
Berhari-hari berlalu, kelelahan, penat, hingga matanya menjadi panda karena mencari seseorang. Haru berbaring di rumah tua.
Dia tidak memiliki tempat tinggal dan dia juga tidak ingin berbaur dengan manusia. Alasannya karena keluarga pemilik tubuh ini mencarinya.
Haru tidak tahu kalau pemilik tubuh ini adalah keturunan asli keluarga ternama. Dia bahkan hampir tertangkap saat berjalan diluar.
Muak dengan semua itu, Haru memutuskan untuk mencari keberadaan Mei di malam hari. Tapi, semua itu tidak berjalan lancar.
Justru dimalam hari, keluarga Findre mencarinya dengan helikopter. “Benar-benar keluarga kaya.” Guman Haru saat itu.
Dia sekarang berhasil lolos dengan bersembunyi di rumah tua. Haru tahu, rumah ini milik Ibu dari Pemilik tubuh yang dia pakai. Sedikit kenangan Findre tampak didalam Rumah ini.
Perkelahian hingga perselingkuhan dapat Haru lihat disekitarnya. Hal yang membuatnya takjub melihat keakuran tiga istri dan anak dari ayah yang sama. untung tidak ada perceraian yang akan mengakibatkan kehancuran.
“Keluarga yang bahagia.” ucap Haru. Dia bangun dan duduk ditepi kasur, melihat hari yang tampak bercahaya.
“Pagi sudah menyambut. Hah, aku lelah.” Perlahan dia bangun dan bergegas kedapur. Karena menjadi Manusia, dia juga merasakan rasa lapar, haus dan semacamnya.
Meski begitu, dia sudah biasa menjadi Malaikat Maut yang mampu menahan dahaga.Haru tidak perlu makan berlebih ditubuh manusia.Haru juga harus beradaptasi dengan sekelilingnya, itu saja.
“Perutku sudah diisi. Sekarang, waktunya mencari gadis itu.” ucap Haru.
Dengan pakaian lengkap yang tersedia di rumah tua, Haru menutup wajahnya dengan masker dan mengenakan topi dikepala.
Dia melangkah menyusuri jalan. Dipagi yang dingin ini, membuat Haru panas karena pakaiannya yang begitu tertutup.
“Pria itu, apa dia kedinginan?”
“Ku rasa, pagi ini tidak terlalu dingin.”
“Yeah, mungkin tubuhnya lemah hingga dia mengenakan pakaian seperti itu.”
Kedutan muncul dijidat Haru, dia merasa kesal mendengar perkataan orang-orang yang melewatinya. “Apa mereka perlu menilai orang lain? perhatikan saja hidupmu sendiri.” benak Haru.
Saat langkahnya sudah begitu jauh, entah bagaimana kegelapan muncul seketika. Haru membuka matanya dengan cepat dan melihat tubuh Findre siap dimakamkan.
“Hah? Apa yang terjadi?” Haru menatap sekelilingnya tampak atasannya menatap dengan mata datar.
“Apa yang terjadi? Kenapa dia dimakamkan? Aku sudah meminta izin kepada Findre untuk mengunakan tubuhnya.” Haru menatap kearah gadis berbaju putih. Sayap putihnya terbentang luar hingga menutupi matahari.
Lirikkan matanya membuat Haru bungkam seketika. “Penguasa mengatakan, tubuhnya harus segera dimakamkan. Kamu akan mendapatkan duplikat dari tubuh itu. selesaikan dengan cepat, Haru!”
Haru terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Atasannya. Dia menatap keluarga yang menangis histeris karena kehilangan angota keluarga mereka.
“Findre penerus asli keluarga ini. lebih baik aku menjaga jarak dari mereka. aku tidak ingin mereka terkena masalah karenaku.” Benak Haru.
Sayapnya terbentang luas, dia mengerakkan sayapnya lalu terbang kembali pada tempatnya.
Disana, sudah ada tubuh kosong, mirip dengan tubuh sebelumnya. Haru ingin berniat untuk mengistirahatkan diri sejenak, tetapi tugasnya belum selesai. dia tidak akan beristirahat sebelum tugas itu tuntas.
“Penguasa menyuruhmu kembali dengan cepat. Mei tidak akan bertahan.” Ucap Atasannya.
Haru menggerakkan tangan untuk menghentikan perkataan dari sang Atasan. “Aku tidak mengerti, kenapa aku harus cepat sedangkan tidak ada petunjuk untukku. Bagaimana aku bisa menjemputnya?”
Gadis berbaju putih memandang datar kearah Haru. “Ini perbuatanmu sendiri, jadi....”
“Tunggu dulu,”
Haru dan Atasannya seketika diam dan memberikan sujud karena kedatangan Penguasa. Hanya suaranya saja, mereka tidak bisa melihat wujud sang Penguasa.
