Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 35: Berkerja sama



Mei menatap kearah ruang tengah. Semua tampak sepi dimatanya, Findre lagi-lagi pergi tanpa pamit.


Sudah biasa dengan semua, Mei memilih untuk sarapan pagi dan bersiap berangkat ke sekolah. Sarapan sudah dihidangkan oleh sang kekasih, sedangkan ke sekolah karena bujukkan dari orang yang dia cintai.


Mei engan untuk pergi, tetapi memikirkan ucapan dan perhatian yang Findre berikan,Hati yang lemah itu mudah luluh. Dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti apa yang di inginkan kekasihnya.


"Aku harus berangkat sekarang." Ucap Mei memandang jam dinding. Pukul 6 lewat 15 menit, Dia harus bergegas agar tidak telat ke sekolah.


Setelah sarapan, Mei membersihkan piring kotornya. Lalu bersiap dengan melangkah ke ruang tamu untuk mengambil Tas dan sepatus sekolah.


Setiba di ruang tamu, Mei berhenti melangkah ketika melihat sang kekasih tengah menunggu kedatangannya.


"Sudah sarapan?" Tanya Findre tanpa menoleh.


Mei mengangguk dan mendekatkan diri kearah sang kekasih. "Sudah, terimakasih sarapannya." Jawab Mei.


Duduk pada sofa, Mei memperhatikan Findre mengenakan sepatu sekolah dikakinya. Dengan berhati-hati Sang kekasih membalutkan kaus kaki dan memasangkan sepatu pantofel.


Keheningan diantara mereka membuat suasana menjadi tidak tenang. Mei tidak ingin berbicara banyak hal, dia takut kekasihnya marah hingga pergi lagi tanpa pamit.


Setelah memasangkan sepatu, Mei menyambut uluran tangan Findre. Mereka berangkat berdua sambil menikmati indahnya pagi tanpa ada pembicaraan.


Daun-daun dari pohon berjatuhan karena hembusan angin. Kesejukkannya membuat Mei merinding seketika, tiba-tiba sebuah syal melingkar manis di leher tanpa hambatan.


"Cuaca akan dingin dipagi hari, gunakan itu. Jika sudah mendingan, lepaskanlah." Ucap Findre yang kembali melangkah.


Mei terdiam melihat tingkah pria yang ada didepannya. Tidak habis pikir oleh dia, selama ini Findre tampak teguh dengan semua janji yang terucap di bibir.


Bagaimana bisa Findre begitu berjanji hingga memperlakukannya seperti ini, rasa penasaran menghantui Mei seketika. Memikirkan semua yang dialami olehnya, kasih sayang, perhatian dan perlindungan. Semua itu tidak mungkin bisa dilakukkan oleh Pria yang dicintainya.


Namun, bukti didepan mata. Findre mampu melakukan semua tanpa hambatan. "Aku semakin mencintainya." Benak Mei.


Ditengelamkan wajahnya hingga tersisa mata yang berkedip-kedip. Langkah kaki Mei terhenti saat tiba di gerbang sekolah. sang kekasih pergi meninggalkan dirinya tanpa ada kata pamit dan kebiasaan yang sering dilakukan.


"Perasaanku tidak enak." Guman Mei sambil melangkah masuk.


...°°°...


"Tidak lama lagi kita akan menghadapi ujian, lalu praktik kerja lapangan. Agh~ melelahkannya, aku pasti engak bisa kumpul bareng kalian." Keluh Lestari.


Putri yang mendengarnya segera memberikan jentikkan di jidat Lestari. "Kamu itu, kebiasaan ya ... kalau kangen kan tinggal saling bertemu." Ucapnya dengan nada tegas.


Lestari memayunkan bibir, engan untuk menerima apa yang di ucapkan oleh Putri. Mei menatap kedua sahabatnya, mereka sekarang tengsh berkumpul di gazebo.


Gazebo kali ini sepi karena masih di waktu belajar. Kelas Mei mendapat jam kosong sehingga mereka bisa bersantai di luar.


