
Seekor cicak tiba-tiba jatuh dan mengenai tubuh Ibu yang tengah tertidur diatas sofa.
Mendadak, perasaannya gelisah sekali. Ia tak tahu penyebabnya mengapa tiba-tiba ia merasa gelisah. Ia menghela nafas dan menghembuskannya.
Untuk menenangkan diri, ia membuat jahe hangat. Ia teringat dengan kedua anaknya yang tengah dalam perjalanan pulang ke Surabaya.
"Ya Tuhan, semoga dilancarkan perjalanan mereka," doanya dalam hati.
*
Bus melaju semakin kencang tanpa bisa dikendalikan. Beberapa detik setelah Rumi dan Syam kembali ke tubuh fisik mereka, tiba-tiba, dari arah yang berlawan, ada sebuah mobil yang juga melaju dengan kencang.
Mereka belum sempat menyuruh sopir bus berhenti. Sang sopir terkejut dan panik. Ia menginjak rem secara mendadak dan memutar kemudinya secara tak beraturan.
Semua penumpang berteriak histeris.
BRAKK. Bus dan mobil itu saling bertabrakan. Bus terguling dan jatuh di pinggir jalan. Lalu lintas terhenti. Terjadi kemacetan hebat malam itu akibat kecelakaan malam itu.
Semua penumpang bus saling menimpa satu sama lain. Berjejal jejalan, hingga kesulitan bernapas. Mereka terjebak dalam bus itu.
Spontan, Syam memeluk saudaranya dengan sangat erat. Keduanya terjatuh dan kepala Syam mengalami benturan yang sangat keras hingga mengucurkan darah.
Keduanya tak sadarkan diri. Bus itu diselimuti kekuatan gelap.
"Terlambat," kata Pertiwi. "Bus itu sudah terguling."
Tubuh cahaya Ibu Ismunah dan Pertiwi mendatangi bus itu.
"Bagaimana dengan Rumi dan saudaranya?" tanya Ibu Ismunah.
"Mari kita lihat," kata Pertiwi.
Tubuh cahaya Rumi dan Syam segera melesat keluar dari tubuh fisiknya yang penuh darah. Teja dan Agni mengikutinya.
Ratusan pekerja kegelapan mengepung bus yang terguling. Mereka menyedot energi dari para korban. Mereka mengikat jiwa-jiwa korban yang tewas dalam kecelakaan bus itu dengan energi gelap dan menghancurkan energi positifnya.
Tubuh cahaya Syam dan Rumi segera melesat menghindari kerumunan makhluk astral jahat itu, diikuti dengan Malaikat pendamping mereka.
Makhluk-makhluk astral itu tidak tinggal diam. Mereka terus mengejar Syam dan Rumi, berniat menangkapnya.
Syam dan Rumi mengeluarkan tembakan sinar putih kearah kerumunan makhluk astral jahat itu, dibantu oleh Teja dan Agni. Agak susah, karena makhluk astral jahat itu bergerombol, dan membentuk energi gelap yang cukup kuat.
Tubuh cahaya Azlina dan rombongan dari Malaysia lainnya bertemu dengan tubuh cahaya Syam dan Rumi. Mereka segera membantu melancarkan tembakan ke arah gerombolan makhluk astral jahat itu.
"Hai kembar," sapa Azlina. "
"Hai Azlina," kata Rumi sembari terus menembakkan sinarnya, disusul oleh Syam.
"Pusatkan kekuatan kalian semua," kata Encik David.
"Baik, Encik," kata Rumi.
Peperangan antara tubuh-tubuh cahaya dan makhluk-makhluk astral pekerja kegelapan semakin dahsyat.
Mamangmurka melihat tubuh cahaya Rumi dan Syam. Ia segera mendesis, merapalkan sebuah mantra. Munculah tali energi berwarna hitam. Tali itu diarahkan kepada tubuh cahaya Syam dan Rumi.
Tubuh cahaya mereka berdua terbelit tali energi hitam itu, membuat mereka berdua tidak bisa bergerak. Tali itu mengeluarkan cabangnya sendiri, dan setiap cabangnya terus membelit tubuh cahaya Syam dan Rumi.
Rumi dan Syam meronta-ronta, namun tidak bisa lepas.
"Hahaha," Mamangmurka tertawa terbahak-bahak. "Aku berhasil menangkap kalian berdua."
