
Tiba di rumah mewah...
Mei berhenti diruang tengah, ia memperhatikan sekeliling. “Dimana Bi Ta?” tanya Mei menatap punggung sang kekasih.
“Bi Ta kembali kekediaman utama, ia akan sesekali kesini untuk menjenguk dirimu.” Jawab Findre dengan santai.
Mei menatap lega melihat sang kekasih yang tidak curiga kepadanya. “Aku harus mengobati luka ini terlebih dahulu.” benak Mei melangkah kekamar lain.
Ada dua kamar tamu dilantai bawah, Mei sudah menjelajahi Rumah mewah milik kekasihnya. Ada banyak hal yang membuat Mei penasaran. Di tangga menuju kamar utama, terdapat bekas foto yang terpajang.
Mei sangat penasaran dengan foto yang ada disana, hanya bekas yang tersisa, meski penasaran Mei tidak berani menanyakan hal itu kepada Findre. Bagi Mei, ada batasan yang tidak mengijinkannya melangkah terlalu jauh.
“Dimana kotak obatnya?” Mei menatap kearah rak-rak yang ada dikamar tamu. Ia ingat, Bi Ta menyimpan kotak P3K didalam kamar ini.
Mei dengan perlahan melangkah menyusuri ruangan, setengah jam ia mencari, tidak ada hasil dikamar tamu itu.
“Apa Bi Ta memindahkannya ditempat lain?” guman Mei.
“Apa yang kamu lakukan dikamar tamu?” tanya Findre bersandar dipintu.
Melihat Findre yang memperhatikan Mei, tangan Mei dengan cepat mengambil tindakkan.
“Ti-tidak ada, Aku hanya kangen dengan Bi Ta.”jawab Mei, tangannya mengaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Mandilah, setelah itu ikut aku!” Findre melangkah pergi setelah berucap.
Mei menghela nafas melihat kepergiannya. “Aku harus mandi dengan cepat.”
Perlu waktu dua jam untuk Mei, ia menahan sakit dan menangis melihat kakinya terluka begitu parah. Untung ia tidak memiliki penyakit darah rendah, jika Mei memilikinya, ia akan pingsan didalam kamar mandi.
Setelah bersiap-siap, Mei mengenakan celana panjang untuk menutupi lukanya. Luka Mei belum terobati, ia hanya mengunakan kain baju untuk menahan darahnya keluar. Mei sudah mencari kotak P3K dikamar utama, tetapi keberadaannya tidak ditemukan.
“Ku rasa ini cukup.” Benak Mei memperhatikan tampilannya. Baju oversize yang ia kenakan tampak cantik. Mei tahu harga baju yang ia kenakan tidaklah murah.
Celana oversize yang membantu dirinya menutupi luka, juga tampak sangat baik ditubuh Mei. Tinggi tubuhnya menjadikan tampilan menarik bagi Mei sendiri, hanya tidak ada yang tahu, dibalik tubuh yang Mei miliki, terdapat bekas luka yang luar biasa.
“Oke, aku harus kebawah.”
...°°°...
Mei menatap kearah tangga, dimana Findre menunggu dirinya sambil menatap ponsel pintar ditangan.
“Maaf telat.”ucap Mei yang menuruni tangga dengan perlahan.
“Kemarikan tanganmu!” Findre mengulurkan tangannya dipertengahan tangga. Mei menyambut uluran tangan itu dan melangkah bersama Findre.
“Kita akan kemana Findre?” tanya Mei dengan menatap halaman rumah.
“Bi Ta bilang, aku harus meminta maaf kepadamu karena menghilang tanpa memberi kabar bahkan pamit. kamu merindukanku, bukan?” Findre menatap Mei dengan memiringkan sedikit kepalanya.
Langkah Mei terhenti, ia menatap mata sang kekasih yang kini mendekatkan wajahnya.
Entah waktu yang berhenti, atau Mei yang tidak menyadarinya, mereka berdua saat ini saling berpandangan dengan angin yang berhembus.
“Aku akan mengajakmu berkeliling dihalaman ini, setelah itu, kamu harus memaafkanku karena meninggalkanmu.” Ucap Findre yang menjauh seketika.
Mei menghela nafas panjang. “Tolong, jangan terlalu dekat denganku.” Ucap Mei.
“Kenapa?” Findre melangkah terlebih dahulu.
Mei yang mendengar pertanyaan Findre menjawab sambil mengikuti langkahnya. “Berbahaya, jantungku berdegup-degup, bisa-bisa aku yang jatuh cinta kepadamu.”
“Oh, tentang hal itu...apa ada wanita yang bisa menghindari perasaan sukanya?”
Mei menatap pepohonan yang ada, daun-daun berjatuhan menerpa wajahnya. “Aku tidak tahu, sepertinya ada, tapi sangat langka.” jawab Mei dengan mengambil daun yang ada dipundaknya.
