Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP : Ekstra (Takdir yang tertulis)



1 bulan kemudian,


Haru menatap dengan pandangan tidak sedap, melihat indahnya dekorasi hotel untuk melaksanakan pernikahan Findre dan Meria.


"Aku sudah meneguhkan keinginanku, setelah menyatukan mereka berdua, aku akan kembali kepada Penguasa." Benak Haru dengan kembali mengerjakan kegiatannya.


Seluruh pekerja yang ada segera menyelesaikan tugas mereka. Dekorasi yang indah di hiasi lampu kerlap-kerlip yang menerangi sisinya. Seluruh meja di tata rapi dengan kursi yang menjadi pendampingnya.


Tidak lupa hidangan yang akan di santap oleh seluruh tamu. Para tamu yang akan hadir kali ini adalah mitra kerja yang telah bersama dengan perusahaan Altha.


Bahkan, seluruh keluarga Altha turut hadir karena acara ini adalah milik anak tertua keluarga Altha.


"Haru, bagaimana dengan semuanya?" Tanya seorang pria yang datang mengenakan jas rapi dengan wajah tampannya.


Haru melihat pria yang ada didepannya tersenyum. Memori tentang keluarga Altha masih tersimpan di dalam pikirannya.


"Semua berjalan lancar, Tuan Muda Fandri." Jawab Haru dengan sedikit menundukkan kepala.


Fandri merupakan anak ke tiga dari keluarga Altha. dia juga anak dari istri ketiga tuan Ryuah.


"Jangan terlalu sopan, Haru ... kamu sudah di anggap seperti angota keluarga kami." Ucap Fandri dengan menepuk pundak Haru.


Haru dengan wajah kikuk menganggukkan kepala. Dia mendengar rumor kalau Tuan Muda Ketiga ini sangat banyak bicara, selain itu dia juga memiliki tunangan bernama Lestari. Sama seperti tunangan di kehidupan sebelumnya.


"Takdir tidak akan berubah." Benak Haru.


Semua pekerjaan selesai dengan aman, Haru menghela nafas dan duduk di salah satu kursi khusus meja tamu.


"Sebentar lagi, sabarlah Haru." Benak Haru dengan menatap kearah altar yang menjadi saksi pada pernikahan kali ini.


"Haru, bagaimana?" Tanya findre dengan menarik kursi dan duduk di samping Haru.


Haru menatap kedatangannya, dia segera mengangkat kepala dan duduk dengan tegap.


"Jangan terlalu kaku, kau sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri." Ucap Findre dengan menompang dagu. Dia menatap indahnya dekorasi yang dibuat oleh Seketarisnya.


"Hm, terima kasih." Kata Haru, dia melanjutkan pembicaraan sambil menatap indahnya dekorasi yang dia buat. "Semua berjalan dengan lancar. Bahkan, hanya tinggal sang pasangan yang akan menikah, untuk bersiap."


Findre tertawa kecil mendengar perkataan Haru. "Kamu sungguh luar biasa Haru, menyimpan semuanya tanpa menampakkan rasa sakit."


Haru terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Findre, dia menoleh dan melihat kearah Pria yang merupakan bosnya sendiri.


"Apa?" Tanya Haru dengan wajah bingung.


Findre bergegas bangun dari tempat duduk, di rapikan kembali kursi yang dia gunakan. "Tidak ada, anggap aku tidak berucap apa-apa." Dengan cepat Findre berlalu meninggalkan Haru.


Haru mengerutkan alisnya, dia menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. "Apa, apa yang terjadi kepada Findre?" Dalih Haru.


...°°°...


Meria menatap kearah cermin di depannya. Gaun putih dengan rambut yang di tata rapi. Riasan yang simpel dengan kalung di leher jenjangnya.


Sasha melihat kearah Meria menatap kagum. "Astaga, Meria ... kamu cantik sekali." Kagum Sasha dengan mengarahkan Meria menghadap kepadanya.


"Jangan mengatakan seperti itu, aku malu." Meria menutup wajahnya, dia benar-benar malu dengan Sasha yang menatap lekat.


"Haha, kau ini ...," Sasha melepaskan genggaman tangan dari bahu Meria. Dia melangkah menuju ke arah jendela, terlihat para tamu sudah berdatangan untuk acara pernikahan ini.


"Meria, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" Tanya Sasha tanpa melihat kearah sahabatnya. Yeah, Sasha sudah menjadi sahabat resmi Meria.


"Kenapa kamu baru bertanya sekarang? Aku sudah mengenakan gaun pernikahanku, apakah kau ingin aku membatalkan semuanya?" Tanya Meria kembali.


