Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 42 : Sekolah di sini



Hujan tidak membuat Mei kedinginan. Dia malah semakin bingung dengan semua ini. gedung sekolah menjadi tempat untuk para penonton menyaksikan apa yang terjadi di halaman ini.


“Tidak, ku rasa itu tidak mungkin. Tidak ada yang bangkit saat mereka meninggal ... Fandra, kamu pasti salah menduganya.” Ucap Mei mengelak semua penjelasan Fandra.


Lestari dan Putri mendekat kearah Mei yang tampak gusar, keduanya merangkul sahabat mereka.


“Mei, kami tidak berbohong ... tiga hari yang lalu, kami mengunjungi pemakaman khusus keluarga Altha....”


Mobil berhenti di sebuah desa kecil. Keluar keluarga yang di kenal oleh warga desa disana.


“Tuan Altha tiba!” ucap salah satu warga yang melihat kedatangan mereka.


“Suamiku, kamu terlalu mencolok.” Ucap Kayri dengan pandangan cueknya. Mereka sebenarnya tidak terlalu menyukai hal seperti ini. di anggap seperti orang penting, padahal mereka hanya keluarga sederhana.


“Ya mau bagaimana lagi ... mereka mengenal kita karena kebaikkan yang selama ini kita berikan. Jadi, tidak perlu berpikir yang bukan-bukan Kayri.” Tuan Altha tersenyum yang membuat kedua istrinya memerah seketika.


“Ayah, kedatangan kita ke sini bukan untuk piknik, atau melakukan kencan. Jadi fokuslah!” Fandra melangkah memasuki halaman desa. Dia tidak ingin menyia-yiakan waktunya.


Fandri juga tidak tinggal diam, dia mengikuti langkah sang kakak yang sudah pergi menjauh. “Jangan menyia-yiakan waktu Ayah!” celetuknya.


Tuan Altha terdiam mendengar keseriusan kedua putranya. Dia menjadi kagum melihat kedewasaan mereka. “Kayri, Basyra ... putra kita sudah dewasa.” Ucapnya dengan nada haru.


Basyra dan Kayri hanya menatap bingung melihat tingkah suami mereka. keduanya hanya bisa mengeleng dengan apa yang terjadi.


Tiba di rumah kepala desa, semua keluarga di jamu dengan hidangan yang begitu lezat.


“Ada apa Tuan Altha berkungjung. Jika ada sesuatu, anda bisa menghubungi saya.” Ucap Kepala Desa dengan keramahannya.


Tuan Altha meneguk teh sambil mengangguk kepala. “Yeah, sebenarnya seperti ini ... putra kedua ku melihat Kakak mereka berada di sekolah. Jadi, bisakah kita memeriksa pemakamannya....”


Kepala desa terkejut mendengar ucapan Tuan Altha. “Tu-tuan Altha, ku rasa tidak mungkin Tuan Muda pertama... ah, maksud saya, sudah dua tahun saya menjaga di sini. Tidak ada tanda-tanda pemakaman Tuan Muda Pertama hancur.”


Tuan Altha mengangguk mendengar penjelasan Kepala Desa. “Aku tahu, tetapi ... lebih baik memeriksanya secara langsung.”


Kepala Desa setuju mendengar apa yang di ucapkan Tuan Altha. Mereka pun pergi menuju pemakaman khusus keluarga Altha.


Setiba di pemakaman. Fandra dan Fandri bergegas mendekati makam Kakak Pertama mereka.


Makam Findre dekat dengan Ibunya. Istri pertama Tuan Altha Ryuah, Sorai Altha.


“Bagaimana pendapatmu Fandra, Fandri?” tanya Tuan Altha. Mereka melihat dengan jelas bahwa pemakaman tersebut terawat dengan baik. Tidak ada jejak pemakaman di bongkar atau kerusakkan di sana.


Fandra menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. “Ba-bagaimana bisa ... Ayah! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Findre, dia-dia....”


Kayri mendekap sang Putra dengan wajah sedihnya. Semua tahu, Findre merupakan anak baik yang selalu tersenyum. Tidak hanya itu, sebagai seorang anak pertama dan tertua. Dia banyak mengalah demi adik-adiknya.


“Bagaimana kalau kamu bertanya langsung kepada orang yang bersama Findre. Jika memang dialah orangnya, maka kita akan mengetahui apa sebab dia ada disini. Fandra, Findre sudah meninggal dua tahun yang lalu...,”


Tuan Altha menepuk pundak Fandra. “Dengar, dua tahun yang lalu, saat kita ingin memakamkan kakakmu. Mayatnya sempat menghilang, sekarang tidak ada lagi hal seperti itu. jadi, pastikan kepada orang yang kamu lihat, jika benar dia ... kita akan menangkapnya.”


