
"Mi, tadi Ibu lihat kamu berada di kios milik wanita tua yang ada dipinggir jalan itu, " Ibu menegur Rumi ketika ia baru saja tiba di kamar kos. "Ibu lihat kamu lagi cuci gelas disitu. "
Rumi mendengarkan ibunya berbicara. Jantungnya sedikit berdebar-debar. Raut wajah Ibu terlihat kurang menyenangkan.
"Memangnya sekarang kamu kerja di kios itu, Mi? " lanjut Ibu.
"Ah, nggak, Bu. " Rumi bertambah gugup.
"Lalu? "
"Aku cuma membantu Ibu Ismunah saja, Bu."
"Hmm.... membantu ya? " Ibu mengerutkan dahi. "Memangnya dibayar berapa kamu sekali datang, Mi? "
"Uhm, nggak dibayar, Bu. Aku ikhlas membantu."
"Hah?" Ibu tersentak kaget. "Kamu kok mau sih bekerja nggak dibayar?"
"Aku cuma ingin beramal, Bu. Aku kasihan melihat Ibu Ismunah."
"Mi, hidup zaman sekarang jangan jadi orang bodoh!" Ibu membentak. " Jangan mau bekerja nggak dibayar. Jangan mau diperas keringatmu. Nggak punya harga diri namanya."
"Tapi aku memang niat membantu kok, Bu."
"Membantu itu kalau kamu sudah nggak menderita. " Nada suara Ibu semakin meninggi. "Kalau kamu sudah kaya dan berkecukupan. Kalau sekarang ini, justru kamu lah yang harus dibantu. Kita semua yang harus dibantu. Kamu bilang kasihan dengan wanita tua pemilik kios itu, tapi apa kamu nggak kasihan dengan bapakmu? Nggak kasihan dengan Ibu? Nggak kasihan dengan Syam? Kita serba terjepit sekarang, Mi. Kita harus membantu keluarga kita sendiri. "
"Maksud aku bukan begitu, Bu," Rumi berusaha membela diri.
"Dan lagi, Mi, Ibu ingin kamu fokus dengan sekolahmu," Ibu menambahkan. "Nggak perlu kamu memikirkan orang lain. Kamu adalah harapan keluarga ini.Ingatlah, Ibu dan saudaramu sudah berjuang mati-matian demi membiayai sekolahmu."
Ibu meninggalkan Rumi sendirian. Ia bergegas mandi, berganti pakaian, dan langsung pergi.
"Syam, jaga Rumi dan bapakmu selama Ibu nggak ada, " pesannya kepada Syam sebelum meninggalkan kamar kos.
"Baik, Bu, " jawab Syam.
Dibalik lemari besar, diatas alas tidurnya, Rumi duduk sambil memeluk erat kedua lututnya sendiri. Kepalanya menunduk. Ia menangis. Ia merasa hampa dan sedih. Ia terus memikirkan kata-kata Ibunya barusan.
"Sudah, Mi. kata-kata Ibu nggak usah dimasukkan kedalam hati."
Syam menepuk pundak Rumi. Ia mengambil posisi duduk berhadapan dengan saudara kembarnya.
"Mungkin Ibu sedang kelelahan, Mi. Jadi bicaranya seperti itu. Kamu tahu sendiri kan pekerjaan Ibu seperti apa? "
Rumi menatap wajah saudara kembarnya dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. Syam balik menatap Rumi sembari tersenyum. Senyum yang penuh penghiburan dan kekuatan.
"Mi, aku percaya sama yang namanya hukum sebab akibat, " kata Syam."Hukum karma. Kalau kamu menanam suatu kebaikan, sekalipun nggak ada keuntungan apapun yang kamu terima sekarang, tetapi kamu akan menerimanya dikemudian hari. Pada saat yang tepat. Percayalah, Allah nggak pernah tidur."
Rumi tak kuasa berkata-kata lagi. Dipeluknya saudara kembarnya dengan erat. Air matanya mengalir semakin deras membasahi pundak saudara kembarnya.
"Mi, Sekalipun nggak ada satu orang pun di dunia ini yang mendukungmu, aku yang akan terus mendukungmu," kata Syam.
"Te... terima kasih, Syam," kata Rumi terbata-bata.
"Ceritakan apapun yang ingin kamu ceritakan kepadaku, Mi. Nggak perlu merasa malu. Aku akan terus menjadi telinga yang selalu mendengarkanmu. Jangan takut atau minder kalau kamu dipermalukan orang selama kamu nggak berbuat salah."
