Light Warriors

Light Warriors
Bagian 27



Encik Johan mengajak mereka makan di revolving restaurant. Sebuah rumah makan di atas menara KL yang bisa berputar 360 derajat. 


Sementara Ibu dan Encik Johan  berbincang di revolving restaurant,  Rumi dan Syam naik ke puncak dek observasi  menara KL dengan membayar 180 Ringgit Malaysia per orang. 


 Puncak dek observasi menara KL berada diatas ketinggian 276 meter dan berada di ruang terbuka.  Pemandangan dari situ tampak berkabut.  Tepat di depan mata, terlihat pucuk Menara Kembar Petronas. Disisi lain,  terlihat dataran tinggi Genting.  Angin bertiup dengan kencang membuat rambut mereka berdiri. 


Kedua kembaran duduk bersandar di tembok putih,  seraya memandang ke arah pucuk Menara Kembar Petronas. 


Hari menjelang maghrib.  Lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala. Di antara semua lampu itu,  Menara Kembar Petronas lah yang paling terlihat.  


"Aku bahkan masih belum mempercayai apa yang kulihat," kata Rumi." Rasanya,  baru kemarin kita tinggal di kamar kos yang sempit dan kita mengalami banyak cobaan hidup."


Rumi melihat wajah saudara kembarnya dalam-dalam.  Kontak mata terjadi antar keduanya.  


"Terimakasih ya Syam. Kamu selalu ada untuk aku dan Ibu." Rumi tersenyum. 


"Kamu hadir saat aku ditindas dan dipukul oleh Jaka dan teman-temannya. Kamu hadir saat aku harus membayar hutang. Kamu hadir membantuku mencuci gelas kotor dan membersihkan kios Ibu Ismunah. Kamu hadir membantuku membangun tenda warung nasi Ibu Ismunah. Kamu hadir ketika kita harus berperang bersama melawan Para Pekerja Kegelapan.


Dan kini, kamu hadir menemani aku melihat tempat yang indah ini."


Rumi menyandarkan kepalanya di pundak saudara kembarnya.  


"Kita ini ibarat dua tubuh fisik," kata Rumi. "Tetapi pada hakikatnya kita ini berasal dari satu tubuh cahaya. Itu kesimpulanku setelah mendengarkan cerita Ibu Ismunah dan juga dari penjelasan Encik Johan.


Tidak mengherankan,   kita bisa merasakan satu sama lain. Kita bisa berbicara dengan telepati. Aku ikut senang ketika kamu merasa senang. Aku ikut sedih ketika kamu merasa sedih. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama, Syam? " 


Syam mengangguk. "Iya, Mi. Sekalipun sejujurnya aku masih bingung mengenai Cahaya kembar ini."


"Cahaya Kembar itu, ibarat satu api besar, yang dibagi menjadi beberapa buah lilin, untuk menerangi tempat-tempat yang berbeda," kata Rumi. "Atau satu teko besar berisi air, yang dibagi menjadi dua gelas kecil atau lebih agar bisa dinikmati banyak orang."


 "Mi, meskipun kita terpisah jauh, beda negara seperti ini,  apakah kita masih bisa saling merasakan seperti ini? " 


"Nggak ada jarak dan waktu yang bisa memisahkan hubungan tubuh cahaya kita, Syam," jawab Rumi.


Syam tersenyum. 


"Bahkan, kita masih bisa saling bertemu dalam tubuh cahaya. Sekalipun salah satu dari kita ada yang meninggal dunia,  itu hanyalah tubuh kita yang mati. Tetapi tubuh cahaya kita adalah energi yang tidak pernah mati," Rumi melanjutkan.


Syam tersenyum lagi "Kamu selalu bisa menciptakan kata-kata yang bagus. Pantas Malaikat pembimbingmu selalu menyuruhmu menulis."


"Meski begitu, tetap saja aku belum siap berpisah dengan wujud fisikmu, Syam."


Rumi menyodorkan kelingkingnya kepada saudara kembarnya. "Tahu nggak, ini artinya apa?"


"Kelingking," jawab Syam.


"Selain kelingking?"


"Nggak tahu. Memangnya apa?"


"Perjanjian, Syam. Dulu, di Jepang, para mafia mengikat janji dengan kelingking ini. Kalau sampai dilanggar, ya berarti kelingking ini harus dipotong. "


"Oh, seram sekali, Mi."


"Nah, sekarang kamu harus melakukan janji kelingking denganku, Syam." Rumi masih menyodorkan kelingkingnya.


"Nggak mau ah. Aku takut. Nanti, kalau aku nggak bisa menepati janji, kamu akan memotong kelingkingku."


Syam mengikatkan kelingkingnya di kelingking Rumi.  "Iya lah. Nggak perlu pakai janji-janjian seperti ini segala. Seperti anak kecil saja. Sudah otomatis kok. Hahaha." 


"Titip jaga Ibu ya, Syam. Selama aku di Malaysia. Beri aku kabar jika terjadi sesuatu. " 


" Iya Mi. Itu pasti." 


"Titip jaga Ibu Ismunah, Pak Min, dan warungnya juga."


"Iya Mi."


"Dan jaga keselamatanmu sendiri, Syam. Ingat, kita sedang diincar oleh Pekerja Kegelapan. Jangan sampai putus berzikir."


"Iya, Mi."


"Tahun ini, akan diadakan Pertemuan Agung Para Kesatria Cahaya yang tempatnya aku tidak bisa ceritakan disini. Semoga kamu bisa ikut."


"Pertemuan Agung?" Syam bertanya.


"Iya. Seperti konferensi tahunan PBB nya Para Ksatria Cahaya."


"Wow...."


"Mengenai ini, aku juga tidak bisa menceritakannya lebih detail di tempat ini. Bertanyalah kepada Ibu Ismunah atau kepada Agni. "


"Iya,Mi."


*


Keesokan harinya,  Syam dan Ibu diantar menuju bandara. Rumi,  Encik Johan,  dan Puan Norima ikut mengantar mereka ke bandara.   


"Encik Johan dan Puan Norima, terima kasih atas segala kebaikan kalian berdua, " kata Ibu.


"Saya titip Rumi ya."


"Sama-sama, bu, " kata Encik Johan.  


"Datanglah ke Malaysia kapanpun bila ibu ada waktu, " tambah Puan Norima.  


"Mi, jaga dirimu baik-baik, " kata Ibu.  "Jangan menyusahkan orang tua asuhmu." 


"Iya, Bu, " Rumi memeluk ibunya dengan erat.  Keduanya hanyut dalam rasa haru. "Aku sayang sama Ibu " 


"Ibu juga menyayangimu, Nak. "


Untuk terakhir kalinya, sebelum berpisah, Rumi memeluk saudara kembarnya.  


"Mi, sukses ya buat kamu, "kata Syam.


"Sama-sama,  Syam. Sukses buat kamu juga ya. Jangan menyusahkan Ibu atau kupotong jari kelingkingmu."


Mata Syam terbelalak. Kemudian ia tertawa lepas. "Hahaha. Iya Mi. Aku janji, nggak akan menyusahkan siapapun." 


Keduanya saling senyum sebelum berpisah. Tak lama kemudian, pesawat yang ditumpangi oleh Ibu dan Syam tinggal landas.