"Kalian sudah melakukan persiapan?" Tanya Mei, sebenarnya percuma menanyakan hal itu. Dia tidak akan ada didekat sahabatnya lagi, ketika Findre telah memenuhi janji.


"Persiapan?" Lestari tampak berpikir sesaat. "Untuk sekarang aku tidak melakukan apapun. Tetapi, Ibuku pasti telah mengatur kemana aku akan PKL nanti."


Putri mengangguk mendengar ucapan Lestari. "Aku pun, ku rasa juga ibuku sudah menyiapkan segalanya. Semenjak bertunangan dengan si Pria manja itu, aku selalu mendapatkan perhatian penuh hingga pengawalku ditambah." Keluh Putri bersamaan dengan helaan nafasnya.


Mei tersenyum mendengar jawaban kedua orang yang dia sayangi. "Semoga berjalan lancar ya untuk kalian."


Lestari dan Putri mengangguk bersamaan. Mereka kembali berbincang dengan santai. Tetapi, perasaaan tidak enak dihati Mei masih ada. Kegelisahaannya bertambah saat bell berbunyi.


"Sebaiknya kita kembali ke kelas." Usul Putri. Mei dan Lestari bergegas bangun dan melangkah kembali ke kelas bersama-sama.


...°°°...


"Mei, kami izin pamit ya." Lestari dan Putri melambaikan tangan bersamaan. Mei membalas lambaian tangan sahabatnya.


"Hati-hati." Ucap Mei.


Langkah kaki perlahan tertuju keluar kelas. Mei mengendong tasnya dengan serius, lalu melangkah tanpa ragu.


"Findre, apa dia menungguku?" Benak Mei menatap teduh kearah pintu keluar. Halaman utama akan memberikannya jawaban, apakah sang kekasih menunggu atau tidak.


Ketika telah tiba di halaman, Mei tidak menemukan keberadaan sang kekasih. Dia malah mendapati pengawal Lestari menghalangi langkahnya.


Tidak ada jawaban yang diberikan. Mei malah terkejut melihat Roy dan Mia berada di dekat Pengawal sahabatnya.


"Apa yang ter-"


"Jadi kamu masih berteman dengan anakku, Mei?"


Mei menolehkan pandangannya, melihat seorang wanita dengan pakaian mewah. Wanita itu adalah Ibu Lestari.


Pandangan Mei berubah seketika, dia menundukkan kepalanya setiap bertemu Ibu Lestari. Pertemuan pertama mereka tidak berjalan baik, sekolah membela dirinya. Jadi Ibu Lestari tidak bisa mengeluarkan Mei dari sekolah. Sekarang, dia tidak tahu apa yang akan terjadi.


"Ta-tante...." Mei ingin kembali berucap, tetapi Ibu Lestari dengan cepat mengangkat tangan untuk menghentikannya.


"Roy, aku sudah membawa Mei kepadamu. Bawa dia dan pastikan Putriku tidak akan berteman lagi dengan anak ini." Ucap Ibu Lestari.


Roy mengangguk dan bergegas mendekati Mei. Mei tentu menjauhkan diri jika dia tidak ingin di bawa, tetapi pengawal Lestari menahannya.


Mei mau tidak mau harus ikut dengan apa yang direncanakan oleh keluarga angkatnya. "Aku akan kabur setelah perginya keluarga Lestari. Entah apa yang terjadi dengan mereka." Benak Mei.


"Maaf tante, ku rasa ini belum selesai. Aku tidak tahu apa yang kakakku ini pikirkan, jadi kalau boleh ... izinkan kami untuk diantar tidak jauh dari tempat tinggal kami sendiri." Ucap Mia.


Pikiran Mei yang akan kabur seketika lenyap mendengarnya. Dia tidak menduga Adik angkatnya begitu tahu apa yang telah dia pikirkan.


"Kenapa mereka mengangguku." Benak Mei. Kegelisahaannya terjawab, inilah yang terjadi jika dia melawan keinginannya sendiri.


