Light Warriors

Light Warriors
Bagian 24



Entahlah, ini suatu kebetulan atau memang pertanda dari Nya. 


Rumah tinggal orang tua asuh Rumi berada di lantai sebelas dan bernomor seratus sebelas, sama dengan tanggal lahir dan jam lahir Rumi dan Syam. 


Sebuah rumah tinggal yang cukup mewah,  berada di pusat kota Kuala Lumpur.  Tepat dari jendela balkonnya,  terlihat dengan jelas Menara Kembar Petronas.  Pastinya, akan terlihat sangat cantik di malam hari.  


Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh empat tahunan bersama istrinya menyambut kedatangan Rumi dan keluarganya dengan hangat. Dialah Encik Syed Johan dan Puan Siti Norima. 


Ibu menyalami mereka berdua. Rumi dan Syam bergantian mencium tangan pasangan  suami istri itu.  


"Silahkan duduk, " kata Encik Johan dalam bahasa Malaysia. "Tidak usah malu. Anggaplah rumah sendiri." 


"Terima kasih, " jawab Ibu. 


Encik Johan melihat Rumi dan Syam dengan sedikit bingung."Nah, wajah kalian serupa. "


Semua orang tertawa.


"Nama saya Rumi, Encik, " Rumi memperkenalkan diri.  


"Dan nama saya Syam."


"Kalian semua tampan ya, " Puan Norima memuji.  "Nama kalian seperti pujangga sufi. Pernah dengar tidak kisah Jalaludin Rumi dan Syam Tabrizi? " 


Rumi dan Syam menggelengkan kepala.  


"Rumi itu seorang pujangga ternama dari Konya, Turki," kata Puan Norima." Syam Tabrizi adalah guru spiritual Rumi. Rumi sangat cinta dengan gurunya. Kemanapun mereka pergi, mereka selalu bersama .


Karena Syam Tabrizi,  Rumi mengenal cintanya pada Tuhan. Namun tragis,  konon Syam menghilang, ada yang bilang mati dibunuh oleh murid-murid Rumi yang tidak suka dengan kedekatan mereka berdua.


Rumi sangat kehilangan gurunya itu. Oleh karena itu, Rumi menciptakan tarian berputar dan banyak menulis untuk mengenang guru yang dicintainya itu."


Ibu tersenyum. "Dulu saya sempat membaca puisi-puisi Jalaludin Rumi."


"Oh, begitu, " kata Puan Norima. Pantaslah ibu memberi nama mereka berdua untuk anak kembar ibu."


"Saya sudah mengetahuinya semua," kata Encik Johan."Apa yang telah kalian kerjakan di Indonesia. Encik David sudah bercerita semua kepada saya."


"Encik David? dan istrinya, Puan Hanizah? " Rumi bertanya.  " Bagaimana kabar mereka berdua? " 


"Syukurlah, mereka berdua sehat,  " jawab Puan Norima. 


"Saya dan Encik David sudah lama berteman, "kata Encik Johan.  "Semenjak kami kecil,  kami sudah saling dekat. Dan kini, kami pun berjuang bersama-sama dalam organisasi Charity.


kami mendidik pemuda dan pemudi agar mereka melakukan suatu kebaikan untuk kemanusiaan.


Sudah banyak anak-anak sepertimu dari seluruh dunia yang berawal dari nasib yang kurang baik,  miskin,  dan tidak bersekolah.


Namun,  karena ada niat yang kuat untuk membantu sesama dan melakukan pelayanan untuk semua manusia, kami pun berkenan membantu mereka. Menyekolahkan mereka sampai tingkat perguruan tinggi. Saat ini, banyak dari mereka yang nasibnya berubah menjadi lebih baik.


Selain bantuan dari banyak negara di seluruh dunia,  kami juga mendapat bantuan dana dari anggota kami di seluruh dunia."


"Wah, luar biasa sekali, " Ibu menanggapi. "


"Betul," kata Encik Johan. " Organisasi kami juga telah banyak membantu anak-anak korban peperangan di Vietnam dan korban genosida di Kamboja semasa rezim Pol pot, tahun 1975-1979.


Kalau saya tidak salah ingat, waktu itu, saya dan Encik David masih berumur 17 tahun.


Kami sudah pergi ke kamp-kamp pengungsian penduduk Kamboja yang berada di wilayah perbatasan Kamboja dan Thailand.


Mencekam sekali waktu itu. Seringkali pada malam hari, terdengar suara ledakan.


Kami juga membantu korban pembantaian di Bosnia, Rwanda, dan di Timur tengah. Juga waktu tsunami di Aceh dan Thailand pada tahun 2004 silam.


Kita memberikan banyak bantuan berupa bahan makanan, obat-obatan, juga mencarikan orang tua asuh bagi anak-anak yang kedua orang tua mereka meninggal dunia akibat bencana alam itu.


