Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 8: Kita pulang



Mei berbalik dengan cepat ketika Pria asing mendekati dirinya. Mata Mei membelak mendapati baju bagian belakang digenggam dengan erat, Seketika itu juga kain baju yang menutupi tubuhnya langsung robek dalam sekali tarikkan.


“Kau!...apa yang kau lakukan?”Mei membalikkan tubuh dengan menyilang tangannya. Meski baju yang ia kenakan masih dibadan, tetap saja baju itu telah robek dibagian belakang. Untungnya didepan engak ikut-ikutan robek.


“Kamu...Luka-luka?”Pria Asing itu menatap tajam lagi. membuat Mei langsung tertunduk tak berani memandangnya. Ia pelan-pelan mengeser diri untuk bisa kabur.


Tapi sayang rencananya langsung dibatalkan oleh Pria Asing yang kini memasangkannya sebuah Hoodie.


“Pakai ini,mulai saat ini Kau akan tinggal denganku...tak ada penolakkan!”ucap Pria Asing itu. Ia pun mengangkat tubuh Mei dengan santai.


“Ugh...Tak perlu mengendong diriku.”Mei mengaduh saat dirinya telah digendong nyaman oleh Pria Asing kekasihnya ini.


Pria Asing yang kini mengendongnya mengubah gendongan ala Koala yang membuat Mei terdiam. Untung ia mengunakan Hoodie, Jadi bagian belakang yang telah robek itu tak dilihat orang-orang.


“Kita pulang.”ucap Pria Asing itu dengan nada yang lembut. Mei pun membiarkannya digendong seperti anak kecil. Lagian, ia telah mempercayai sepenuhnya Pria yang menjadi kekasihnya ini, yang pasti untuk membunuhnya.


Setelah melangkah begitu lama, Mei meletakkan kepalanya dibahu sang Pria. Ia tak berbicara hanya berguman dengan nada aneh untuk menghilangkan rasa bosanannya terhadap kesunyian diantara mereka.


Lagi pula, ia tidak mendapat teguran oleh kekasihnya ini. Jadi, apa salahnya ia berguman nada yang ia sendiri tak tahu apa yang di gumangkan.


Diperjalanan, mereka tidak memperdulikan omongan orang-orang yang lewat. Bahkan mereka akan menganggap angin lalu jika mendengar perkataan orang lain.


“Lihat itu...Cowoknya kayak jaga anak-anak.”


“Pacaran jaman sekarang gini,mereka itu engak tahu ya perjuangan orang tua waktu mendidik mereka...tahunya Cuma menghabiskan uang saja.”


“Kebiasaan nih...ini pasti didikkan orang tua yang salah,seharusnya mereka langsung saja menikahkan anaknya dari pada menjadi bahan rumpi orang-orang.”


“Tapi kalian tahu itu anak siapa?...melihatnya saja aku belum pernah.”


“Mereka pasti kabur dari rumah atau mungkin, mereka diusir?”


Itulah yang mereka dengar. Mei hanya bisa menghela nafas dalam diam. Ia tak masalah mendengar apa yang orang lain katakan, tetapi Kekasihnya ini bagaimana?


“Maafkan aku...ini semua salahku. seharusnya aku berjalan saja,tidak perlu membuatmu mengendongku seperti ini,kau pasti merasa tak enak mendengar omongan orang-...”belum selesai Mei berbicara, Pria Asing Kekasihnya ini langsung memotong ucapannya.


“Tak perlu didengar kalau tidak enak ditelinga. Sudahlah, tak ada yang salah...kau kan kekasihku. Lagi pula kau benar diusir kan?”


Ucapan Kekasihnya terdengar sangat dekat ditelinga. Mei hanya bisa menundukkan kepala dan membenamnya. Ia malu dan merasa aneh dengan dirinya sendiri.


Setelah lama dalam perjalanan yang Mei sendiri tak tahu kemana. Ia akhirnya tiba ditempat yang akan menjadi tempat tinggalnya.


Meski tak yakin apakah ia bisa tinggal disini. Karena Rumah ini terlihat sangat luas. Mei hanya melihat bagian halaman rumah, sebelum melihat rumah megah yang membelakkan matanya.


“Ini Rumahmu?”tanya Mei dengan ragu-ragu. Ia tak yakin kekasihnya orang Kaya.


“Bukan...ini bukan Rumahku. Tapi ini Rumahmu.”jawab sang kekasih yang membuat Mei memandangnya.


“Apa maksudmu...aku? aku tidak punya rumah seperti ini.” Mei menatap wajah kekasihnya dengan pandangan bingung.


“Kamu kan sudah tahu kalau ini rumahku, kenapa malah bertanya. Yang salah siapa?”Pria Asing itu melangkah menaiki beberapa anak tangga. Ia mengambil kunci dikantungnya dan membuka pintu yang kini mereka masuki.


“Tapi aku tak mengira...pembunuh sepertimu punya rumah sebesar ini?”tanya Mei. Ia mengingat bahwa saat itu, ia dibawa ketempat lain yang ada dihalaman sekolah. Dugaannya rumah yang ia ingat merupakan tempat tinggal Pria yang masih mengendongnya.


“Huh~Ini Rumah Ibuku...dan Tempat yang kamu datangi dulu adalah Rumah keduaku.”Jawabnya.


Mei digendong hingga masuk kesalah satu kamar yang ada dilantai bawah. Ia didudukkan pada kasur empuk yang membuat dirinya mengusap lembut dengan menatap kearah lain.


Usapan lembut memberikan kenyamanan untuknya, Mei perlahan berbaring dikasur. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, dan memilih untuk tidur diatas kasur yang begitu empuk.


