Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 34: Keluarga Altha



Halaman luas dengan keindahan disekitarnya, dua air mancur menjadi objek pertama jika para tamu tiba. Mata mereka akan berbinar jika meliriknya.


Tidak hanya keindahan di halaman, semua akan terkejut jika tiba di mansion besar dengan tiang putih yang kokoh. Lantai ubin yang begitu cantik dengan langit-langit mansion berwarna putih.


Setiap masuk kedalam mansion, semua akan terpukau melihatnya. Selain itu, para penghuni rumah sangat ramah dengan orang-orang.


"Silahkan masuk." Ucap pelayan yang menyambut kedatangan tamu entah itu pemilik rumah atau tamu terhormat.


Namun, semua orang tahu. Meski sebaik apa pun penghuni rumah itu, banyak rumor tentang kepala keluarganya.


Altha Ryuah, kepala keluarga Altha. Dia memiliki tiga Istri, Istri pertama bernama Altha Sorai, Istri kedua bersama Altha Kayri dan Istri ketiga bernama Altha Basyra.


Ketertarikkannya untuk beristri banyak menuai banyak hujatan masyarakat.


"Tidak di sangka, ternyata orang kaya itu punya istri tiga, sudah bisa di tebak kalau orang seperti nya tidak setia."


"Memalukan lagi yang ingin di nikahi olehnya, kenapa mau menikah. Aku yakin pasti semua mau kalau di sogok dengan uang."


"Hidup mereka itu kurang apa sih, kaya udah, makmur udah, jabatan tinggi juga udah, lalu istri pertama yang cantik itu kurang apa?"


"Kita tidak tahu apa yang ada di pikiran istri ke dua dan ketiga, aku sedih memikirkan mereka."


"Kenapa sedih? Seharusnya mereka senang, kan? kalau menikah dengan orang kaya."


"Aku dengar-dengar istri pertama sedang mengandung seorang penerus loh. Pas suami pulang dari kota tetangga, eh malah bawa dua istri baru."


"Beneran? Kalau aku jadi istri pertama, pasti aku akan mengusir mereka. Memalukan sekali di madu...."


Itulah yang dibicarakan orang-orang pada keluarga Altha. Meski begitu, keluarga yang dipandang buruk malah damai dengan kebahagiaan didalamnya.


Kebahagiaan itu bertahan hingga kepergian istri pertama beberapa tahun yang lalu. Semua terpuruk dengan kecelakaan yang terjadi dan lagi mengakibatkan sang penerus asli menghilang dari bayangan orang-orang.


"Meski pewaris pertama menghilang, masih ada pewaris kedua dan ketiga. Mereka putra-putra dari istri kedua dan ke tiga."


"Tapi, mereka tidak sah!"


"Menurutku tidak masalah, pernikahan pria itu di anggap main-main, semua sah di mata hukum."


"Tetap tidak baik, istri pertama lah yang menentukannya. Karena bagaimana pun, kedua istri asing itu kan hanya madu."


Bisikkan dan penilaian hingga pendapat orang-orang tidak bisa di bungkam. Keluarga Altha pun hanya bisa mengumumkan bahwa pewaris masih jatuh di tangan anak pertama.


Semenjak kejadian dua tahun yang lalu, semua sedikit tenang. Kehangatan dalam mansion kembali berkembang dengan baik.


"Nyonya Kayri, semua hidangan telah tersaji." Ucap Pelayan dengan nada pelan, pandangannya menunduk ketika berhadapan dengan seorang wanita.


Wanita yang ada didepan Pelayan, dia mengenakan pakaian batik dengan rok span membalut kaki panjangnya.


"Hm, Terima Kasih." Ucap Kayri, istri kedua Ryuah Altha. Putranya bernama Fandra.


Kayri memiliki wajah bulat dengan bulut mata lentik, tingginya tidak seberapa, tetapi pendidikkannya berada di tingkat sarjana.


"Ibu, duduklah!" Ucap Fandra dengan sedikit berteriak.


Kayri yang masih berada di dapur tersenyum, "Iya putraku, sebentar!" Balasnya.


Tiba di meja makan, sudah ada kepala keluarga yang tengah membaca koran, istri ketiga menyajikan makanan dan putranya yang tidak lain adalah Fandri.


"Malam semuanya." Kayri menarik kursi di samping sang suami.


"Malam, Kak Kayri." Senyum manis tampak di wajah wanita berambut panjang yang terkepang. Dia memiliki bola mata ke coklatan dengan bibir tipis yang membuat senyumnya sangat cantik, namanya Basyra, istri ketiga Ryuah.


"Senyummu cerah sekali Basyra, sangat cantik...." Kayri mengambil hidangannya untuk siap di santap.


Meja makan yang sudah terisi dengan angota keluarga lengkap membuat semua Pelayan menjauh seketika.


Altha Ryuah menaruh koran di tangan kepala pelayan. "Mari makan semuanya."


Semua menyantap makan malam mereka dengan tenang tanpa pembicaraan. Setelah makan malam selesai, barulah semua diizinkan berbicara.


"Bagaimana dengan sekolahmu Fandri?" Tanya Ryuah dengan pandangan teduh kepada putranya.


