Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 23:Terima Kasih



Jendela yang telah dihancurkan oleh seseorang, membuat Roy merasa kekesalan di dalam hatinya. Roy bergegas mendekati jendela dan melihat kearah manakah Mei pergi.


“Mei! Sepertinya, kebaikkan ku dianggap mainan oleh mu, baiklah... akan ku buat kakimu tidak bisa berjalan lagi.” Roy melangkah pergi menemui keluarganya.


Di ruang tamu yang penuh hawa kebahagiaan dari Tuan Dire membuat Roy menelan silvanya secara paksa.


“Bagaimana ini?” benak Roy. Langkah kakinya melambat ketika tiba di dekat ruang tamu.


“Kak Roy!”


Roy terteguh mendengar seruan Mia yang mendekat kearahnya.


“Oh Roy, di mana Mei?” tanya sang Ayah dengan menatap senang kearah Roy.


Roy menundukkan kepalanya sesaat, ia harus membuat semua orang tidak panik dan sebisa mungkin ia membuat suasana tenang di sekitarnya.


“Maaf Ayah, Mei telat pulang. Dia mengatakan bahwa hari ini akan sedikit sibuk, bisakah Ayah menyampaikan kepada Paman Dire untuk datang kembali dilain hari?” tanya Roy.


Tanpa perlu dijelaskan, Semua keluarga paham dengan apa yang dikatakan oleh Roy. Sang Ayah dengan cepat mengubah suasana yang sempat menegang.


“Oh, Mei sudah menceritakan kepadaku bahwa ia masih belum siap bertemu dengan Tuan Dire, huh... putriku itu memang pemalu.” Tuan Jakya menutup wajahnya dengan perasaan khawatir.


Melihat hal itu, Dire mengangguk perlahan. “Aku mengerti, ternyata Putrimu sangat pemalu, baiklah... kabari diriku Tuan Jakya, karena aku tidak bisa menunggu lama mengerti?”


Ayah Roy mengangguk dengan cepat. Tuan Dire pamit undur diri meninggalkan keluarga sederhana yang bisa ia hancurkan kapan saja.


Setelah kepergian Tuan Dire, Roy menatap dengan wajah kesal kearah kakinya.


“Apa yang terjadi Roy? Dia kabur?” tanya Sang Ibu.


Roy mengangguk. “Ibu, dia pasti tidak jauh dari sini.” Roy bersiap mengambil benda yang bisa digunakan olehnya.


“Cari dirinya Roy, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tuan Dire sangat berbahaya, jika kita tidak menemukan Mei, kita akan terkena masalah.” Sang Ayah memberikan tepukkan pelan dibahu sang anak.


Roy lagi-lagi mengangguk, ia melangkah keluar dari rumah. “Roy pamit.”


...°°°...


Sebelum Roy pergi dari gudang, Mei masih berada disana, ia bersembunyi di antara pohon.


Mei tidak menduga ia berhasil keluar dari jendela sebelum Roy menangkap dirinya. Rasa kelegaan dan ketenangan meluas di dalam hati Mei.


“Hosh! Hosh! Untung Roy tidak menemukan diriku.” Mei melangkah pergi meninggalkan gudang.


Di halaman belakang, ada jalan pintar yang bisa menuju ke pasar kota. Mei mengambil jalan pintas itu untuk menjauh dari kejaran Roy.


Berlari terus berlari meninggalkan kenangan pahit baginya. Mei berlari dengan begitu susah payah, ada lebam yang membengkakkan kakinya.


“Agh! Aku tidak bisa berlari lebih jauh jika kaki ini tak di obati...,” Mei merasa keberuntungannya jauh di depan mata. Dia melajukan langkahnya dengan cepat agar bisa keluar dari desa.


2 jam sudah Mei lalui. Ia terus berlari hingga melihat jalan raya yang tampak sepi. “ah, aku harus menemukan tempat tinggal seseorang tapi-,”


Mei merasa pandangannya buram, langkah kakinya pun melemah hingga ia tersungkur kedepan.


