Light Warriors

Light Warriors
Bagian 42



Sepulang sekolah , Syam dan Nadine makan siang di warung nasi padang yang ada di Taman Bungkul, Surabaya. Tanpa sadar, Mamangmurka terus mengikutinya. Seraya tersenyum sinis, ia mulai melancarkan aksinya.


"Kak Syam, gimana kalau sore ini, kamu ikut belajar kelompok di rumahku?" tanya Nadine.


"Siapa saja yang ikut?"


"Hmm, ada Sinta, Anita, Tety, dan Tasya. Anak cewek semua sih, Kak Syam."


Syam menggaruk kepalanya. "Uhm, gimana ya? Jujur, aku nggak enak kalau aku cowok sendiri. "


"Tapi kan kamu pacarku, Kak Syam. Anak-anak semuanya juga sudah tahu."


"Hehe, baiklah, Nad. Lagipula, ada PR Fisika yang aku sendiri masih bingung. Beda sama Rumi, aku benar-benar menyerah dengan mata pelajaran fisika, kima, dan sejenisnya."


"Sudah tahu gitu kok kamu dulu mengambil jurusan IPA?"


"Biar keren saja, Nad. Hehe."


"Ah, biarpun jurusan IPS, banyak juga kok yang jadi orang sukses. "


"Iya juga sih, Nad. Sebenarnya, waktu itu aku nggak ingin berpisah sama saudara kembarku. Aku nggak tega lihat dia terus ditindas dan diejek sama teman-teman."


"Hahaha. Sebegitu sayangnya kamu dengan saudaramu. Aku cemburu lho."


"Hahaha. Buat apa juga kamu cemburu? Itu kan sayang antar saudara. Wajar lah. "


"Hehe, iya, Kak Syam. Aku juga tahu kok. Sesama saudara kandung kan memang harus saling menyayangi. Tapi nggak semua saudara kembar bisa akur seperti kalian. Ada juga saudara kembar yang hampir setiap waktu bertengkar terus."


"Eh, tapi percaya nggak, dulu waktu kecil, kami sempat tidak akur."


"Iya kah?"


"Iya. Bahkan sampai SMP. Malahan aku terus menindasnya, seperti yang dilakukan teman-teman kepadanya. "


"Lalu, bagaimana ceritanya kok bisa akur? Nadine menyeruput segelas es teh di depannya.


"Aku sakit demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit. Waktu itu, tidak ada satupun teman yang menjengukku. Cuma Rumi yang peduli padaku. Rumi yang merawatku dan menemaniku. Sejak saat itu, kami berdua akur."


"Oh, so sweet sekali," Nadine tertawa nyengir.


"Hus, apaan sih kamu."


"Ya baguslah. Daripada kalian berdua bertengkar terus. Nggak enak lho bertengkar dengan saudara kandung sendiri."


Jantung Syam berdetak. Sinyal dari kembarannya. Sejenak, Syam memejamkan matanya dan menyentuh dadanya dengan telapak tangan kanannya.


"Aku tahu, Syam, kamu lagi membicarakanku. Hayoo," Kata Rumi.


"Hehe. Iya, Mi. Maaf ya."


"Nggak apa-apa kok, Syam. Sama Nadine kan?"


"Iya, Mi. "


"Ya sudah, teruskan pacarannya. "


"Kamu sendiri lagi apa, Mi?"


"Lagi istirahat, Syam. Semalam, sepulang dari Shambala itu, terjadi peperangan hebat dengan para pekerja Kegelapan. Kantor Charity di Bandar Tasik Selatan diserang habis-habisan."


"Hah? Kok bisa sih? Padahal kantor itu kan pertahanan energinya kuat sekali."


"Wuih, mengerikan sekali ya, Mi. Kalau ada aku, sudah aku hajar habis-habisan Abang Badrol itu."


"Nyaris saja tubuh fisik kita semua dirusaknya juga dan kita semua nggak bisa kembali ke tubuh fisik kita. Untung ada Azlina yang menjaga tubuh fisik kita dengan memainkan biola ajaibnya."