"Gawat, mereka menangkap Rumi dan Syam," kata Ibu Ismunah.
"Hentikan pertempuran," Mamangmurka memberi perintah kepada para pekerja Kegelapan lainnya.
Pertempuran pun berhenti sejenak. Pandangan tertuju pada Mamangmurka. Sementara, tubuh cahaya Syam dan Rumi terus meronta-ronta, mencoba untuk melepaskan diri, tetapi tidak bisa.
Tali energi yang membelit tubuh cahaya Rumi dan Syam menyedot energi positif mereka tanpa henti.
"Wahai para kesatria cahaya," kata Mamangmurka. "Jika kalian tidak menyerah dan terus saja menggagalkan rencana kami, maka kedua bocah ini akan saya habisi. Hahaha."
Para kesatria cahaya terdiam sejenak. Ibu Ismunah, Azlina, Aizad, Encik David, Encik Johan, Puan Hanizah, dan Puan Norima terdiam melihat tubuh cahaya Rumi dan Syam yang meronta-ronta.
"Rumi...Syam," Azlina menjerit histeris.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ibu Ismunah.
"Tenanglah, Ismunah," Pertiwi tersenyum ringan. "Mereka tidak selemah yang kita kira. Hanya mereka belum menyadari."
Rumi dan Syam semakin tak berdaya. Energi positif mereka semakin terkuras habis oleh tali energi hitam itu.
"Hahaha," Mamangmurka tertawa keras. " Bagaimana? Kalian mau berhenti menghalangi kami atau kalian ingin melihat kedua bocah ini kehabisan energi positif dan menjadi santapan para siluman?"
"Kita tidak akan menyerah melawan kalian, " kata Encik David lantang. "Demi kembalinya keseimbangan di Semesta ini. "
Encik David menembakkan sinarnya ke arah Mamangmurka. Mamangmurka berhasil menangkis serangan itu hanya dengan ujung jarinya saja. "Hahaha, " tawanya semakin menggelegar. "Ini seperti permainan anak kecil saja. Hanya terasa sedikit geli."
Mamangmurka mengepalkan tangannya. Syam dan Rumi semakin kesakitan.
AAAAA....... mereka berdua menjerit.
"Ini hukumannya karena kalian mencoba menyerangku. Hahaha... "
"Rumi... Syam..., " teriak Puan Hanizah. "Lea, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka? "
"Kalian harus tenang, " kata Lea. "Kesabaran adalah kuncinya. "
"Bagaimana bisa sabar melihat kejadian semacam ini?
"Heningkan pikiranmu, Hanizah, " kata Lea. "Dengan keheningan akan ada jalan keluar. "
Azlina yang tak kuat mengendalikan emosi, mencoba menembak Mamangmurka, tetapi Kay melarangnya. "Jangan, Azlina... "
Energi positif Syam dan Rumi semakin lemah. Sebentar lagi, mereka akan kehilangan energi positifnya dan masuk ke alam kegelapan.
"Mi, bertahanlah..., " Syam berbicara secara telepati dengan kembarannya.
"Kamu juga, Syam...bertahanlah. "
AAAA..., " Syam dan Rumi menjerit dengan kencang, kesakitan. Mamangmurka kembali mengepalkan tangannya, sehingga ikatan tali energi mencengkeram semakin kuat.
"Hahahaha, " Mamangmurka tertawa.
"Pertempuran akan dilanjutkan. Tapi sebelumnya, kalian harus melihat tubuh cahaya kedua bocah ini menjadi santapan para siluman ular."
Semua Pekerja Kegelapan yang berwujud berbagai macam hantu dan siluman dari seluruh dunia menjulurkan lidahnya, tak sabar menyantap tubuh cahaya Rumi dan Syam.
"Dasar bodoh, " Encik Johan memaki.
"Johan, kendalikan amarahmu, "kata Riki, malaikat pembimbingnya. "Semakin kamu marah, kekuatan Mamangmurka akan semakin bertambah. "
"Hahahaha.... Hahaha......," tawa Mamangmurka semakin menggelegar.
Penglihatan Rumi dan Syam semakin kabur. Sebentar lagi, energi positif mereka benar-benar habis dan hancurlah tubuh cahaya mereka menjadi santapan para pekerja kegelapan.
"Heninglah, Rumi...
Rasakan semuanya...