Sasha segera menatap kearah Sahabatnya. "Aku mendengar ceritamu, dan aku tahu bahwa ceritamu itu tampak sekali ... kamu tidak menyukai Findre, tapi ...,"


Ketidak sanggupan Sasha dalam melanjutkan ucapannya, Dia merasa tidak tega mengatakan itu. bagaimana bisa, Meria mempertaruhkan cintanya hanya untuk membalas cinta seseorang.


"Aku tahu, Aku memang mencintai dia. Tapi, rasanya tidak pantas kalau aku menolak lagi keinginan Findre. Aku yakin, aku akan bahagia bersamanya." Ucap Meria dengan santai. Sasha hanya bisa terdiam mendengar perkataan itu.


Memang tidak ada yang tahu jalan pikir seseorang. Sasha hanya bisa mengharapkan yang terbaik.


...°°°...


Acara pernikahan pun di mulai. Seluruh tamu undangan hadir dengan kericuhan mereka. Setiap pembicaraan mengisahkan kepada mempelai pengantin yang sudah tiba di altar.


Gaun putih di padukan dengan jas hitam, tampak sangat serasi hingga pandangan semua orang kagum kepada mereka.


"Tuan Findre sangat tampan, dan Nyonya Meria begitu cantik, mereka sangat sempurna."


"Aku tidak tahu, kalau istri tuan muda pertama akan secantik ini."


"Tuan Findre saja tampak bahagia sekarang."


Bisikan positif bergema hingga ketelinga Haru. Dia meneguhkan perasaannya agar tidak sedih dengan apa yang terjadi.


Salah, semua salahnya. kenapa dia harus jatuh cinta kepada gadis bernama Mei ini, kenapa dia harus menaruh hati kepada gadis itu. Haru benar-benar tidak bisa bahagia semenjak hatinya terluka.


Ingatan tentang Mei tampak di pikiran Haru, dia tidak bisa melupakan bagaimana pandangan Mei kepadanya, pandangan kagum penuh akan cinta.


"Hah, Penguasa ... apa takdir yang Anda berikan kepadaku." Guman Haru pelan.


Pembaca acara memulai semua yang akan menghiasi pernikahan kali ini. Haru menatap kearah Findre dan Meria yang saling berpegangan tangan.


"Aku harus merelakan dirinya." Benak Haru.


"Kepada Tuan Findre, apa anda bersedia menikahi Meria. Menemani hidupnya dan akan terus bersamanya hingga maut memisahkan kalian." Ucap sang penghulu menatap kearah Findre.


"Sepertinya, pertanyaan itu tidak bisa ku jawab." Ucap Findre.


Suaranya yang mengema karena ada mic kecil di saku. Semua yang mendengar itu seketika bungkam.


"Apa yang anak itu katakan?" Tanya Sorai, Ibu Findre.


"Aku tidak tahu. apa yang terjadi kepadanya?" Kebingungan tampak di wajah Ryuah yang merupakan Kepala Keluarga Altha.


"Apa yang Kakak katakan?" Kepanikkan juga tampak di wajah Fandra dan Fandri yang mendengar perkataan Findre.


"A- maaf Tuan Muda, apa yang anda katakan?" Tanya Penghulu dengan wajah yang bingung.


Tidak hanya itu, Meira yang mengenggam tangan Findre segera menatap sang kekasih. Tangan mereka saling bertaut dan masih ada kehangatan di antara mereka.


"Findre, apa yang kau katakan?" Tanya Meria.


Findre melepaskan genggaman tangan mereka. Matanya melihat kearah seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Kemarilah, Haru." Ucap Findre.


Semua pandangan mata menata kearah pria yang di panggil. Haru yang berdiri di tempat, seketika berkeringat dingin.


"A-aku?" Guman Haru.


Findre yang melihat Haru tidak bergerak, memutuskan untuk memanggilnya sekali lagi . "Haru, kemarilah."


Karena sudah di panggil, mau tidak mau Haru melangkah mendekat.


Di naiki tangga altar dan berdiri dekat dengan Findre.


Meria yang melihat kedatangan Haru merasa degupan di hatinya. Dia yang di ceritakan oleh Sasha tidak lain adalah Haru.


"Apa kau akan terus berbohong, kepada kami Haru?" Tanya Findre.


Haru menatap bingung mendengar apa yang dikatakan oleh Findre. Dia diam sesaat hingga wajahnya memucat setelah mencerna apa yang terjadi.


"Tidak ada yang lupa, tidak ada yang bisa menghilangkan apa yang telah terjadi. Haru, aku mengingat semua yang terjadi, semua yang kamu alami." Ucap Findre dengan menatap lekat kearah Haru.


Haru tidak bisa berucap, hanya benak yang bisa berkata-kata. "Apa yang terjadi, apa yang telah terjadi?"