Mei berharap semua ini tidak akan berakhir. jika ini mimpi maka jangan bangunkan ia dan jika ini masa depannya, biarkan ia menikmati hidupnya. Tetapi, jika ini hanya halusinasi, maka sadarkan ia. Agar ia tidak merasakan kenyataan yang pahit dalam kehidupan.


Dalam lelapnya tidur, Mei merasa seseorang mengangkat tubuhnya dengan hati-hati. Lalu, merasa pakaian yang dikenakan terlepas hingga tak tersisa. Dan setelahnya, terasa olesan air pada belakang tubuh, kaki, dan tangan. lalu, sesuatu yang lembut terbalut disekujur tubuhnya.


Mei masih tetap tenang terlelap, membiarkan apa yang didapat olehnya. Ia tahu bahwa semua ini hanya mimpi yang bisa dirasakan. Bahkan ia merasakan bagian kepalanya diletakkan diantara lengan seseorang. Dan tak berselang lama, semua hening dengan tidur yang menjadi tenang.


-


Pagi hari menyambut...


Mei mengerjapkan matanya dengan perlahan. Rasa kantuknya begitu hebat hingga ia ingin kembali memejamkan mata. Tetapi, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Matanya melirik kesegala arah, ia memindai semua yang ada setelah pandangannya pulih.


Asik memperhatikan semua yang ada, Mei ingin mengerakkan tubuh. Mata Mei membelak ketika melihat sebuah tangan melingkar dipingang rampingnya. Lalu, ia mendapati bantal yang tengah digunakannya, bukan bantal empuk, melainkan tangan seseorang. Karena rasa penasaran, Mei menyentuh tangan yang tampak tenang. “Eh, ini beneran tangan?” benak Mei.


Mei mengusap lembut telapak tangan yang ada didepan mata. Ia merasa tidak ada kepalsuan dari tangan itu, hingga tangannya tergenggam dengan tiba-tiba.


Mei seketika sadar bahwa dirinya saat ini tinggal dengan sang kekasih, bukan tinggal dirumah yang dulu.


Astaga, apa yang telah mereka melakukan, semoga bukan sesuatu yang aneh. Mei merasa khawatir akan dirinya sendiri. ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dan mendapati tubuhnya sudah dibalut dengan baju kaos yang pasti bukan miliknya.


“Ku harap tidak terjadi apa-apa. jika benar, kami tidak melakukan sesuatu. Aku akan merasa lega.” Benak Mei.


Meski begitu,ada rasa ingin marah dengan apa yang dilakukan sang kekasih tanpa sepengetahuan Mei sendiri. Ia perlahan membalikkan tubuhnya untuk menatap orang yang tengah berbaring dibelakang.


“Diam!lima menit baru bangun.”suara khas orang bangun tidur. Mei yang berniat membalikkan tubuhnya seketik diam. Ia merasa seseorang bergerak dibelakang, dan sesuatu menyentuh tengkuknya.


Mei merasa geli mendapati kepala Kekasihnya berada dipungungnya. “Berhenti! Bangun, ini sudah pagi.” ucap Mei dengan memajukan tubuhnya untuk menolak gerakkan dari Sang Kekasih yang mengusap-usap rambut tepat ditengkuk. Bukannya berhenti, sang kekasih malah menurunkan kepalanya hingga dipertengahan pungung Mei.


“Apa ini hukuman karena kau membuat masalah?”tanya Pria Asing itu. Mereka tak saling menatap, tetapi suara pertanyaannya sedang meminta jawaban yang jujur.


Mendengar pertanyaan yang begitu tulus membuat Mei diam dengan menganggukkan kepalanya. Ia merasa, bahwa dirinya tidak bisa menolak apa yang diucapkan oleh Kekasihnya ini.


“Apa ini Cambuk?...sakit?”tanya Pria Asing itu, ia mengeratkan pelukannya yang membuat Mei tertawa dengan tingkah kekanakan darinya.


“Tentu saja sakit. Rasa cambukkannya membuatku trauma.” Mei menjawab dengan tenang. Tak ada lagi pembicaraan mereka, keduanya sama-sama diam dalam pikiran masing-masing.


Hingga Lima menit berlalu. Kekasih Mei melepaskan pelukkannya agar Mei bisa leluasa bergerak. Tetapi, Mei bukannya bergerak bebas, ia malah membalik tubuhnya untuk menatap wajah sang kekasih.


Mei memandang Pria yang juga memandangnya, Mata mereka saling bertemu.


“Tak perlu merasa kasihan kepadaku...ini sudah menjadi jalan hidup yang harus ku lalui. Jadi,ku harap kau bisa segera membunuhku.”ucap Mei yang langsung dipeluk orang Kekasihnya.


“Apa yang kau lakukan? Tidak baik Pria dan Wanita berpelukan seperti ini.”Mei berusaha untuk melepaskan Pria yang kini bertingkah seperti anak kecil.


Namun, sang kekasih kukuh memeluknya. Mei juga tak bisa apa-apa karena luka ditubuhnya masih terasa sakit.


“Hari ini...tak perlu sekolah. Tinggallah dirumah ini dan lakukan apa yang kau mau. Tetapi, jangan sesekali keluar tanpa seijin dariku. Jika kau melanggarnya, maka aku akan memutuskan hubungan denganmu dan membatalkan perjanjian kita.”


Mei mengangguk mendengar larangan sang kekasih. Ia memberanikan diri mengelus kepala Pria yang betah memeluknya. Tak lama kemudian, keduanya kembali tertidur dengan kehangatan masing-masing.