
Mulai saat ini, saya tidak akan mengizinkan kamu bepergian sendiri," kata Encik Johan."Saya tidak bermaksud mengekangmu. Kamu jangan salah paham. Karena mereka terus mengincarmu, ingin membunuhmu. Ini demi keselamatanmu juga."
Rumi mengiyakan.
"Untung kamu ditemani oleh Azlina dan Aizad, yang juga kesatria cahaya sepertimu. Setiap bepergian, kamu harus ditemani oleh kedua kawanmu. Atau kalau mereka berhalangan, biarlah Abang Badrol saya suruh untuk menemanimu."
"Iya, Encik," jawab Rumi."Minggu depan, Azlina dan Aizad mengajak saya pergi ke Melaka. "
"Hmm, pergilah," kata Encik Johan. "Tapi untuk sementara ini, kalian jangan pergi dengan menggunakan transportasi umum.
Kamu ingat kan kejadian waktu di KTM itu? Jangan sampai terulang lagi. Biarlah Abang Badrol mengantar kepergian kalian."
Rumi mengangguk. "Terima kasih, Encik. "
Bel berbunyi. Puan Norima membukakan pintu. Encik David dan Puan Norima, yang baru saja pulang dari Korea, datang mengunjungi Rumi.
Keduanya sangat kaget mendengar cerita dari Azlina dan Aizad mengenai kejadian di kedai itu.
"Apa kabar David?" tanya Encik Johan.
"Bagaimana hasil pertemuan di Korea?"
"Pertemuan Charity atau pertemuan rahasia antar Kesatria Cahaya?" Encik David balik bertanya.
"Keduanya," jawab Encik Johan.
"Pertemuan Charity berlangsung seperti biasa, tanpa halangan. Kita memotivasi pemuda pemudi Korea untuk melakukan pelayanan," kata Puan Hanizah.
"Kalau yang pertemuan rahasia bagaimana?" Encik Johan bertanya.
"Ada sedikit kabar baik," kata Encik David. "Akhirnya, pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan bertemu. Mereka membahas hal-hal yang berkenaan dengan perdamaian dan pemusnahan senjata nuklir yang ada di seluruh semenanjung Korea."
"Wow, ini luar biasa," Puan Norima menanggapi.
"Hampir setiap detik, Para Kesatria Cahaya menyebarkan energi cinta di semenanjung Korea. Dan hampir setiap hari pula, mereka berperang melawan Pekerja Kegelapan dan berusaha menetralisir energi gelap yang terus mempengaruhi kedua negara Korea untuk berperang," kata Encik David.
"Seperti di Kamboja waktu itu kan?" tanya Encik Johan.
"Benar, David," jawab Encik Johan. " Mereka berusaha membunuh Rumi dan saudara kembarnya. Saya sempat menggagalkan salah satunya.
Waktu itu, kita sedang berada di dalam kereta api, hendak pergi ke Batu Caves. Saya lihat, ada seorang lelaki berjaket hitam dan menggunakan penutup kepala yang sangat mencurigakan.
Saya merasakan energi negatif dari orang itu. Saya kejar lelaki itu dan lelaki itu lari. Dengan kekuatan sihirnya, ia memecahkan kaca jendela kereta api dan melesat pergi, dengan terlebih dahulu mengubah badan fisiknya menjadi badan astral."
"Wow," kata Encik David. "Hanya Pekerja Kegelapan dari alam kegelapan tingkat lima keatas yang memiliki kemampuan ini. Kita semua harus berhati-hati."
"Betul, David. Saya rasa, Pekerja Kegelapan itu yang ingin membunuh Rumi dan saudara kembarnya," kata Encik Johan.
"Baiklah, Johan, saya akan perintahkan seluruh kesatria cahaya di Malaysia untuk bersiaga dan memperkuat pertahanan. Saya juga akan mengerahkan para kesatria cahaya yang lainnya untuk mencari Pekerja Kegelapan itu."
"Itu tugasmu sebagai Pemimpin Para ksatria cahaya di sini."
"Betul, Johan. "
Setelah berbicara dengan Encik Johan, Encik David dan Puan Hanizah mengunjungi Rumi.
"Kamu jangan takut, Mi," kata Puan Hanizah. "Kita akan selalu menjagamu."
Rumi mengangguk. "Terima kasih, Encik, Puan."
"Sama-sama, Mi," kata Encik David.
"Saya mengkhawatirkan saudara kembar saya di Surabaya," kata Rumi.
"Kamu tenang saja, Mi," kata Encik David. "Saudara kembarmu juga selalu dalam pantauan kami. Ada Ibu Ismunah juga kan?"
Rumi mengangguk.
"Kalian berdua adalah Cahaya Kembar. Kalian berdua spesial. Karena itu, semua ksatria cahaya diseluruh dunia memiliki kewajiban untuk menjaga semua Cahaya Kembar yang ada di muka bumi, termasuk kalian berdua," kata Puan Hanizah."
"Nah, sekarang beristirahatlah," kata Encik David. "
"Baik, Encik."