
Udara dingin menerpa wajah Mei, tubuhnya sudah dipakaikan hoodie dari sang kekasih. Mei pun mendapat perhatian yang sekali lagi mengetarkan hatinya, dia digendong dengan begitu santai oleh Findre.
Dalam dekapan sang kekasih, Mei merasa cintanya semakin menjadi. Dia dengan bungkam membiarkan Findre mengendongnya hingga mereka tiba di rumah yang megah.
“Kita tiba,” Ucap Findre dengan mengeratkan dekapannya.
Mei mengangguk mendengar apa yang kekasihnya katakan. Dia tidak ingin berharap lebih karena takut Findre akan marah kembali padanya.
Pintu rumah perlahan di buka, Findre melangkahkan kaki untuk masuk kedalam. Tidak berselang lama, mereka tiba di ruang tamu.
“Fin-,” Mei ingin melanjutkan ucapannya, tetapi suara langkah kaki menarik perhatian Mei.
“Bi Ta!” Mei terkejut melihat seorang wanita paru baya tengah berdiri dengan senyum di wajahnya, Dengan cepat Mei berusaha untuk turun dari dekapan sang kekasih.
“Diamlah!” Findre mengeratkan dekapan pada Mei yang terteguh menatap kearahnya.
“Haha, Nona Muda jangan banyak bergerak. Tuan Muda sudah mencari Nona hingga tidak pulang selama satu hari ini.” ucap Bi Ta dengan mengelus lembut kepala Mei.
Mei mengangguk dengan membalas senyuman Bi Ta. “Kapan Bi Ta kembali?” tanya Mei.
Bi Ta menjauhkan sedikit tubuhnya, dia menatap Mei dengan pandangan seorang keluarga yang sudah dekat bahkan menganggap Mei sebagai putrinya.
“Bi Ta kembali kemarin Nona Muda, saat itu Tuan Muda tengah mencari kemana perginya Nona ... sudahlah, bagaimana kalau kita makan malam bersama?” tanya Bi Ta.
Mei mencium aroma masakkan yang sangat menyengat di hidungnya. Dia yang sudah mengisi perut di rumah Fandra, kini merasa lapar kembali menyerang.
“Aromanya enak Bi Ta, Mei ingin makan sekarang juga. Findre, boleh kah?” tanya Mei dengan menatap sang kekasih.
Findre memandang Mei dengan pandangan tenang, tanpa jawaban Mei dibawa ke meja makan dan di dudukkan pada kursi yang ada. lalu, Findre duduk di samping Mei dengan menyajikan makan malam.
“Ah tidak Tuan Muda, biar Bi Ta yang melakukannya.” Bi Ta menyediakan makan malam dengan dua porsi yang ada, tidak lupa lauk dan hidangan lainnya.
Mei menatap kearah makan malam yang tampak sangat enak untuk di makan, dia perlahan mengambil sendok dan menyuap masakkan Bi Ta.
“Ehm! Enaknya... Bi Ta makan malamnya sangat luar biasa.” Mei memberikan dua jempol ke arah Bi Ta yang terkekeh mendengar perkataannya.
“Nona Muda bisa aja, makanlah lagi hingga perut anda kenyang,” ucap Bi Ta dengan mengarahkan hidangan lain.
Mei mengangguk dengan cepat, dia kembali mengambil hidangan dan menambah porsi makannya. Perut yang sudah di isi, akan kah sanggup menampung lagi.
“Jangan berlebihan,” Ucap Findre dengan nada dinginnya.
Mendengar itu, Mei tersenyum sambil menatap sedu pada makanan yang ada didepan mata. Dia merasa Findre tahu kalau dirinya telah makan malam dengan seseorang.
Pertanyaan Findre belum terjawab olehnya, dia perlu memikirkan jawaban yang tepat agar Findre tidak curiga dengan kebohongannya.
Setelah makan malam, Mei memutuskan untuk berbincang bersama Bi Ta. “Bi Ta, Mei kangen!”
Mei memeluk Bi Ta dengan erat, dirinya merasa kasih sayang dari balasan Bi Ta. Apa lagi ia tahu kalau Bi Ta sangat menyayangi dirinya.
