Light Warriors

Light Warriors
Bagian 36



Tibalah hari pertemuan agung Para Kesatria Cahaya di Shambala.


Waktu menunjukkan pukul 24.00. Encik David,  Encik Johan, Puan Hanizah,  Puan Norima,  Rumi,  Azlina, Aizad,  dan Abang Badrol berkumpul di kantor pusat Charity di Bandar Tasik Selatan. 


Karena belum cukup umur,  Azlina dan Aizad tidak diperkenankan ikut.  Abang Badrol pun tidak ikut,  menemani Azlina dan Aizad.  


"Azlina, Aizad, selama kita pergi,  jagalah tubuh fisik kami, " kata Encik David.  "Jangan biarkan ada Pekerja  kegelapan yang menyusup." 


"Baik, ayah, " jawab Azlina.  


"Serahkan semuanya kepada kita, " jawab Aizad.   


"Ada Abang Badrol yang menjaga kalian juga, " kata Puan Hanizah.  


Diam-diam,  Mamangmurka mengamati kegiatan malam itu di luar kantor Charity. Namun,  ia tidak bisa memasukinya karena pertahanan energinya terlalu kuat.


Ia mulai menyusun  rencana untuk menghancurkan semua kristal energi yang ada di kantor Charity.  


Setelah  Encik David memastikan kristal-kristal pelindung bekerja dengan baik,  Mereka berlima menuju ke ruangan rahasia. 


Setelah duduk bersila dan mengheningkan diri, Encik David mulai keluar dari tubuh fisiknya dan ia melayang di langit Kuala Lumpur,  bersama dengan Para Kesatria Cahaya lainnya. 


Encik David mengarahkan ribuan Kesatria Cahaya dari Malaysia yang terlihat seperti gerombolan kunang-kunang, menuju Shambala.  Diikuti oleh Rumi dan lainnya.  


"Wow, " Rumi melihatnya dengan takjub. 


Tubuh cahayanya,  bersama dengan tubuh cahaya Encik Johan,  Puan Norima,  Puan Hanizah, bergabung dengan gerombolan kunang-kunang itu. 


Nun jauh di kepulauan Indonesia,  Rumi melihat tubuh cahaya Ibu Ismunah melakukan hal yang sama dengan tubuh cahaya Encik David.  Tubuh cahaya Syam bergabung dengan rombongan dari Indonesia. 


Orang yang mata ketiganya terbuka dapat melihat langit dipenuhi bintang malam ini. 


Dari belahan dunia yang lain, tampak Para Ketua Kesatria cahaya yang lain memimpin ribuan kesatria cahaya dari negaranya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Encik David,  mereka menciptakan jalan yang terbuat dari sinar berwarna kuning keemasan, untuk dilewati Para kesatria cahaya.


"Memasuki Shambala tidaklah mudah, " kata Encik Johan.  "Diantara jutaan kesatria cahaya yang kamu lihat ini,  tidak semuanya bisa memasuki Shambala. Sebelum menuju Shambala,  ada tujuh titik yang harus kita kunjungi.  Titik pertama, titik yang terdekat, ada di atas Pura Besakih di Pulau Bali.  Titik kedua ada di atas candi Angkor Wat di Kamboja.  Titik ketiga ada diatas Gunung Penglai di Cina.  Titik keempat ada di atas Gunung Fuji,  di Jepang.  Titik kelima ada di atas Sungai Gangga, India. Titik keenam ada diatas kota Yerusalem.  Titik ketujuh  ada diatas Jabal Nur, di kota Mekah. "


"Wow....., " kata Rumi.  "Tubuh cahaya kita akan berkeliling dunia.  Tapi,  aku takut nggak bisa menjawabnya. "


"Dan aku juga akan membantumu, " Teja menimpali.  


Rumi tersenyum.  


Rumi berbicara secara telepati dengan  saudara kembarnya.  


"Syam,  kamu sudah siap? " 


"Sudah, Mi, " jawab Syam.  


"Syukurlah. Semoga kamu bisa menjawab semua pertanyaannya. "


"Tenang saja,  Mi.  Ada Agni yang selalu membimbingku.  " 


*


                                   


Azlina sedang memainkan biolanya, sembari mencatat-catat not balok dan not angka lagu ciptaannya.  Aizad sedang memainkan permainan sepak bola di  ponsel cerdasnya.


"Bosan sekali rasanya, " Aizad mengeluh."Aku ngantuk. Boleh nggak aku tidur sebentar? "


 


Azlina berhenti bermain biola. "Nggak apa-apa, Zad.  Nanti kalau akak mengantuk, ganti Akak yang tidur ya? " 


"Oke lah." 


Aizad pun merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.  Azlina kembali bermain biola dan menulis not. 


Tanpa mereka sadari,  seseorang menyelinap ke dalam dapur.  Ia membuka lemari tempat Encik David menyembunyikan salah satu kristal pelindung. 


Orang itu tertawa sinis.  Ia mengambil kristal berbentuk segitiga itu dan menghancurkannya. 


Ia segera meninggalkan dapur sebelum ketahuan oleh Aizad dan Azlina.