
Dimansion yang begitu luas. Suasana kesepian menghilang setelah hadirnya Bi Ta. Mei merasa tenang karena Bi Ta menemaninya.
Rasa nyaman Mei tampak dikebersamaan mereka. Seperti saat ini, Mei dan Bi Ta tengah menyiapkan makan malam.
“Nona lebih baik istirahat saja...apa lagi kata Tuan Muda Findre, anda masih terluka.”ucap Bi Ta yang tengah mengupas bawang merah.
“Tidak apa Bi,lagian ini tak terlalu menyakiti ku.”jawab Mei. Ia membersihkan sayuran yang siap dijadikan makan malam mereka.
“Yasudah, tapi kalau Nona sudah merasa lelah, lebih baik istirahat ya.”ucap BI Ta lagi, Mei yang mendengarnya mengangguk.
Setelah berbincang santai, keduanya memasak makan malam dengan suasana gembira. Hingga, tidak ada yang menydari kedatangan sang Tuan rumah. Tuan Rumah itu duduk dimeja makan sambil menatap keseruan dari Mei dan Bi Ta.
“Tuan Muda,kapan anda datang?”tanya Bi Ta yang kaget melihat Findre telah duduk dimeja makan dengan tangan yang menjadi penyangah dagunya.
“Sekitar 40 menit yang lalu.”jawab Findre masih diposisi yang sama, Membuat Mei terkekeh melihatnya.
“Kenapa kau tertawa?”tanya Findre dengan menatap Mei. Mei yang ditatap bersembunyi dibelakang Bi Ta.
Sambil bersembunyi, Mei tertawa dengan begitu kencang.“Tidak apa, haha...baru kali ini melihat seorang pria seperti mu rela duduk lama hanya untuk menonton.”jawab Mei.
Bi Ta yang mendengarnya mengeleng, Tapi memang benar adanya. sangat langka Tuan Muda ini bertingkah begini, Biasanya cuek dan tak terlalu ikut campur.
“Kamu!...sudahlah, Sini saatnya mandi, aku akan membantumu.”ucap Findre yang melangkah ingin mendekat. Tapi, Mei langsung bersembunyi dibelakang Bi Ta.
“Aku bisa sendiri...sudah jangan memandikanku, aku bukan anak kecil.”ucap Mei yang menghindari tangkapan Findre.
Bi Ta yang melihat tingkah mereka langsung mengeleng. Tak habis pikir dirinya, kok bisa bertemu orang yang seperti ini.
“Baiklah...kalau begitu kau mandi, sudah mandilah, bau badanmu bisa mengotori Bi Ta.”ucap Findre yang memilih menyerah.
Mei yang melihatnya menjauh langsung tersenyum, ia pun berbisik kearah BI Ta. “Terimakasih Bi,”ucapnya yang kemudian berlari menaiki tangga, melupakan rasa sakit yang ada dipergelangan kaki.
Mei dengan cepat pergi meninggalkan ruangan, ia tidak ingin mandi ditemani oleh sang kekasih. Lebih baik ia mandi sendiri dari pada ditemani.
...°°°...
Waktu makan malam hampir tiba. Mei saat ini tengah bertelungkup dengan pungung terbuka. Ada rasa waspada yang membuat Mei berhati-hati. Karena saat ini, Findre memberikan obat dipungung Mei.
Sentuhan Findre benar-benar membuat Mei memerah. Apa lagi, perlakuan Findre yang begitu lembut. Mei semakin takut akan perasaan yang tidak tenang dihatinya.
“Sudah?”tanya Mei. ia tak ingin berlama-lama, hatinya sudah berdegup dengan tidak beraturan.
“Kamu ini kenapa sih, belum satu menit aku mengobatimu. Aku baru mengolesi dipungung, belum kaki, dan lenganmu. Jadi, diam dan jangan banyak bergerak.” Ucap Findre dengan nada tegasnya. Mei langsung bungkam.
Findre kembali mengoleskan obat dipungung Mei dengan sentuhan yang sama, lembut dan perlahan. Mei meramalkan doa semoga ia tak jatuh cinta dengan perhatian ini.
Sekitar 10 menit acara mengobati itu selesai, Mei akhirnya bebas dari perlakuan yang mengetarkan hati. Karena telah selesai, Mei ingin mengenakan pakaiannya.
Findre yang ada disamping Mei, langsung menghentikan pergelangan tangannya.
“Tunggu, akan ku balut dengan perban dulu. Lukamu harus diperban dengan benar. Sebentar,”ucap Findre yang bangun meninggalkan Mei.
Mei terdiam ditempat. Ia ingin bangun dan duduk diatas kasur. Tetapi, jika ia duduk maka tubuhnya akan terekspos dengan begitu jelas. Tolonglah, Dirinya wanita bukan Pria.
Asik memikirkan nasib, tiba-tiba lampu kamar padam, Mei duduk seketika, ia menatap kekanan dan kekiri.
“Findre, kenapa lampu padam?”tanya Mei dengan cepat. Karena tidak ada jawaban, Mei bangun dari kasur dan melangkah didalam kegelapan. Tiba-tiba...
