
"Baiklah," kata Syam. "Apakah kita bisa mulai belajar sekarang?"
"Mulailah dengan mengheningkan diri kalian dulu," kata Teja. "Pejamkan mata. Berzikirlah, berdoalah memohon perlindungan. Dan ketika kalian melihat sinar, biarkan saja sampai sinar itu membesar. Jika sudah membesar, masuklah kedalam sinar itu. Niatkan dalam diri kalian bahwa kalian ingin melepas tubuh fisik kalian."
Syam dan Rumi melakukan perintah kedua Malaikat pembimbing itu. Dalam sekejap, mereka sudah melayang diluar tubuh fisik mereka. Tubuh mereka terasa lebih ringan daripada biasanya.
"Wow," kata Syam.
Rumi melihat tubuh cahaya Sang Wali Tuhan. Ia tersenyum padanya dan Sang Wali Tuhan balas tersenyum padanya.
"Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh," kata Rumi.
"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh," jawab Sang Wali Tuhan.
"Semoga Tuhan melindungi kalian semua."
Tubuh Wali Tuhan itu menyinari tubuh cahaya Rumi dan Syam dengan energi positif dalam jumlah yang sangat besar.
"Terima kasih, wahai Wali Tuhan," kata Syam.
"Ikuti kami," kata Agni dan Teja.
Agni dan Teja membawa tubuh cahaya Rumi dan Syam meninggalkan kawasan wisata religi Sunan Ampel, melewati lapisan energi pelindung berwarna emas.
Tiga Pekerja Kegelapan berwujud makhluk astral bertubuh ular, berkepala wanita, bersiap-siap menyergap mereka dan menembaki mereka dengan energi-energi gelap. Rumi dan Syam berhasil menghindar. Agni menghancurkan tubuh mereka dengan sinar api.
"Bagaimana cara kami membalas serangan mereka?" Rumi bertanya.
"Niatkan saja untuk melontarkan tembakan energi positif kepada mereka," jawab Teja.
Rumi dan Syam mencoba menembak kearah salah satu Pekerja Kegelapan itu. Tetapi sinarnya lemah dan Pekerja Kegelapan itu berhasil menangkisnya.
Rumi dan Syam terus mencobanya lagi hingga berhasil mengalahkan Pekerja Kegelapan itu, sekalipun mereka merasa kelelahan. Agni dan Teja menghancurkan sisanya.
"Kalian harus sering-sering berlatih," kata Agni. "Gunakan kekuatan pikiran, hati, dan keyakinan kalian."
"Janganlah menembak mereka dengan kemarahan dan perasaan negatif kalian," Teja memperingatkan. "Gunakan perasaan positif kalian. Perasaan cinta kasih tanpa batas dan syarat adalah yang terkuat.
Ketika kalian menghancurkan mereka dengan sinar energi positif, bukan berarti kalian membunuh atau mengalahkan mereka, tetapi kalian melepas tubuh gelap mereka, energi negatif mereka, mengembalikan tubuh cahaya mereka.
Sekalipun mereka makhluk astral jahat, di dalam diri mereka tetap ada tubuh cahayanya, hanya saja sedang terkubur oleh tubuh gelap dan energi negatif."
Mereka melihat seorang pemilik toko tengah memarahi karyawannya karena berbuat kesalahan. Baik pemilik toko, maupun karyawannya sama-sama dihinggapi oleh Pekerja Kegelapan. Pemilik toko dihinggapi oleh Pekerja Kegelapan dengan wujud hantu pocong, sedangkan karyawannya dihinggapi Pekerja Kegelapan yang berwujud anak kecil bertanduk.
"Tembak mereka," kata Teja. "Dengan perasaan positif kalian. Katakan dalam benak kalian, bahwa kalian menyayangi mereka. Mencintai mereka sebagai makhluk Tuhan. Kalian tidak membenci mereka, tetapi ingin menyelamatkan mereka."
