Light Warriors

Light Warriors
Bagian 18



Lima ratus empat puluh tahun yang lalu.


Awan gelap terlihat menyelimuti Padepokan harimau hitam, tahun 1478 Masehi, di wilayah kekuasaan Majapahit.


Padepokan harimau hitam dipenuhi para pendekar yang sedang bersiap siaga. Padepokan ini sudah berdiri semenjak kerajaan Singasari, kemudian terus menjadi ancaman bagi kerajaan Majapahit, karena menganut ajaran rahasia Tantra Bhairawa aliran kiri yang dianggap berbahaya.


Para pendekarnya kerap melakukan ritual aneh, seperti menari, mabuk-mabukan, minum darah, dan makan daging mentah, bahkan daging mayat manusia yang dilakukan di pasetran atau kuburan. Mereka percaya, ritual ini dapat memberikan mereka kesaktian.


Beberapa kali pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan mengirim telik sandhi (mata-mata) untuk mengawasi gerak-gerik ajaran ini. Namun, seringkali pula pasukan telik sandhi Majapahit terkecoh dan dapat dipukul mundur oleh para pendekar dari padepokan harimau hitam yang terkenal sakti.


Para pendekar itu dapat menciptakan angin topan, menciptakan banjir, menggetarkan bumi, menghilang, dan berbagai kesaktian lainnya.


Mpu Mahesa Kuwung, pemimpin padepokan ini yang telah berusia 350 tahun dan terkenal dengan kesaktiannya, sedang bersemadi di bawah pohon beringin yang ada di padepokannya. Ia tengah berdialog batin dengan Niwatakawaca, Sang penguasa kegelapan.


Setelah bersemadi, ia memanggil Mamangmurka, anak kandung kesayangannya, yang waktu itu berusia 18 tahun.


Mamangmurka pun menghadap sang ayah dengan penuh hormat.


"Aku mendapat petunjuk niskala, bahwa zaman baru akan segera tiba," Ia memulai pembicaraannya. "Kamu harus bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. "


Mamangmurka mendengarkan dengan seksama.


"Kudengar dari angin yang berhembus, kedhaton Majapahit telah dihancurkan oleh pasukan Demak Bintoro. Sebuah kerajaan baru, dengan agama baru yang dibawa oleh orang-orang dari luar tanah Jawa, didirikan, menggantikan Majapahit yang menganut agama Siwa Budha. Cepat atau lambat, bala pasukan Demak pun akan datang ke Padepokan ini. "


"Mengapa kita harus takut ayahanda? Bukankah selama ini, tidak ada satupun yang bisa mengalahkan para pendekar kita?" Mamangmurka bertanya.


"Benar," kata Mpu Mahesa Kuwung. " Tetapi, telah diramalkan oleh kakekmu, bahwa orang-orang yang beragama dari luar tanah Jawa itu akan menghancurkan padepokan kita. Mereka memiliki bacaan yang menjadi kelemahan dari padepokan kita."


"Bacaan apakah itu, ayahanda?" Mamangmurka mengerutkan dahi.


"Entahlah. Aku sendiri juga tidak mengetahuinya persis. Yang jelas, bacaan itu tidak berasal dari tanah Jawa.ini, Melainkan dari tanah luar Jawa sana. "


Mamangmurka terus mendengarkan dengan seksama. Raut wajahnya menjadi lebih tegang.


"Dan telah ditakdirkan oleh Niwatakawaca, bahwa kamu lah yang akan terus hidup diantara kita semua. Kamulah yang dipilih oleh Niwatakawaca. Satu-satunya anak keturunanku."


Terdengar keributan di luar pondok. Bala pasukan Demak merangsek masuk, sembari meneriakkan takbir. Para pendekar mencoba melawan, tetapi seakan kesaktian mereka tidak berguna ketika menghadapi pasukan Demak.


"Nah, sekarang, pergilah ke arah pantai utara. Akan ada pertanda untukmu disana," kata Mpu Mahesa Kuwung." Cepat."


"Tetapi...bagaimana dengan ayahanda?" tanya Mamangmurka.


"Jangan pedulikan ayahmu. Selamatkan dirimu. Kamu harus menggenapi ramalan kakekmu, kamu akan terus hidup."


"Ayah...."


Pasukan Demak membakar bangunan pondok. Mamangmurka segera berlari menyelamatkan diri. Mpu Mahesa Kuwung berhasil ditangkap dan dieksekusi.


Mamangmurka terus berlari, menghindari kejaran pasukan Demak. Ia menyamar sebagai rakyat jelata, hingga tibalah Mamangmurka ditepi pantai utara. Ia pun bersemadi dan tampaklah air laut membentuk pusaran.


Mamangmurka masuk kedalam pusaran itu dan tibalah ia di dunia yang serba gelap. Ia terus berjalan, menjelajahi alam kegelapan, hingga ia bertemu dengan Niwatakawaca, sang raja kegelapan.


Ia kembali bersemadi, mengheningkan ciptanya. Terdengarlah suara yang menggelegar dari Sang penguasa kegelapan.


"Anak muda," kata Sang penguasa kegelapan. "Ada keperluan apa kamu kesini?"


Niwatakawaca tertawa keras. "Siapakah ayahandamu yang menyuruhmu untuk datang menemuiku?"


"Mpu Mahesa Kuwung, yang mulia," jawab Mamangmurka.


Niwatakawaca tertawa lagi. "Oh, ternyata kamu adalah anaknya. "


"Benar, yang mulia."


