
Rumi memulai jam pertama di sekolahnya dengan pelajaran fisika, pelajaran favoritnya. Pak Suyadi memberikan penjelasan mengenai teori Relativitas.
"Menurut percobaan yang dilakukan oleh Michelson dan Morley, kecepatan cahaya adalah sama dalam segala arah, tidak bergantung pada gerak bumi. Namun, bumi bukanlah satu-satunya planet yang ada di alam semesta ini. Maka, pada tahun 1905, Albert Einstein mengusulkan bahwa kecepatan cahaya yang besarnya sama ke segala arah itu juga berlaku ditempat-tempat lain di alam semesta. Kesimpulannya, kecepatan cahaya adalah sama, tidak bergantung pada gerak sumber cahaya maupun pengamatnya."
Pak Suyadi mulai menulis soal-soal di papan tulis untuk dikerjakan oleh para siswa. Seperti biasa, para siswa kurang bersemangat. Ada yang mengantuk. Ada yang tidak sempat sarapan pagi.
"Mengapa pelajaran fisika harus diletakkan di awal waktu?" Jaka menggerutu.
Berbeda dengan Rumi yang selalu bersemangat saat pelajaran fisika, tidak peduli diletakkan di awal waktu, tengah waktu, atau akhir waktu. Dalam waktu beberapa detik saja, ia bisa menyelesaikan semua soal-soal yang diberikan oleh Pak Suyadi. Bahkan, masih tersisa banyak waktu untuk mengajari Jaka.
Namun, hari ini ada yang aneh. Semenjak ia bangun tidur, ia melihat banyak sekali makhluk-makhluk astral dengan berbagai macam jenis. Ada yang berbentuk manusia dengan sekujur tubuh berwarna hitam legam yang sangat mengerikan, ada yang berbentuk wanita bertubuh ular, ada yang berbentuk manusia tanpa kepala, ada yang bersisik, ada yang bertanduk. Ia melihat makhluk-makhluk itu menempeli tubuh ibunya. Ia juga melihat orang-orang dijalan ditempeli oleh makhluk-makhluk itu. Ada banyak sekali. Ada yang mempengaruhi orang agar marah, stres, bertengkar.
Rumi ketakutan sekali. Ia mempercepat langkahnya ke sekolah. Dan kini, ia melihat guru fisikanya beberapa kali memegang pipinya. Katanya, beliau sedang sakit gigi. Namun, Rumi melihat ada makhluk astral yang tubuhnya dipenuhi darah meniupkan asap berwarna hitam yang menempel di pipi Pak Suyadi.
Tidak ada seorangpun di sekolah yang bisa melihatnya. Hanya Rumi. Ini membuat bulu kuduknya merinding. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Mengapa ia mendadak bisa melihat makhluk ghaib yang seram-seram?
"Rumi," tanya Jaka, memegang dahi Rumi. " Kamu sakit?"
"Hari ini sedikit nggak enak badan. Tapi aku masih kuat kok mengikuti pelajaran sampai selesai."
"Oh, syukurlah, Mi."
Pengalaman serupa juga dialami oleh Syam. Ia juga melihat makhluk-makhluk astral menyeramkan itu menempeli teman-teman kerjanya. Ia sama takutnya dengan Rumi.
Sepulang sekolah, Syam menyempatkan diri menjemput Rumi. Ia ingin berbagi pengalaman anehnya. Badannya berkeringat. Tidak ceria seperti biasanya. Begitu juga dengan Rumi.
"Apa yang terjadi ya, Syam?" tanya Rumi. "Mengapa tiba-tiba aku dikelilingi makhluk-makhluk aneh yang menyeramkan?"
"Aku juga, Mi. Aku mengalami hal yang sama sepertimu."
"Mata ketiga kalian berdua sudah mulai terbuka," kata Teja yang tiba-tiba muncul.
"Mata ketiga ?" tanya Rumi.
"Benar. Mata yang mampu melihat hal-hal yang bersifat ghaib. Sudah saatnya mata ketiga para kesatria cahaya terbuka."
"Mengapa begitu? Ini sangat menggangguku."
