
Sebelum Rumi pulang ke Surabaya, Encik David memberikan sebuah kalung dengan hiasan batu orgonite yang dirancangnya sendiri.
"Pakailah ini," kata Encik David. "Jika di Indonesia nanti kamu dan saudara kembarmu dalam bahaya, kita akan segera tahu dan datang membantu kalian dengan tubuh cahaya kita."
"Terima kasih, Encik David. "
Sepanjang perjalanan dengan menggunakan ERL dari stasiun KL Sentral menuju bandara KLIA 2, kelima tubuh cahaya itu terus melayang mengikuti Rumi. Begitupula selama Rumi berada di dalam pesawat.
*
Pesawat yang ditumpangi oleh Rumi mendarat di bandara Internasional Juanda, Surabaya, pukul 19.30 malam. Hujan deras diiringi angin yang cukup kencang dirasakan oleh Rumi sejak di dalam pesawat. Cuaca yang buruk itu, seiring dengan perasaan Rumi yang tengah dilanda kecemasan.
Ia tidak menghiraukan apapun yang dilihatnya, sekalipun badai yang cukup kencang membuat pesawat yang ditumpanginya bergoyang-goyang.
Hanya Ibu Ismunah dan Pak Min, beserta warung nasinya yang ada di dalam benaknya.
Warung nasi yang telah dirintisnya dengan susah payah bersama Ibu Ismunah dan saudara kembarnya. Warung nasi yang telah membawanya terbang ke tingkatan langit yang cukup tinggi dalam dunia impiannya.
Setelah memasuki bandara Juanda, buru-buru ia mengambil kopernya di tempat pengambilan bagasi.
Dengan tak sabar, ia menunggu deretan barang bawaan yang mengantri di hadapannya. Setelah hampir sepuluh menit menunggu, akhirnya datang juga koper miliknya. Ia mengambilnya dan segera berlari ke ruang tunggu kedatangan.
Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada kelima tubuh cahaya yang telah mengawal perjalanannya. Mereka pun melesat, kembali ke Kuala Lumpur.
Dari kejauhan, dilihatnya Syam melambaikan tangan. Wajahnya terlihat sedikit gemuk daripada saat terakhir bertatap muka. Kini, wajahnya tidak lagi sama dengan dirinya. Kumis yang cukup tebal tampak menghiasi wajah Syam, membuatnya terlihat lebih tua daripada sebelumnya.
"Syam, " Rumi langsung memeluk saudara kembarnya. "Apa kabar? "
"Syukurlah, Mi. Seperti yang kamu lihat sekarang. Semakin tampan. Hehehe. "
Rumi mengamati tubuh saudara kembarnya dengan seksama. "Tampan bagaimana? Perut semakin buncit. Dan wajah berkumis. Seperti bapak-bapak. Hahaha. "
Syam tersenyum. " Dan kamu kelihatan semakin kurus, Mi. Pasti di Malaysia kamu sibuk sekali ya? "
"Iya, Syam. Tapi aku cukup senang kok tinggal di Malaysia."
"Cara bicaramu sudah seperti orang Malaysia sekarang. Hihihi."
"Hahaha," Rumi tertawa. "Oh ya, Ibu dimana? Kok nggak ikut menjemputku? "
"Ibu lagi dirumah, Mi. Badannya kurang sehat."
"Oh... "
"Ya sudah, Mi. Yuk, kita lanjutkan pembicaraan di rumah saja. "
Syam membantu membawakan koper saudara kembarnya. Mereka menuju tempat parkir sepeda motor yang lokasinya agak jauh dari terminal kedatangan bandara.
Sesampai di tempat parkir, Rumi melihat sepeda motor milik Syam. Sepeda motor yang sama dengan sepeda motor yang selalu digunakannya untuk memboncengnya ke sekolah semasa SMA dulu.
"Rupanya kamu masih sayang ya sama motor ini? " Rumi tersenyum geli. "Aku kira kamu sudah menjualnya dan membeli motor yang baru."
