
Mei ketakutan melihat Fandra yang menatap kearahnya. Pertanyaan dari tunangan sahabatnya sangat aneh bagi Mei.
“Siapa yang Fandra tanyakan?” benak Mei dengan pikiran entah kemana, pertanyaan Fandra berhasil mengingatkan Mei kepada kekasihnya.
“Apa maksudmu?” tanya Putri dengan melepaskan tangan Fandra menjauh dari Mei.
Fandra terteguh melihat Putri menatap tajam ke arahnya. "P-putri, tenang dulu ... ini bukan seperti apa yang kamu bayangkan."
Putri mengibaskan tangannya di depan wajah Fandra. "CUKUP! tidak perlu dijelaskan apa yang terjadi. Aku tahu kamu pasti sedang ingin menyakiti Mei bukan?" Ucap Putri.
Fandra terkejut dengan apa yang didengar olehnya. Fandri yang ada di samping Lestari mendekat kearah Fandra.
"Tenanglah Putri, pasti ada sesuatu yang membuat Fandra seperti ini." Fandri menengahi Putri dan Fandra yang saling bertatapan.
Mei yang melihat perselisihan sahabatnya ikut menenangkan Putri. "Putri ayo tenanglah dulu, jangan marah."
Putri yang sudah tersalut tidak bisa menahan amarahnya. Wajah yang sudah memerah itu menatap tajam kearah Fandra.
"Dengar Fandra, jika kamu berpikir untuk memyakiti Mei, jangan harap. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan itu." Putri menarik Mei meninggalkan halaman depan sekolah.
Lestari mengikuti kemana sahabatnya pergi. Dia yakin Fandri bisa menenangkan Fandra, karena Fandra adalah Kakak Fandri.
Altha Fandri, anak ketiga dari istri ketiga keluarga Altha. Siswa pindahan di SMK karena ingin bersama Tunangannya. Berbeda dengan Fandra, Fandri tidak terlalu di kenal oleh semua orang. Tidak heran jika kedatangannya hanya dianggap biasa saja. Jikalau mereka tahu kalau Fandri adalah Anak ketiga adik Fandra, kehebohan akan terjadi.
"Apa yang terjadi Fandra, kenapa kamu bertingkah seperti ini?" Tanya Fandri dengan menatap kearah kakaknya.
Tidak ada jawaban yang bisa Fandra berikan, dia memilih bungkam dengan apa yang telah terjadi. " Tidak apa, aku ke kelas dulu ...." Fandra pergi meninggalkan Fandri.
Melihat kepergian kakaknya, Fandri hanya terdiam. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
...°°°...
Di dalam kelas, Mei menatap buku tulisnya dengan pandangan seduh. Mei banyak memikirkan tentang Fandra hingga melupakan guru di depan.
Bagaimana bisa Fandra menanyakan sesuatu dengan ekspresi terkejut. Mei mengingat dengan jelas bahwa Fandra tampak takut dan ragu dengan pertanyaannya sendiri.
"Fandra seperti menanyakan seseorang, apa dia mengenal Findre?" Benak Mei.
Findre jarang Mei temui di sekolah, Mei pun tidak terlalu suka menjelajahi sekolahnya, jadi dia tidak bisa menentukan apakah Fandra mengenal Findre.
Pelajaran pertama berakhir begitu cepat. Guru meninggalkan kelas setelah waktunya selesai, di jam pergantian ini mereka akan menunggu kedatangan guru lain yang akan mendapat giliran mengajar.
Mei menyimpan buku pelajarannya, dia memilih memandang jendela yang ada di samping. Untungnya barisan Mei ada di bagian jendela, jadi dia bisa dengan puas memandang halaman tengah sekolah.
"Huh~ 'dia' siapa yang Fandra maksud?" Guman Mei.
Suara gesekkan kursi berhenti tepat di sampingnya, Mei menolehkan kepala melihat Lestari yang duduk dengan menompang dagu.
"Apa yang kamu pikirkan Mei hingga melamun seperti itu." Ucap Lestari.
Mei tersenyum mendengar ucapan sahabatnya, mata Mei melirik kearah Putri. Putri tampak murung dengan kejadian tadi pagi.
"Aku paham dengan apa yang kamu pikirkan Mei. Sepertinya sahabat kita sudah jatuh cinta kepada tunangannya." Lestari ikut menatap kearah Putri.
"Apa mereka akan baik-baik saja? Pasti ada kesalahpahaman yang terjadi, Lestari bagaimana jika Putri malah-,"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Mei, kita tidak boleh berpikir negatif kepada sahabat kita. Dukunglah Putri, semoga tidak terjadi apa-apa." Lestari memotong ucapan Mei.
