengan mata ketiganya. Ia berjalan menuju tempat Mamangmurka berada.
Mamangmurka terkejut dengan kehadiran Encik Johan. Ia pun beranjak dari tempat duduknya. Encik Johan mempercepat langkahnya.
"Hei, tunggu kamu," kata Encik Johan. "
Mamangmurka tidak menghiraukan Encik Johan. Ia mempercepat langkahnya.
Karena terdesak, ia mengarahkan telapak tangannya ke jendela kereta komuter. Dalam sekejap, terjadi ledakan hebat yang membuat kaca jendela itu pecah. Alarm berbunyi. Para penumpang di gerbong itu panik.
Encik Johan melindungi dirinya dari pecahan kaca.
Di antara kepanikan para penumpang, Mamangmurka mengubah dirinya menjadi tubuh astral dan langsung melesat keluar melalui jendela.
Encik Johan gagal menangkapnya. Tentu saja peristiwa ini menarik perhatian orang banyak. Polisi diraja Malaysia dan petugas kereta komuter datang.
Kereta komuter terpaksa dihentikan di stasiun Batu Kentomen. Para penumpang berhamburan keluar. Encik Johan berlari ke tempat Rumi, Syam, dan Ibunya.
"Kita harus segera keluar dari kereta ini," katanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Rumi.
"Nanti, saya ceritakan di Batu Caves."
Mereka turun di Stasiun Batu Kentomen. Dengan komuter yang lain, mereka menuju Batu Caves.
Batu Caves adalah tempat ibadah agama Hindu India di Malaysia. Letaknya berada didalam gua yang berada diatas bukit.
Sebagaimana tempat ibadah lainnya, kawasan ini dilapisi oleh energi pelindung berwarna keemasan yang sangat kuat.
Didepan Batu Caves, terdapat patung raksasa Dewa Murughan berwarna emas.
Dengan mata ketiganya, Rumi dan Syam bisa melihat Malaikat perang dengan cahaya berwarna kemerahan menghalau setiap energi gelap dan Pekerja Kegelapan yang masuk.
Gerombolan burung merpati terlihat memenuhi halaman luas di depan goa.
Untuk menuju gua, harus menaiki ratusan anak tangga. Di sekeliling anak tangga itu, terdapat ratusan kera.
"Kita sedang diikuti oleh Pekerja Kegelapan yang cukup hebat," kata Encik Johan. "Sejak di KL Sentral tadi, saya merasakan ada energi kegelapan yang mengikuti kita, sampai di dalam kereta api.
Saya mencari tahu asal dari energi kegelapan itu. Ternyata berasal dari seorang lelaki berjaket hitam yang menutupi wajahnya itu. Ia duduk di belakang kita.
Ketika lelaki itu melihat saya, ia tampak terkejut. Ia langsung beranjak dan mencoba kabur. Saya pun mengikutinya.
Karena terdesak, ia meledakkan jendela kereta dengan kekuatan sihirnya, sehingga timbul kepanikan. Dalam suasana semacam itu, ia mengubah tubuh fisiknya menjadi badan astral, dan langsung melesat pergi. Saya gagal menangkapnya."
Sementara Ibu tidak memahami apa yang dikatakan oleh Encik Johan, Rumi dan Syam mendengarkannya dengan antusias.
"Ini yang diceritakan oleh Ibu Ismunah waktu itu," kata Rumi. "Kita sedang diincar oleh Pekerja Kegelapan yang cukup kuat dari alam kegelapan tingkat tinggi. Kita berdua, Syam."
Syam terkejut. " Ibu Ismunah? Dia Kesatria Cahaya juga?"
"Iya, Syam. Malahan beliau adalah Ketua dari seluruh kesatria Cahaya di seluruh Indonesia. "
"Hah?" Syam merasa heran. "Ini sulit dipercaya. Dia nggak terlihat seperti orang yang luar biasa."
"Justru itulah, Ketua dari kesatria Cahaya yang ada diseluruh dunia seringkali muncul dalam wujud orang-orang yang dipandang tidak berharga. Inilah strategi mereka agar mereka tidak ketahuan."
"Dan aku juga kaget, ternyata Encik Johan adalah kesatria Cahaya juga," kata Syam.
"Bukan hanya saya," kata Encik Johan. "Tetapi juga istri saya, Encik David, Puan Hanizah, kedua anaknya, juga Abang Badrol, sopir yang mengantar kalian itu.