"Syukurlah kalau begitu. "


"Ya sudah, teruskan pacarannya. Salamku buat Nadine ya?"


"Iya, Mi. "


Syam membuka matanya sambil tersenyum. Didepannya, tampak Nadine termangu melihatnya. Berkali kali Nadine mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Syam yang tengah memejamkan mata, sambil senyam-senyum.


"Kak Syam, kamu sehat kan?" tanya Nadine.


"Oh, sehat kok, Nad."


"Aneh sekali, mendadak kamu memejamkan matamu sambil senyam-senyum sendiri. Kamu meniru gayanya Kak Rumi ya?"


"Hehehe. Syam kembali menggaruk-garuk kepalanya walaupun tidak ada kutu yang membuatnya gatal.


Syam dan Nadine meninggalkan warung padang. Sembari membonceng Nadine, ia melewati jalanan kota Surabaya yang macet dan ramai, menuju Rumah Nadine yang berada di jalan Pagesangan, dekat Masjid Al Akbar Surabaya.


Tiba-tiba, dua orang pemuda pengendara motor memepetnya, berusaha merampas ponsel cerdas milik Nadine.


Syam dan Nadine terkejut. Nadine tampak panik. Syam langsung memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, sambil berzikir. Ia tahu, kedua pemuda itu sedang dirasuki pekerja kegelapan.


Di atas langit, Mamangmurka terbang dengan tubuh astralnya, mengikuti mereka berdua.


Jika tidak bersama Nadine, Syam sudah turun dari sepeda motornya dan menghajar dua orang pemuda itu. Namun, sekalipun Syam berhasil melumpuhkan pemudanya, tetap saja ia tidak bisa mengalahkan makhluk astralnya dengan serangan fisik.


Dua orang pemuda berwajah seram itu terus mengejar, sampai di depan Masjid Al Akbar Surabaya. Syam memarkirkan motornya di Masjid Al Akbar.


Mereka tidak berani mendekat, karena Masjid Al Akbar dilindungi energi pelindung yang sangat kuat.Mereka menunggu didepan Masjid sampai Syam dan Nadine keluar.


"Lho, kok kita malah berhenti di Masjid Al Akbar, Kak Syam?" Nadine kebingungan.


"Kamu tunggu saja disini, Nad. Kamu aman disini."


"Baik, Kak Syam. "


"Sebaiknya kamu sholat di dalam."


"Iya, Kak Syam. "


Mereka berdua mengambil air wudhu dan melakukan sholat. Setelah sholat, Syam berdzikir dan mengheningkan dirinya. Ia keluar dari tubuh fisiknya dan tetap berlindung di dalam masjid.


Dari dalam Masjid, ia menembaki makhluk-makhluk astral yang menghinggapi dua orang pemuda itu dengan sinar energi positif berbentuk api. Agni turut membantunya. Syam berhasil membakar pekerja-pekerja kegelapan itu.


Kedua orang pemuda itu langsung sadar dan pergi. Syam melihat ke atas langit. Mamangmurka sedang menatapnya dengan sinis. Syam dengan geram, berniat mengejarnya. Tetapi Agni langsung mencegahnya.


"Syam, jangan menghadapinya dengan emosi. Dia adalah Pekerja Kegelapan yang sangat sakti, berasal dari tingkat enam. Semakin kamu membalas serangannya dengan kemarahan dan emosi negatif lainnya, dia bukannya semakin takluk, tetapi justru semakin kuat," kata Agni.


"Bagaimana aku bisa mengalahkannya?" tanya Syam, masih diliputi kemarahan. "Beberapa kali dia hendak mencelakaiku dan saudara kembarku."


"Kendalikan dirimu, Syam. Masuklah kedalam Masjid, berwudhulah, perbanyak zikir, sholat, dan mengheningkan diri. Perkuat energimu sendiri."


"Iya, Agni," Syam mengangguk.