Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 19: Ngambek



Waktu terus berjalan hingga senja datang. Mei terlelap ketika menunggu sang kekasih digerbang sekolah, terasa oleh Mei seseorang mengendongnya dengan santai dan suara nafas yang berhembut terdengar ditelinganya.


“Findre?” benak Mei, perlahan ia membuka mata dan melihat rahang sang kekasih yang begitu tegas.


“Findre?” Mei mengulang ucapan dibenaknya, ia memastikan siapa yang mengendongnya, karena rasa ngantuk membuat ia bingung merasakan kenyataan dan alam mimpi.


“Hm.”


Deheman Findre menenangkan Mei, kepalanya bersandar didada bidang sang kekasih, ia kembali memejamkan matanya.


...°°°...


“Mei! Mei!”


Panggilan yang lembut terdengar ditelinga, Mei membuka mata perlahan. “Ehm?”


“Bangunlah, mandi dan makan malam.” Ucap Findre dengan bangun dari duduknya.


Mei menahan kepergian sang kekasih. “Tunggu Findre, ada yang ingin ku katakan kepadamu.”


Di dalam kamar yang menjadi tempat tidur mereka, suasana tampak memberi dukungan untuk Mei berbicara.


“Findre, maafkan aku. Aku membuatmu marah hari ini, ini salah ku-,”


Mei membelakkan mata, merasa benda kenyal menyentuh keningnya. Tidak hanya itu, Mei merasa tangan Findre mendekatkan tubuhnya hingga Mei dalam dekapan sang kekasih.


“Siapa yang mengatakan aku marah Mei?” Tanya Findre dengan meletakkan dagu dikepala Mei.


Mei mencium aroma parfum yang sudah menjadi kesukaannya,Ia menjawab dengan pelan. “Aku menebak kalau kamu marah kepadaku...”


Findre diam tidak mengatakan apa-apa padanya, Mei merasa sang kekasih kembali mengecup kepalanya dengan lembut.


“Dengar Mei, aku tidak marah kepadamu..aku-,”


“Kamu ngambek?” Mei memotong ucapan sang kekasih. Ia mengarahkan pandangannya menatap Findre yang tercenga.


“Ah! Maaf...aku menduga kalau kamu ngambek kepadaku, soalnya aneh saja kamu pergi bahkan dengan raut wajah dinginmu, itu....”


Hahaha


Findre tertawa mendengar penjelasan Mei, bahkan sang kekasih terbaring dengan tangan memegang perutnya.


“Hahaha, Mei dari mana kamu belajar kata itu? Aku Ngambek?”


Dengan wajah melongo, Mei menatap sang kekasih yang akhirnya puas tertawa.


“Astaga, aku hampir gila mendengar apa yang kamu ucapkan...huh~” Findre menghela nafas setelah semua berlalu.


Usapan lembut didapat oleh Mei, Findre bergegas bangun dan merapikan pakaian tidurnya.


“Dengar Mei, jangan berpikir yang tidak-tidak tentang ku...aku pergi bukan karena marah atau apa itu namanya, ngambek... ya itu lah intinya.” Findre melangkah kearah kamar mandi mengambil handuk dan memberikannya kepada Mei.


“Mandilah, jangan berpikir yang tidak-tidak, dan satu lagi...jangan berharap hal yang tidak seharusnya kamu harapkan.”


Mei diam di tempat, ia sadar dengan apa yang telah didengar olehnya. Benar apa yang dikatakan oleh Findre. Ia sekarang mulai berharap akan sesuatu yang mustahil didapat.


“Mei..Mei, ada apa denganmu?” Mei melangkah menuju kekamar mandi. Ia perlu penyegar untuk bisa menghilangkan harapan yang tertanam dihatinya.


...°°°...


Meja makan berisi dengan hidangan lezat dari masakkan Findre. Wanginya membuat Mei lapar, ia duduk dengan cepat dan menghindangkan makan malamnya sendiri.