“Bi Ta juga kangen dengan Nona Muda, Bi Ta tidak bisa tenang mendengar kalau Nona pergi tanpa memberi tahu Tuan Muda.” Bi Ta mengingat sebelum kepergiaannya,Tuan Muda kembali setelah berangkat sekolah bersama Mei.
“Ada sesuatu yang tertinggal.” Jawab Findre dengan santai melangkah menuju tangga.
Bi Ta mendengar jawaban dari Tuan Muda mengerutkan alis. Dia merasa ada sesuatu yang salah hingga membuatnya berani mengambil tindakkan.
“Tuan Muda, tunggu sebentar!” Bi Ta melangkah mendekati tangga yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Maafkan Bibi jika perkatakan ini menyinggung anda. Bi Ta sangat tidak menyukai tingkah Tuan muda yang pergi tanpa mengatakan apa-apa, setidaknya katakan sesuatu kepada Nona Muda agar dia tidak khawatir.”
Bi Ta memperhatikan Findre yang diam tidak bersuara. Selain itu, Tuan Muda yang dia kenal tidak menoleh saat Bi Ta berbicara.
“Em ... Maaf kan apa yang telah Bi Ta sampaikan.” Bi Ta tidak ingin melanjutkan ucapannya, dia merasa Tuan Muda sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Mengingat apa yang telah terjadi, Bi Ta menatap Mei yang ada didalam pelukkannya. “Tuan Muda pasti tahu apa yang harus dia lakukan untuk Nona Muda. semoga pernikahan mereka baik-baik saja.” Bi Ta mengeratkan pelukkannya sambil berbenak.
...°°°...
Di kamar utama, Mei baru selesai mandi. Dia memilih duduk di kursi rias untuk mengeringkan rambut yang basah.
Sedangkan Findre tengah sibuk memainkan ponsel pintarnya dengan bersandar di sisi ranjang.
Mei mengeringkan rambut sambil melirik sang kekasih yang asik dengan ponselnya. Mei penasaran dengan Findre yang tidak banyak bertanya. Seharusnya, Findre membuat Mei terpaksa menjelaskan apa yang terjadi.
“Ku rasa, Findre sudah mengetahui semuanya.” Benak Mei mematikan pengering rambut. Dia melangkah menuju ke ranjang sebelah Findre.
Mei tidak ingin banyak bicara, dia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut dengan perlahan.
“Sebentar,” Findre menghentikan tangan Mei yang tengah menarik selimut.
Mei diam seketika, dia melihat Findre melangkah menuju suatu tempat lalu kembali ke arahnya. Tetapi, kali ini berbeda, Findre duduk di lantai sambil menarik kaki Mei.
Mei menurut dengan apa yang di lakukan oleh Findre, kaki jenjang miliknya disentuh dengan lembut oleh sang kekasih.
“Kamu terkilir, meski sudah diperiksa, lebam ini harus di obati.” Ucap Findre dengan mengoleskan salep dengan perlahan.
Melihat perhatian kekasihnya, Mei tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. “Findre, apa kamu tidak penasaran dengan apa yang ku alami?”
Findre menatap kearah Mei dengan pandangan datar, tidak ada raut wajah khawatir disana. setelah melihat Mei, Findre kembali mengolesi salep yang tersisa di tangan.
Mei diam melihat Findre tidak menghiraukan ucapannya. “Apa yang kamu pikirkan Mei, tentu saja dia tidak penasaran, Semua ini kan masalahmu sendiri.” Benak Mei yang kembali berbaring.
Namun, sang kekasih menuntun kepala Mei berbaring di lengannya. Mei terkejut mendapati sang kekasih sudah memeluk dan memberikan usapan lembut di kepala.
“Apa kamu berniat untuk bolos besok?” tanya Findre.
Mei menatap mata Findre yang juga menatap dirinya. Waktu yang berjalan terasa di hentikan, Mei bahkan memberanikan diri untuk mengusap wajah sang kekasih.
“Ku rasa, aku tidak akan ke sekolah besok.” Ucap Mei. Sang kekasih mengangguk dan mengecup singkat telapak tangan Mei.
“Maka tidurlah, besok ceritakan semuanya kepadaku Mei, apa yang terjadi kepadamu ... dan, siapa yang mengantarmu kembali.”