Light Warriors

Light Warriors
Bagian 32



Mamangmurka bergerak melayang-layang diatas lautan.


Ia meninggalkan semenanjung Malaysia , melewati daratan Asia, India, hingga ke Amerika.


Ia menuju sebuah laut yang berada di pertemuan tiga buah pulau. Tempat yang paling misterius di muka bumi. Mereka menyebutnya bumi hitam. Portal rahasia menuju alam kegelapan.


Jika Shambala adalah kerajaan rahasia Para kesatria Cahaya, maka bumi hitam adalah kerajaan rahasia Para pekerja kegelapan.


Sekilas, tidak ada yang aneh dengan tempat ini. Orang awam hanya melihatnya sebagai lautan yang tenang saja. Namun, tidak bagi pekerja kegelapan.


Mamangmurka mengacungkan jarinya kearah laut. Air laut itu berputar membentuk semacam pusaran, dan Mamangmurka masuk kedalam pusaran itu.


Tibalah ia di alam yang serba gelap. Disana, ada suatu wilayah yang dipenuhi kesenangan yang membuat terlena, dimana Para Pekerja Kegelapan dari dimensi gelap menghabiskan hari-harinya dengan berpesta. Ada wilayah yang dipenuhi darah. Ada wilayah yang dipenuhi peperangan tanpa henti. Ada wilayah yang dipenuhi oleh kegelapan saja, tanpa ada terang walaupun hanya sedikit saja.


Mamangmurka melewati semua wilayah itu, hingga ia mencapai alam kegelapan tingkat ketujuh. Disana, terlihat sinar raksasa berwarna hitam, yang meliputi semua keberadaan di alam kegelapan.


Dari sinar itu, terpancar energi-energi gelap, Para Pekerja Kegelapan dan makhluk-makhluk astral jahat yang tak terhingga jumlahnya. Mamangmurka tidak sendirian disitu. Ada ribuan Pekerja Kegelapan. Mereka bersujud pada sinar hitam itu. Mamangmurka pun turut bersujud.


"Wahai Yang Mulia Niwatakawaca," katanya. "Terpujilah Engkau....terpujilah Engkau...."


Niwatakawaca memandang para pengabdi setianya tanpa berkata-kata. Para Pekerja Kegelapan itu membawa titik-titik sinar berwarna hitam yang jumlahnya ribuan dan mempersembahkannya kepada Niwatakawaca.


Niwatakawaca merasa puas. Ia memberi balasan berupa kesaktian yang berlipat ganda kepada para pengabdi setianya.


"Terus sebarkan kejahatan di alam fisik," kata Niwatakawaca. "Aku sangat senang menikmati semua kekerasan yang ada di bumi. Semua kemarahan dan tangis adalah musik-musik kegemaranku. Jiwa-jiwa yang dirundung duka, Jiwa-jiwa yang dipenuhi ambisi, Jiwa-jiwa yang serakah, adalah makanan favoritku. Persembahkan itu semua kepadaku.


Sebab, hanya dengan menyebarkan energi negatif, alam kegelapan ini akan terus mendominasi, mengalahkan alam cahaya.


Aku sangat bangga dengan kalian semua yang berhasil menyamar sebagai Malaikat, sebagai guru spiritual, yang seolah-olah mencerahkan, tetapi sesungguhnya menyeret Jiwa-jiwa untuk menjadi santapanku. Hahaha. Dan aku sangat senang dengan teror di muka bumi. "


"Kami berjanji akan melakukan yang terbaik untuk tuanku, Niwatakawaca," Para Pekerja Kegelapan berikrar.


"Bagus. Jika ternyata kalian tidak mampu memberikan kepadaku yang terbaik, maka kalian sendirilah yang akan menjadi santapanku. Hahaha.


Kalian harus berjanji untuk melenyapkan semua Pekerja cahaya yang kalian temui. Kuras habis semua energi positif mereka, hingga aku bisa menikmati tubuh cahaya mereka.


Hancurkan semua Cahaya kembar dimanapun mereka berada. Merekalah ancaman kita semua. Pisahkan mereka berdua. Sebarkan pemahaman-pemahaman yang salah tentang mereka. Buatlah mereka saling membenci satu sama lain. Jangan sampai mereka berdua saling bersatu dan saling mencintai, atau kalian yang akan hancur.


Aku ingin kalian menghancurkan semua cinta yang ada di alam fisik. Kobarkan pemahaman yang salah mengenai cinta. Batasilah cinta dengan pemahaman-pemahaman yang menyesatkan. Taklukkan cinta dengan ego."


Berbeda dengan penyihir yang lain yang bersemangat, Mamangmurka justru tampak ketakutan. Beberapa kali ia berusaha melenyapkan Cahaya Kembar yang ditemuinya, tetapi selalu gagal. Ia terus memutar otak, mencari cara untuk menangkap Rumi dan Syam.