Fandra mengangguk, dia memikirkan bagaimana caranya mengajak Mei berbicara. dia tidak ingin nanti, Putri berpikir yang tidak-tidak kepadanya.


“Tenang saja Kakak, Aku akan membantumu.” Fandri tahu kekhawatiran sang Kakak. Dia tidak tahu kenapa Kakaknya mengejar Mei, tetapi jika masalah kakak pertama. Dia tidak akan tinggal diam.


Mei tidak bisa berpikir jernih, dia menatap kearah dua pria yang menunggu perkataannya. “Pertama, Aku tidak mengerti dengan semua ini. lalu, kenapa kalian menungguku? Findre, dia bersekolah disini.” Ucap Mei.


Mei merasa aneh saja, kenapa mereka tidak bertemu dengan Findre. Mereka satu sekolah, mustahil jika mereka tidak saling bertemu.


“Mei, apa kamu tahu usianya berapa?” tanya Fandri. Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur, tetapi melihat Mei dekat dengan kakak pertama mereka. dia tidak ingin tinggal diam menyaksikan semua ini.


Mei mengeleng. “Tidak, aku tidak mengetahuinya. Ta-tapi ku rasa ... dia berusia 18 tahun sekarang atau mungkin 17?”


Fandri mengelengkan kepalanya. “Dengar Mei, Findre meninggal dua tahun yang lalu. Saat itu usia 18 tahun, dia telah lulus SMK. Calon mahasiswa di universitas terfavorite. Sayang, diusia itu ... dia meninggal dunia, kamu pasti paham bukan? Usia dia sekarang seharusnya 20 tahun. Mei, kenapa dia bersekolah di usia itu?”


Mei merasa seluruh pandangannya kosong, pikirannya tidak berjalan. Semua tentang Findre muncul dalam benaknya. Panggilan, suara, tingkah dan kehangatan yang ada mengema di dalam hatinya.


Rasa tidak percaya muncul didalam benaknya, tetapi ucapan Fandri membuatnya selalu sadar, hujan yang deras itu kini menjadi rintikan.


“Mei, kami sarankan untukmu....”


“MEI!”


Ucapan Fandra terhentikan, semua menoleh ke sumber suara. Tampak Mia yang datang dengan benda tajam di tangannya.


Mei tidak mendengarkan panggilan Mia, dia masih termenung memikirkan segalanya.


“Mei, apa yang kamu lakukan? Mei, larilah!” teriak Lestari, dia di tahan oleh pengawal karena Mia bergegas mendekat.


Fandra dan Fandri ingin menghalangi Mia, tetapi sayang pengawal mereka sudah menjaga di depan. “Tuan muda, anda tidak boleh melangkah lebih jauh.” ucap pengawal.


Fandra geram melihat apa yang pengawalnya lakukan. “Minggirlah, Dia akan terluka!” perintah Fandra. Pengawal tetap tidak menghiraukannya.


Putri ikut di lindungi oleh pengawal Fandra. Bagaimana pun, Fandra tidak ingin tunangannya terluka.


Sekolah heboh melihat apa yang terjadi, Mia datang dengan pakaian kumuh.


“Apa yang terjadi, kenapa Mia berpenampilan seperti itu.”


“Aku pun tidak tahu, pasti telah terjadi sesuatu kepada mereka bukan?”


“Ih, kenapa aku berteman dengan orang sepertinya sih....”


Itulah tanggapan para murid yang melihat halaman sekolah. Rintikan hujan mulai terhentikan, hanya cahaya matahari tidak menerangi halaman. Tampak awan melarang Mei bahagia pada sisa waktunya.


Mei menatap kearah Mia yang melayangkan tangan dengan benda tajam. Entah, keberanian mana yang di dapat olehnya, dia menahan benda tajam itu hingga cairan merah mengalir diantara jarinya.


“Ada apa Mia?” tanya Mei dengan pandangan lesu, tidak ada kehidupan dimatanya.


Mia semakin kesal melihat mata Mei, dia mendorong tangannya untuk bisa melukai sang Kakak angkat.


“Mia, aku akan sangat senang jika kamu membunuhku dari awal. Sayangnya, aku sudah berjanji kepada seseorang. Hanya dia yang ku izinkan untuk membunuhku.” Ucap Mei, lirikkan matanya membuat Mia semakin kesal.


Benda tajam terhempas di tangan mereka. Mia mencengkram seragam Mei. “Kamu! Kamu! Kamu! Kembalikan keluargaku ... Kembalikan keluargaku.” Teriak Mia.