"Tenanglah. Kalian hanya perlu mengendalikan diri. Mulai sekarang, berlatihlah untuk mengendalikan kemampuan kalian itu."
Pada waktu yang sama, Agni juga muncul dihadapan Syam dan mengatakan hal yang sama.
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Syam.
"Pergilah ke kawasan Wisata Religi Sunan Ampel," kata Agni. "Tempat-tempat ibadah, seperti masjid, gereja, pura, vihara, candi, dan yang lainnya, memiliki energi positif yang cukup kuat yang tidak dapat ditembus oleh makhluk-makhluk astral gelap itu.
Kami akan mengajari kalian sesuatu. Masjid Ampel adalah salah satu tempat sangat kuat energi positifnya. Disitu, banyak peziarah yang mengunjungi makam wali Tuhan.
Wali Tuhan itu kesatria cahaya juga, seperti kalian, mereka adalah Jiwa-jiwa yang berasal dari alam cahaya tingkat tinggi. Wajar, ketika sudah meninggal dunia sekalipun, makam mereka memancarkan energi positif yang sangat kuat. Makhluk-makhluk gelap tidak akan kuat menembusnya."
"Mi, kita ke Masjid Ampel dulu," kata Syam. "Malaikat pembimbingku menyuruh kita kesana."
"Baik, Syam. Kita kesana sekarang. "
Sepanjang perjalanan menuju wisata religi Sunan Ampel, mereka melewati kerumunan makhluk-makhluk astral jahat yang berwujud aneh-aneh itu. Beberapa dari mereka mencoba menghampiri Rumi dan Syam. Syam mempercepat laju motornya.
"Berdoalah, Mi," kata Teja. "Atau berzikirlah. Dalam tubuh fisikmu, kamu tidak bisa melawan makhluk-makhluk astral itu kecuali dengan memperkuat energi positifmu sendiri. Cara untuk memperkuat energi positif adalah dengan cara berdoa, berzikir, dan beribadah, sesuai dengan agama dan keyakinan manapun. Maka, jangan sampai putus berzikir."
"Iya, Teja," kata Rumi. "
Rumi mulai berdzikir, menyebut nama Tuhan secara berulang-ulang. Agni pun memerintahkan hal yang sama kepada Syam.
Segerombolan makhluk astral dengan wujud yang aneh-aneh itu tetap mengejar mereka berdua, hingga mereka tiba di kawasan wisata religi Sunan Ampel. Mereka segera memarkirkan sepeda motor, dan berlari ke kawasan wisata religi.
Kawasan masjid dan pemakaman Para Pembawa Cahaya Agama Islam itu diselimuti energi pelindung berwarna emas yang sangat tebal. Makhluk-makhluk astral jahat yang tengah mengejar Rumi dan Syam langsung berbalik arah menjauhi kawasan wisata religi Sunan Ampel itu, karena tidak kuat dengan pancaran energi emasnya.
"Syukurlah, " Syam bernapas lega. "Makhluk-makhluk sialan itu telah pergi."
Syam dan Rumi segera memasuki kawasan masjid, melewati kerumunan para pedagang pakaian, tasbih, kitab-kitab agama, makanan, minuman, dan lainnya.
Sesampai di masjid tertua di kota Surabaya itu, mereka mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat. Setelah sholat, mereka berdua mulai berzikir.
"Pergilah ke makam Para Wali," kata Teja. "Energi disana sangat kuat. "
Agni pun memerintahkan hal yang sama kepada Syam. Mereka berdua pergi ke makam Sunan Ampel, salah satu wali penyebar agama Islam. Di dekatnya, banyak makam wali-wali yang lain. Makam itu dipenuhi peziarah yang membaca doa dan memohon berkah.
Rumi dan Syam melihat pemandangan yang sangat menakjubkan dengan mata ketiganya. Di atas makam-makam para wali itu, ada cahaya-cahaya putih yang sangat terang dan memancarkan energi yang sangat menyejukkan hati.
Cahaya-cahaya putih itu memancarkan energi positif kepada para peziarah yang tengah membaca doa.
"Wow," kata Syam takjub.
