
"Azlina, bangunlah," kata Kay. "Temanmu dalam bahaya."
Azlina terbangun dari tidurnya. "Apa yang terjadi, Kay? "
"Rumi dan Syam dikepung oleh para pekerja Kegelapan."
Azlina segera memejamkan matanya dan dalam sekejap, tubuh cahayanya terlepas dari tubuh fisiknya.
Ia bertemu dengan tubuh cahaya Aizad, Puan Hanizah, Encik David, Encik Johan, dan Puan Norima, beserta malaikat pembimbing mereka masing-masing. Batu kristal yang tengah digunakan oleh Rumi memberi mereka sinyal, bahwa Rumi dan Syam berada dalam bahaya.
"Kemana kita pergi?" tanya Azlina.
"Ke Indonesia," jawab Encik David.
"Bagaimana? Kalian siap?"
"Siap," jawab mereka serentak.
Tubuh cahaya mereka melesat dengan cepat melewati langit Johor Baru, melewati Singapura, kemudian menuju Pulau Sumatera, dan Pulau Jawa.
Sepanjang perjalanan, mereka terus dihadang oleh pekerja kegelapan yang hendak menghalangi mereka. Terjadilah tembak menembak sinar, antara sinar putih dan sinar hitam. Mereka dapat dengan mudah melewati para pekerja Kegelapan yang menghadang mereka.
Terlihatlah awan gelap dari atas pulau Jawa bagian timur, tepatnya diatas kota Madiun.
"Lihat itu," kata Aizad. "Awan gelap."
"Pastilah terjadi peperangan disitu," Puan Hanizah menimpali.
Mereka bergerak mendekati awan gelap itu. Di dekat awan gelap, mereka kembali dihadang oleh pekerja-pekerja Kegelapan. Dengan sigap, mereka bertempur dan menembakkan sinar ke arah mereka.
"Ternyata mereka semua mudah sekali dikalahkan," kata Azlina.
Tiba-tiba, Azlina dikepung oleh empat pekerja kegelapan sekaligus berwujud raksasa. Ia sedikit gentar. Puan Norima dan Encik Johan segera menghabisi keempat makhluk astral itu.
"Terima kasih, Encik, Puan," Azlina mengedipkan matanya sambil tersenyum.
"Sama-sama," kata Puan Norima.
"Lain kali, kita jangan menyombongkan diri, " kata Encik Johan. "Kalau kita merasa diri sudah hebat, ketika datang kuasa kegelapan yang lebih besar lagi, kita bisa lengah dan kalah."
"Hehehe," Azlina tertawa ringan.
*
Hujan lebat disertai petir masih mengiringi perjalanan malam Rumi dan Syam. Sopir bus yang telah dirasuki tiga Pekerja Kegelapan sekaligus itu mengemudi dengan kencang dan ugal-ugalan. Setiap kendaraan, termasuk truk berusaha untuk disalibnya.
Bus itu melewati jalan raya yang cukup sempit. Seorang penumpang menepuk pundak sang sopir dan mengingatkannya agar memperlambat mengemudinya. Namun, sang sopir hanya menganggukkan kepala saja. Matanya kosong. Ia masih saja mengemudi dengan kencang, tak peduli ia melewati jalan yang sempit. Hujan lebat tak dipedulikannya. Ia sudah kehilangan kendali diri.
Rumi mengambil kantong plastik dan memuntahkan isi perutnya kedalamnya. Syam menepuk nepuk punggungnya dan memijit mijit lehernya. "Sudah enakan, Mi? "
"Sedikit lega, Syam. "
"Sabar ya Mi. Sebentar lagi juga sampai. "
Mata ketiga Rumi melihat ketiga pekerja Kegelapan berada di sekeliling sopir bus.
"Syam, ada tiga pekerja kegelapan yang sedang menyelimuti sopir bus ini dengan energi negatif. Aku melihatnya."
"Pantas saja, sopir itu mengemudikan bus ini dengan tidak beraturan," kata Syam. "Apa yang bisa kita lakukan?"
Teja menampakkan diri. "Mereka sedang berusaha mengirim kekuatan negatif kepada kalian berdua juga. Kalian harus keluar dari tubuh fisik kalian untuk melawan mereka, dengan tubuh cahaya kalian. "
"Syam," kata Rumi." Kita sedang dikepung." Ayo kita melawan mereka. Kita harus keluar dari tubuh fisik kita."
Syam mengangguk."Iya, Mi."
Keduanya memejamkan mata dan saling berpegangan tangan. Dalam sekejap, mereka keluar dari tubuh fisik mereka.
Ketiga pekerja kegelapan berwujud siluman ular itu melihat ke arah Rumi.
"Kesatria cahaya sialan," kata salah satu dari mereka. Makhluk astral itu mengeluarkan sinar hitam dari telapak tangannya.
Energi negatif dalam jumlah lebih besar lagi menyelimuti seluruh isi bus, merasuk keseluruh tubuh para penumpang. Para penumpang langsung tertidur semua.
Ketiga makhluk astral itu terus menembakkan sinar hitam ke arah Rumi dan Syam, Rumi dan Syam berhasil menghindar. Mereka terus menembak secara bertubi-tubi. Rumi dan Syam balas menembak mereka dengan sinar berwarna putih.
Ketiga makhluk astral menggabungkan kekuatan mereka menjadi satu, menghasilkan bola sinar hitam yang cukup besar.
Teja dan Agni datang membantu dan melepaskan tembakan sinar kuning dan merah ke arah bola sinar hitam itu. Bola sinar itu hancur lebur terkena serangan gabungan Teja dan Agni.
Ketiga makhluk astral itu berusaha menyerang Teja dan Agni, namun dapat dipatahkan oleh tembakan sinar putih Syam dan Rumi.
Teja dan Agni menembak mereka dengan sinar kuning dan sinar api. Ketiga makhluk astral itu langsung hancur lebur.
"Hore, kita menang," kata Rumi.
"Jangan senang dulu, Mi," kata Teja. "Diluar bus ini masih banyak. "
"Kita harus cepat kembali ke tubuh fisik kita," kata Rumi. "Meminta sopir bus berhenti mengemudi dan segera keluar dari bus ini."
Syam mengangguk.