
"Ini adalah sungai Melaka," kata Azlina memberi penjelasan.
Sementara, Aizad sedang asyik mengamati setiap sudut bangunan-bangunan kuno yang ada di pinggir sungai untuk mendapatkan posisi yang terbaik, kemudian memotretnya.
Mereka bertiga berada diatas perahu boat Melacca River Cruise (MRC) yang menyusuri sungai Melaka, dimulai dari Taman Rempah dan berakhir di taman rempah lagi. Mereka harus membayar 10 Ringgit per orang.
" Sungai Melaka ini memiliki nilai sejarah yang teramat penting semasa kerajaan Melayu Melaka," Azlina melanjutkan penjelasannya. " Di sisi kanan dan kirinya, terdapat kawasan perniagaan, perkotaan, perumahan, pelabuhan, pemakaman, dan masih banyak lagi sejak ratusan tahun yang lalu."
Rumi, yang ditemani oleh Abang Badrol terus menyimak sembari melahap kentang goreng spiralnya.
Ia sangat menikmati perjalanan di kota kuno ini. Ditambah dengan Azlina yang rupanya memiliki banyak wawasan dengan pariwisata di Malaysia. Rumi mengagumi keahliannya itu.
"Sejarah kesultanan Melaka ini bermula dengan kedatangan seorang Raja Sriwijaya dari Palembang sekitar tahun 1400 hingga 1424," Azlina melanjutkan. "Dikisahkan dalam hikayat, ketika Raja Sriwijaya itu tengah berteduh dibawah pohon, ada kejadian aneh, seekor kancil putih menendang anjing-anjing raja. Melihat kejadian itu, sang raja merasa kagum dan memerintahkan pasukannya untuk membuka daerah ini dan diberi nama negeri Melaka."
Rumi terus menyimak.
"Dulu, kota Melaka ini adalah ibu kota kesultanan Melaka dan merupakan pusat peradaban Melayu pada abad ke 15 dan 16. Kemudian, bangsa Portugis menaklukkan Melaka pada tahun 1511. Pada tahun 1641 hingga tahun 1795, Melaka dikuasai oleh Belanda. Kemudian Melaka dikuasai oleh Inggris pada tahun 1820an hingga kemerdekaan Malaysia pada tahun 1957."
Perjalanan berlanjut menjelajahi Dutch Square, kawasan bersejarah peninggalan Belanda yang didominasi oleh warna merah.
Masih dalam kawasan Dutch square, mereka mengunjung Stadthuys, Gereja Kristus, kincir angin dan bangunan-bangunan kuno lainnya. Aizad tidak berhenti memotret. Setelah itu, mereka mengunjungi menara Tamingsari, Jonker Street, Museum Baba Nyonya, Museum Maritim, dan Gereja St.Xaverius. Terakhir, mereka mengunjungi benteng A famosa.
"Benteng A Famosa adalah salah satu bangunan peninggalan bangsa Portugis yang masih tersisa," Azlina menjelaskan. "Ini adalah sisa arsitektur Eropa yang paling tua di Asia. Gerbang kecil yang disebut Porta de Santiago ini merupakan satu-satunya bagian benteng yang tersisa."
"Kapan-kapan, kalau kita berkunjung ke Indonesia, gantian kamu yang menjadi pemandu kami ya?" kata Azlina.
"Oh, hahaha," Rumi tertawa. " Nggak masalah. Tapi sekalipun aku tinggal di Indonesia, aku belum terlalu banyak bepergian mengunjungi kota-kota di Indonesia yang banyak sekali."
"Hahaha. Aku tahu itu," Kata Azlina. "Aku juga tidak banyak mengetahui tentang kota-kota di Malaysia, sekalipun aku orang Malaysia."
Mereka bermalam selama sehari di Melaka. Keesokan harinya, mereka kembali ke Kuala Lumpur.
*
"Mi, Gimana perjalananmu di Melaka?" Syam bertanya melalui telepati.
"Sangat menyenangkan," jawab Rumi secara telepati. " Kami mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah di Melaka."
"Senang sekali ya."
"Iya, Mi. "
"Oh ya, aku belum cerita sama kamu ya."
"Mengenai apa itu, Mi?"
"Seminggu yang lalu, aku, Azlina, dan Aizad dapat serangan dari Pekerja kegelapan lagi."
"Oh ya? Gimana ceritanya?"
"Waktu kita baru saja pulang dari pusat perbelanjaan. Kita makan di kedai. Tiba-tiba, ada lima orang pemuda, seperti kerasukan, mendatangi kedai. Mereka mengambil uang pemilik kedai, juga semua handphone milik pengunjung kedai. Aku merasakan mereka dalam pengaruh Pekerja Kegelapan.
Aku nggak bisa berbuat apapun. Nggak mungkin aku meninggalkan tubuh fisikku di kedai itu.
Malaikat pembimbingku menyuruhku untuk tetap berdzikir.
Tiba-tiba, Azlina berdiri dan memainkan biolanya. Aku melihar energi warna biru laut, melenyapkan semua Pekerja Kegelapan itu.
Kelima pemuda itu langsung sadar. Mereka meminta maaf, mengembalikan semua uang, dan handphone, kemudian bergegas pergi."
"Keren banget si Azlina. Kalau begitu, selama di Malaysia, kamu jangan jauh-jauh darinya, " kata Syam.
"Iya, Syam. Aku justru khawatir sama kamu."
"Kenapa?"
"Karena nggak cuma aku, tapi juga kamu yang diincar. Aku juga khawatir sama Ibu."
"Aku bisa mengatasinya, Mi. Kamu jangan khawatir. Kalau pekerja kegelapan itu berwujud manusia fisik, aku tinggal menghajarnya seperti biasa. Tapi kalau berwujud tubuh astral, aku akan memerangi mereka dengan tubuh cahayaku. Kamu juga nggak perlu khawatir soal Ibu, Mi. Ibu selalu dalam penjagaanku."
"Kamu terlalu percaya diri, Syam. Tapi syukurlah kalau begitu. "
"Beristirahatlah, Mi. Jangan putus berzikir."
"Iya, Syam."