Banyak dari mereka yang kehilangan keluarga, harta benda, tempat tinggal. Ada yang sampai terluka dan cacat karena terkena ledakan bom dan senjata api.


Kini, alhamdulillah, banyak pula dari mereka yang hidupnya berhasil. Ada yang jadi seorang pengusaha. Ada yang turut bekerja untuk kemanusiaan bersama organisasi kami." 


"Kalian ingin minum apa? " Puan Norima bertanya.  


"Ah, tidak perlu repot-repot, Puan, " kata Syam."Air putih saja. "  


"Nor, buatkan mereka teh halia saja, " kata Encik Johan kepada istrinya.  


"Baiklah, " jawab Puan Norima.  


"Jahe kalau dalam bahasa Indonesia," Encik Johan menjawab. "Kami menyebutnya halia." 


"Oh, begitu, " jawab Ibu.  


"Mi, di Malaysia ini ada banyak universitas," kata Encik Johan. "Coba kamu pikirkan bidang studi apa yang ingin kamu ambil. Pilih lah yang menjadi bakat dan minatmu."


Encik Johan mengambil beberapa brosur universitas Malaysia di laci meja dan memberikannya kepada Rumi.  


"Saya ingin mendalami sains," jawab Rumi.


"Ah, kalau begitu,  kamu bisa mengambil kuliah di UKM. Universitas Kebangsaan Malaysia. Terbaik itu. " 


"Kamu mantabkan pilihanmu, Mi, " kata Ibu.  "Jangan sampai salah pilih. " 


"Iya Bu, " jawab Rumi.  "Saya memang ingin mendalami sains."


"Bagus itu, Mi" kata Syam.  "Aku yakin Mi, kamu bakal jadi seorang profesor yang sukses dan ternama setelah lulus. " 


"Amin."


Puan Norima menyuguhkan teh jahe kepada mereka.  Buru-buru Syam menyeruputnya sampai tinggal separuh. Rumi menyikutnya lagi.


 "Haus ya? " bisik Rumi." Pelan-pelan dong kalau minum.Malu. " 


Syam tertawa nyengir." Maaf, maaf, Tuan besar Rumi." 


Puan Norima tersenyum. "Bagaimana?  Segar tidak teh halia Malaysia? " 


"Segar sekali, " jawab Syam.  


"Ngomong-ngomong, Encik dan Puan tinggal berdua saja kah? " tanya Ibu.  


"Iya, " jawab Encik Johan." Kami sudah terbiasa hidup berdua saja. Kami tidak mempunyai seorang anak. " 


"Karena itulah, kami bahagia jika Rumi tinggal disini menemani kami," Puan Norima menanggapi.


Rumi  tersenyum.  


"Kami juga bahagia jika Ibu dan Syam sering-sering berkunjung kemari," kata Encik Johan.  "Anggaplah ini rumah kalian sendiri." 


"Terima kasih, Encik, " jawab Syam.  


"Untuk saat ini,  Syam harus menyelesaikan sekolah menengah di Indonesia dulu," kata Encik Johan. "Setelah itu,  bisa menyusul Rumi  kuliah di Malaysia." 


"Terima kasih, Encik," jawab Syam." Tapi saya memilih melanjutkan pendidikan di Indonesia saja. "


"Lho, kenapa? " tanya Puan Norima.  


"Kalau saya ikut kuliah di luar negeri,  siapa nanti yang menjaga Ibu? " kata Syam. "Jadi, biarlah diwakilkan oleh  Rumi saja. "


Syam menatap wajah saudara kembarnya dan tersenyum padanya.  Ibu terharu mendengar kata-kata anaknya itu.  


"Syam, kalau kamu mau, Ibu nggak keberatan kok tinggal sendiri, " kata Ibu.  


"Nggak, Bu, " jawab Syam.  "Aku mau bersama Ibu saja di Surabaya. Ini sudah keputusanku." 


"Makasih ya Syam, " kata Rumi .


Ponsel cerdas milik Encik Johan berdering.  Encik Johan menjawab teleponnya.  


"Oke, oke, " katanya.  "Pukul tujuh ya? " 


Encik Johan menutup teleponnya. 


 "Dari Encik David. Dia mau ajak kita makan malam di KLCC. Pukul tujuh malam." 


Encik Johan melirik jam dinding di ruang tamunya. "Masih jam empat sore. kita masih punya waktu tiga jam. Nah,  ada waktu bagi kalian untuk beristirahat. Kita punya tiga kamar di rumah ini. Satu kamar kita tempati. Dua kamar lagi kosong." 


"Baik, Encik,  " kata Rumi.  


"Satu kamar boleh ditempati Ibu kalian," kata Encik Johan. "Satu kamar lagi untuk Rumi dan Syam. Kalian tidak keberatan kan tidur berdua? " 


"Tidak apa-apa,  Encik," jawab Syam. "kami biasa tidur berdua kok" 


"Baiklah," kata Encik Johan.