Mei menatap ke segala arah, berharap Findre ada disana dan akan melindunginya. Tetapi, harapan tetap hanya sebuah harapan. Dia tidak menemukan keberadaan sang kekasih.


"Begitu ya, baiklah .... pengawal, antar mereka ketempat yang telat mereka putuskan." Ucap Ibu Lestari yang melangkah pergi.


Mia dan Roy saling tersenyum dengan apa yang telah terjadi. Sebelumnya...


"Ibu, Ayah .... Roy ingin meminta izin untuk keluar sebentar." Ucap Roy. Ibu dan Ayahnya dengan cepat mengangguk mengijinkan kepergiannya.


Roy memutuskan untuk pergi kerumah Lestari. Keluarga yang sangat berada. Bagi semua orang, menginjakkan kaki di lantai berubin itu merupakan sebuah keberuntungan.


Namun, Roy bukan sekedar berdiri. Dia duduk diruang tamu bersama Ibu Lestari. "Malam tante, maaf menganggu." Ucap Findre.


Ibu Lestari tampak engan untuk berbicara, tapi karena Roy menjelaskan kedatangannya menyangkut Lestari, dia pun memutuskan untuk berbicara.


"Katakan saja, apa yang kamu inginkan." Ucap Ibu Lestari.


Roy merasakan ketidakenakkan dihati."keluarga ini suka memandang rendah seseorang." Benaknya.


"Begini tante, belakangan ini aku sering melihat Lestari menghabiskan waktunya bermain bersama Kakakku. Bukan kenapa, anda sudah menegur Mei tapi dia malah semakin dekat dengan putri anda. Jadi, Roy kesini ingin meminta anda untuk bertindak." Ucap Roy.


Kerutan di antara alis muncul seketika, Ibu Lestari menatap pengawal yang ditugaskan menjaga putrinya. "Apa kalian tahu akan hal ini?"


Pengawal yang ada langsung mengangguk seketika. Ibu Lestari menghela nafas dengan kasar, "sudah ku duga. Karena dia, Putriku sedikit nakal belakangan ini. Baiklah, aku akan membantumu."


Roy berpikir akan sulit untuk meyakinkan Ibu Lestari, tetapi siapa yang menduga kalau dia bisa meminta bantuan disini. Selama Mei bisa di tangkap, dia tidak masalah harus mengemis pada orang kaya seperti keluarga Lestari.


"Terima kasih tante, Roy hanya ingin meminta bantuan untuk menghalangi Mei. Dia akan kabur jika tidak dijaga." Ucap Roy dengan menundukkan kepalanya.


Ibu Lestari mengangguk paham, dia bergegas bangun dan melangkah pergi meninggalkan Roy.


Roy di tuntun untuk keluar dengan aman dan pergi menjauh dari kediaman keluarga lestari. Rasa bangga dibenaknya bagai aroma parfum yang ditebarkan. Dia berjalan pulang dengan perasaan bahagia.


"Besok, kami akan menangkapmu, kak mei." Ucap Roy.


Kini didepan mata, Mei ada didalam genggaman mereka. Kakak angkat yang terlelap dalam tidurnya, Roy dan Mia menidurkan sang Kakak dengan obat yang didapat oleh mereka.


Keduanya bergegas membawa Mei ke gudang, tepat penyekapan pertama Mei.


"Aku tidak tahu, kalau kakak memilih untuk berkerja sama dengan keluarga Lestari?" Ucap Mia yang menutup pintu gudang.


Roy bergegas mengunci gudang agar Mei tidak kabur dari mereka. "Mei berteman dengan anak keluarga kaya, dia juga sudah mendapatkan teguran. Tetapi, seperti anak nakal. Mei tidak mendengarkan teguran itu, dan sekarang lihat ... kita mendapatkannya, bersamaan dengan hancurnya persahabatan mereka." Jelas Roy, Mia tersenyum mendengarnya.