Alami semuanya....
Sadari semuanya...."
Samar-samar, terdengar suara intuisinya.
"Ingatlah, dalam keterdesakan, carilah kebijaksanaan dari dalam dirimu sendiri."
"A.. apa yang harus aku lakukan?" Rumi bertanya pada intuisinya sendiri.
"Puisimu, Rumi. Itu kekuatanmu."
"A... aku nggak kuat lagi," kata Rumi.
"Terkoneksilah secara telepati dengan cahaya kembarmu. Bacalah puisimu yang kamu ingat. Ungkapkan perasaanmu yang terdalam padanya"
"A...aku nggak kuat lagi," kata Rumi.
"Kamu pasti kuat. Kumpulkan energi positifmu yang tersisa dan bacalah puisimu. Ini kesempatan terakhirmu."
Rumi mengumpulkan energi positifnya yang tersisa dan mulai terhubung secara telepati dengan tubuh cahaya Syam yang sudah mulai menghitam.
Rumi membaca puisi yang diingatnya secara telepati, sehingga tidak didengar oleh siapapun, termasuk Mamangmurka. Hanya Syam yang bisa mendengarnya. Sebenarnya, sudah sejak lama Rumi menulis puisi itu untuk Syam. Namun, ia belum sempat memberitahu kembarannya :
" Cinta antar cahaya berbeda dengan cinta antar tubuh fisik..
Cinta antar cahaya melampaui semua batasan fisik, jenis kelamin,
bahkan dimensi ruang dan waktu....
Tanpa syarat...
Tanpa pamrih...
Maka apapun kondisimu, aku tetap mencintaimu, dari cahaya ke cahaya, dari Jiwa ke jiwa...
Seburuk apapun dan semenyakitkan apapun sikapmu kepadaku, aku tahu itu semua adalah semu...
Tetapi cahayamu yang sejati, tetaplah manifestasi dari cinta kasih yang murni...
Cinta antar cahaya adalah cinta yang akan membawamu naik ke tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi....
Seperti apapun tubuh fisikmu saat ini, ketahuilah, ini semua adalah drama pembelajaran yang bersifat sementara....
Apakah kamu baik atau buruk, jelek atau bagus, pintar atau bodoh, laki-laki atau perempuan, hewan, tumbuhan, manusia, alien, atau bahkan sebutir debu....
Aku tetap mencintaimu dari cahaya ke cahaya.."
Rumi selesai membaca. Dalam sekejap, tubuh cahaya Rumi terasa semakin membesar, begitu pula tubuh cahaya Syam.
Semua kesatria cahaya heran dan takjub melihatnya. Mamangmurka mengepalkan tangannya dan merapal mantra-mantranya dengan cepat agar ikatan tali energinya mencengkeram semakin kuat.
Namun, kali ini tali energi hitam itu tidak mampu membendung membesarnya tubuh cahaya Rumi dan Syam. Kedua kembaran mendapatkan kembali energi positifnya.
"Wow, "kata Syam. "Bagus sekali puisimu. Ada yang lain nggak? Mau dong denger puisimu lagi. "
Syam dan Rumi sama-sama terharu. "Ada, Syam. "
"Cepat bacakan untukku, Mi. Sebelum aku kehabisan tenaga untuk mendengarnya."
"Iya, Syam."
Rumi membaca puisinya lagi :
Pernahkah kita merenung,
Apakah tujuan kita dilahirkan di dunia?
Pernahkah kita merenung,
Mengapa Sang Sumber kehidupan membuat kita saling merasakan satu sama lain?
Mengapa Sang Sumber kehidupan membuat kita saling memikirkan satu sama lain?
Mengapa Sang Sumber kehidupan membuat kita dapat berbicara satu sama lain, sekalipun kita tidak bersama secara fisik?
Pernahkah kita menyelam lebih dalam lagi, kedalam diri kita sendiri....
Menemukan kebenaran sejati mengenai cahaya didalam diri kita sendiri?
Ibaratkan api yang sangat besar.
Kemudian terbagi menjadi lilin-lilin kecil.
Untuk menerangi semesta.
Untuk membuat sebanyak mungkin senyuman.
Pada wajah Jiwa-jiwa yang dirundung duka.
Dimana kegelapan menutupi diri mereka.
Akan makna dari cinta yang sejati.
Cinta yang tak terkondisi.
