Light Warriors

Light Warriors
Bagian 15



Ada yang berbeda dengan hari Sabtu ini. 


Semua siswa di sekolah tidak membawa buku pelajaran,  melainkan membawa berbagai peralatan kebersihan,  seperti sapu lidi, ember,  dan lain-lain.


Hari ini,  sekolah kedatangan tamu dari Malaysia. Charity,  sebuah organisasi sosial dan kemanusiaan yang memiliki kantor di Kuala Lumpur.  Mereka mengadakan sosialisasi dengan mengunjungi sekolah-sekolah di berbagai wilayah di Indonesia sebagai bentuk kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Malaysia dalam bidang sosial dan kemanusiaan.  


Semua kegiatan belajar mengajar ditiadakan selama sehari.  Sebagai gantinya, seluruh siswa dikerahkan menuju sungai yang tidak jauh dari sekolah.  Sungai itu sangat kotor dan dipenuhi oleh sampah dan tanaman-tanaman liar. 


Rumi dan semua siswa yang lain,  juga beberapa orang guru ikut masuk kedalam sungai sambil membawa alat-alat kebersihan untuk membersihkan semua sampah dan tanaman-tanaman liar yang ada.  Alhasil,  setelah acara kerja bakti itu selesai,  aliran sungai tampak lebih lancar dan bening.  Seluruh kegiatan hari itu diliput oleh media masa cetak dan elektronik di Surabaya.  


Setelah kegiatan itu berakhir, seluruh siswa bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing.  Tentu saja mereka senang. Karena hari itu, mereka pulang lebih awal dari biasanya.  Tiba-tiba Rumi didatangi oleh Pak Suyadi.


"Mi, kamu jangan pulang dulu ya,  "katanya. 


"Lho, ada apa,  Pak ?" 


"Ikutlah berbincang-bincang bersama tamu-tamu kita dari Malaysia. Mewakili kelas kita. Lumayan Mi,  besok kamu bisa masuk koran."


Rumi tampak grogi. " Tapi saya harus bicara apa, Pak? " 


"Sudahlah, Mi. Kamu ikut saja. " 


"Tapi saya nggak siap, Pak."


"Ayolah, ikut saja. Nggak ada yang perlu ditakui." Pak Suyadi sedikit memaksa.  Ia menarik lengan Rumi dan membawanya ke ruang pertemuan.  


Di dalam ruang pertemuan,  ada beberapa siswa yang lain.  Disitu,  ada Pak Tirto, kepala sekolah Rumi, dua orang tamu dari Malaysia,  seorang wartawan dari media cetak, dan seorang wartawan lagi dari media elektronik. 


Dua orang tamu itu,  seorang wanita berbaju kurung khas Malaysia,  usianya sekitar 54 tahunan.  Namanya adalah Puan Hanizah. Wajahnya tampak ramah dan ceria. Sedangkan satunya lagi seorang laki-laki, seumuran dengan Puan Hanizah,  adalah Encik David. Mereka berdua adalah suami istri pemimpin organisasi Charity. 


 Puan dalam bahasa Melayu berarti "nyonya". Sedangkan Encik dalam bahasa Melayu berarti "bapak".


"Visi dan misi kami adalah menanamkan kesadaran bahwa kita adalah manusia, makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, " kata Encik David dengan logat melayunya yang khas. Ia berbicara dengan bahasa campuran Indonesia dan Melayu, sesekali diselingi dengan bahasa Inggris. 


"Kita harus belajar untuk saling berempati. Saling merasakan penderitaan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dan perasaan empati ini perlu ditanamkan sedini mungkin kepada generasi muda."  


Karena itulah, kita mengadakan kunjungan ke berbagai negara di Asia, Afrika,  Eropa,  dan Amerika. Mengunjungi sekolah-sekolah. Mengadakan kerjasama dengan pemerintah di berbagai negara," tambah Puan Hanizah. 


"Kita memberikan berbagai penghargaan kepada pemuda-pemudi yang telah berbuat sesuatu untuk kemanusiaan,  termasuk beasiswa juga." 


"Bagaimana cara bergabung dengan organisasi Charity ini? " tanya seorang wartawan.  


"Mudah saja," jawab Encik David. "Bekerjalah untuk kemanusiaan. Lakukan perbuatan-perbuatan yang sederhana,  tetapi rutin. Seperti membantu fakir miskin,  mengajar dengan sukarela,  membantu korban bencana alam,  membersihkan tempat ibadah, dan masih banyak lagi. Buatlah laporan yang disertai dengan foto setiap kegiatan kalian. Kami akan memberikan nilai dan penghargaan. "


 


"Kamu harus mengatakan sesuatu kepada kedua orang Malaysia itu." Teja, tiba-tiba muncul.


"Hah? Apa yang harus aku katakan kepada mereka?"


"Kesempatan emas? Kesempatan apa?"


"Rahasia, anak manja. Nanti juga kamu tahu sendiri kok."


"Ya,ya,ya. Menurut saja lah sama kamu."


Setelah acara di ruang pertemuan selesai,  semua siswa bergegas keluar ruangan. 


Encik David dan Puan Hanizah masih berbincang-bincang dengan Pak Tirto.


Rumi memberanikan diri untuk menghampiri mereka.  


"Permisi, " katanya dengan malu-malu  " Saya Rumi. Bolehkah saya menceritakan sesuatu? " 


Puan Hanizah dan Encik David tersenyum.  Begitupula Pak Tirto. 


"Nama kamu bagus, " kata Puan Hanizah.


"Seperti nama seorang sufi yang terkenal, Jalaludiin Rumi. " 


"Apa yang ingin kamu ceritakan? " Encik David bertanya.


"Begini, saya bertemu dengan seorang wanita tua dan suaminya yang juga tua renta.Namanya Ibu Ismunah dan Pak Min. Kondisinya memprihatinkan.


Pak Min menderita suatu penyakit,  ada semacam benjolan dilehernya. Tetapi mereka tidak punya biaya untuk berobat. Mereka juga tidak memiliki tempat tinggal. Mereka tinggal di kios mereka yang berukuran sangat kecil dan sempit.


Jika Pak Min tidur didalam kios,  Ibu Ismunah terpaksa tidur di tepi jalan dengan beralaskan seadanya. Jika hujan,  mereka terpaksa menumpang di warung sebelahnya untuk sekedar berteduh. " 


Puan Hanizah dan Encik David mendengarkan cerita Rumi dengan penuh antusias.


"Rumi,  kamu mau tidak antar kami ke kios Ibu Ismunah dan Pak Min? " tanya Puan Hanizah.  


Rumi tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya."  


"Bagus, " jawab Encik David.  


"Hmm...maaf, Tuan dan Puan apakah tidak terburu-buru kembali ke Malaysia? " tanya Pak Tirto.  


"Kami masih disini sampai besok, " jawab Encik David.  "Besok, pukul tiga sore,  kami baru pulang ke Kuala Lumpur. " 


"Baik, kalau begitu,  bagaimana kalau kita ke kios Ibu Ismunah dan Pak Min dengan mobil sekolah saja? " tanya Pak Tirto.  


"Baiklah, " jawab Encik David. " Naik apapun yang penting sampai tujuan. " 


"Rumi, kamu ikut kami ya, " kata Pak Tirto.  


"Siap, Pak, "jawab Rumi.  Hatinya senang sekali hari ini.