Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 13: Aku ingin sekolah



Di meja makan, dua orang yang ada asik menikmati makan malam mereka. masakkan Bi Ta sangat enak hingga membuat Mei ingin menambah makanannya. Bi Ta sendiri sedang sibuk di dapur, karena Bi Ta tidak ingin mengangguk Mei dan Findre yang akhirnya bertemu kembali.


Mei tidak menghiraukan Findre yang memandang dirinya. Ia lebih memilih untuk menghabiskan makanan yang sisa sedikit lagi.


Setelah Mei menyelesaikan makanannya, Findre baru bertanya kepada sang Kekasih. “Apa ada yang ingin kau tanyakan kepadaku?”


“Ada, aku ingin sekolah Findre,apa kau lupa dengan janjimu kepadaku. Aku sudah libur 1 minggu, jadi kapan aku bisa bersekolah?” Mei yang menatap dengan serius kearah sang kekasih.


Mendengar ucapan Mei,Findre mengangguk. “Baiklah, Besok pagi kita akan kesekolah, ada lagi?”


“Tidak ada, hanya itu.” ucap Mei dengan rasa senang, ia mengambil piring kotor lalu membawanya ke dapur. Saat ingin membersihkan piring-piring kotor itu, Mei digendong tiba-tiba oleh sang kekasih.


“Findre, apa yang kau lakukan?” tanya Mei kaget melihat dirinya terangkat dengan begitu santai.


“Aku ingin istirahat, Biar Bi Ta yang mengerjakannya.”ucap Findre yang melangkah menyusuri jalan untuk menuju ke kamar mereka. Mei hanya bisa menghela nafas mendapati sang Kekasih yang mengendong dirinya.


Setibanya dikamar, Findre membaringkan Mei yang terdiam menatap wajahnya. “Ada apa?” tanya Findre.


Mei melihat wajah Findre yang tampak lelah, ia menyentuh wajah sang kekasih dengan tangan kanannya. Tangan Mei langsung digenggam dengan lembut oleh sang kekasih.


“Findre, Apa kamu tidak merindukanku?”Mei sedikit penasaran. Meski ia mencintai Findre, ia tetap tidak bisa menahan rasa penasaran dihatinya, meski ia tahu bahwa saat ini ia harus menahan diri karena ada batasan antara dirinya dan Findre.


Findre mencium tangan Mei dengan lembut, lalu berbaring disampingnya dengan genggaman tangan yang masih terjalin.


Perlahan posisi berbaring Mei berubah, ia menatap Findre yang menatap dirinya.


“Kamu merindukanku?” tanya Findre. Mei dengan cepat menjawab. “tentu saja aku merindukanmu, Kau merindukanmu karena kamu selalu ada didekat-Ku, meski ada Putri dan Lestari, kamu yang paling dekat...” Mei tidak melanjutkan ucapannya. ia menundukkan pandangan karena tidak ingin menampilkan raut sedih yang ada diwajahnya.


“Aku lelah, bisakah aku tidur terlebih dahulu?” Tanya Findre.


Mei langsung mengangguk mendengar pertanyaan Findre. “Tentu, apa kepalamu pusing, aku bisa memijitnya.” Tawar Mei dengan mendudukkan diri.


Findre tanpa basa basi berbaring di pangkuan Mei. “Baiklah, Pijit dengan benar.” Ucap Findre.


Perlahan mata Findre terpejam dalam kenyamanan yang didapat. Mei yang memijit Findre, berusaha sebaik mungkin agar tidak mengganggu tidur sang kekasih.


Suasana di dalam kamar menjadi sunyi, dibalik kesunyian itu terdapat sesuatu yang menghadirkan tanda tanya. Ada hati yang perlu tempat sandaran tetapi, tempat sandaran itu tidak memberi balasan atau penolakkan.


...°°°...


Kepagian harinya..


Mei terbangun dengan kepala yang berpangku dipaha seseorang. Semalam, Ia tertidur dalam kondisi duduk, saat bangun ia sudah berbaring dipaha sang kekasih yang sibuk membaca buku.


“Sudah bangun? Bersiaplah, kita akan kesekolah.”ucap Findre yang menutup bukunya.


Mei yang mendengar kata sekolah langsung bersorak bahagia, ia bahkan tak tanggung-tanggung memeluk Findre dengan tawa yang ada.


Beberapa menit berlalu, Mei mencari dasi yang ingin ia kenakan. Ia sudah memindai sekeliling dan mencari dimana ia terakhir kali meletakkan dasi sekolah miliknya.


“Findre, Apa kamu melihat dasiku?” tanya Mei yang mendekat kearah kekasihnya, tampak Findre tengah sibuk mengancing baju sekolahnya.


Mei yang melihat hal itu langsung membantu tanpa menyadari bahwa seseorang terteguh melihat tindakkannya.


“Dasimu hilang?” tanya Findre. Ia membiarkan Mei mengancing tuntas seragamnya.


