Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 27: Jangan takut



Kehangatan yang ada membuat Mei bangun dari tidurnya. Dia melirik tangan seseorang yang dengan tenang berada pada pinggang Mei.


“Ku rasa, kami bukan seperti sepasang kekasih.” Benak Mei melihat perkembangan dalam hubungan mereka. meski Findre tidak menyatakan cinta atau membalas cintanya. Mei merasa Findre sungguh menyayanginya hingga berperilaku seperti ini.


Sadar semua ini akan berakhir, Mei menyimpan dugaan di hati. Suatu saat nanti, Findre akan membunuhnya, kasih sayang dan perhatian Findre hanya untuk menenangkan Mei.


“Findre, seandainya kita bertemu sebelum hatiku mati. Aku pasti akan bahagia bersamamu dan berharap takdir tidak memisahkan kita.” Benak Mei sambil mengusap punggung tangan Findre.


Usapan yang lembut itu membangunkan sang kekasih. Mei terkejut ketika mendapati Findre mengenggam tangannya.


“Sudah bangun?” tanya Findre dengan duduk perlahan di samping Mei.


Mei ikut bangun ketika sang kekasih bertanya padanya. Dia menatap Findre yang masih mengantuk hingga berbaring kembali.


Namun, kali ini tempat berbaring Findre bukan di tempat semula, Dia berbaring di pangkuan Mei dan memeluknya dengan erat.


“Findre? Sudah pagi.” Mei menjauhkan tubuh sang kekasih yang bergelayut manja padanya.


Findre menulikan apa yang Mei ucapkan, Mei berusaha membangunkan kekasihnya. Tetapi, keras kepala Findre membuat Mei mengalah, Mei membiarkan Findre berbaring di pangkuannya.


...°°°...


Udara segar yang Mei rasakan pagi ini, Dia berdiri di ambang pintu menunggu sang kekasih. Hari ini menjadi hari akhir mereka ke sekolah, SMK Mei memiliki sistem full day, jadi setiap sabtu dan Minggu menjadi hari libur untuk mereka.


“Findre kenapa lama ya?” Mei menatap kearah jam dinding yang masih bisa dia lihat. Waktu sudah terlewat, sang kekasih belum juga kembali.


Mei memutuskan untuk menyusul Findre yang mengatakan bahwa dirinya mengambil sesuatu. Belum kaki Mei melangkah, Findre menghentikan Mei dengan bergegas mendekat.


“Maaf membuatmu menunggu lama.” Ucap Findre dengan mengenggam tangan Mei secara tiba-tiba.


Mei terteguh melihat Findre mengenggam tangannya, dia semakin tidak percaya ketika Findre melangkah dengan tangan saling bergengaman.


“Kita harus tiba di sekolah, ada senam pagi dan yang telat akan terkena hukuman. Kamu tidak ingin telat kan?” ucap Findre menarik tangan Mei.


Mei bungkam melihat punggung kekasihnya, dia bahkan lupa berpamitan dengan Bi Ta. Jangankan Bi Ta, Mei hampir meninggalkan bekal siang mereka, jika Findre tidak mengambil bekal itu.


Selama perjalanan dengan sedikit berlari. Mei merasa angin sejuk menerpa wajahnya, di pandangan Mei ada sesuatu yang tersebar di udara.


Mei merasa bahwa dia tengah bermimpi melihat hal yang tidak ada di dunia ini. bagaimana bisa ada bulu hitam tersebar di sekitarnya.


Langkah kaki yang sedikit berlari itu berhenti secara tiba-tiba. Mei menubruk Findre, hingga keduanya saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.


Nafas mereka sama-sama berhembus, tidak hanya itu Mei melihat di sekitar Findre penuh akan kelopak bunga yang berjatuhan.


Melihat hal seperti ini menghadirkan senyum di bibirnya. Mei memeluk Findre dengan erat, setelah itu dia pun menjauh.


“Aku tidak apa-apa.” Ucap Mei dengan merapikan pakaian olahraganya.