Selama di Malaysia, kamu dikelilingi oleh kesatria Cahaya. Jadi, kamu jangan khawatir dengan keselamatanmu.
"Wow...Dan mengapa Pekerja Kegelapan itu mengincar nyawa kita?" tanya Syam.
"Karena kita adalah Cahaya Kembar, " kata Rumi.
"Cahaya kembar? Maksudnya?" Syam bertanya.
Encik Johan menimpali, "Cahaya kembar adalah satu badan cahaya, yang karena kehendak Sang Sumber Semesta, terbelah menjadi beberapa tubuh cahaya, dan hidup di dalam beberapa tubuh fisik yang berbeda karena suatu misi besar di dunia ini.
Kekuatan Cahaya kembar itu kuat sekali, sehingga menjadi ancaman bagi Para Pekerja Kegelapan. Kalian semua harus berhati-hati.
Namun, selama berada di rumah saya, di kantor organisasi Charity, dan dirumah Encik David, kalian aman.
Di tempat-tempat itu, sudah saya letakkan kristal energi pelindung agar tidak bisa dimasuki oleh Para Pekerja Kegelapan.
Tetapi, diluar tempat-tempat itu, selain tempat ibadah, saya tidak berani menjamin. "
Rumi dan Syam mengangguk. Ibu tampak semakin bingung.
"Kalian sedang membicarakan apa sih? Ksatria cahaya?Pekerja gelap? Energi? Seperti dalam film saja."
Rumi, Syam, dan Encik Johan tertawa.
"Sudahlah Ibu. Tidak perlu dipikirkan," kata Encik Johan.
"Mi, ayo kita naik tangga itu bersama-sama, " kata Syam. "Kita hitung jumlah anak tangga itu."
"Ayo, "jawab Rumi. "Tapi, kalau salah satu dari kita ada yang salah, ada hukumannya. "
"Apa hukumannya, Mi? "
"Enaknya apa ya? "
"Hmm, bagimana kalau hukumannya selfie saja?" Syam memberi ide.
" Hanya selfie? Kurang menantang ah."
"Tapi selfienya sambil berpose mirip kera," jawab Syam sambil tertawa nyengir.
"Hahaha. Oke. Siapa takut? "
Dan mereka pun mulai menghitung tanpa bersuara. Satu... Dua.... tiga.... empat.... lima.... lima puluh... seratus.... dua ratus.... dan seterusnya. Syam sampai di puncak terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Rumi.
"Berapa jumlahmu, Mi?"
"Aku 272, Syam. Kamu berapa? "
"Uhm, 273. Hanya selisih satu angka, Mi."
Rumi membuka ponsel cerdasnya dan mulai membuka aplikasi google.
"Yes , Aku menang Syam," Rumi bersorak. Ia merasa puas karena berhasil mengalahkan saudara kembarnya.
"Memang berapa jumlahnya, Mi? "
"Aku yang benar. 272."
" Itu akurat tidak? "Syam masih meragukan kebenaran jawaban Rumi.
"Ya akurat lah. Aku buka di wikipedia kok. Memangnya kamu mau menghitung ulang dari awal?"
"Nggak mau ah. Capek. Lebih baik aku selfie dan berpose seperti monyet saja deh."
Syam pun berpose seperti monyet dan melakukan swafoto. Banyak orang yang berhenti dan menertawai Syam, termasuk Ibu dan Encik Johan.
"Ah, bocah-bocah ini," kata Encik Johan seraya menggelengkan kepala. Setelah puas melihat-lihat kuil yang berada didalam bukit kapur dan orang-orang India yang melakukan ritual, mereka meninggalkan Batu Caves.
Berikutnya, mereka menuju Dataran Merdeka dengan menggunakan komuter, turun di stasiun Masjid Jamek. Dataran Merdeka adalah sebuah lapangan persegi dengan tiang bendera raksasa setinggi 100 meter ditengah-tengahnya.
Dataran Merdeka merupakan saksi bisu kemerdekaan Malaysia dari Inggris pada tanggal 31 Agustus 1957.
Disekitar dataran Merdeka, terdapat beberapa bangunan tua seperti Sultan Abdul Samad building, Masjid Jamek, Katedral St. Mary, Royal Selangor club, City theatre, Museum tekstil, Old Railway station, National library, National gallery, dan sebagainya.
Kemudian, dilanjut dengan menggunakan kereta LRT ke Bukit Nanas, menuju Menara Kuala Lumpur.