"Haru, kau mencintai Meria dan Meria juga mencintaimu. Apa, aku bisa melanjutkan pernikahan ini?" Tanya Findre.


Semua yang ada di dalam ruangan seketika bungkam. Ucapan Findre yang terdengar karena mic di sakunya, membuat semua pandangan menjadi membulat.


"Kenapa kau berbohong, kau katakan saja kebenarannya. Kami tidak melupakan apa yang terjadi. Haru, Kau bisa membuat Meria bahagia hingga dia tidak akan bersedih lagi." Findre menarik tangan Haru, lalu dia menarik tangan Meria dan menyatukan kedua tangan itu.


"Aku tidak akan bahagia jika menikahi wanita yang tidak mencintaiku. Lebih baik aku menikahkan wanita yang ku cintai dengan pria yang dicintainya."


Findre menatap kearah Meria. "Kamu juga tahu Meria. Dan kamu menyimpan semuanya sendiri, katakan saja yang sebenarnya. Aku akan merelakan kalian bersama."


Haru dan Meria segera bungkam. Tidak ada yang melupakan kejadian bertahun-tahun lalu. Mereka juga masih mengingat jelas, siapa yang mencintai siapa.


Findre menahan rasa sakit di dadanya, dia tegar saat ini, tapi hatinya tidak sanggup menerima semuanya. Orang yang dicintainya, cinta pertamanya, semua berakhir disini. Berakhir dengan perasaan yang begitu menyakitkan.


"Pak penghulu, merekalah pasangan yang harus menikah. Aku hanya mengantarkan mereka untuk bisa bersama." Ucap Findre.


Haru dan Meria panik seketika. Tangan mereka terlepas dengan langkah kaki mendekat kearah Findre.


"Tuan, apa yang kau katakan?" Tanya Haru dengan wajah tidak percaya.


"Findre, aku sudah mengatakan kalau aku akan belajar mencintaimu." Meria mengenggam kemeja sang calon suami. Dia memang mengakui bahwa cintanya bukan kepada Findre. Tapi, rasa kesedihan mendengar apa yang Findre katakan berbekas di hatinya.


"Meria dengar, aku mencintaimu tapi tidak akan memaksamu menikahiku. Aku tidak ingin melihat kesedihan dan paksaan seseorang, aku tidak ingin melihat hal itu. Hatiku, merasa sakit ketika semua itu terjadi." Ucap Findre, wajah sedihnya berhasil membuat semua tamu paham dengan yang terjadi.


Semua sudah tertulis, begitu juga takdir. Takdir mereka tidak bersama, yang artinya mereka tidak akan hidup bahagia. Tidak ada yang menginginkan itu semua. Pilihan hanya satu, belajar merelakan seseorang agar mereka bisa bahagia.


Findre berdiri di samping Ibunya, dia menatap perjanjian suci antara Haru dan Meria. Setelah saling menerima, semua tepuk tangan menghiasi aula.


Melihat hal itu, Findre memutuskan untuk keluar dari ruangan hotel yang dia pesan. Hatinya sakit tapi juga bahagia. Dia tahu, keputusannya ini tidak akan pernah dia sesali.


"Ouch!" Findre menatap kearah wanita yang dia tolong. Mereka hampir saja terjatuh bersama jika Findre tidak mengkokohkan kaki untuk berdiri tegak.


"Ah, maafkan aku!" Ucap seorang wanita mengenakan pakaian kantor, dia menatap wajah Findre dengan pandangan panik. "Aku terlambat, maafkan aku." Ucapnya lagi dengan pergi meninggalkan Findre.


Dengan wajah bingung Findre menatap kepergian dari wanita yang tampak ceroboh. Kakinya kembali melanjutkan langkah, tetapi suara gesekkan terdengar di telinga.


"Name tag? Apa ini milik gadis itu?" Benak Findre, di ambilnya name tag yang tidak jauh dari kakinya.


Name tag itu di balik oleh Findre untuk melihat siapa pemilik benda yang ada ditangan. Matanya membulat seketika, dia menatap kearah perginya wanita yang baru saja di tolong. "MEI?"


...°°°...


"Penguasa benar, dia sudah mengatur semuanya sebelum kita di ciptakan. Mei pasti akan bahagia, dia bisa mencintai dua pria dengan kepribadian berbeda."


"Jiwa Mei telah di bagi pada kehidupan ini, dia akan tetap di takdirkan bersama Findre. Dan Haru, bersama wanita yang di cintainya."


"Sudahlah, mari kembali kepekerjaan kita. Penguasa sudah mengangkatmu menjadi penganti malaikat Maut, Haru."


"Hm, aku tidak akan mengecewakannya, Atasan."


...-*-...