Kesunyian melanda dengan kelelahan yang ada. Mei membuka mata perlahan, dalam bayangan suram terlihat seseorang mendekat kearahnya, ia merasa tubuhnya digendong dengan begitu hati-hati.


“Fin... dre?” benak Mei sebelum pingsan dalam dekapan seseorang.


...°°°...


“Aku di mana? Tubuhku terasa sakit, tetapi rasa sakitnya berkurang.” Benak Mei.


Dengan mata tertutup rapat, Mei merasakan sekelilingnya. Ada udara lembut menerpa wajah Mei,Kelembutan itu membuat Mei perlahan membuka matanya.


Di pandangan Mei, ruang tengah yang berisikan meja serta televisi besar tampak sangat mewah. Tidak hanya itu, selimut yang menghangatkan tubuhnya begitu lembut sampai-sampai Mei merasa semua ini hanyalah sebuah mimpi.


“Aku ... di mana?”


“Oh, kamu sudah bangun?”


Mei menoleh, ia melihat seorang pria mendekat dengan senyum di wajahnya. Mei terteguh hingga berdiri tanpa sadar.


“Ka-kamu?”


Pria yang ada didepan Mei tersenyum dengan menganggukkan kepalanya perlahan.


“Perkenalkan Fandri, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Mei menundurkan tubuhnya hingga Fandri, Pria yang baru di kenal mendekap Mei dalam pelukkannya. “Hati-hati, kamu baru bangun... luka mu belum sepenuhnya sembuh.”


Mei di baringkan dengan sangat hati-hati, perhatian dari orang yang ada di depannya membuat Mei mengingat Findre, sang kekasih.


“Huh~ kamu pasti lelah, beristirahatlah disini.” Usul Fandri menyelimuti Mei.


Mei tidak bisa berdiam diri, melihat seseorang yang ia kenali menghadirkan rasa penasaran di hatinya. “Maafkan Aku, Terima kasih sudah menolong diriku ini, perkenalkan Aku Mei.” Ucap Mei dengan suara pelan.


Fandri yang berdiri di samping Mei mengangguk. “Salam kenal Mei, Namaku Fandri. Aku membawamu di sini karena melihat kamu berada di pinggir jalan, aku ingin membawamu kerumah sakit, tetapi jarak rumah sakit sangat jauh dari tempat tinggalku...,”


Fandri memberikan Mei segelas berisi air minum lalu menyerahkannya kepada Mei. “Aku berencana untuk membawamu setelah sadar, bagaimana kalau kita ke rumah sakti sekarang?”


Mei meminum air yang diberikan, ia menatap kearah Fandra yang menunggu jawabannya.


“Tidak, aku rasa sebentar lagi aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku, maaf merepotkan anda.”


Mei memaksa tubuhkannya untuk bangun, tetapi rasa sakit di badan berhasil membuat Mei berbaring kembali.


“Ku rasa saat ini kamu tidak baik-baik saja, tenanglah... aku akan mengantarmu pulang jika kamu merasa khawatir berada di sini.”


Mei hanya bisa berdiam diri mendengar apa yang di sampaikan oleh Fandri. Tubuh yang terluka tidak akan sanggup melangkah bahkan berlari, dari pada itu Mei lebih membutuhkan perlindungan agar Roy tidak menemukan dirinya.


“Em, Fa- Fandri ... bisakah aku berada di sini untuk beberapa waktu?” tanya Mei dengan ragu-ragu.


Fandri yang mendengarnya mengangguk. “Tinggalah di sini, kalau ingin makan sesuatu... dapurnya berada di sana loh.” Ucap Fandri dengan menunjukkan arah ke sebelah kanannya.


Mei tersenyum melihat ke arah Fandri. “Terima kasih.”