Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 9: Siapa namamu?



Suasana didapur sangat sibuk, apa lagi aroma masakan yang memenuhi ruangan. Mei menikmati momennya sendiri.


Dapur yang begitu luas, dipenuhi dengan bahan-bahan masakkan. Mendapati hal seperti ini, tentu tidak bisa didiamkan. Mei mengelola semua bahan dapur menjadi makanan yang akan dimakan olehnya. Ia yang asik memasak, tidak memperhatikan bahwa seseorang sedang menonton aksinya.


“Oke, semua su-...” Mei bungkam ditempat. Tangannya masih memegang mapan berisi Steak buatannya.


“Ah~ hehe.” Dengan perlahan Mei mendekati meja. Ia menatap hidangan yang telah dibuat. Ada pasta, sup ikan, ayam crispe, Steak ditangan dan mie goreng.


Meja yang kosong seketika terhiasi dengan segala masakkan yang dibuat olehnya. Mei diam menatap hidangannya, ia juga tidak berani menganggkat pandangannya.


“Ada apa denganmu?” tanya Pria yang tidak lain kekasihnya sendiri.


Mei tidak menjawab pertanyaan dari sang kekasih, ia masih malu dengan kejadian tadi pagi...


“Aku ingin mandi”ucap Mei yang ingin meranjak bangun.


Saat Mei sudah berdiri, tubuhnya tiba-tiba terangkat dengan gendongan ala bridal style.


“Kau tak bisa Mandi sendiri.” ucap sang kekasih. Mendengar ucapannya,Mei menjawab.“Aku bisa! Lagian luka ini tidak seberapa kok.”


“Jadi, maksudmu, luka ini sudah sering kamu dapatkan. Hingga, luka yang kamu dapatkan ini tidak sesakit dulu?...jangan bilang, puluhan cambuk itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu?”


Mei bungkam seketika, ia tidak menduga apa yang diucapkan oleh kekasihnya ini. bagaimana bisa, menebak semua yang dialami oleh Mei sendiri.


“Lagian tak ada yang menarik ditubuhmu itu...bukan hanya aku, lelaki lain pun tak akan melirikmu.”


Mei memberontakkan tubuhnya setelah mendengar apa yang kekasihnya ucapkan. Ia dibilang tidak menarik, padahal dia perempuan yang bisa mengandung seorang anak. Mendapati hal seperti ini, emosi Mei memuncak. Ia ingin diturunkan, tetapi kekasihnya tetap mengendong hingga mereka masuk kekamar mandi.


Pada akhirnya, Mei mandi dengan ditemani oleh sang kekasih.


Mengingat hal itu membuat Mei memerah seketika. “Makanlah...dan maafkan aku yang memasak terlalu berlebihan.”ucap Mei dengan duduk berseberangan, ia mengalihkan suasana yang cangung ini.


Kekasih Mei tidak memakan apa yang sudah terhidang. Ia bangun dari duduknya dan melangkah mendengati Mei.


Dengan cepat Mei diangkat dalam gendongan sang Kekasih. “Apa yang kau lakukan lagi?”tanya Mei yang kini sudah duduk dipangkuan Kekasihnya.


“Suapi aku! Aku lelah setelah mengurusmu.”


Mei mengerutkan alisnya. “Aku tidak menyuruhmu untuk merawatku kan?” tanya Mei dengan menatap mata sang kekasih, ia pun melanjutkan. “Lagi pula, aku bisa merawat diriku sendiri.”


“Ooh ya...lalu kenapa luka itu semakin memburuk?”tanya sang Kekasih. Mei menjawab lagi “Karena aku tak mengobatinya... dari pada itu, aku punya hal penting yang harus ku kerjakan.”


“Hmm...kalau begitu kenapa tak mementingkan luka dulu?”Mei muak meladeni Pria yang tak lain Kekasihnya ini. Dengan cepat ia mengambil nasi dan menghidangkannya. Setelah itu, ia pun menyuapi Kekasihnya ini dengan tangannya sendiri.


Mei memang sudah biasa mengunakan tangan saat makan, tetapi hanya dirumah. Jika ia diluar, ia akan mengunakan sendok yang telah disediakan.


“Ini!” Mei menyodorkan nasi kemulut Kekasihnya, dan dengan lahap Kekasihnya itu makan dari suapan tangan. Tak tanggung-tanggung, Kekasihnya itu juga menyukai Mei dengan tangan Pria itu sendiri.


Setelah bermain suap-suapan layaknya pasangan suami istri. Mereka pun beristirahat diruang tamu sambil menikmati suasana sunyi yang memberikan kebahagiaan pada mereka.


“Kenapa kamu tidak bersekolah?” tanya Mei memandang Kekasihnya yang kini berbaring dipangkuan Mei. Kekasihnya itu tengah memainkan ponsel pintarnya.


“Tidak ada yang menarik disekolah hari ini...aku pasti akan tertidur jika kesana.” Jawab sang kekasih.Mei mengangguk, ia mengerti kalau Laki-laki seperti Kekasihnya ini pasti berbuat nakal disekolah, wajar saja jika ia membolos dari sekolah.