"Ayahmu dan semua nenek moyangmu, adalah pemuja setiaku."


"Namun kini padepokan ayahku telah dihancurkan oleh pasukan dari kerajaan yang baru saja berdiri, menggantikan kerajaan Majapahit, dengan agama barunya."


"Ha...ha...ha, " Niwatakawaca tertawa keras. " Kerajaan baru itu tidak akan lama berdiri. Berbagai pertikaian akan terjadi dalam kerajaan itu, hingga berganti beberapa kerajaan lagi, silih berganti. Hingga pada akhirnya, ada bangsa kulit putih, anak-anakku juga, yang datang dari tanah seberang, menjajah pulau Jawa. Kamu akan menyaksikan itu semua. Karena telah kujanjikan pada kakekmu, bahwa dengan kekuatanku kamu akan hidup abadi. Kamu tidak akan pernah sakit. Tidak tersentuh api. Tidak tersentuh senjata tajam. Juga tidak tersentuh oleh usia tua dan kematian."


Mamangmurka tersenyum. "Terima kasih, yang Mulia. "


"Tapi kamu harus ingat dua hal."


"Apa itu, yang mulia?"


"Sepanjang hidupmu itu, janganlah berhenti menebar kekacauan dan kegelapan di muka bumi."


"Baik, yang mulia. Dan yang kedua?"


"Yang kedua, kelak, lima ratus empat puluh tahun lagi, bersamaan dengan munculnya kesadaran cahaya yang dibawa oleh para Kesatria cahaya, kekuatanmu akan sirna oleh penyatuan cahaya kembar. Kamu akan mengalami kematian yang cukup mengenaskan."


"Cahaya kembar?"


"Ya, satu Jiwa cahaya, yang dengan perkenanan Sang Sumber, ia membelah dirinya menjadi beberapa Jiwa cahaya dan menempati tubuh fisik yang berbeda, hidup sebagai manusia di bumi. Akan ada banyak Cahaya kembar ini yang turun ke bumi. Jika kamu bertemu salah satunya, dan menyaksikan penyatuan mereka, tubuhmu akan hancur lebur. "


"Baik , yang mulia. Hamba akan selalu berhati-hati."


"Jika engkau bertemu dengan cahaya kembar, awasilah mereka. Hancurkan mereka, sebelum mereka menghancurkanmu. Seret sukma mereka kemari untuk menjadi santapanku. "


"Baik, yang mulia."


Niwatakawaca memberi Mamangmurka air keabadian. Setelah meminum air keabadian, Mamangmurka menjadi tidak terkalahkan, tidak akan terbakar oleh api, tidak mempan terkena senjata tajam, tidak pernah sakit, dan tidak akan pernah tersentuh oleh kematian. Mamangmurka selalu mengawasi cahaya kembar yang lahir ke dunia dan membunuh mereka, dengan menyerap energi positif mereka dan membawa Jiwa-jiwa mereka ke alam kegelapan untuk menjadi santapan Niwatakawaca.


Selama lima ratus empat puluh tahun, Mamangmurka terus hidup dan kesaktiannya semakin bertambah. Ia memiliki banyak pasukan pekerja kegelapan yang keluar dari telapak tangannya. Ia juga bisa berpindah-pindah tempat dengan cepat, tanpa harus meninggalkan tubuh fisiknya. Ia juga dapat mengubah tubuh fisiknya menjadi tubuh astral jika diperlukan.


Mamangmurka melewati berbagai zaman, ketika kesultanan Demak berganti menjadi Kesultanan Pajang, dan kesultanan Pajang digantikan oleh Kesultanan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopati, ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma berkuasa dan mengerahkan pasukan untuk bertempur melawan VOC di Batavia, ketika kesultanan Mataram Islam terpecah dalam peristiwa palihan nagari, menjadi Kesultanan Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegaran.


Mamangmurka juga mempengaruhi pemerintah Hindia Belanda untuk menindas rakyat pribumi dengan kerja paksa dan tanam paksa.


Dialah yang turut menghalangi para tokoh nasionalis dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.


Dialah yang memicu terjadinya Perang Dunia pertama dan kedua. Dialah yang mempengaruhi kekaisaran Jepang untuk menjajah hampir seluruh wilayah Asia dan menimbulkan banyak penderitaan bagi masyarakat kecil. Juga menggerakkan bala tentara Jepang untuk berbuat kekejaman. Dia dan pasukannya merasuki tubuh Adolf Hitler dan seluruh anggota partai NAZI di Jerman, mempengaruhi mereka untuk membantai jutaan orang Yahudi di Eropa. Dia juga ada dibalik pemboman kota Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara sekutu yang menewaskan jutaan penduduk Jepang.


Dia juga terlibat dalam semua kekacauan dan bencana yang terjadi di seluruh dunia hingga tahun 2018, seperti perang Vietnam, rezim Khmer merah di Kamboja, peperangan di timur tengah, kerusuhan di Indonesia tahun 1998, dan masih banyak lagi.


Mamangmurka selalu bekerja dengan sangat halus, hingga tak ada satupun orang yang menyadari pekerjaannya.


Kini, ia berdiri tidak jauh dari warung nasi Ibu Ismunah, dalam wujud seorang laki-laki berjaket hitam yang bertubuh jangkung dan selalu menyembunyikan wajahnya sendiri. Ia Terus mengawasi kegiatan Rumi dan Syam, juga Ibu Ismunah. Sesekali, ia mengawasi kos-kosan Rumi dan Syam, dan juga sekolah.