Light Warriors

Light Warriors
Bagian 29



Azlina bisa melihat Malaikat air. Ia memanggilnya Kay. Ketika memejamkan matanya, ia bisa melihat danau, sungai, laut, dan samudera. Ia juga bisa mendengar air itu menyanyikan melodi-melodi semesta yang sangat indah.


Melodi yang sangat menenangkan seperti suara danau, terkadang melodi yang meledak-ledak seperti suara gemuruh ombak. Kay selalu berbicara dengannya.


Sejak kecil, ia pandai bermain biola dan berbakat menciptakan berbagai macam lagu. Encik David dan Puan Hanizah takjub melihat putri kesayangannya yang baru berusia delapan tahun mampu menciptakan sebuah lagu dan memainkannya dengan biola.


Orang awam pasti bertanya, siapa yang mengajarinya?


Tentu saja Kay yang mengajarinya. Azlina harus merahasiakannya kepada orang awam. Pura-pura tidak tahu apa-apa dan bersikap seperti anak pada umumnya.


Ia sempat dinobatkan sebagai pengarang lagu termuda di seluruh dunia, ketika ia berusia delapan tahun. Padahal, sesungguhnya ia tidak bisa apa-apa. Ia hanya mengikuti suara air yang didengarnya setiap kali ia memejamkan matanya.


Kay selalu berpesan agar ia jangan bercerita kepada siapapun atau malaikat air itu akan pergi meninggalkan Azlina, dan lenyaplah semua kemampuannya.


Awalnya, ia sendiri tidak tahu , mengapa ia bisa melihat Malaikat air. Mengapa ia bisa mendengarkan suara air bernyanyi dan mengubahnya kedalam not balok dan not angka.


Yang jelas, Kay selalu berkata bahwa ia lahir ke dunia ini dengan membawa misi yang besar. Ia harus menyebarkan energi cinta dengan menerjemahkan suara-suara air kedalam gesekan biolanya.


Suatu hari, Azlina mengikuti Bapak dan Ibunya mengunjungi rumah sakit di Johor, untuk memberikan santunan kepada orang-orang sakit. Tiba-tiba, Kay menyuruhnya memainkan melodi penyembuhan dengan menggunakan biolanya. Ketika Azlina memainkan biolanya, banyak pasien yang mendengarkannya, mendadak merasakan sakitnya hilang. Pikiran mereka menjadi lebih tenang.


Suatu hari, dalam perjalanan dengan menggunakan tubuh cahaya, Kay mengajaknya berjalan-jalan, mengunjungi berbagai macam air, mulai dari air yang ada di dalam tubuhnya sendiri, darah, air seni, air liur, air keringat. Azlina berbicara kepada semua air yang ada di dalam tubuhnya.


Kay menyuruhnya memainkan lagu terima kasih dan lagu cinta. Semua air didalam tubuhnya bersuka cita. Sebagai ucapan terima kasih, semua air didalam tubuh Azlina berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh di dalam tubuh fisik Azlina.


Karena itulah, Azlina hampir tidak pernah sakit sepanjang hidupnya. Ia selalu merasa bahagia. Setelah Azlina selesai mengunjungi semua air yang ada didalam dirinya, Kay mengajaknya mengunjungi semua jenis air yang ada di seluruh dunia. Mulai air yang ada di selokan, air sungai, air danau, air laut, air hujan, air minum, air dingin, air panas, air hangat, dan air yang membeku menjadi es. Azlina berdialog dengan semua air itu.


Mereka bersuka cita. Sebagai balasannya, setiap air yang diminum oleh Azlina berubah menjadi obat, sekalipun ia meminum air selokan.


Sedangkan Aizad bisa melihat Win, Malaikat angin yang membimbingnya. Setiap kali ia memejamkan mata, Win selalu mengajaknya berbicara.


Win mampu membawa penglihatannya menembus ruang dan waktu. Aizad bisa melihat tempat-tempat yang jauh, sekalipun ia tidak berada di lokasi. Namun, ia tidak boleh bercerita kepada orang awam apapun yang dilihatnya, kecuali mengungkapkannya melalui jepretan-jepretan fotonya.