Rumi kembali tersenyum.
"Maafkan Ibu ya Mi. Aku mohon."
"Iya, Syam."
"Sip." Syam menunjukkan ibu jarinya.
*
Malam itu, Rumi tidak bisa tidur. Sekalipun Syam sudah berusaha untuk menenangkan perasaannya, ia masih saja memikirkan kata-kata Ibu.
Mengapa Ibu tega sekali berkata seperti itu? Padahal, niatnya membantu kan baik, pikirnya. Ia memejamkan matanya, berharap ia bisa bertemu dengan Teja. Rumi melihatnya.
"Mi, apakah setiap kamu melakukan suatu kebaikan, orang lain harus membenarkan dan memuji tindakanmu?" Teja bertanya.
"Nggak, " jawab Rumi. "Tapi aku juga tidak ingin dipersalahkan karena berbuat baik."
"Berarti, kamu belum ikhlas dalam berbuat kebaikan. kamu harus siap dipersalahkan dalam perbuatan baikmu dan jangan terlena jika dipuji."
"Entahlah. Aku bosan sekali malam ini. Aku merasa hampa. "
"Kalau begitu, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kamu mau tidak?"
"Jalan-jalan? Kemana? "
"Ke dalam dirimu sendiri. Kamu pasti suka. "
"Hah? Ke dalam diriku? Bagaimana caranya? "
"Pejamkan matamu."
"Iya, lalu?"
Rumi memejamkan mata. Ia melihat cahaya putih. Dan semakin lama, cahaya itu semakin membesar.
"Pasrahlah. Dan biarkan tubuhmu masuk kedalam cahaya itu. Konsentrasi. "
Rumi terus memusatkan pikirannya kedalam cahaya putih itu. Ia merasakan tubuhnya terserap ke dalam cahaya itu.
"Masuklah ke dalam cahaya itu. Cahaya itu adalah portal menuju Pusat kecerdasan semesta."
Rumi terus membiarkan dirinya terserap masuk. Kini, ia tidak lagi berwujud manusia. Ia berwujud titik cahaya. Dihadapannya, tampak jutaan sel-sel yang menyerupai bintang-bintang. Tampak untaian-untaian DNA. Ia melihat otak, jantung, paru-paru, sistem pencernaannya, dan organ-organ tubuh lainnya.
"Wow," Rumi takjub. " Dimana aku? "
"Kamu berada di dalam tubuh fisikmu sendiri. Di dalam Semesta kecilmu. Ini adalah lapisan pertama dari Semestamu sendiri, yaitu lapisan fisik. "
"Wow... "
Rumi melihat bagaimana otaknya bekerja menerima dan mengolah setiap informasi yang masuk, bagaimana paru-parunya mengelola sistem pernapasan, bagaimana jantungnya berdetak memompa darah keseluruh tubuh, bagaimana sistem pencernaannya bekerja, dan ia mengamati aliran darahnya.
"Semua organ tubuhmu ini terus bekerja sepanjang hari. Pernahkah kamu berterima kasih kepada mereka? "
"Belum pernah."
"Pernahkah kamu memuji mereka? "
"Belum pernah. "
"Bayangkan jika setiap mereka bekerja, mereka senantiasa mengharapkan pujianmu. Jika mereka tidak dipuji, mereka mogok kerja. Apakah yang terjadi? "
"Tentu saja semua sistem yang ada didalam tubuh fisikku tidak akan bekerja dengan baik. Dampaknya, aku jadi sakit-sakitan. Dan kalau aku sakit-sakitan, aku nggak mungkin bisa menjalani hidupku di dunia dengan baik."
"Maka, sebagai organ-organ tubuhNya, jalanilah perananmu di dunia ini tanpa berambisi untuk mengharapkan pujian. Berbuat baiklah, sekalipun tidak ada yang memujimu. Dan ketika kamu menyia nyiakan tubuhmu sendiri dengan tidak menjaga kesehatanmu dengan baik, tidak menjaga makanan, tidak memperhatikan asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuhmu, apakah organ-organ tubuhmu ini pernah mogok kerja? "
"Nggak pernah."
"Maka, tetaplah berbuat baik sekalipun kamu dicemooh dan ditentang oleh orang lain."
