Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 15: Tidak boleh tahu



Mei menduga tidak ada yang akan menganggu dirinya. Dugaan itu salah baginya, karena kini beberapa siswa perempuan menghadang kepergian Mei.


“Namamu Mei bukan?” tanya salah satu dari lima orang yang ada.


Mei mengangguk. “Benar, ada yang bisa aku bantu?”


“Ada, bisa ikut dengan kami?” tanyanya kembali.


Mei menatap curiga dengan lima perempuan yang ada didepannya. “Sepertinya, aku tidak bisa mengikuti kalian...” Mei menolak ajakkan dari Lima perempuan yang ada.


Namun sayang, kelima perempuan itu tidak mendengarkan ucapannya, mereka membawa Mei pergi dengan paksa.


“Sudah ikut saja, tidak perlu takut dengan kami.” Ucap seseorang yang ada dikanan Mei.


Mei menjadi panik, ia berusaha untuk melepaskan diri dari lima perempuan yang menarik dirinya. Mei tetap kalah melawan lima orang yang ada, apa lagi tubuhnya lelah setelah berolah raga.


Mei pasrah dibawa ke halaman belakang, ada pohon beringin yang sudah tua, Di sana Mei melihat lelaki yang ingin melukainya.


“Tunggu! Apa yang kalian lakukan?” tanya Mei, hatinya sudah memberi peringatan bahwa ia akan terluka jika mendekat.


Mei berusaha untuk melepaskan diri, tapi lima orang perempuan menangkap dirinya dan menyeret Mei dengan cepat.


“Cerewet banget sih, bisa diam engak?” celetuk salah satu dari mereka.


Mei masih meronta-ronta. “Tidak, jangan membawaku kesana!”


Tubuh Mei dilempar seperti sampah yang dibuang. Mei menahan sakit karena terbentur dahan pohon yang besar.


Dilihatnya ada Jimto, lelaki yang hampir mencelakainya, lalu ada lima perempuan yang menatap lembaran merah dengan senyum puas.


“Aku sudah membawanya, uang ini menjadi milik kami.” Ucap salah satu dari perempuan yang ada.


Jimto mengangguk dengan senyum puas diwajahnya. “Pergilah, terima kasih sudah membawa gadis ini.”


Lima Perempuan yang membawa Mei pergi dengan cepat, Mei menangis melihat kepergian mereka. rasa takut dan kegelisahan memenuhi hatinya.


“To-tolong, tolong lepaskan aku!” Mei berucap dengan tangan memohon agar dilepaskan.


Namun lelaki yang ada didepannya hanya tertawa bebas mendengar apa yang Mei katakan.


“Gadis baik, kami ada urusan denganmu. Setelah urusan kita selesai, kamu bisa bebas. tenang saja, ini tidak lama kok.” Ucap Jimto dengan mengambil benda yang ada ditangan temannya.


Melihat benda yang digunakan untuk memotong kertas, membuat Mei membelakkan matanya. Perlahan tubuh Mei menjauh dari Jimto yang mendekat.


“Tahan tubuhnya!” Jimto memerintah teman-temannya. Semua yang mendengar perintah itu menahan Mei ditempat.


“Apa kita buka saja bajunya?” tanya salah satu dari teman Jimto yang menatap kearah Mei.


“Kita hanya diperintahkan untuk tidak membuat masalah, pelanggan kita tidak menyukai hal seperti itu, jadi kita ambil jalan amannya saja...” Jimto memandang Mei yang sudah menangis tersedu-sedu.


“Angkat roknya, akan kita buat ia tidak bisa berjalan esok hari.” Lanjut Jimto dengan wajah senangnya.


Mei kaget mendengar perintah Jimto, kakinya diayunkan untuk menghindari teman-teman Jimto.


Mei pernah mendengar rumor tentang Jimto yang suka menyiksa siswa, entah itu perempuan atau laki-laki. Selama ia menginginkannya, maka tidak ada yang bisa kabur dari Jimto.


Mei masih memberontakkan tubuhnya, ia tidak ingin mengalami ini semua, sudah cukup rasa sakit dan trauma dari campuk sang Ibu angkat, jangan lagi ia merasakan kesensaraan hidup yang menghancurkan hatinya.


Takdir seolah menutup telinga dengan keinginan Mei, hingga Mei memilih diam dengan rasa sakit yang diterima. ia memandang datar melihat kedua kakinya mendapat ukiran cantik dari tangan Jimto.


Setengah jam waktu yang sangat luar biasa untuk Mei, sudah merasa sakit dan menahan air mata untuk tidak mengalir dipipinya. Akhirnya, Mei melihat Jimto berdiri dengan benda merah yang ada ditangan.