Lupa asal dirinya, Mei makan malam tanpa menunggu sang kekasih yang entah di mana.


“Astaga, Findre?”


“Kamu memanggilku?” Findre mengarahkan suapan Mei tepat dimulutnya.


Ketekejutan Mei terhenti melihat sang kekasih yang kini duduk di sampingnya dengan kepala tertumpu ditangan.


“Makanlah.” Ucap Findre dengan nada tenang.


Mei bingung menatap sang kekasih yang tersenyum kearahnya. “Kenapa, lanjutkan saja?”


Mei jadi salah tingkah dengan Findre yang memandangnya. “Findre...,”


“Hm?”


“Bisa kamu tidak memandang diriku?” Mei meminta dengan wajah malu.


“Oh, kamu suapin aku dulu...setelah itu aku akan beristirahat.” ucap Findre yang membuat Mei bingung.


Ia ingin bertanya, tetapi hatinya melarang. Ada batasan yang membuat Mei sadar akan keinginannya.


“Baiklah,buka mulutmu...” Mei mengarahkan nasi ke mulut Findre.


Dalam dua kali suapan, Findre pergi meninggalkan Mei di meja makan.


Kepergian sang kekasih membuat kesepian dihati Mei. “ada apa denganmu Mei?” benak Mei, ia dengan cepat menyelesaikan makan malam dan memilih untuk tidur agar hatinya kembali tenang.


Perasaan Mei hari ini sangat aneh, ia berharap tapi juga sadar akan harapannya sendiri. Mei juga merasa ingin diperhatikan oleh sang kekasih, harapan inilah yang membuat Mei semakin takut, takut Findre meninggalkan dirinya.


Setelah urusan dapur selesai, Mei melangkah kekamar utama. Dilihatnya pintu kamar yang tertutup rapat dengan keheningan disekitarnya.


“Sebaiknya aku tidak menganggu Findre, aku akan tidur di Kamar tamu saja.” Tangan Mei perlahan turun, langkah kaki perlahan dijalankan menuju ke kamar tamu di lantai bawah.


Setibanya di kamar tamu, Mei memutuskan untuk beristirahat dengan air mata yang tiba-tiba mengalir dipipinya.


Entah kenapa, kesunyian di sekitar membuat Mei merasa sendiri. ia mengingat saat dirinya diangkat oleh Keluarga Mia.


“Anak malang itu, siapa yang akan merawatnya?”


“Dia mengalami kecelakaan yang parah, untungnya Gadis itu selamat.”


“Tapi, siapa yang akan merawatnya, aku tidak bisa...ekonomi kami tidak mampu menampung anak seperti itu.”


Mei berusia 15 tahun. Ia berada disalah satu rumah warga yang dirinya sendiri tidak tahu nama desa tersebut.


Hanya pendengaran tentang rasa kasihan dengan berbagai alasan menolak untuk memelihara dirinya. Mei sadar, dirinya hanya anak biasa yang tidak memiliki apa-apa, selain pakaian yang ada dibadan.


“Biar Aku yang menjaga anak ini!” pinta seseorang dengan suara yang lantang.


Mei mengangkat kepala untuk melihat siapa yang mau menjaga dan merawat dirinya.


“Dia akan menjadi anak angkatku yang paling tua!”


Setelah diangkat menjadi anak keluarga Mia, Mei merasa kebahagiaan dengan seluruh keluarga yang ada. dirinya dirawat hingga ia sembuh total dari luka yang dialami.


Namun, siapa yang menduga. Kesembuhan Mei menjadi awal mula keinginan bunuh dirinya muncul. Ia bagai tahanan yang harus mengikuti keinginan tuannya. Mei merasa hancur berkeping-keping ketika menyadari itu semua.


Mengingat masa lalu yang kelam membuat hati terluka kembali. Mei mengusap air matanya karena tidak ingin terlarut dalam kesedihan.


“Mei tenanglah, ada Findre yang akan memenuhi keinginanmu.” Benak Mei yang kini terlelap dalam tidurnya.