
Abang Badrol.... Kamu? " Azlina terkejut sekali. "Apa yang kamu lakukan? "
"Ya, " kata Abang Badrol. "Aku terpaksa bekerja sama dengan Pekerja kegelapan."
"Tapi... kenapa?"Azlina gemetaran, masih tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
"Hahaha. Hanya dengan cara bekerja sama dengan Pekerja gelap, aku bisa mendapatkan kesaktian. Dengan kesaktian, aku bisa jadi orang sukses, kaya, dan berkuasa."
"Tapi kesaktian bukanlah jaminan kita untuk sukses, " Azlina menyanggah.
"Apa peduliku? " Abang Badrol menjatuhkan kristal pelindung dengan keras dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping.
"Tidak.... Tidak....," Azlina menjerit.
Sebenarnya, setelah menghancurkan kristal pelindung, Abang Badrol hendak menghabisi semua tubuh fisik kesatria cahaya yang ada di ruangan rahasia. Namun, keburu kepergok oleh Azlina.
Azlina segera berlari meninggalkan ruangan rahasia. Abang Badrol berusaha untuk mengejar dan membunuhnya. Ia berlari melewati tangga.
Mamangmurka membaca mantra anehnya dan dari telapak tangannya, muncullah ratusan Pekerja Kegelapan dengan berbagai wujud, ada tengkorak, pocong, manusia bersisik, manusia ular, dan masih banyak lagi.
Mereka memasuki kantor Charity dari berbagai arah. Angin kencang berhembus memasuki kantor dan menghancurkan benda-benda yang ada. Listrik padam.
Aizad terkejut dan terbangum dari tidurnya.
"Apa yang terjadi? " batinnya. "Akak Azlina.... Abang Badrol..."
Ia memanggil kakaknya, segera mengambil biola milik kakaknya dan meninggalkan ruang kerja ayahnya.
Sementara, dalam kegelapan, Azlina meraba-raba. Abang Badrol berusaha mencarinya. Ia bersembunyi dibalik sofa. Mata ketiganya melihat banyak Pekerja Kegelapan berseliweran.
"Sial, " umpatnya. "Aku tidak membawa biolaku."
Setelah kondisi sedikit aman, ia beranjak dari tempat persembunyiannya, menuju tempat kerja ayahnya untuk mengambil biolanya.
Ia mulai mengendap-endap, sementara Abang Badrol terus mencari. Tanpa sengaja, Aizad menabrak tubuh Abang Badrol. "Abang Badrol, apa yang sedang terjadi? "
Abang Badrol pura-pura tidak tahu. "Entahlah, saya juga tidak tahu apa yang terjadi. Saya sedang berjaga di luar, tiba-tiba, semua listrik padam... Ada angin kencang...."
"Dimana Akak Azlina? "Aizad bertanya.
"Entahlah, saya juga sedang mencarinya. "
Tanpa curiga, Aizad berjalan bersama Abang Badrol. Abang Badrol mengambil pisau dapur yang disimpan dibalik kausnya, Aizad tidak menyadarinya. Ia berniat menikam Aizad dari belakang.
*
Sementara itu, para kesatria cahaya terbang dengan cepat, kembali ke India, kemudian menuju Tibet. Mereka melintasi Istana Potala yang indah, kemudian melintasi gurun Gobi di Cina, dan tibalah mereka di Pegunungan Himalaya yang diselimuti salju abadi.
Mereka menembus kabut berwarna putih dan gunung bersalju. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia di pegunungan itu.
Dibalik gunung-gunung salju itu, terdapat satu wilayah rahasia yang dilapisi energi pelindung berwarna emas yang berlapis-lapis. Wilayah itu tampak menyala.
"Kita tiba di Shambala!" kata Puan Hanizah.
"Syukurlah, " kata Rumi dan Syam. "Kita tiba dengan selamat. "
Mereka semakin mendekat ke arah Shambala, menembus energi pelindung yang berwarna emas. Jumlah kesatria cahaya berkurang drastis setelah tiba di kawasan ini. Banyak kesatria cahaya yang tidak lulus ketujuh ujian tadi.
Rumi dan Syam begitu terpesona melihat istana-istana emas yang terbuat dari kristal, juga bangunan-bangunan diatas tebing yang juga terbuat dari emas.Dicelah-celah tebing itu, terdapat air terjun yang mengalir dan jatuh ke danau dibawahnya.
Semua penduduk Shambala adalah para kesatria cahaya dan para lama (para spiritualis dalam tradisi Tibet).
Mereka semua hidup dalam kesucian dan vegetarian. Umur mereka panjang-panjang, hingga ada yang mencapai seribu tahun.
Mereka mempelajari rahasia umur panjang, sebagaimana yang tertulis dalam gulungan-gulungan manuskrip kuno mereka.
Semua manuskrip itu disimpan di perpustakaan umum mereka.
Rumi memandang ke atas langit. Ia melihat pesawat-pesawat yang cukup unik, berwarna biru dan hijau.
"Itu pesawat luar angkasa kah? " tanya Rumi.
"Benar, " kata Puan Norima. " Itu pesawat-pesawat luar angkasa para Pleidian, Sirian, dan Arcturian. Sudah sejak ribuan tahun yang lalu, mereka berdatangan ke Shambala dan bekerjasama mengembangkan teknologi berbasis spiritual. "
"Wow, " kata Syam. "Ternyata, makhluk luar angkasa memang benar-benar ada ya? "
Encik Johan tertawa ringan, " Kamu pikir cuma ada manusia bumi di alam semesta yang maha luas ini? Hahaha.