Cinta yang tak mengenal batas.
Bicara cinta tidak harus berbicara mengenai drama-drama yang romantis.
Berbicara cinta, tidak harus berbicara mengenai sepasang muda mudi yang berpacaran.
Justru aku ingin bertanya kepada muda-mudi itu...
Benarkah hubungan kalian dilandasi oleh cinta yang murni?
Ataukah hanya sebatas obsesi dan ketertarikan fisik belaka?
Yang hanya ada di alam fisik, tetapi tidak berlaku di alam cahaya.
Cinta yang tulus dapat memberi kekuatan kepada siapapun.
Cinta orang tua kepada anaknya, anak kepada orang tuanya.
Cinta seorang guru kepada muridnya, murid kepada gurunya.
Cinta seorang pemimpin kepada rakyatnya, rakyat kepada pemimpinnya.
Cinta kepada orang-orang yang menderita.
Cinta kepada semua makhluk hidup.
Dan tahukah kamu,
Menjalani cerita hidup bersamamu,
Telah mengajariku makna cinta yang sebenarnya.
Wahai Cahaya kembarku...
Walaupun kita bukan dua orang muda-mudi yang sedang berpacaran.
Dan tidak akan pernah menjadi seperti itu.
Tapi izinkan aku mengatakan sesuatu dalam tubuh cahayaku ini..
Aku menyayangimu.
Aku menyayangimu tanpa kata "tapi"
Aku menyayangimu apa adanya, seperti apapun dirimu.
Aku menyayangimu tanpa syarat.
Terima kasih telah mengajariku,
Bagaimana cara menurunkan hujan di tempat-tempat yang gersang dan gelap."
"Aku menyayangimu , Syam, " kata Rumi. "Lebih dari siapapun yang pernah kukenal."
"Hah? Apa katamu?" Syam tampak bingung. "Ulangi sekali lagi. "
"Aku menyayangimu....
Aku menyayangimu.....
Wahai Cahaya Kembarku, aku menyayangimu... "
Tubuh cahaya mereka bertambah besar lagi ketika Rumi mengatakan kalimat "aku menyayangimu". Tali energi yang membelit mereka langsung putus. Mamangmurka kewalahan.
Puan Hanizah bersiap untuk menyerangnya, namun Lea menahannya. "Jangan.Biarkan kedua kembaran itu mengatasinya sendiri. Dan lihatlah apa yang terjadi."
Syam tersenyum. Ia begitu takjub dengan keajaiban kalimat "Aku menyayangimu" yang yang baru saja diucapkan oleh Cahaya Kembarnya. Betapa tidak, Pekerja Kegelapan sekuat Mamangmurka ternyata bisa dikalahkan hanya dengan kalimat itu.
" Aku menyayangimu juga, Mi. Rasa sayang antar cahaya yang tiada bandingannya dengan beragam rasa sayang yang pernah kita dengar selama berada di tubuh fisik. Ayo kita ulangi lagi kalimat ajaib itu, Mi. Aku menyayangimu."
"Ayo, Syam."
"Aku menyayangimu."
"Aku menyayangimu."
"Aku menyayangimu."
"Aku menyayangimu."
Mereka terus mengulang kalimat ajaib itu. Aku menyayangimu. Aku menyayangimu. Setiap kali keduanya mengulang kalimat ajaib itu, Tubuh cahaya mereka semakin membesar, hingga keduanya melebur menjadi satu, membentuk cahaya raksasa yang memancarkan sinar warna warni ke segala arah.
Inilah tubuh cahaya mereka yang asli. Satu cahaya besar yang membelah diri dan menempati dua tubuh yang berbeda selama di alam fisik.
Mamangmurka panik melihatnya. Ia mencoba melakukan serangan dengan sinar hitamnya, tetapi tidak mempan. Setiap sinar hitam yang mengenai cahaya raksaaa itu, langsung berubah menjadi sinar berwarna emas berkilauan, dan berbalik arah menyerang Mamangmurka. Sinar itu mengenai tangan, kaki, wajah Mamangmurka. Seketika, anggota tubuh Mamangmurka yang terkena sinar emas itu lebur.
"Wow, " kata Azlina.
"Ini luar biasa, " kata Encik David.
"Tidak... Tidak..., " kata Mamangmurka. Ia masih belum rela melepas kekuatan hitam dan kesaktiannya yang telah ia pertahankan selama lima ratus empat puluh tahun.