"Itu adalah tubuh cahaya Para Wali Tuhan," kata Agni. "Mereka tidak pernah berhenti memancarkan energi positif kepada orang-orang yang berdoa dan berzikir. Orang-orang yang berdoa itu sesungguhnya sedang memancarkan energi positif kepada semesta, dan semesta pun membalas memancarkan kembali energi positif kepada mereka dengan berlipat ganda."
"Para Wali itu, adalah para kesatria cahaya dari alam cahaya tingkat lima keatas. Tingkat yang cukup tinggi," kata Teja. "Makhluk-makhluk dari alam gelap tidak akan berani mendekatinya atau mereka semua akan lebur. Karena itulah, banyak kesatria cahaya yang berlindung disini."
"Nah, duduklah bersama para peziarah itu," kata Agni. "Heningkan pikiran kalian. Kami akan bercerita sesuatu kepada kalian. Ini sudah saatnya bagi kami untuk memberitahukannya kepada kalian apa yang sedang terjadi."
Rumi dan Syam mengambil tempat kosong diantara para peziarah dan duduk bersila. Teja dan Agni menampakkan diri dihadapan mereka berdua. Kini, Rumi bisa melihat Agni dan Syam bisa melihat Teja. Kedua malaikat pembimbing itu mulai bercerita:
" Pada mulanya, hanya ada Sang Sumber di alam semesta ini. Sang Sumber ini tidak bisa digambarkan oleh pikiran manusia yang ada di alam fisik. Namun, untuk memudahkan dalam mengenal Nya, manusia bumi menyebut Nya dengan berbagai nama dan memuja Nya dengan berbagai cara.
Sang Sumber menjadikan diriNya alam cahaya dan alam kegelapan. Alam Cahaya dipimpin oleh Sang Sumber Cahaya. Sedangkan alam kegelapan, dipimpin oleh Sang Sumber kegelapan. Sang Sumber sendiri meliputi yang hitam dan yang putih, yang panas dan yang dingin, yang baik dan yang buruk. Namun, Sang Sumber tidak memihak kepada salah satunya. Dia hanya melihat dualisme di alam semesta ini sebagaimana adanya.
Semua Jiwa berasal dari Sang Sumber. Dan Sang Sumber meliputi semua Jiwa. Sang Sumber juga meliputi semua mekanisme dan keteraturan kerja yang ada di alam semesta ini. Dia meliputi seluruh kecerdasan yang ada di alam semesta ini. Dia meliputi alam Semesta itu sendiri.
Adanya kegelapan dan cahaya sesungguhnya adalah bagian dari keseimbangan alam. Tanpa adanya kegelapan, Jiwa-jiwa tidak akan mengenal terang. Tanpa adanya terang, Jiwa-jiwa pun akan buta. Tidak ada kedamaian. Tidak ada keharmonisan. Rusaklah tatanan Semesta. Karena ada gelap dan terang, Jiwa-jiwa dapat belajar dan bertumbuh.
Ada tujuh tingkatan alam cahaya. Ada juga tujuh tingkatan alam kegelapan. Diantara alam cahaya dan alam kegelapan, itulah alam fisik. Mereka yang berada di alam fisik bisa memilih, mereka hendak pergi ke alam kegelapan atau ke alam cahaya.
Terkadang, karena ketidakmampuan mereka mengendalikan tubuh fisiknya, Jiwa dapat terjebak dalam perbuatan yang merusak keharmonisan dan menyakiti. Akibatnya, Jiwa terperosok ke alam kegelapan.
Alam kegelapan, banyak dihuni oleh jiwa-jiwa yang berkesadaran sangat rendah, seperti para hantu, raksasa, siluman, dan makhluk-makhluk astral yang bersifat merugikan. Mereka dibawah kendali Sang Penguasa Kegelapan atau para kesatria cahaya memanggilnya Niwatakawaca.
Sedangkan alam-alam cahaya banyak dihuni oleh jiwa-jiwa tua yang tercerahkan, Para kesatria cahaya, Para Jiwa Pembimbing, Para Wali, Para Malaikat, dan Para Dewan Cahaya. Mereka berada dibawah kendali Sang Sumber Cahaya atau para kesatria cahaya menyebutNya Nurcahya. Mereka menyebarkan energi positif, cinta kasih, kebahagiaan, kedamaian, kebijaksanaan, pencerahan, kesehatan, dan kemakmuran.
