
Angkot yang ditumpangi Rumi berhenti di terminal Joyoboyo. Tanpa sadar, ia terus diawasi oleh laki-laki jangkung berjaket hitam.
Selanjutnya, ia harus berjalan kaki lagi menuju kos-kosan. Ia melewati jalan raya Wonokromo. Banyak tenda-tenda warung berjajar di pinggirnya, juga bermacam-macam toko.
Matahari terasa sangat panas di kota Surabaya. Tidak tampak ada awan yang menutupi panasnya sang surya. Tubuh Rumi berkeringat membuat seragam sekolah yang dikenakannya basah kuyup.
Rumi melirik uang dalam dompetnya. Hanya ada selembar uang lima ribuan yang tersisa. Cukup untuk membeli minuman.
Di antara semua warung yang ada, ada satu kios yang menarik pandangan mata Rumi. Tidak besar, berbentuk persegi panjang dan terbuat dari kayu. Tidak banyak variasi makanan yang dijualnya. Beberapa air mineral, minuman ringan, rokok, dan beberapa nasi bungkus yang dijual sejak pagi tadi. Entah masih enak atau sudah basi.
Seorang wanita tua sedang duduk-duduk menjaga kios itu. Wajah dan tubuhnya tampak keriput. Sepertinya, wanita itu lelah sekali menjalani hidup. Namun, sorot matanya tampak teduh. Ada setitik cahaya yang membuatnya tetap optimis.
Di dalam kiosnya, seorang pria yang usianya lebih tua sedang tertidur pulas. Karena kios itu sempit, pria tua itu terpaksa menekuk tubuhnya.
Entah kenapa, Rumi tertarik mendatangi kios itu dan membeli minuman.
" Bu, saya pesan es teh satu gelas, " katanya kepada wanita tua itu.
Wanita itu tersenyum ke arah Rumi. "Duduklah, Nak," katanya. "Kamu pasti kecapekan sepulang sekolah."
"Terima kasih, Bu, " jawab Rumi. Rumi duduk di bangku kayu yang tadi di duduki oleh wanita tua itu. Sementara, wanita tua itu membuatkan segelas es teh untuk Rumi.
Rumi mengamati kios itu. Dilihatnya suami wanita itu yang sedang tertidur pulas. Di leher lelaki tua itu, ada semacam benjolan besar. Pastilah lelaki itu menderita semacam penyakit dan tidak ada biaya untuk berobat.
Memang, Rumi selalu merasa prihatin dengan kondisi bapaknya dirumah. Namun, ternyata masih ada yang lebih menderita dibandingkan dengan keluarganya. Ia masih beruntung punya saudara kembar yang kuat untuk bekerja.
Ibu sendiri tidak terlalu tua. Sedangkan wanita dan lelaki pemilik warung ini?
"Di minum es tehnya, Nak. " Wanita tua itu membuyarkan lamunan Rumi.
"Oh, terima kasih, Bu," kata Rumi. Wanita tua itu tersenyum. Ia melihat Rumi dengan tatapan yang begitu mendalam.
"Ibu tinggal dimana? " Rumi bertanya. Es teh dalam gelasnya masih tersisa separuh.
"Saya aslinya Ngawi, Nak, " katanya. "Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tapi disini, saya ya tinggal di kios ini.Menggelar tikar disini. Lelaki yang tidur di dalam kios itu adalah suami saya. Kami tidak punya uang untuk membayar kamar kos."
"Ya Tuhan, " Rumi sedikit terkejut. "Kalau hujan bagaimana, Bu? "
"Ya cari tempat untuk berteduh, Nak. Kios ini saya tutupi kain terpal. Saya dan suami saya menumpang berteduh diwarung sebelah."
"Keluarga Ibu di Ngawi bagaimana?"
Wanita tua itu tersenyum, " Saya tidak punya keluarga di Ngawi. Saya hanya punya suami saya."
"Anak Ibu?"
Wanita tua itu terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca, tapi ia buru-buru menyekanya.
"Dulu, saya punya anak seusia kamu. Anak kami satu-satunya."
"Di mana dia sekarang? "
"Meninggal dunia, Nak. Kecelakaan sewaktu dibonceng oleh temannya," Wanita tua itu bertambah murung.
"Ya Tuhan, " Rumi menutup mulutnya. Kali ini, Rumi ikut ikutan terharu. " Maafkan saya, Bu. "
"Tidak apa-apa. Siapa nama kamu, Nak?
Kamu mirip sekali dengan anak saya. "
"Saya Rumi, Bu, " Rumi menyalami tangan keriput wanita tua itu. "Nama Ibu siapa? "
Rumi menyeruput sisa es tehnya.
"Mi, nama kamu mirip dengan nama almarhum anak saya lho."
"Iya kah? Siapakah nama anak Ibu? "
"Namanya Rohman, Mi."
Rumi tersenyum. Rumi melihat gelas-gelas yang berserakan.
"Itu gelas-gelas kotor, Mi. Saya belum sempat mencucinya."
"Cucilah semua gelas kotor itu,Mi," kata Teja.
Rumi memejamkan matanya dan melakukan dialog batin lebih lanjut dengan Teja.
"Mengapa aku harus mencucinya?"
"Kamu nggak kasihan melihat Ibu Ismunah? Tidakkah hatimu terketuk untuk membantunya?" Teja balik bertanya.
"Hmm, baiklah," jawab Rumi.
"Jangan lupa bantu membersihkan kiosnya juga."
Ibu Ismunah heran melihat Rumi memejamkan matanya. Ia memandang remaja dihadapannya itu dengan serius.
"Hmm, kalau begitu, saya bantu mencuci gelas-ya, bu? " kata Rumi.
"Eh, nggak usah, " kata Ibu Ismunah. "Nanti kamu capek lho. "
"Nggak apa-apa,bu. Saya sudah biasa capek kok. "
Rumi langsung bangkit dari tempat duduknya. Dan mencuci gelas-gelas kotor yang berserakan itu. Setelah itu, ia membantu merapikan kios Ibu Ismunah.
"Nah, sudah beres. Begini lebih enak dilihat, Bu," Rumi tersenyum.
"Terima kasih ya. Maaf, saya belum bisa membayarmu," Ibu Ismunah merasa malu.
"Oh nggak apa-apa, Bu. Saya ikhlas kok. Saya memang niat membantu Ibu"
"Hatimu mulia, Mi, " kata Ibu Ismunah. " Jarang ada anak muda sepertimu yang masih ingat sama wanita tua miskin seperti saya."
Rumi tersenyum. Ia mengeluarkan selembar uang lima ribuan di dompetnya dan membayar es tehnya.
" Rumi, " kata Ibu Ismunah." Kamu bawa pulang nasi bungkus yang ada di meja itu ya. "
"Wah, nggak perlu repot, Bu."
" Nggak apa-apa kok, Mi. Itu sisa dagangan pagi tadi. Sayang kalau nggak ada yang makan. Biasanya saya buang."
" Oh begitu ya. Terima kasih ya, Ibu Ismunah."
"Sama-sama, Mi."
Rumi mengambil beberapa nasi bungkus yang ada di kios dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Tidak lupa mencium tangan Ibu Ismunah sebelum bergegas pulang.
"Luar biasa sekali anak itu, " batinnya.
Masih terngiang dalam pikirannya ketika Rumi memejamkan matanya tadi, dan tiba-tiba Rumi menawarkan diri untuk membantunya mencuci gelas kotor dan merapikan kiosnya.
Ibu Ismunah mengheningkan ciptanya. Tampaklah Pertiwi, Malaikat Bumi tersenyum padanya.