Mendengar ucapan Lestari, Mei terdiam. Benar apa yang dikatakan sahabatnya. Dia harus berpikir positif dan mendukung Putri.
"Oh ya Mei, aku penasaran dengan gantungan di tanganmu itu. Apa itu sebuah gelang?" Tanya Lestari.
Mei menatap pergelangan tangan kanannya. Ada sebuah gelang dari benang wol dengan boneka kelinci kecil berwarna hitam.
"Kemarikan boneka kecil itu!" Findre mengarahkan tangannya untuk meminta Mei memberikan boneka kelinci.
"Untuk apa?" Tanya Mei. Dia mengenggam erat boneka hitam ditangannya.
Findre mengambil benang wol yang tidak jauh darinya. Dia memotong beberapa potongan lalu merakit hingga tampak seperti gelang.
"Jangan banyak bertanya, berikan saja itu kepadaku." Ucap Findre dengan tatapan serius.
Mei memberikan boneka hitamnya kepada Findre, ada rasa ragu-ragu di dalam benaknya. Tetapi, karena kepercayaan Mei kepada Findre , keraguan itu menghilang seketika.
Mei memperhatikan tangan Findre membuat sesuatu, boneka yang dia dapat bisa dibuat seperti ini. Dua gelang dengan benang berlawanan warna.
Boneka hitam berwol putih dan boneka putih berwol hitam. Mei melihat dua gelang itu tersenyum gembira.
"Wah! Cantiknya." Pekik Mei sambil mengambil gelang berwarna putih.
Dipandangannya gelang yang ada pada tangan Mei. Gelang berwol putih sangat cantik hingga Mei berbinar melihatnya.
Findre bangun dan memakaikan gelang benang putih di pergelangan tangan Mei. Melihat sang kekasih mengenakan gelang cantik itu padanya, Mei terteguh menatap Findre.
"Pakaikan untukku juga Mei." Pinta Findre dengan uluran tangan.
Mei menyadarkan dirinya dengan cepat. Dia mengambil gelang berwol hitam, lalu dikenakannya pada pergelangan tangan Findre.
Mengingat malam yang mengesankan baginya, Mei tersenyum sambil menjawab pertanyaan Lestari.
"Iya, ini sebuah gelang."
Lestari menatap lekat pada gelang dengan boneka kelinci. "Eh? Ini kan, boneka yang ada di taman kota ... Mei, tadi malam kamu ke sana ya?" Lestari bertanya dengan tingkah hebohnya.
Putri yang termenung di meja merasa terusik, dia menatap kearah sahabatnya yang saling berbincang.
"Aa, ku rasa begitu." Jawab Mei dengan berpikir, dia juga tidak tahu nama tempat yang dia kunjungi.
Lestari ingin melanjutkan ucapannya ketika mendapati jawaban santai dari Mei, tetapi dia terdiam ketika Putri duduk dengan tiba-tiba di sampingnya.
"Putri, bagaimana perasaanmu?" Tanya Mei melihat sahabatnya sudah mendekat.
Putri hanya berdehem dengan menyandarkan kepala pada salah satu tangannya. "Apa yang kalian ceritakan?" Tanya Putri.
Mei tahu kalau Putri sedang mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi pagi, dengan cepat dia menjawab apa yang Putri tanyakan.
"Ah, Lestari bertanya tentang gelang ini." Jawab Mei.
Tidak tinggal diam, Lestari juga ikut berbicara. "Tadi malam aku kesana loh, engak tahu kalau Mei ada. Oh ya Putri kamu juga kesana kan, bersama Fandra?"
Entah bagaimana, suasana yang tenang itu kembali hancur ketika Lestari tidak sengaja mengucapkan nama Fandra.
Mei tercenga dengan apa yang didengarnya, sedangkan Lestari secepat mungkin menutup mulut karena kebodohan yang dia lakukan.
Putri yang mendengar pertanyaan Lestari hanya mengangguk. "Iya, kami kesana tadi malam." Jawabnya dengan santai.
Mei dan Lestari saling bertatap, mereka menjadi bingung untuk berbicara lagi. Suasana yang bagus itu sudah usai karena ucapan Lestari.
"Sudahlah, kalian jangan mengkhawatirkan ku. Tidak akan terjadi apa-apa kok." Ucap Putri yang paham dengan tingkah sahabatnya.
Mei mengangguk sambil mengusap kepala Putri. "Maaf ya Putri, kami tidak bisa banyak membantu. Tetapi, kami akan selalu mendukungmu."
Putri tersenyum mendengar yang Mei katakan. Ketiganya saling berpelukkan untuk menyemangati satu dengan yang lain. Tidak ada yang tahu, Seorang gadis tenang menatap tajam ke arah Mei.