Alam fisik, termasuk bumi dan planet-planet lain di dalamnya adalah pertemuan antara kekuatan gelap dan cahaya. Inilah tempat yang paling bagus untuk belajar bagi jiwa-jiwa pemula, yang baru saja diciptakan oleh Sang Sumber.
Setiap jiwa lahir ke bumi dan ke planet-planet lain di alam fisik adalah untuk belajar. Bumi adalah sekolah bagi mereka.
Setelah melampaui berbagai pembelajaran di bumi, jiwa akan mengalami kenaikan vibrasi. Semakin tinggi vibrasinya, Jiwa akan mendapat peranan yang lebih besar di alam semesta.
Bahkan Jiwa yang matang bisa tinggal di alam cahaya yang penuh kedamaian dan keheningan, tanpa harus kembali lagi ke alam fisik. Alam cahaya inilah yang kalian sebut surga dan alam kegelapan inilah yang kalian sebut neraka.
Kurang lebih semenjak empat ratus ribu tahun yang lalu, Niwatakawaca menjadi sangat serakah. Ia berambisi agar seluruh semesta di dominasi oleh kekuatan gelap.
Ia menyebar para pengikut setianya dari golongan makhluk-makhluk astral yang jahat untuk mempengaruhi sebanyak mungkin makhluk hidup di alam fisik, termasuk manusia bumi.
Mereka menyebarkan kejahatan, kebencian, kebodohan, teror, ego, kekacauan, dan peperangan ke seantero alam fisik, termasuk bumi. Mereka disebut pekerja kegelapan.
Ribuan tahun yang lalu, para pekerja kegelapan berhasil mengobarkan perang antar bintang yang sangat hebat. Pertempuran antar ras alien di alam fisik. Pertempuran antar planet di luar angkasa. Banyak kehidupan di planet-planet yang musnah akibat peperangan itu. Banyak daratan di bumi yang tenggelam akibat perang di luar angkasa itu. Umat manusia nyaris punah.
Banyak manusia bumi yang mereka rasuki dan mereka kendalikan pikirannya. Akibatnya, banjir darah menghiasi bumi. Pada abad dua puluh, belum puas dengan Perang dunia pertama, para pekerja kegelapan berhasil mempengaruhi para pemimpin politik dan kaum intelektual dunia , sehingga terjadilah Perang dunia kedua yang lebih dahsyat. Kini, di abad dua puluh satu, mereka memiliki misi mempengaruhi umat manusia agar terjadi perang dunia ketiga, bahkan perang nuklir yang bisa memusnahkan umat manusia.
Para pengikut Niwatakawaca juga gencar mempengaruhi umat manusia agar memanipulasi ajaran-ajaran yang diwariskan oleh guru-guru suci dari alam cahaya ratusan tahun, hingga ribuan tahun yang lalu, dan mengubahnya menjadi alat penyebar kebencian, kekerasan, kebodohan dan teror.
Maka, Nurcahya, Sang Sumber Cahaya, tidak tinggal diam. Jika sampai kuasa gelap mendominasi alam fisik, maka alam fisik tidak lagi menjadi tempat belajar yang baik bagi Jiwa-jiwa. Seluruh tatanan di alam fisik akan rusak, karena kejahatan dan kekerasan merajalela.
Bukan berarti kegelapan tidak boleh ada. Alam fisik akan harmonis dan menjadi tempat belajar yang baik jika ada keseimbangan antara kegelapan dan cahaya. Tidak ada yang mendominasi.
Nurcahya menurunkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa tua yang matang untuk lahir ke alam fisik dan menyebarkan energi cinta kasih, kedamaian, pencerahan, dan kebijaksanaan, untuk menggagalkan usaha Niwatakawaca itu. Mereka disebut kesatria cahaya.
Terjadilah peperangan antara alam kegelapan dan alam cahaya, antara pekerja kegelapan dan kesatria cahaya. Keduanya saling berebut pengaruh di alam fisik.