“Bagaimana karya ku?” tanya Jimto menatap kearah teman-temannya.


“Yap, apa lagi darahnya menjadi pemanis karyamu, Jimto.”


Jimto tersenyum puas dengan apa yang didengar olehnya. “Kita kembali, bel pulang sudah berbunyi. Hari ini, pelajaran hanya sampai siang hari, lebih baik kita ke Club untuk menikmati uang ini.”


semua teman Jimto pergi mengikuti langkah sang pemimpin. Melihat kepergian mereka, air mata yang tertahan itu mengalir hebat dengan suara isak yang tertahan.


“Kenapa? Kenapa aku harus mengalami ini semua.” Mei meringkuhkan kakinya, ia tidak sanggup berjalan karena sakit yang dirasa olehnya.


Ukiran cantik dengan warna merah yang ada dikedua kaki ditutupi oleh Mei dengan Rok panjangnya. Mei memang sangat menyukai rok panjang hingga mata kakinya. Ia ingin menutupi semua luka yang ada ditubuhnya.


Sekarang, Mei sekali lagi menutupi luka yang didapat. Perlahan dengan menahan sakit, Mei melangkah kembali kekelas. Bel pulang sudah berbunyi, dan Mei tidak ingin menemui kedua sahabatnya, ia tidak ingin sahabatnya khawatir.


Sebelum tiba dikelas, Mei menyempatkan diri membersihkan sisa darah yang mengenai rok panjangnya.


“Syukurlah, mereka sudah pergi.” benak Mei, ia menatap kearah meja belajar miliknya. ada sebuah kertas yang terselip diantara tas dan kursi.


-Mei, kami pulang duluan ya, maaf banget engak bisa pulang bareng, jaga kesehatanmu Mei-


Senyum manis terukir dibibir Mei, ia menyimpan surat sahabatnya dan melangkah keluar kelas. Mei menduga sang kekasih menunggu dirinya.


Seperti dugaan Mei, sang Kekasih sudah berdiri di gerbang sekolah. Rasa sakit yang Mei rasakan menghilang seketika, ia melihat Findre mengenakan hoodie dengan kepala yang tertutupi.


Melihat dari kejauhan, Findre terlihat cool dan cuek dengan sekelilingnya. Tetapi bagi Mei, kekasihnya adalah anak kecil yang selalu meminta pelukkan darinya.


“Findre!” sapa Mei dari belakang, sang kekasih dengan cepat menoleh dan menatap Mei dengan pandangan datarnya.


“Kenapa kamu lama sekali?” tanya Findre dengan melangkah terlebih dahulu.


Melihat kekasihnya berjalan, Mei diam-diam menghela nafas.


“Maaf, ada yang tertinggal.” Mei berusaha normal dengan langkah kakinya. Ia menatap rok panjang yang dikenakan, tidak ada noda merah yang ia lihat.


“Findre tidak boleh tahu dengan hal ini.” Benak Mei dengan menatap punggung kekasihnya.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Findre. Wajah keduanya saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat.


Mei menjauhkan tubuhnya, Ia kaget melihat Findre mendekat secara tiba-tiba.


“Mei!” ucap Findre dengan nada dinginnya, seketika tubuh Mei membeku ditempat karena rangkulan Findre. Mereka saling berdekatan hingga nafas terhembus bersamaan.


“Jangan bengong dijalan, kamu bisa mengalami kecelakaan.” Ucap Findre kembali sambil mencium jidat Mei.


Mereka melangkah kembali dengan Findre mengandeng tangan Mei. Bagai dunia milik berdua, Mei tidak menghiraukan sekelilingnya. Ia terus menatap punggung Findre yang berada didepan.


...°°°...


Sebuah benda terlempar didepan meja. Jimto menatap pelanggannya dengan wajah puas.


“Ini bukti kalau permintaanmu sudah ku penuhi.” Ucap Jimto kepada lelaki seusianya.


“Bagus, terima kasih atas kerja samanya.” Sahut Roy dengan wajah puas melihat hasil didepan mata.


Benda tajam dengan lumuran darah menjadi bukti bahwa Jimto telah melukai Mei. Roy merasa senang melihatnya, ia membalas dendam pada Mei karena membuat Mia menangis.


Roy tidak terima, jika anak angkat berani menyakiti keluarganya. Saat ia tahu, Mei sudah diusir. Roy mencari keberadaan Mei selama satu minggu.


Siapa yang menduga Mei turun sekolah setelah menghilang 1 minggu lamanya. Roy tidak akan meninggalkan kesempatan yang ia dapat, dengan menyogok Jimto, Ia berhasil membalaskan dendam adiknya.


“Mia, kamu akan senang mendengar kabar ini.” benak Roy menginggalkan club malam yang ia kunjungi.