Findre mengambil dasi yang ada dikerah leher baju miliknya, lalu dasi itu dipasang pada kerah Mei yang sibuk mengancing seragam.


“Tak perlu Findre,nanti kau akan dihukum, ini hari Senin.” ucap Mei dengan menghentikan tangan Findre. Findre tidak menghiraukan ucapan Mei, ia masih melanjutkan ikatan dari dikerah baju sang kekasih.


Setelah semua siap, Mei bergegas untuk ke bawah dan sarapan terlebih dahulu.


“Bibi, bisakah Bibi membuatkanku bekal?” ucap Mei dengan hati-hati. Ia bukan tak ingin memerintah, tapi hanya ingin bertanya.


“Tentu saja, ini sudah disiapkan oleh Bi Ta, Bi Ta mengira Nona Muda tidak menyukai bekal.” Ucap Bi Ta yang sudah menghidangkan dua bekal yang tertata rapi.


“Tentu saja Mei suka, maaf ya Bi, Mei bangun agak siang hari ini.” ucap Mei dengan rasa bersalah. Ia seharusnya menyiapkan sarapan dan bekal. Mei tidak ingin Bi Ta yang melakukan semua itu, rasanya tidak enak.


“Baguslah kalau Nona Muda menyukainya, tidak apa...ini sudah menjadi tugas Bi Ta sendiri.” Bi Ta mengambil kantung kecil untuk memasukkan bekal yang telah ia buat.


“Terima kasih Bi Ta” Mei menarik kursi untuk menyantap sarapan pagi yang telah disajikan oleh Bi Ta.


Bi Ta bergegas untuk mengerjakan tugas yang lain meninggalkan Mei yang sudah menyantap sarapannya.


“Bi Ta dimana? ”tanya Findre dengan mengendong tas dipunggungnya.


Mei yang melihat kedatangannya langsung menjawab. “Bi Ta sedang mencuci pakaian.”


“Oh...”


Findre menarik kursi untuk dirinya dan menatap kearah sarapan yang ada. ia terteguh melihat sendok berisi nasi lengkap dengan menunya. Sendok itu disodorkan oleh Mei dengan senyum dibibir yang tampak dimata Findre.


“Ayok makan!” ucap Mei.


Findre langsung menerima suapan itu dengan menatap Mei tanpa mengalihkan pandangannya. mereka lagi-lagi makan dalam satu piring dan berbagi bersama.


Hal itu tidak luput dari pandangan Bi Ta, ia senang melihat kebersamaan Tuan muda dan Mei, apa lagi kebahagiaan yang terpancar dimata Tuan muda.


“Tuan Muda pasti sangat mencintai Nona Mei.” benak Bi Ta yang kembali mengerjakan kegiatannya.


...°°°...


Setelah sarapan romantis tanpa disadari oleh keduanya. Mei dan sang Kekasih berangkat kesekolah bersama. Mereka berjalan kaki dengan Findre yang melangkah terlebih dahulu, sedang Mei berada di belakang sang kekasih.


Findre mengatakan, sekolah tidak jauh dari kediaman mewah ini, jadi Mei bisa santai dengan buku yang ada ditangan. Buku itu didapat olehnya dari sang kekasih, pelajaran yang tertulis merupakan pelajaran kelas 11 yang sama dengan jurusan Mei sendiri. entah bagaimana kekasihnya itu bisa mendapatkan buku seperti ini, yang terpenting Mei tidak ketinggalan pelajaran di sekolah.


Tiba digerbang sekolah, Mei menutup bukunya dengan perlahan. Ia menatap kosong kearah depan, karena Findre tidak ada didekatnya.


“Dimana Findre? Kenapa ia pergi tidak mengatakan apa-apa kepadaku.” Mei merasa bingung dengan sang kekasih, lain kali ia pasti akan meminta Findre berpamitan padanya.


“Mei!” sapa Lestari yang datang dengan berlari. Di samping Lestari ada Putri yang ikut berlari bersama dengannya.


Mei melambaikan tangan untuk menyambut sapaan kedua sahabatnya.


“Syukurlah, Kau baik-baik saja kan?” Tanya Lestari dengan memeluk Mei.


Mei tersenyum membalas pelukan sahabatnya. “Aku baik-baik saja kok.” Jawab Mei.


Putri mengeluarkan catatan ganda yang dibuat olehnya untuk Mei, karena ia tahu Mei pasti membutuhkannya. “Ini Mei, semua pelajaran selama seminggu telah ku rangkum disini, jadi kau tinggal mempelajarinya.”


Mei mengambil buku catatan pemberian Putri. “Terima kasih Putri, kamu baik banget deh.” Dengan senyum bahagia Mei menatap sahabatnya.


“Oh, Tentu saja. siapa dulu dong, Putri” dengan bangga Putri menunjukkan dirinya. Lestari yang ada di samping Putri memukul kepalanya dengan pelan.


“Jangan sombong.”ucap Lestari.


Mereka bercanda sambil melangkah masuk kesekolah. Dan tak menyadari seseorang memandang tajam kearah mereka.