Bumi, sebagai penyumbang terbanyak energi negatif menjadi perhatian utama Nurcahya. Maka, Dia memutuskan bahwa bumi harus dinaikkan vibrasinya dengan meningkatkan kesadaran spiritual penghuninya, terutama manusia, dari kesadaran fisik menjadi kesadaran cahaya.
Para kesatria cahaya mempengaruhi sebanyak mungkin manusia bumi agar mendapat pencerahan, memberikan pelayanan dibidang kemanusiaan, spiritual, seni, teknologi, dan sebagainya.
Banyak kesatria cahaya yang terpilih diturunkan ke bumi, lahir menjadi manusia bumi untuk menjalankan misi mereka, membantu jiwa-jiwa penduduk bumi yang bertumbuh, dari kesadaran materi, kepada kesadaran cahaya. Kalian berdua adalah salah satunya.
Tentu saja Niwatakawaca juga meningkatkan jumlah pengikutnya untuk mempengaruhi kesadaran manusia bumi agar senantiasa cenderung kepada kegelapan. Mereka, para pekerja kegelapan itu, juga lahir dalam wujud manusia. Ada juga yang menyamar sebagai tokoh spiritual, namun justru menyebarkan kegelapan, kebencian, dan kebodohan. karena inilah, sulit dibedakan antara kesatria cahaya, pekerja kegelapan, dan manusia biasa, ketika mereka semua sama-sama berwujud manusia. Namun, bagi yang bisa melihat dengan mata batinnya, mereka bisa dibedakan dengan merasakan getaran energinya.
Para pekerja kegelapan memiliki getaran energi yang sangat suram. Bisa saja mendadak kamu merasa tidak nyaman atau cemas ketika berada didekat mereka. Bahkan ada yang tidak kuat dengan energi negatif yang disebar para pekerja kegelapan, sehingga mereka jatuh sakit. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan, sekalipun kita berobat di rumah sakit yang paling mahal atau meminum obat yang paling mujarab. Hanya energi positif dari alam cahaya yang bisa menyembuhkannya.
Maka, mereka yang tubuhnya mengalami sakit akibat terpapar energi negatif para pekerja kegelapan, disarankan untuk mengakses sebanyak mungkin energi positif dari alam cahaya, bisa dengan cara meditasi, beribadah, berdoa, membaca tulisan-tulisan yang mengandung energi alam cahaya, mendengarkan musik yang mengandung energi alam cahaya, dan makan atau minum makanan dan minuman yang telah diberkati oleh kesatria cahaya. Tanpa ada usaha dari dalam diri untuk meningkatkan energi positif dirinya sendiri, mustahil orang-orang yang terpapar energi negatif itu bisa sembuh. "
"Sekarang, kalian mengerti kan mengapa kalian berdua harus lahir di bumi?" Teja mengajukan pertanyaan setelah bercerita panjang lebar. "Kalian mengerti kan, mengapa kalian berdua bisa melihat dan berbicara dengan malaikat seperti kami?"
Rumi dan Syam menganggukkan kepala.
"Kami mengerti."
"Kalian semua dalam misi yang sangat besar. Dan sekarang kalian mengerti kan, mengapa kami melarang kalian untuk bercerita kepada siapapun mengenai pertemuan kita ini dan memamerkan kemampuan kalian ini di depan orang awam?"
"Aku masih belum mengerti kalau hal ini," jawab Rumi. "Kenapa?"
"Saat ini, peperangan antara kesatria cahaya dan pekerja kegelapan masih berlangsung di alam astral," jawab Teja. "Antara Niwatakawaca dan Nurcahya. Dan kami terus mencegah agar peperangan tidak berpengaruh ke dunia manusia juga.
Karena itulah, kalian mewakili alam cahaya menyebarkan energi positif sebanyak mungkin kepada manusia bumi.
Kalian tidak sendirian. Ada ribuan kesatria cahaya yang turun ke bumi dalam wujud manusia. Kalian akan bertemu dengan beberapa diantaranya.
Nah, jika sampai kalian memamerkan kemampuan kalian itu kepada orang awam, kalian tidak tahu apakah orang awam itu adalah pekerja kegelapan atau bukan. Jika ternyata mereka adalah pekerja kegelapan, mereka tidak akan segan mencari dan melenyapkan kalian. Dan aku tidak ingin kalian mati dengan sia-sia sebelum misi ini selesai."