Semuanya organ tubuhnya menghilang. Suasana berganti menjadi gelap. Ada tujuh titik sinar dengan warna merah tua, oranye, kuning, hijau, biru muda, ungu, dan putih.
"Ini ada lapisan kedua dari Semestamu, badan halus dan badan energimu. Ketujuh titik sinar ini adalah titik-titik cakra yang mengatur energi-energi tubuhmu. Ia tidak terlihat dengan mata fisikmu. Tapi, dapat terlihat ketika kamu berada dalam wujud tubuh cahaya seperti ini. "
Kemudian suasana berubah menjadi ruangan dengan banyak sekali layar yang memainkan berbagai macam film yang diperankan sendiri oleh Rumi di berbagai kehidupan. Ada jutaan film jumlahnya.
Angin di dalam ruangan itu bergerak dengan sangat kencang. Tubuh cahaya Rumi terombang ambing dengan cepat tanpa arah. Ia tampak panik. Ia masuk kedalam satu film, ke film yang lain dengan cepat. Rasanya seperti naik roller coaster. "
"Waaa.... tolong aku... "
"Jangan panik. Kamu berada di lapisan ketiga dari Semesta dirimu. Lapisan pikiran dan perasaan. Pusatkan konsentrasi agar kamu bisa mengendalikan pergerakan dirimu diruangan ini. "
Rumi pun memusatkan konsentrasinya. Ia mencoba hening. Perlahan, pergerakan tubuh cahayanya melambat. Ia tidak lagi bergerak tanpa arah. Ia menjadi semakin tenang.
"Pikiran dan perasaanmu bergerak tanpa arah. Berbagai emosi datang silih berganti. Pikiran yang liar inilah sumber ketidak bahagiaanmu. Maka, tenangkanlah pikiranmu. Pusatkan perhatianmu hanya pada masa kini, bukan masa lalu, atau masa depan."
Suasana berubah lagi menjadi sebuah kolam yang jernih airnya, dengan banyak sekali bunga teratai cahaya yang sangat indah.
"Ini adalah lapisan keempat dari Semesta dirimu. Lapisan kebijaksanaan."
"Indah sekali pemandangan disini, " kata Rumi. "Damai sekali rasanya."
"Kamu hanya bisa memasuki lapisan ini jika kamu sudah bisa mengendalikan dirimu di lapisan pikiran dan perasaanmu tadi. Artinya, kebijaksanaan dari dalam diri hanya bisa diperoleh ketika kamu sudah menata dan mengendalikan pikiranmu dengan baik. "
Suasana berubah lagi menjadi sebuah sistem tata surya dengan gugusan bintang yang tak terhingga banyaknya. Rumi melihat banyak matahari, banyak bintang, banyak planet, dan banyak benda-benda langit. Rumi merasa tubuhnya melebur dan meliputi seluruh sistem tata surya ini. Rumi sudah tidak dapat menjelaskan seperti apa bentuk dirinya di lapisan ini.
"Ini adalah lapisan kelima dari Semesta dirimu. Lapisan kosmik. Ini lapisan yang lebih tinggi daripada lapisan kebijaksanaan. Di lapisan ini, kamu memiliki kesadaran penuh bahwa kamu meliputi semua tata surya ini didalam dirimu sendiri dan kamu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh tata surya di alam semesta diluar dirimu yang luasnya tak terhingga. "
"Wow.... "
Kemudian, semua pemandangan itu lebur dan terserap dalam satu kegelapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun hening sekali.
"Inilah diri sejatimu. Setelah kamu melampaui semua lapisan Semesta kecilmu. "
"Aku ingin terus berada disini, " kata Rumi.
"Belum waktunya, Mi. Sekarang, bukalah matamu. "
Rumi membuka matanya. Ia sudah kembali ke tubuh seorang Rumi, di alas tidurnya. Terdengar suara dengkuran Syam yang semakin keras.
Rumi begitu takjub dan hampir tidak percaya dengan pengalaman yang baru saja dialaminya. Rasanya seperti mimpi saja, tetapi terasa nyata sekali.
"Terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan, Teja. Ini perjalanan yang paling hebat dalam hidupku."
"Perjalanan tadi itu belum apa-apa, Mi. Nanti, kamu akan mengalami perjalanan yang lebih hebat lagi. Tapi tidak sekarang. Tidurlah, Mi."
"Iya, Malaikat kecilku. Selamat malam."
"Selamat beristirahat, anak manja."