Tap
Tangan kanan Mei tertangkap oleh seseorang, Mei langsung berteriak dengan rasa takut.
“Findre?” tanya Mei. Ia menengelamkan wajahnya didada orang yang kini dipeluk olehnya. Mei sebenarnya tahu siapa yang ia peluk. Hanya saja, Mei perlu memastikan siapa dia.
“Hm...kenapa berteriak?”Tanya Findre yang sedikit menjauhkan tubuh Mei.
Merasa tubuhnya menjauh, Mei kembali memeluk Findre. Ia masih merasa takut, apa lagi dikegelapan kamar.
“Apa kamu ingin memelukku dengan tubuh telanjangmu itu” ucap Findre yang membuat Mei sadar. Mei langsung menjauhkan diri dari sang Kekasih.
Setelah menjauh, Mei merasa pundaknya disentuh oleh tangan Findre.
“Mei dengar, aku yang mematikan lampu kamar ini, jadi jangan takut. Sekarang,perlahan angkat tanganmu,akan ku balutkan perban ini tanpa melihat dirimu...agar kamu tidak takut.”ucap Findre dengan suara lembut yang membisik ditelinga Mei.
Mei perlahan mengangkat tangannya. “A-Aku sudah mengangkat tanganku.” Mei memberi tahu sang kekasih dengan wajah memerah. Untung lampu kamar padam, jadi tidak ada yang tahu keadaan Mei sekarang.
Dengan perlahan, Findre membalut tubuh Mei dengan perban ditangannya. Suasana hening berhasil membuat keringat bercucur diwajah masing-masing. Bahkan, hembusan nafas mereka saling menerpa satu dengan yang lain.
Tidak lama kemudian, perban itu pun berhasil dipasang.“Sudah, sekarang diam disini, aku akan menyalakan lampunya.”ucap Findre. Mei menahan tangan Findre yang ingin melangkah pergi.
“Tidak! Ehem...tunggu dulu, aku hanya terbalut perban, bukan memakai baju.”ucap Mei.
Mei ingin mencari baju untuk menutupi tubuhnya. Tetapi, sang kekasih sudah lebih dahulu mengenakan baju ditubuh Mei.
“Sekarang diam disini, aku akan menyalakan lampunya.”ucap Findre kembali. Mei hanya mengiyakan perkataannya.
Mei memilih untuk duduk ditepi kasur, ia menunggu Findre menyalakan lampu kamar mereka.
Klik
Lampu kembali menyala dengan memperlihatkan dua orang yang berjarak. Tidak ada yang saling memandang karena wajah mereka memerah.
Wajah merah Mei karena sudah terjebak dari awal.sedangkan Findre menahan diri dari kedekatan mereka.
“Baik,sekarang memperban tangan dan Kakimu,”ucap Findre yang kemudian melangkah mendekati Mei.
Mereka hanya terdiam dengan suasana yang dingin. Tak ada yang berbicara, hanya kediaman yang membisu melengkapi malam. Hingga...
Tuk,tuk
“Tuan Muda,Nona Muda...saatnya makan malam, kalian tidak makan?”tanya Bi Ta yang menganggap bahwa Tuan Muda dan Nona Muda bukan hanya sepasang kekasih, mungkin Tuan Mudanya ini sudah menikah diam-diam, hanya status mereka dirahasiakan.
“Baik Bi, sebentar lagi kami akan turun.”jawab Findre yang kemudian menyimpan kotak P3K.
Mei yang masih terdiam, disadarkan oleh Findre yang kini mengajaknya untuk makan malam.
“Ayuk makan.”Ajak Findre, Mei yang kembali sadar langsung mengangguk. Ia pun melangkah keluar kamar bersama Findre.
Mei dalam langkahnya hanya bisa terdiam, sekarang ia berpikir, kenapa Findre tidak menyentuhnya. Woke sekarang pikiran sesat muncul diotaknya, tapi aneh saja. Biasanya laki-laki yang ia ketahui, jika menyentuh perempuan, mereka akan langsung ingin melakukan hal lain. tapi, berbeda dengan Findre.
“Mungkin ia ingin menepati janjinya.Lagian kami hanya sebatas kekasih yang niat awalnya hanya seorang teman pembunuh.”benak Mei.
Menghilangkan segala yang ada dihati, degupan itu pun ikut menghilang bagaikan bel yang berhenti berdetak.
Memang begini seharusnya, Findre berhasil menepati janji. Dengan begitu Findre tidak akan mencintainya. Jadi, Mei tidak perlu ragu, Mei cukup mencintai Findre dalam diam.
Bagaimanapun keinginan Mei adalah tujuan utama dari kedekatan mereka. Mei meneguhkan hatinya, jangan sampai karena cinta, Mei melupakan keinginannya sendiri.
Jika keduanya tidak bertemu. Mungkin, Mei sudah memutuskan hidupnya seorang diri. Tetapi, Mei sadar melakukan itu semua tidak akan baik untuknya. Jadi, lebih baik ia dibunuh oleh orang lain dari pada ia melakukannya sendiri.