Findre mengangguk. “Baiklah, aku pergi ya ... jangan takut Mei, tidak akan ada yang menganggumu oke.” Findre memberikan usapan lembut di kepala Mei, lalu ciuman singkat di jidatnya, setelah itu Findre pergi meninggalkan Mei di gerbang masuk sekolah.


Mei menyentuh tempat dimana sang kekasih memberikan perhatian luar biasa padanya. “Hehe, Findre ... aku semakin mencintaimu.” Benak Mei.


Tidak jauh dari barisan Mei, Mei melihat sekumpulan murid berbaris di luar lapangan. Dia tahu bahwa berkumpulnya mereka karena terlambat. Mei melirik untuk mencari apakah ada Sahabatnya disana.


“Eh, dia bukannya?” Mei menajamkan pandangannya. Ada seseorang yang di kenali oleh Mei, tidak hanya itu Mei merasa baru saja mereka bertemu.


“Mei!” Sapa Lestari dengan menyentuh pundak Mei.


Mei terkejut melihat kedua sahabatnya ada di barisan samping kanan. “Kalian?” Mei menyentuh dadanya untuk menenangkan diri.


“Kenapa, kamu mencari seseorang ... serius banget ngeliatinnya.” Ledek Putri sambil mencolek lengan Mei.


“Ish, bukan gitu ... aku hanya kaget melihat seseorang yang ku kenal.” Ucap Mei dengan menjauhkan lengannya dari Putri.


“Kenal? Siapa yang kamu kenal Mei, waah jangan bilang kamu sekarang memiliki kekasih selain Teman mu itu?” Lestari mengerutkan alisnya sambil menatap tajam ke arah Mei.


Mei memundurkan tubuhnya dengan tiba-tiba, tatapan Lestari membuat Mei merasa tidak enak.


“Ah bukan, intinya dia orang baik.” Ucap Mei sambil merapikan barisan.


Lestari dan Putri ingin kembali menganggu Mei, sayangnya waktu senam pagi dimulai.


...°°°...


“Di sini ada beberapa sejarah yang bisa kita ambil dari pembelajaraan kali ini. semuanya tolong perhatikan data-data penjualan yang ada di layar....”


Jam istirahat berbunyi, Guru menutup pembelajarannya dan melangkah pergi meninggalkan Kelas.


Mei mengambil kotak makan siang miliknya. Bi Ta sudah menyiapkan dua bekal, untuk Mei dan untuk Findre.


“Waah, siapa yang masak tuh, enak bener.” Putri menarik kursi miliknya dan duduk di samping Mei.


Mei tersenyum mendengar apa yang Putri ucapkan, memang benar bekal yang ada di depan mata sangat enak untuknya. Bi Ta begitu tahu apa yang Mei perlukan, semenjak tinggal bersama Findre, Mei merasa berat badannya naik.


“Hei! Senyum mulu ... ah, jangan bilang ini buatan Si Temanmu itu ya?” Pekik Putri dengan reaksi terkejut di wajahnya.


Mei memerah seketika, dia mengibaskan tanganuntuk menghentikan Putri yang tersenyum lebar.


“Bu-bukan! ... sudahlah, dimana Lestari?” tanya Mei sambil menatap kekanan dan kiri. Jarang sekali Lestari pergi tanpa memberi kabar.


Putri menghardikan bahunya. “Aku tidak tahu, sejak Ibu Guru keluar, Lestari ikutan pergi ... oh ya, Kamu sadar engak Mei, Lestari bertingkah aneh belakangan ini. saat aku kerumahnya kemarin, Lestari malah mengajakku ke taman...,”


Putri mengambil botol minumnya, dia meneguk beberapa kali air yang dibawa. “Ku rasa, Lestari lagi ada masalah.”


Mei mengingat Lestari pagi tadi. Ada sesuatu yang tidak bisa Mei ingat, dia sadar ada perubahan dari sahabatnya itu, tetapi mengingat hal itu sangat sulit untuk Mei.


“Kita makan siang terlebih dahulu, setelah itu mencari Lestari.” Usul Mei.


Putri mengangguk mendengar ucapannya. mereka makan siang bersama sambil sesekali bercerita.