Rumi dan rombongannya mengunjungi perpustakaan umum. Di dalamnya, terdapat jutaaan gulungan manuskrip kuno yang ditulis dengan tulisan-tulisan yang Rumi dan Syam tidak mampu membacanya. Namun, Encik Johan dapat membacanya dengan lancar.
Suara lonceng dibunyikan. Tanda bahwa acara akan segera dimulai. Mereka semua bergegas menuju kuil agung seribu pagoda yang terletak diatas gunung, yang dikelilingi oleh air terjun, pepohonan, dan bunga-bunga.
Tampak kera-kera liar sedang melompat diantara pepohonan itu. Bangunan kuil agung sangat luas sekali. Hampir semuanya terbuat dari kristal dan emas. Di dalam kuil itu, terdapat seribu pagoda.
Seluruh kesatria cahaya berkumpul di pelataran kuil agung. Mereka semua tampak hening dalam meditasi.
Para ketua dari seluruh dunia berada di tempat yang paling depan. Ibu Ismunah dan Encik David juga tampak disana. Mereka menghadap satu tubuh cahaya yang sangat terang.
Mereka memanggilnya Ibu Gaia. Ia terlihat seperti sosok wanita yang sangat tua dan bijaksana dengan kecantikan abadi. Ibu Gaia adalah kesatria cahaya senior yang memimpin seluruh kesatria cahaya yang ada di bumi.
Acara pertama adalah bermeditasi, sambil mengulang kalimat :" Semua makhluk berbahagia", hingga sepuluh ribu kali, diiringi dengan suara mangkuk tembaga yang dibunyikan oleh Para Lama. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan laporan pertanggung jawaban dari para ketua.
Masing-masing ketua menyampaikan berbagai permasalahan yang mereka hadapi di negerinya.
Ibu Gaia dengan bijak mengevaluasi setiap laporan mereka dan memberikan solusi-solusi cerdas.
Setelah semua ketua selesai menyampaikan permasalahan mereka, Ibu Gaia mulai memberkati seluruh kesatria cahaya dan memberi wejangan.
"Diberkatilah semua kesatria cahaya. Diberkatilah seluruh manusia.
Diberkatilah seluruh hewan.
Diberkatilah seluruh tumbuhan.
Diberkatikah semua makhluk halus. Diberkatilah semua unsur tanah, api, air, dan angin.
Diberkatilah seluruh energi.
Diberkatilah bumi dan seisinya.
Diberkatilah langit dan seisinya.
Semuanya damai, bahagia, tercerahkan, tercukupi, terlindungi, dan disempurnakan.
Wahai makhluk-makhluk kegelapan, kembalilah kepada cahaya dan pencerahan.
Wahai makhluk-makhluk cahaya, sekalipun makhluk-makhluk kegelapan memusuhi kalian, janganlah kalian ikut memusuhi.
Mereka adalah saudara kalian juga. Ketika kalian memerangi mereka, bukan berarti kalian membenci mereka. Tapi perangilah mereka dengan tujuan melepas energi negatif yang mengurung tubuh cahaya mereka dalam kegelapan.
Janganlah kalian memusuhi sesama manusia yang berada dalam pengaruh energi gelap, tetapi maafkanlah mereka, peluk mereka, kasihilah mereka.
Jika demikian, kalian telah melepas kegelapan mereka dengan cahaya.
Sebarkanlah cinta kasih tanpa syarat dan batas keseluruh bumi. Saat kenaikan bumi sudah dekat.
Patahkan semua pemikiran-pemikiran yang menyesatkan, yang membatasi cinta.
Biarlah energi cinta dalam tubuhmu mengalir deras, jangan ada yang membendungnya.
Energi cinta kasih yang benar akan menyembuhkan bumi. Namun, energi cinta yang salah justru menyakiti Jiwa.
Penuhilah bumi dengan kedamaian.
Seimbangkan antara energi feminim dan maskulin di bumi.
Damai di segala arah....
Damai disegala penjuru.... "
Ibu Gaia mengakhiri pidatonya. Selanjutnya, mereka berkeliling mengunjungi tempat-tempat menarik di Shambala.
Tubuh cahaya Syam dan Rumi bagaikan dua ekor kunang-kunang, saling berkejaran melewati sudut-sudut bangunan emas di Shambala.
Perasaan mereka menjadi bebas dan lepas begitu memasuki wilayah Shambala. Mereka seperti kembali ke masa kanak-kanak yang polos tanpa beban.
Keduanya seakan melakukan tarian cahaya yang sangat indah energinya. Mengelilingi langit, menembus awan-awan, kemudian menceburkan diri mereka ke danau Shambala yang jernih airnya, tanpa harus merasakan basah. Mereka melihat ikan-ikan yang berenang dengan penuh keceriaan. Barangkali, di seluruh bumi, ikan-ikan Shambala lah yang paling berbahagia.
Para Lama terlihat duduk hening dalam meditasi Vipassana nya di pinggir danau.
Setelah puas, mereka pun kembali ke Malaysia, ke tubuh fisik mereka masing-masing. Sedangkan Syam kembali ke Surabaya.
Dari Shambala ke Malaysia hanya ditempuh dalam beberapa menit saja dengan tubuh cahaya.