"Apa yang harus kami lakukan untuk menjalani misi ini?"
"Kalian sudah berulang kali melakukannya dan akan terus melakukannya tanpa kalian sadari. Bahkan suatu perbuatan yang menurut kalian sepele sekalipun."
"Misalnya?" tanya Rumi.
"Masalah Jaka," jawab Teja. "Kamu tahu tidak, mengapa Jaka menindasmu dengan kejam?" Teja bertanya kepada Rumi. Rumi menggelengkan kepala.
"Kesombongannya membuat pikirannya dikendalikan oleh pekerja kegelapan yang sangat jahat dari alam kegelapan tingkat empat. Pengikut Niwatakawaca.
Kalian tidak menyadarinya karena mata batin kalian belum terbuka waktu itu. Kalian belum bisa melihat kehadiran pekerja kegelapan itu.
Dan ketika kami menyuruh kalian membeli buah-buahan dan makanan ringan untuknya, juga memaafkan semua kesalahannya, kalian tahu, apa yang terjadi ketika itu?"
Rumi dan Syam menggelengkan kepalanya.
"Orang yang terbuka mata ketiganya akan melihat kalian sedang memberikan cahaya yang sangat berkilauan kepada Jaka. Cahaya itu akan seketika membuat pekerja kegelapan takut dan menyingkir dari tubuh Jaka. Jaka pun kembali kepada diri sejatinya. Kamu lihat sendiri kan, Mi, keesokan harinya ia langsung bersikap baik kepadamu?"
Rumi mengangguk. " Darimana asal dari cahaya itu?" Rumi bertanya.
"Dari energi yang dipancarkan oleh pikiran positif kalian. Ketika kalian mengampuni. Ketika kalian tidak mendendam. Ketika kalian membalas orang yang menyakiti kalian dengan kebaikan. Ketika kalian melakukan pemberian yang tulus. Dan dengan cara itulah, kalian memerangi para pekerja Kegelapan. Pekerja Kegelapan tidak bisa dikalahkan dengan senjata. Ketika kalian melawan dengan menggunakan senjata, justru kalian membuat kekuatan gelap mereka bertambah dahsyat."
"Semudah itu kah?" Syam bertanya.
" Tidak mudah juga," Agni menyela. "Tubuh fisik kalian ini memiliki ego. Kalau kalian tidak bisa mengendalikan ego kalian sendiri, maka perlindungan diri kalian akan lemah. Dan para pekerja Kegelapan yang tidak kasat mata dapat dengan mudah mengendalikan pikiran kalian. Itulah gunanya Para Malaikat Pembimbing hadir untuk menemani para kesatria cahaya. Sekarang kalian memahaminya kan?"
"Iya," Rumi dan Syam mengangguk. "Dan bagaimana akhir dari peperangan besar ini? Apakah Niwatakawaca akan kalah jika semua kesatria cahaya dapat menjalankan semua misinya?" tanya Syam.
"Baik Niwatakawaca, maupun Nurcahya, keduanya tidak akan pernah bisa dikalahkan atau dimusnahkan, kecuali atas kehendak Sang Sumber sendiri. Karena keduanya adalah bagian dari keseimbangan alam.
Jika salah satu musnah, maka musnahlah alam semesta ini. Keduanya adalah perwujudan dari Sang Sumber. Namun, jika alam cahaya memenangkan peperangan, kekuatan gelap tidak mendominasi, sekalipun tetap ada. Gelap dan terang akan seimbang dan selaras, sesuai dengan porsinya. Dan bumi, juga planet-planet yang lain di alam fisik akan menjadi tempat belajar yang baik bagi jiwa-jiwa yang lahir dan bertumbuh di sana."
"Baiklah, aku mengerti sekarang," kata Rumi.
"Sadarilah, Rumi," kata Teja. " Setiap kamu menulis puisimu, kamu telah mengumpulkan energi positif alam cahaya dalam setiap tulisanmu. Itulah senjata yang kamu miliki untuk mengalahkan para pekerja kegelapan.