“Kalau begitu...Boleh aku bertanya?”Mei memandang Kekasihnya yang kini memandangnya juga. Mata mereka saling bertemu dalam waktu yang lama, hingga Mei memutuskan untuk mengalihkan pandangannya.


“Apa yang ingin kau tanyakan?”Kekasihnya itu langsung meletakkan ponsel pintar didada. Dipandangnya Mei dengan pandangan serius.


Mei kembali memandang sang Kekasih yang masih betah berada dipangkuannya.


.


“Namaku,apa itu penting untukmu?” tanya Kekasihnya kembali.


Mei mengerutkan alis mendengar pertanyaan sang kekasih.Ia pun menjawab. “Tak penting sebenarnya...tapi, setidaknya aku bisa mengetahui siapa nama kekasihku ini.”


Kekasihnya itu pun tersenyum, sang kekasih bangun dengan cepat dan duduk disampingnya. Lalu kemudian Mei diangkat dengan tenang dan didudukkan tepat dipangkuan sang kekasih. Kepala kekasihnya bersadar didada Mei dengan memeluk erat pada tubuhnya.


Mendapati tingkah sang Kekasih, Mei memberanikan diri mengusap rambut acak-acakan yang ada didepannya.


“Ingatlah Baik-Baik,Namaku Findre...panggilan ku Fin, ingat namaku Findre, panggilannya Fin.” Findre mengucapkan namanya dengan lantang dalam dekapan Mei bahkan harus diucapkan dua kali. Mei seketika mengangguk seketika dan membalas pelukan sang kekasih.


Mei tanpa sadar tersenyum mendengar nama sang kekasih. Ia tidak menduga, nama kekasihnya sangat bagus Apa lagi panggilannya.


“Fin ya.”Benak Mei.


“Baik Tuan Findre...aku Mei,Mei saja.tak ada nama panjangnya.”Mei kembali mendapatkan perhatian Findre. Kini mereka saling bertatapan dengan meneliti pandangan masing-masing.


Cub


Ciuman mendarat dipipinya. Mei langsung mengedipkan mata dan memandang Findre yang kembali mencium pipi kanannya. Wajah Mei memerah seketika, ia langsung menundukkan kepala hingga bersadar didada Findre.


“Kenapa?..kamu tidak menyukainya?”Findre meletakkan dagunya dikepala Mei.


Mei mengeleng, “Kamu...kenapa kau melakukannya, asal kau tahu,itu membuatku merasa aneh, apa kau juga yang membalutkan seluruh lukaku?”


Findre yang mendengarnya mengangguk. “Benar...aku yang membalutnya, dan tak menyangka seluruh tubuhmu telah penuh dengan luka....siapa yang melakukannya?”


Mei tak menjawab, ia kembali mengangkat wajahnya yang masih memerah.


“Kapan aku bisa sekolah?”tanya Mei menganti topik pembicaraannya. Findre yang mendengarnya pun menjawab.


“Seminggu lagi....lukamu harus disembuhkan.kalau seperti ini aku tidak bisa membunuhmu.”


Mei yang mendengar jawaban itu tertawa. “Yeah kau benar, aku tidak akan teriak jika aku telah mengalami banyak hal yang menyakitkan dan kau tak akan mau membunuhku jika aku sendiri tak merasakan sakitnya.”


Mendengarnya, Findre terdiam dan Mei juga itu terdiam. Tak ada yang berbicara diantara mereka. hingga Findre mendudukkan Mei kembali disampingnya.


“Aku akan pergi! Tinggalah disini. seperti kataku, tak ada yang boleh keluar...kalau tidak...” Ia memberikan teguran kepada Mei sambil menatap tajam.


Mei yang dipandang mengangguk. “Siap”jawab Mei.


Findre kekasihnya itu pun pergi, meninggalkan dirinya yang kini ditemani televisi dan beberapa yang lain. Mei tak masalah dengan semua ini, asal ia masih bisa bergerak tidak dikurung dalam ruangan yang gelap gulita. Ia juga bahagia mendapat perlakuan dari kekasihnya.


Hatinya berdeser dengan detak yang cepat. Membuat Mei menyentuh dadanya.


“Apa ini? Kenapa hatiku begitu berdetak. Apa yang telah terjadi...” gumang Mei.Mei tak bodoh, ia pintar dalam pelajaran dan sering mengetahui tentang Sahabatnya yang mengatakan bahwa wanita itu mudah luluh kepada seseorang.


Dan tanda luluhnya wanita itu dari degupan jantung yang cepat dan rasa bahagia yang datang. Mei mengingatnya seketika mengeleng kuat. Ia tak bisa seperti ini, tak seharusnya ia mencintai Kekasihnya. Ia takut nanti melupakan tujuannya yang ingin dibunuh oleh Kekasihnya ini.


“Ini tak boleh terjadi...tak seharusnya terjadi,aku tak boleh mencintainya. jika ini terjadi, ia tak akan membunuhku! tidak...tidak...tidak boleh.”


Mei memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan, ia ingin melupakan apa yang telah terjadi padanya.


Dilihat ada kertas origami yang baru saja dibeli oleh seseorang. Mei senyum bahagia melihat ada sesuatu untuk bisa membantu dirinya. Mei pun bermain dengan kertas origami agar melupakan perasaannya sendiri.