
Pak Tirto tersenyum melihat warung nasi Ibu Ismunah yang kini mulai ramai dipadati pengunjung. Rumi dan Syam juga tampak puas melihat hasil pekerjaan mereka selama beberapa bulan.
Hari ini, Pak Tirto melakukan kunjungan ke warung nasi Ibu Ismunah. Ibu Ismunah dan Pak Min terlihat sedang sibuk melayani pembeli.
"Syukurlah, akhirnya terlaksana juga semuanya, " kata Pak Tirto sembari menikmati sepiring nasi pecelnya.
"Bagaimana? Apakah ada kendala yang terkait dengan warung ini? "
"Sedikit kendala pasti ada, Pak, " kata Rumi. " Tetapi dengan adanya kendala itu, kami jadi banyak belajar."
"Untuk mendirikan tenda disini, harus minta izin dulu kepada pengelolanya, " kata Syam. " Orangnya agak sedikit susah ditemui. Tapi syukurlah, akhirnya berhasil juga bertemu dengannya."
Pak Tirto tersenyum. " Oh ya, Mi.... "
"Iya, Pak."
"Kurang beberapa bulan lagi sudah ujian nasional. Kesibukanmu di warung ini jangan sampai membuatmu lupa belajar. "
"Iya, Pak."
"Pokoknya kamu harus lulus SMA dengan nilai yang terbaik."
"Baik, Pak."
"Oh ya, Mi, " Pak Tirto menyeruput segelas es teh di depannya. " Saya juga punya tawaran untukmu. Inipun kalau kamu mau dan Ibumu setuju."
"Tawaran apa itu, Pak? "
"Hmm, bukan saya yang menawari, tapi Encik David dan Puan Hanizah. Katanya, mereka memberimu kesempatan buatmu untuk melanjutkan kuliah di Malaysia. Gratis. Hanya niat dan cita-citamu bayarannya."
"Benarkah? Kuliah di Malaysia? Gratis? "
Pak Tirto menganggukkan kepala. Rumi menoleh ke arah saudara kembarnya. Keduanya saling bertatap mata dan tersenyum.
"Sudah, Mi. Kamu terima saja tawaran itu, " kata Syam. " Kesempatan mungkin nggak akan datang dua kali."
"Iya, Syam."
Ibu Ismunah tersenyum melihat mereka. Rupanya, sejak tadi, Ibu Ismunah mendengarkan pembicaraan mereka. Rumi langsung menghampiri Ibu Ismunah dan memeluknya.
"Terima kasih,Bu," katanya sambil menangis haru.
"Lho, kok berterima kasih kepada saya, Mi?"
"Karena Ibulah yang membuka jalan saya."
Ibu Ismunah memandang wajah Rumi yang berurai air mata. Dipeganglah pipi remaja berwajah manis ini. "Jangan lupa, Mi. Semua itu karena Tuhan. Bukan karena saya atau karena siapapun."
Rumi tak kuasa berkata-kata lagi.
"Mi, sapa sing nandur bakal ngunduh wohing pakarti. Siapa yang menanam, ia akan menuai buahnya."
"Terima kasih Ibu Ismunah."
"Saya juga terima kasih, Mi."
Pak Tirto mengeluarkan map dari dalam tasnya. Dan menunjukkan dokumen-dokumen didalamnya kepada Rumi. Ada tulisan-tulisan berbahasa Melayu dan foto sepasang suami istri.
"Mi, ini orang tua asuhmu selama kamu berada di Malaysia nanti, "kata Pak Tirto.
"Namanya Puan Siti Norima dan Encik Syed Johan. Mereka orang kaya, Mi. Tetapi nggak punya anak."
Rumi mengamati dokumen-dokumen itu.
"Terima kasih, Pak."
"Nanti ketika kamu berangkat ke Malaysia, mereka juga mengajak Ibu dan Syam untuk ikut serta mengantarmu ke Kuala Lumpur. Jangan khawatir, semua tiket dan keperluan kalian ditanggung oleh mereka."
"Waah... saya ikut ke Malaysia? " Syam melonjak-lonjak. "Asyik. Mimpi apa saya bisa merasakan naik pesawat dan ke luar negeri. "
Rumi tertawa geli. "Nah, kamu mulai bertingkah kekanak-kanakan,Syam."
"Syam," kata Pak Tirto. " Ingat, tahun depan, kamu sudah mulai sekolah. Persiapkan dirimu baik-baik."
"Oh iya, Pak," Syam menggaruk kepalanya sembari tersenyum lebar. "He..he..he.."
*
Ibu sedang asyik duduk di sofa, sembari menampilkan foto-foto pakaian yang dijualnya di media sosial. Ia juga membalas percakapan dengan para pelanggannya sambil tersenyum sendiri.
"Syukurlah. Laris manis hari ini."
Tiba-tiba, ia dikagetkan oleh suara pintu ruang tamu yang dibuka. Rumi masuk dan segera memeluk ibunya. Rumi juga menciumi pipi ibunya. Tentu saja Ibu terperanjat kaget.
"Eh, ada apa ini, Mi? Datang-datang kok Ibu langsung di seruduk seperti ini. "
"Aku mau kuliah di Malaysia, Bu, " kata Rumi. Ibu terkejut dan mencoba memahami kata-kata yang diucapkan anaknya. Antara percaya dan tidak percaya.
"Hah? Kuliah di Malaysia? kamu mengigau ya, Mi? " tanya Ibu.
"Rumi nggak mengigau, Bu, " kata Syam. "Rumi memang dapat tawaran kuliah di Malaysia. "
"Biayanya? " tanya Ibu.
"Gratis, Bu, " kata Rumi. "Organisasi dari Malaysia itu yang membiayainya. "
Ibu tersenyum. Air mata haru mulai merembes dari kedua bola matanya.
"Benarkah itu? Ibu nggak salah dengar kan? "
Rumi menggelengkan kepala." Nggak, Bu. "
"Syukurlah, Mi. "
"Ibu setuju kan kalau saya kuliah di Malaysia? " Rumi bertanya.
"Mi, Ibu pasti kesepian sekali kalau kamu pergi ke Malaysia. Tetapi, demi masa depanmu, nggak ada alasan bagi Ibu untuk nggak mengizinkanmu kuliah disana."
"Syukurlah. Terima kasih, Bu." Rumi mencium tangan Ibunya.
"Mi, di Malaysia nanti, kamu tinggal dengan siapa? " tanya Ibu.
"Ada sepasang suami istri yang menjadi orang tua asuh saya, Bu, " jawab Rumi. "Orangnya kaya, tetapi nggak punya anak."
Ibu tersenyum. "Syukurlah... "
"Ketika Rumi berangkat ke Malaysia, kita dapat tiket gratis ke Malaysia juga lho, Bu, " Syam menimpali." Kita ikut mengantar Rumi ke Malaysia. "
"Wah, senangnya, " kata Ibu. "Kita pergi ke luar negeri."
Syam dan Rumi tersenyum. Mereka berdua memeluk erat Ibunya.
"Sudah, sudah. Cukup peluk-pelukannya. Ibu nggak bisa bernafas. "