Syam tersenyum." Belum sempat beli yang baru, Mi. Motor ini banyak kenangannya. Nggak tega aku melepasnya"
"Hahaha," Rumi tertawa.
"Nih, pakai jas hujan, " Syam memberikan jas hujan yang diambilnya dari jok sepeda motor. " Sejak tadi, hujan gerimis nggak berhenti."
Syam membonceng saudaranya sembari mengapit koper milik Rumi dengan kedua kakinya.
"Syam, aku nggak bisa berhenti memikirkan kejadian yang menimpa Ibu Ismunah dan Pak Min," kata Rumi di sepanjang perjalanan. "Besok kita harus segera ke Ngawi. "
"Iya, Mi, " Syam memperlambat laju sepeda motornya.
*
Rumi tercengang melihat suasana rumahnya yang tampak seperti rumah baru. Kini, ruang tamunya menjadi sebuah butik yang menjual berbagai macam busana kreasi ibu. Ada busana muslim, batik Jawa, kebaya, dan banyak kreasi yang lainnya.
"Alhamdulillah, " Rumi memasuki butik Ibunya dan mengamati semua pakaian kreasi ibunya yang dipajang disitu. "Bisnis Ibu semakin maju. "
"Rumi, " Ibu datang menyapa dan memeluk anaknya. "Apa kabar kamu, Nak? "
"Assalamualaikum, Bu," jawab Rumi.
"Syukurlah, aku sehat-sehat saja. Tadi, Syam bilang kalau Ibu lagi sakit. "
"Ah, cuma flu sedikit saja kok, Mi, " kata Ibu. " Kemarin, seharian Ibu sibuk merias dan mengurus busana pengantin. "
"Jaga kesehatan, Bu."
"Iya Mi," jawab Ibu. "Bagaimana kuliahmu disana? Lancar kah? Kata Syam, kamu padat sekali kegiatannya. "
"Iya, Bu. Tapi syukurlah, Tuhan memberi kelancaran."
Tiba-tiba Syam datang sembari membawa tiga bungkus nasi goreng langganan mereka. "Rumi, aku belikan nasi goreng kesukaanmu," katanya. "Lama tinggal di negeri jiran, pasti kamu merindukan nasi goreng ini."
"Eh, kamu kok tahu sih, Syam." Rumi hendak menyambar bungkusan nasi miliknya. Namun, buru-buru Syam menepisnya.
"Eits," Syam mengendus membaui tubuh saudara kembarnya." Kamu bisa membunuh semua orang di rumah ini secara perlahan dengan bau badanmu. Mandi dulu sana!"
"Aku mau makan, Syam. Aku lapar, " Rumi memohon sembari berusaha merebut bungkusan nasinya dari tangan Syam.
"Nggak boleh," kata Syam. "Pokoknya kamu harus mandi dulu, baru boleh makan."
"Nggak mau," Rumi merengek. "Aku lapar. Aku mau makan, Syam. "
"Nggak," kata Syam. " Pokoknya kamu harus mandi dulu, baru boleh makan."
"Hus...Sudah... Sudah... Jangan berdebat. " Ibu melerai mereka berdua. "Kalian berdua seperti anak kecil saja. Syam, jangan menggoda saudaramu. Kasihan dia, baru datang dari jauh, " kata Ibu.
"Tapi, Bu, mandi kan untuk kebaikan Rumi juga?" kata Syam. "Lagipula, aku sudah nggak tahan dengan bau badannya."
Ibu menghela nafas. Kemudian menoleh ke arah Rumi." Benar, Mi, apa yang dikatakan Syam. Sebaiknya kamu mandi dulu, baru makan. kalau badan segar, makannya jauh lebih nikmat."
"Iya deh, " kata Rumi. Ia mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi.
"Jangan lama-lama ya mandinya, " Syam tertawa nyengir kepada Rumi. " Atau nasimu aku habiskan sekalian."
"Awas saja kalau kamu berani menghabiskan nasiku, " Rumi berteriak dari dalam kamar mandi.
Ibu tertawa geli melihat tingkah kedua anak kembarnya. Akhirnya, suasana rumah kembali ramai.