Syam dan Rumi pun menembakkan sinar energi positif berwarna putih kearah Pekerja Kegelapan yang menghinggapi tubuh pemilik toko dan karyawannya. Pekerja Kegelapan itu berubah menjadi titik cahaya dan langsung melesat naik ke langit. Tubuh gelapnya yang berbentuk hantu pocong dan anak kecil bertanduk itu hancur. Pemilik toko pun memaafkan karyawannya, begitu juga karyawannya. Keduanya berdamai.
Berikutnya, mereka melihat beberapa orang yang hendak melakukan aksi pembegalan. Mereka berboncengan dengan sepeda motor.
Ada lima Pekerja Kegelapan berwujud manusia tanpa kepala dan manusia bersisik menghinggapi mereka. Rumi dan Syam langsung menembaki mereka. Tubuh gelap Pekerja Kegelapan itu lenyap. Tubuh cahaya mereka melesat kelangit. Orang-orang yang berniat membegal itu langsung membuang senjatanya dan pergi. Rumi dan Syam berhasil menggagalkan aksi pembegalan yang mungkin akan memakan korban jiwa.
Setelah pembelajaran selesai, Teja dan Agni membawa tubuh cahaya Rumi dan Syam kembali ke kawasan wisata religi Sunan Ampel, kembali ke tubuh fisik mereka.
Sebelum meninggalkan kawasan Sunan Ampel, mereka berdua menghadap tubuh cahaya Sang Wali Tuhan. Dengan mata ketiga mereka, mereka bisa melihat dan mendengar Sang Wali bertutur kepada mereka. Mereka pun dengan seksama mendengarnya.
"Anakku, sejatinya kekuatan itu adalah yang bisa mengubah panasnya api menjadi sejuknya mata air, bukan yang malah membuat air menjadi panas dan mendidih, hingga air itu menguap dan hilang. Yang dapat mengubah binatang buas menjadi jinak, bukan malah membunuh binatang buas itu, dan membuat teman-temannya datang kepadamu untuk membalas dendam. Yang dapat mengubah kegelapan menjadi cahaya, bukan yang malah menjadikan yang gelap semakin gelap. Yang dapat mengubah raksasa menjadi Malaikat.
Tuhan, Sang Sumber atau apapun manusia menyebut Dia yang sesungguhnya tanpa sebutan ini, meliputi segala kekuatan dengan cintaNya.
Jika kalian memiliki kekuatan ini didalam diri kalian, sesungguhnya kalian telah memiliki kesaktian, tanpa harus memiliki jimat dalam bentuk apapun. Hanya kuasa Tuhan lah satu-satunya jimat yang kalian miliki. Tidak ada lagi.
Ada empat raksasa didalam dirimu sendiri. Mereka tidak lain adalah hawa nafsumu sendiri. Ingatlah, sekalipun mereka raksasa yang bertubuh besar, tetapi sesungguhnya mereka bodoh dan lemah.
Seperti itulah hawa nafsumu. Ada raksasa yang bersifat tanah, membawamu kepada kemalasan. Ada raksasa yang bersifat api, membawamu kepada kemarahan dan kesombongan. Ada raksasa yang bersifat air, membawamu kepada kesedihan, Ada raksasa yang bersifat angin, membawamu kepada pikiran yang tak terkendali. Kenalilah keempat raksasa didalam dirimu itu dan kendalikanlah dengan baik. Sucikanlah keempat raksasa itu, sehingga berubah menjadi keempat malaikat di dalam dirimu."
"Terima kasih atas nasihatnya, wahai Wali Tuhan," kata Rumi dan Syam seraya memberi hormat.
"Semoga Tuhan senantiasa merahmati dan melindungi kalian."
"Amin. "
Mereka pun berpamitan dengan Sang Wali Tuhan.
"Mata ketiga kalian itu bisa dibuka dan ditutup," kata Agni. "Jika kalian ingin menutupnya, karena mengganggu, kalian tinggal menyentuh dahi kalian dan niatkan untuk menutup mata ketiga kalian.
Sebaliknya, jika kalian ingin membukanya, lakukan hal yang sama dan niatkan untuk membuka mata ketiga kalian."
"Baik, Agni," kata Rumi dan Syam serentak. "Terima kasih. "