Ia menyerang lagi, namun serangan itu berbalik, melebur badannya sendiri.
Hingga leburlah seluruh badan gelap Mamangmurka, tersisa hanya setitik cahaya yang berkilauan. Diri sejatinya yang selama ini terkubur oleh tubuh kegelapannya. Setitik cahaya itu tampak menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku, " katanya. "Dan terima kasih telah melebur kuasa kegelapan yang selama ini mencengkeramku. "
Setitik cahaya itu melesat ke atas langit dan menghilang.
"Kemana ia pergi? " tanya Aizad.
"Ketempat seharusnya dia berada, " jawab Win.
Hancurnya tubuh gelap Mamamgmurka diikuti oleh lenyapnya seluruh makhluk astral Pekerja Kegelapan yang ada.
Keadaan kembali tenang. Awan gelap menghilang, berubah menjadi langit malam yang bertaburan bintang dan disinari cahaya bulan. Semua kesatria cahaya bersuka cita.
"Baru pertama kali saya melihat kekuatan sedahsyat ini, " kata Ibu Ismunah. "
"Inilah kekuatan Sang Sumber yang terkuat di semesta ini, " kata Pertiwi. "Kekuatan cinta tanpa syarat. Kekuatan cinta tanpa batas. Kekuatan cinta antar tubuh cahaya, tanpa ada kemelekatan fisik sedikit pun. Kedua cahaya kembar ini memiliki kekuatan itu. Inilah kekuatan rahasia cahaya kembar yang ditakuti oleh Para pekerja kegelapan yang terkuat sekalipun."
Ibu Ismunah tersenyum. "Kalau kondisi sudah aman, izinkan saya kembali ke tubuh fisik saya. Kasihan Ningsih menjaga tubuh fisik saya di rumah."
"Kembalilah, Ismunah, " kata Pertiwi. Ia berpamitan dengan rombongan dari Malaysia, kemudian segera melesat dengan kecepatan tinggi, kembali ke tubuh fisiknya.
"Nah, kalau sudah tidak ada masalah, ayo kita pulang, " kata Encik David.
"Sebentar, " kata Puan Hanizah. "Saya masih belum puas melihat cahaya raksasa yang luar biasa cantik ini. "
Puan Hanizah terus memandangi cahaya raksasa yang masih memancarkan sinar berwarna warni itu.
"Baiklah kalau begitu, " Encik David. "Tapi jangan terlalu lama ya. "
"Iya, " kata Puan Hanizah.
Begitupula dengan Azlina, Aizad, Puan Norima, dan Encik Johan. Semuanya masih terkagum-kagum melihat cahaya raksasa yang luar biasa indah ini. Setelah puas, barulah mereka melesat, kembali ke Kuala Lumpur, kedalam tubuh fisik mereka.
"Bagaimana Teja? Apakah tugas kita sudah selesai? " tanya Agni.
"Hmm... belum, " jawab Teja. "Kurang sedikit lagi. "
Cahaya raksasa itu kembali membelah diri menjadi dua titik cahaya, Rumi dan Syam.
"Hebat kamu, Mi," kata Syam.
"Kamu juga hebat, Syam. Terima kasih. "
"Mi, seumur hidupku, baru kali ini aku mendengar puisi seindah itu. "
"Benarkah?"
"Iya, Mi. Terima kasih ya."
"Sama-sama, Syam."
Mereka melihat kebawah. Ke arah bus terguling yang tengah dievakuasi. Tampak polisi mengatur jalannya lalu lintas yang sempat macet.
Beberapa polisi, petugas medis, dan masyarakat sekitar sibuk mengevakuasi para penumpang bus yang menjadi korban. Tubuh-tubuh mereka dimasukkan kedalam mobil ambulans dan dibawa ke Rumah sakit Siti Aisyah, Madiun.
"Sepertinya kita belum bisa kembali ke tubuh fisik kita, " kata Syam. "Kondisinya masih rusak berat. Belum bisa kita tempati."
"Lalu kemana kita sebaiknya, Syam?"
Teja dan Agni muncul dihadapan mereka berdua. "Ikut kami.... "
Langit terbuka. Tubuh cahaya Syam dan Rumi terserap naik, mengikuti Malaikat Pembimbing mereka.