Langkah Findre berhenti, ia berbalik dan menatap Mei dengan wajah tenang. “Maka, jatuh cintalah...” ucap Findre yang membuat Mei tercenga.
Findre mengambil daun kering diatas kepala Mei, lalu kembali melangkah. “Kamu mengatakan, kalau kamu tidak tahu, bisa diartikan kalau kamu wanita yang mudah jatuh cinta, tidak masalah bagiku.” Lanjut Findre.
“Oh, keinginanmu yang memintaku untuk membunuhmu bukan?” tanya Findre, Mei mengangguk dengan cepat.
“Aku bilang, tidak masalah kamu yang jatuh cinta, asal bukan aku yang mencintaimu. Aku sudah pernah mengatakan kepadamu bukan, kalau kamu adalah target untuk ku bunuh.” Lanjut Findre dengan mengusap kepala Mei.
Mei merasa senang mendengar penjelasan Findre, hati yang berdegup kencang itu, semakin menjadi.
“Berarti, aku bisa mencintainya bukan?” benak Mei.
“Hei, kamu hanya akan berdiam disana?” panggil Findre yang menatap kearah Mei.
Mei melangkah menyusul sang kekasih yang menunggu dirinya. Hatinya jadi senang setelah mendapatkan jawaban tentang cintanya sendiri. tidak masalah jika hanya dirinya yang jatuh cinta, bagaimanapun keinginannya yang paling penting.
...°°°...
Setelah berjam-jam menghabiskan waktu dihalaman, Mei dan Findre memutuskan kembali kerumah.
Kesibukkan masing-masing tidak membuat rumah itu sunyi, malah sebaliknya.
Mei yang sibuk membuat makan malam, bermain dengan Findre. Mereka saling melempar jawaban dari soal-soal yang diberikan. Sang kekasih berada dimeja makan dengan menyaksikan kegiatan Mei.
“Oh, jadi jawabannya begitu...aku menduga akan dikalikan 20?” ucap Mei yang fokus memotong daging ayam.
Findre mengeleng. “Salah, kalau dikali dengan 20 jawabannya tidak akan pernah ditemukan, hasilnya tetap 3 per 4,” jelas Findre.
Mei mengangguk. “Kalau begitu soal selanjutnya?”
Keasikkan mereka usai dengan makan malam yang telah tersaji. Masing-masing dari mereka menghabiskan makan malam sendiri, tidak ada kedekatan seperti pasangan suami istri.
Bukan tidak ada, hanya Mei menolak Findre yang meminta Mei duduk dipangkuannya. Alasan Mei menjauh karena kakinya sangat sakit sekarang.
Mei diam-diam mencari kotak p3k dari Findre, tetapi kotak itu bagai ditelan bumi, menghilang begitu saja.
Setelah mencuci piring, Mei bersiap kembali mencari kotak p3k. Tiba-tiba saja tubuhnya terangkat, Mei langsung menatap sang Kekasih yang membawanya menaiki tangga.
“Findre, kamu-,” wajah panik Mei semakin menjadi saat ia dibaringkan dengan lembut oleh sang kekasih.
“Aku penasaran, apa yang kamu sembunyikan dariku, Mei.” Ucap Findre dengan menaikkan sedikit celana panjang Mei.
Kaki jenjang Mei penuh akan balutan kain yang sudah dihiasi dengan warna merah. Mei menundukkan kepala melihat wajah datar Findre.
“Kapan kamu mendapatkan luka ini?” tanya Findre.
Mei menjawab dengan gugup. “A-a, itu...aku tidak,”
Findre mengambil kotak p3k dimeja samping kasur, Mei bengong seketika, melihat Findre dengan mudah menemukan kotak p3k. Padahal, dirinya sudah mencari diseluruh kamar utama ini.
“Lain kali hati-hati, besok tidak perlu turun sekolah!” ucap Findre dengan nada dingin.
Mei murung mendengarnya. “Tapi, aku ingin sekolah...” tangan Mei *******-***** baju tidur yang ia kenakan.
Helaan nafas Findre sangat panjang, Mei yang mendengarnya semakin menundukkan kepala.
“Baiklah, kamu sekolah. Tapi-,”Findre mendekat kearah Mei yang menjauhkan diri.
“Jangan keluar dari kelasmu esok hari.” Findre mencium pipi Mei dan kembali membalutkan luka dikakinya.
Mei tidak merasa degupan dihati, padahal Findre mencium dengan lembut di pipinya. Yang ada malah rasa khawatir akan sesuatu.
Mei memandang kearah Findre yang masih fokus membalutkan luka dikakinya.
“Sudah, ayo tidur!” ajak Findre dengan membaringkan Mei disampingnya.
Mata Mei tidak terpejam, ia merasa khawatir. Dipandangnya wajah sang kekasih yang tidur dengan pulas.
“Kenapa aku merasa Findre telah mengetahui semuanya?” benak Mei.