Fandri mengangguk mendengar ucapan sang ayah. "Terima kasih Ayah, berkat dirimu yang telah mengizinkan ku pindah kesekolah yang sama dengan Lestari. Aku senang berada disana...." senyum konyol tampak diwajah.


"Sepertinya yang dinikmati Fandri hanya bersama Tunangannya." Celetuk Kayri.


Basyra mengangguk, "Aku juga berpikir demikian."


Lagi-lagi, Istri kedua dan ketiga itu tertawa bersamaan. Fandri yang mendengarnya cemberut sambil berguman dengan perkataan tak jelas.


"Hahaha, putraku ... jika kamu menginginkan sesuatu katakan saja. Oh ya, jika kamu ingin mendapatkan tunangan lagi, katakanlah." Ucap Ryuah dengan bangga.


Pukulan dikedua lengan Ryuah membuat suasana bahagia itu menjadi suram seketika. Pandangan istri kedua dan ketiga menjadi datar, hal itu membuat semuanya menjadi merinding.


"Jangan mendidiknya seperti itu, kamu sudah lupa dengan janjimu kepada Kakak Sorai?" Tanya Kayri dengan wajah yang sedih.


Basyra mengangguk setuju, semua mengingat jelas perkataan Istri Pertama Ryuah, Altha Sorai. Wanita yang anggun dengan kepribadian tenang.


Ryuah yang mendengar pertanyaan istri keduanya langsung mengelak. "Sudah-sudah, jangan suram gitu. Kita lagi menikmati suasana bersama loh."


Kayri dan Basyra hanya memalingkan wajah mereka. Melihat hal itu, Ryuah menjadi kikuk seketika.


"Ayah...." Seru Fandra yang dari tadi berdiam diri.


Ryuah menatap putra kedua yang duduk tak jauh darinya. "Ada apa Fandra?"


Fandra menunduk dengan wajah mengerut. "Ku rasa, kakak telah kembali." Ucapnya dengan pelan.


Di meja makan yang tenang itu, membuat ucapan Fandra terdengar jelas hingga para Pelayan yang jauh dari mereka terteguh.


"Apa yang di maksud Tuan Muda Fandra itu adalah...."


Bisikkan Pelayan menjadi gemuruh dalam ruangan. Ryuah harus mengetukkan garpu agar semua kembali tenang.


"Pergilah." Perintah Ryuah kepada pelayannya, semua pelayan bergegas meninggalkan ruang makan.


Pandangan mata kepala keluarga menatap kearah putra keduanya. "Lanjutkan!"


Fandra menarik nafasnya dengan hembusan perlahan. "Ayah, Kakak telah kembali."


"Apa yang kakak katakan, tidak mungkin kakak tertua kembali." Elak Fandri, dia duduk didepan Fandra.


"Tidak, aku bisa melihatnya ... Ayah, kakak benar-benar telah kembali." Jelas Fandra lagi dengan wajah serius.


Melihat hal itu, semua menjadi terteguh hingga tidak bernafas untuk sesaat. Kayri, Ibu Fandra menyentuh pundak Anaknya.


"Dengar Fandra, kalau kamu kecapean, kita bisa kerumah sakit atau kamu beristirahat dikamar." Ucap Kayri.


Fandra dengan pelan menyinggirkan tangan sang ibu, dia juga mengenggam tangan itu di atas meja.


"Dengar Ibu, Kakak Tertua ... dia telah kembali!"


Semua semakin tidak mempercayai dengan apa yang Fanra ucapkan. Suasana ruang makan itu menjadi tidak tenang.


"Dengar, dia-"


"CUKUP!" Ryuah menghentikan ucapan Fandra. Perkataannya membuat semua bungkam seketika, tidak ada yang berani mengangkat kepala.


"Dengar Fandra, jika memang ucapanmu benar. Maka katakan kepadaku, kapan kamu menemukan kakakmu itu?" Tanya Ryuah dengan wajah yang masih sama, tenang dan damai tapi nada suaranya sedikit berbeda.


"Ayah, beberapa kali aku sudah bertemu dengannya. Pertama bertemu, aku merasa hanya sebuah kebetulan. Tetapi, berulang kali aku memastikannya, kalau semua itu bukan kebetulan."


Fandra menundukkan sedikit kepalanya. "Seorang gadis bernama Mei, dialah yang membuatku bisa bertemu dengan Kakak tertua. Findre, selalu bersama gadis itu, entah dimana pun dia berada."


"Ku rasa itu mustahil kakak, Dua tahun yang lalu kan...." Fandri sulit melanjutkan ucalannga, dia menatap kakak kedua dengan pandangan tak percaya.


Namun, Fandra masih kukuh dengan penjelasannya. Wajah serius yang diberikan olehnya membuat semua orang terdiam.


"Besok, ikutlah bersama Ayah. Kita akan memastikannya bersama." Ucap Ryuah dengan mengakhiri pembicaraan mereka.


Semua mengangguk mendengar ucapan itu. Fandra menatap kedepan tanpa memperhatikan Fandri yang perlu penjelasan.


"Apa ini alasan kakak bertanya kepada Mei?" Benak Fandri