Setiap kesatria cahaya memiliki ciri khas dan kekuatannya masing-masing. Kelak, kamu boleh memperbanyak tulisanmu, menerbitkannya atau menyebarkannya dengan cuma-cuma kepada orang awam.Membacakannya. Agar banyak jiwa manusia bumi yang terselamatkan dari energi negatif para pekerja kegelapan.
Ketika mereka membaca tulisanmu, sama saja dengan mereka mengakses cahaya kedalam dirinya sendiri. Cahaya yang bisa mengusir para pekerja kegelapan. Tapi ingat, bekerjalah secara rahasia. Jangan sampai ketahuan oleh pekerja kegelapan atau mereka akan menyerangmu habis-habisan. "
"Baik, Teja."
"Ingatlah, kalian berdua tidak bisa membalas serangan pekerja kegelapan ketika berada di tubuh fisik," kata Agni. "Dalam tubuh fisik ini, yang bisa kalian lakukan untuk melindungi diri adalah doa, ibadah, zikir, meditasi, dan banyak berbuat baik.
Tetapi, dengan tubuh cahaya, seperti kami, kalian bisa menyerang dan melenyapkan pekerja kegelapan dengan menembakkan sinar energi positif kepada mereka."
"Wow...bagaimana caranya agar kami bisa berubah menjadi tubuh cahaya?" tanya Syam.
"Kalian harus keluar dari tubuh fisik kalian," kata Agni. "Tapi tidak boleh di sembarang tempat."
"Mengapa?" tanya Rumi.
"Ketika kalian meninggalkan tubuh fisik kalian di sembarang tempat, maka tubuh fisik kalian akan rentan dengan berbagai serangan para pekerja kegelapan," jawab Teja. "Mereka akan menempeli tubuh fisik kalian dengan energi negatif, mengendalikan tubuh fisik kalian untuk keperluan mereka, hingga tubuh fisik kalian mengalami kerusakan dan kalian tidak akan pernah kembali ke dalam tubuh fisik kalian lagi.
Kalian akan mengalami kematian sebelum menyelesaikan misi kalian. Ini lah yang kami sebut dengan kematian yang sia-sia. Banyak manusia yang mengalami kematian sebelum waktunya karena tubuhnya dirusak oleh para pekerja kegelapan yang berwujud makhluk astral jahat itu.
Mereka terombang-ambing di bumi, tanpa tubuh fisik. Bingung tanpa arah. Kalian menyebutnya arwah gentayangan. Energi positif mereka semakin lemah dan akhirnya terperosok ke alam gelap, sulit untuk keluar."
"Bisakah kita menolong mereka?" tanya Rumi.
"Bisa," jawab Teja. "Dengan cara mendoakan dan mengirimkan energi positif sebanyak mungkin untuk mereka. Semakin banyak energi positif yang mereka miliki, semakin mudah bagi mereka untuk naik ke alam cahaya."
"Kami mengerti sekarang," kata Syam.
"Dan kalian tahu tidak, mengapa kami mengajak kalian ke kawasan Sunan Ampel ini?" Teja mengajukan pertanyaan.
Rumi dan Syam menggelengkan kepala.
"Mengapa?" tanya Syam.
"Kami akan mengajarkan kalian bagaimana cara keluar dari tubuh fisik kalian," kata Agni. "
Di tempat berenergi tinggi seperti ini, para pekerja kegelapan tidak bisa menyentuh tubuh fisik kalian. Kalian aman.
Tapi kalian harus berjanji, kalian tidak akan melakukannya tanpa seizin kami, kecuali dalam keadaan terdesak."
"Mengapa harus meminta izin kepada kalian dulu?" tanya Rumi.
"Jika kalian bertemu dengan pekerja Kegelapan yang berasal dari alam gelap tingkat lima keatas, mereka akan menangkap kalian dan menyerap energi positif kalian sampai habis dalam sekejap.
Kalian tidak akan bisa mengalahkan mereka. Para pekerja kegelapan dari tingkat itu hanya bisa dikalahkan oleh para kesatria cahaya yang berasal dari tingkat lima keatas juga. Kalian belum mencapai tingkat itu. Atau bisa juga dikalahkan dengan energi positif dalam jumlah besar."