Light Warriors

Light Warriors
Bagian 22



"Wow, kita ada di atas langit, Mi, " Syam bersorak kegirangan.


Mereka berada didalam pesawat yang membawa mereka terbang dari Surabaya ke Kuala Lumpur.


Syam selalu lepas kendali kalau hatinya sedang berbahagia. Ia mengomentari semua yang dilihatnya. Maklum,  baru pertama kali ia merasakan naik pesawat. 


Syam duduk bersebelahan dengan Rumi.  Syam duduk di sisi yang dekat jendela. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Kuala Lumpur,  Syam terus menempelkan wajahnya di jendela sambil mengamati awan yang bergerak-gerak. 


"Mi, lihat itu. Awannya bagus ya. "


 Rumi melihat saudara kembarnya dengan tatapan dingin.  "Syam, kamu jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu dong.Memalukan tahu." 


"Mi, masak orang nggak boleh senang sih? Hehehe. "Syam tertawa nyengir.  


"Boleh sih,Syam. Nggak ada yang melarang. Tetapi bersikaplah lebih dewasa. Lihat itu, semua orang pada diam semua. Kamu malah banyak ngomongin sesuatu yang nggak penting. "


"Hahaha. Memangnya, setiap berbicara itu harus yang penting-penting saja ya, Mi?"


"Nggak juga sih. Tapi kan harus tahu situasi dan kondisi. "


"Iya deh. Aku menurut saja sama kamu. Tuan besar Rumi."


"Huh, capek ngomong sama kamu, Syam." Rumi merasa jengkel karena dipanggil dengan sebutan "tuan besar".


Ia melihat ke arah Ibu yang duduk dikursi diseberang kirinya.  Ibu sedang tertidur pulas. Sepertinya, ia bermimpi indah dalam perjalanan udara pertamanya. Rumi tersenyum.


"Syam, Semalam Ibu Ismunah bercerita banyak kepadaku."


"Mengenai apa, Mi?"


"Ada banyak hal-hal yang penting dan menarik. Katanya..."


"Hentikan, Rumi!" tiba-tiba Teja menyela.


"Tidak tepat jika kamu berbicara disini."


Rumi teringat, bahwa ia tidak boleh membicarakan semua hal yang dikatakan oleh Ibu Ismunah di depan umum.


"Oh iya, maaf, maaf..."


"Ibu Ismunah cerita tentang apa?" Syam penasaran.


"Uhm, ada deh, Syam. "


"Kamu main rahasia denganku, Mi?"


"Nggak kok, Syam. Cuma situasinya nggak tepat aja. "


"Oh, begitu. Tapi janji ya, kalau situasinya sudah tepat, kamu cerita semuanya kepadaku."


"Iya, Syam."


Mamangmurka berhasil masuk kedalam pesawat dengan menyamar sebagai penumpang, masih dengan pakaian jaket hitam dan penutup kepalanya.


Ia menempati kursi di pojok belakang. Sejak tadi, ia terus mendengarkan pembicaraan Rumi dan Syam. Ia tersenyum sinis, sembari mendesis merapalkan sebuah mantra yang cukup aneh.


Mendadak langit yang tadinya cerah, diselimuti oleh awan gelap dan angin kencang. Rumi merasakan firasat yang aneh. Ia menyentuh dahinya untuk membuka mata ketiganya.


Dilihatnya dari jendela, segerombolan Pekerja Kegelapan berupa makhluk astral dengan berbagai wujud yang menyeramkan membentuk awan gelap menyelubungi pesawat.


"Syam, mereka menyerang."


"Siapa, Mi?"


"Pekerja kegelapan. Lihat awan gelap itu. Berzikirlah, Syam. "


"Aku harus keluar dari tubuh fisikku. Tolong jaga Ibu dan tubuh fisikku. Suruh Ibu berdzikir."


"Kamu bisa melakukannya sendirian? Tanpa bantuanku?"


"Iya, Syam. Nggak ada jalan lain."


Terjadi guncangan yang sangat hebat, membuat semua penumpang mendadak panik dan menjerit histeris. Kecuali Mamangmurka. Ia tetap tenang melihat semuanya, dalam senyumanya yang menyeramkan.


Pramugari meminta seluruh penumpang tetap tenang dan mengencangkan sabuk pengamannya. Lampu pesawat dan pendingin ruangan mendadak mati, membuat suasana semakin mencekam.


Pilot dan co-pilotnya berusaha sekuat tenaga mengemudikan pesawat menembus awan-awan gelap itu. Pesawat itu bergerak menukik kebawah, tanpa bisa dikendalikan oleh sang pilot.


"Ya Tuhan, bagaimana ini?" tanya sang pilot panik. "Saya tidak bisa mengendalikannya."


Terdengar suara jeritan penumpang. Tangisan anak kecil. Alat bantu pernapasan keluar secara otomatis di setiap kursi penumpang.


"Apa yang terjadi, Syam?" Ibu terbangun dari tidurnya.


"Tenang, Bu. Berzikirlah. Jangan panik."


"Iya, tapi ada apa?" Ibu tampak ketakutan.


"Mungkin cuaca buruk, Bu. Jangan putus berzikir ya, Bu."


"Iya, Syam."


Rumi mengheningkan diri dan keluar dari tubuh fisiknya. Ia bersama dengan Teja melesat dengan cepat menembus badan pesawat, keluar dari pesawat. Dengan tubuh cahaya, memungkinkan mereka bergerak menembus dinding yang sangat tebal sekalipun.


Mereka berhadapan dengan ratusan Pekerja Kegelapan yang membentuk awan hitam. Mereka memberondong Rumi dan Teja dengan tembakan-tembakan. Rumi dan Teja berhasil menghindari mereka.


"Tetap positif," kata Teja. "Jangan tersulut amarah. "


"Siap," jawab Rumi.


"Aku mencintai kalian. Aku tidak ingin mencelakai kalian. Aku ingin membantu kalian lepas dari tubuh gelap kalian." Rumi pun melepaskan tembakan energi positif yang cukup dahsyat, membelah awan gelap itu menjadi dua bagian. Kemudian Teja menghancurkan awan itu dengan tembakannya dan Rumi menghancurkan sisanya.


Langit kembali cerah. Mereka kembali kedalam pesawat. Di dalam pesawat, masih banyak Pekerja Kegelapan mencoba mempengaruhi para penumpang yang panik. Sebagian penumpang merasa pusing, bahkan ada yang pingsan.


Rumi dan Teja melenyapkan mereka dengan tembakan-tembakan energi positif.


Sementara Agni, malaikat pembimbing Syam, juga membantu menetralisir energi di dalam pesawat. Ia membuat energi pelindung yang melindungi tubuh pesawat.


Lampu pesawat dan pendingin ruangan kembali menyala. Pesawat bisa dikendalikan lagi.


"Syukurlah," kata pilot kepada co pilotnya.


Penerbangan kembali normal.


"Sial, " Mamangmurka mengumpat dalam hati. "Mereka berhasil mematahkan kekuatanku."


Rumi kembali ke tubuh fisiknya. Sedangkan Syam terus berdzikir bersama dengan Ibunya.


"Bagaimana, Mi?" tanya Syam.


"Syukurlah, semuanya aman, "jawab Rumi.


"Terima kasih sudah menjaga Ibu dan tubuh fisikku."


"Iya, Mi." .


"Kalian membicarakan apa sih?" tanya Ibu.


"Ah, nggak ada apa-apa kok," kata Rumi dan Syam serentak.