Didepan mata Haru, terlihat Mei yang terluka. Disiksa, dan dipukul dengan cambuk. Bekas luka yang belum kering tidak membuat Mei menderita. Dia tetap mengerjakan segalanya tanpa menangis.
Melihat hal itu, Haru seketika bungkam. Dia tidak akan melawan sekarang. hatinya berniat untuk menjemput Mei secepat mungkin.
“Aku suka dengan tekad mu, Haru. Hanya, jangan sampai terlambat, aku tidak ingin senyumnya menghilang.”
Haru mengangguk, tubuhnya menyatu dengan cepat oleh Penguasa dan dia di letakkan kembali ketempat semula. Tempat yang merupakan rumah keluarga Altha.
“Aku memang berniat untuk tidak bertemu keluarga ini lagi, ku harap aku tidak menarik perhatian siapapun.” Guman Haru.
“Dengar Haru, Penguasa mengatakan ... kamu bisa menampakkan dirimu hanya kepada orang tertentu yang kamu izinkan. Selain mereka, tidak ada yang bisa melihatmu. Jadi, gunakan keberuntunganmu dengan baik. Satu lagi, Penguasa mengatakan bahwa tugasmu juga harus dikerjakan. Bagaimana pun, kamu adalah Malaikat Maut kesayangannya.”
Haru tercenga mendengar apa yang dikatakan atasannya. Dia tersanjung dengan kalimat akhir, tapi mengerjakan tugas sambil menyelesaikan perkerjaannya. Bukankah itu semua akan memakan waktu yang banyak.
“Aku harus mengerjakannya. Penguasa bilang kalau aku adalah Malaikat Maut kesayangan. Jadi, ayo semangat Haru!, ah tidak ... Findre, sekarang namaku Findre dengan panggilan Fin.”
...°°°...
Dua tahun sudah berlalu.
Haru berdiri disalah satu gang kosong. Dia melirik kekanan dan kekiri, lalu melangkah masuk kedalam gang.
Matanya melihat kearah wanita yang sedang memeriksa tas miliknya. Dengan senyum nakal, Haru mendorong wanita itu hingga dia berteriak.
“Cih, berisik!” ucap Haru. Ditarik kepala gadis itu lalu tanpa aba-aba Haru memotong benda yang selalu digunakan seseorang untuk berbicara.
Dia menangis dengan wajah kesakitan, melihat kesedihannya, Haru tersenyum. “Kematianmu berada disini, maaf membuatmu menderita karena hidupmu memang sudah penuh dosa.”
Sabit terbentang ditangan, Haru menancapkannya tepat dikepala wanita yang kini menangis dengan suara serak. Ditarik sabit itu hingga ruhnya keluar dengan cepat.
“Bawalah,” perintah Haru kepada malaikat maut berpangkat 2. Sebenarnya tugas mencabut nyawa wanita ini bukan dirinya, tapi mau bagaimana lagi. Malaikat Maut berpangkat 2 masih kaku mengunakan sabitnya.
“Berlatihlah dengan baik.” Saran Haru, Malaikat Maut itu mengangguk dan bergegas pergi.
Niat Haru ingin ikut pergi meninggalkan gang kotor disini, dia sudah lelah mencari keberadaan Mei. Dia bahkan tidak mendapatkan kabar dari Atasannya bahkan Penguasa sekali pun. Haru jadi berpikir, apa dia sudah dibuang menjadi manusia biasa.
“Huh~ setidaknya tongkat sabitku masih utuh dan kekuatanku masih ada.” guman Haru.
Lirikan matanya mengarah kepada seorang wanita yang lewat didalam gang. Perasaan menyentuh seketika dirasa, Haru merasakan kematian gadis itu sangat dekat hingga dia ingin segera mencabutnya.
Dengan suara keras Haru tertawa dan mengejar gadis itu. dia mengunakan tubuh manusia ini agar dikenal sebagai pembunuh.
“Ah, aku menyukainya.” Benak Haru. Menjadi manusia bukanlah hal buruk untuknya.
Silau cahaya seketika tiba diakhir gang, Haru tersungkur hingga membuatnya merasa sakit.
“Uh.”
Haru bangun dan duduk dengan memegang kepalanya, rasanya pusing karena dia kurang tidur. Perutnya juga lapar karena belum makan selama 3 hari ini.
“Benar-benar melelahkan, kapan aku bertemu dengan gadis bernama Mei itu.” benak Haru.
Uhuk!
Haru segera bangun dan melihat siapa yang terbatuk. “Ah... ada orang ternyata,” ucap Haru. Matanya membelak seketika ketika melihat gadis yang merapikan belanjaannya.
“Gadis ini!” Benak Haru.