
Di taman sekolah.
“Hei Putri, apa yang kamu lakukan?” tanya Lestari. Dia baru tiba dengan pengawal yang mengantarnya.
“Oh, ini aku sedang membuat memo.” Jawab Putri dengan menampakkan ponsel ditangan.
Lestari melihat dan membaca apa yang diketik oleh Putri.
‘Hei gadis bernama Mei. Apa kamu sehat? Apa kamu bahagia? kami begitu merindukanmu. Kamu sudah lama pergi, tetapi persahabatan kita tidak akan padam dengan kepergianmu. Jika bisa, semoga kita bertemu disana’
“Wow, kamu mengetiknya dengan baik. Mei kah....” Lestari menatap kearah langit-langit yang berawan.
Putri ikut menatap apa yang Lestari lihat. “Hm, Mei... dia sahabat kita yang pergi dua tahun lalu. Seharusnya, kita bisa bertemu langsung dengannya.”
“Benar, kita menjadi sahabat jarak jauh dengan Mei ini. kira-kira seperti apa ya dia.”
Lestari dan Putri melangkah masuk kedalam gedung sekolah. Mereka memiliki sahabat bernama Mei yang dijumpai dalam sosial media. Tidak tahu seperti apa Mei, apa dia anak gadis yang cantik, atau dia anak gadis sederhana.
...°°°...
Di pemakaman.
Keluarga Altha sedang melakukan kunjungan dimakam Istri pertama Altha Ryuah.
Ada Makam Sorai dan Makam penerus asli keluarga Altha, Findre. Semua memberikan bunga dan berdoa didepan makam.
“Apa kita harus mengumumkan kematian Findre?” tanya Basyra menatap suaminya.
“Sudah seharusnya, Findre tidak ada lagi didunia. kita harus mengumumkan penerus keluarga Altha adalah Fandra dan Fandri.” Jelas Ryuah menjawab pertanyaan Istri ketiganya.
Kayri mengangguk mendengar apa yang suaminya katakan. “Fandra, apa yang kamu lakukan hingga serius seperti itu.”
Fandra yang dipanggil segera bangun. Dia merapikan pakaiannya, karena dia baru saja membersihkan makan sang Kakak pertama.
“Aku berharap bisa bertemu dengan Kakak, entah kenapa aku merindukannya.”
Fandri bergegas memeluk kakaknya. “Aku juga Kakak, aku merindukan Kakak Findre.”
Melihat Fandri yang memeluk dirinya, Fandra bergegas menjauhkan sang adik. “Berhenti memelukku. Hei Fandri, kamu sudah SMK dan kamu juga memiliki tunangan, bersikap dewasalah!”
Fandri yang mendengarnya terteguh. “Apa hubungannya dengan tunangan. Kakak ingin menikahi Putri setelah lulus sekolah? Bukannya itu terlalu cepat ya?”
Kerutan muncul dikening Fandra, dia memberikan kepalan tangan kearah Fandri. “Ja-jangan Kakak!” teriak Fandri.
Orang tua yang melihat tingkah mereka saling tersenyum.
...°°°...
Di kediaman Dire.
“Aku tidak akan bercerai Ayah,Ibu... Aku dan Istriku bisa mendapatkan seorang anak jika kami bersabar.” Dire menentang keputusan bercerai dari keluarganya.
Mendengar ucapannya, Ayah dan Ibu Dire menghela nafas. “Jika seperti ini, siapa yang akan menjadi penerusmu. Pikirkan lah baik-baik!” ucap Sang Ibu.
Dire ingin menjawab apa yang dikatakan oleh Ibunya. Tetapi kedatangan seseorang menahan tindakkannya.
“Tu-Tuan Dire!” pekik Pelayan dengan wajah panik.
Seluruh keluarga menatap kearahnya. “Ada apa?” tanya Dire.
“Nyo-nyonya ... Nyonya Hamil!” ucap Pelayan tiba-tiba.
Dire serta orang tuanya tercenga hingga mereka berdiri dari tempat duduk.Mereka terdiam untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Pelayan.
“Ha-hamil? Apa maksudmu itu?” tanya Dire.
Pelayan memberikan hasil tes kehamilan. Melihat ada garis dua disana, Dire bergegas mengunjungi Istrinya.
...°°°...
Di desa.
Seorang wanita menuntun gadis muda untuk sarapan bersama. Langkah kaki gadis itu begitu lemah karena terluka. Dia mengalami luka berat hingga melumpuhkan kedua kakinya.
“Mia, duduk disini ya ... Bibi akan membawakan sarapan untukmu.” Ucap Bibinya. Mia mengangguk dan menunggu kembalinya sang Bibi.
“Seharusnya dia mati saja. Tidak ada yang sanggup merawatnya.”
“Aku sudah mengatakan kepada Bibinya itu, untuk tidak merawat gadis yang bertingkah sombong. Tapi, Bibinya ingin membalas budi kepada orang tuanya.”
“Kalau aku, sudah pasti dia berada di panti. Untuk apa aku merawat orang yang tidak berguna.”
Mia terdiam mendengarkan apa yang orang lain katakan kepadanya. Dia tahu hidupnya seperti ini karena dia melakukan sesuatu yang buruk.
Mungkin dikehidupan sebelumnya, dia melakukan kesalahan hingga dikehidupan ini dia menderita. Begitu menderita dan berharap ada yang akan membunuhnya.
“Maafkan Bibi lama ya, Mia.” Ucap sang Bibi yang menaruh segelas susu dengan roti panggang didepannya.
Mia mengangguk. “Setidaknya Bibi baik kepadaku.” Benak Mia. Disantapnya sarapan itu dan makan dengan perlahan.
“Semoga, aku tidak selalu merepotkan kalian.” Guman Mia. Mulutnya mengeluarkan busa yang banyak setelah menghabiskan susu yang diberi oleh Bibi.
“Astaga, Mia apa yang terjadi!” pekik Bibi Mia dengan wajah panik.
Nafas Mia berantakkan, dia merasa begitu sulit untuk menuju kekematian. Dilihatnya ada malaikat datang dengan sabit luar biasa. Mia merasa Ruhnya dicabut tanpa kelembutan.
“Agh!!!” teriak Mia bersamaan dengan nafas terakhirnya.
“Mia! Astaga, Mia apa yang terjadi kepada....” Bibi Mia melihat di kepalan tangan keponakkannya, Ada bungkus racun yang bawa Mia.
“Mia! Miaaa!!!”
...°°°...
“Haru, kamu sudah datang.”
Haru bersujud dengan cepat bersama dengan Ruh Mei yang ada disampingnya. Tubuhnya dengan cepat berdiri karena Penguasa membangunkan mereka.
“Mei, kemarilah!”
Wajah Mei bahagia, dia melangkah melepaskan genggaman Haru. Langkah kakinya perlahan berubah menjadi larian. Dia menghilang dikeindahan awan yang ada didepan mata Haru.
Haru tahu, saat ini Mei pasti menceritakan segala hal yang dialaminya. Dia merasa tenang meski tahu bahwa dia tidak bisa bahagia.
Setelah keluar dari tubuh manusia, Haru merasa perasaannya menghilang. Apa yang dialaminya hanya karena tubuh yang digunakan. Tapi hati yang sudah jatuh cinta, tidak pernah bisa menghilang dari dirinya.
“Kamu ingin kemana, Haru?”
Haru berhenti melangkah. Dia berniat untuk pergi dan kembali ketempatnya. Menunggu tugas untuk menjemput ruh orang lain.
“Haru, aku ingin mengangkatmu untuk dekat denganku. Apa kamu mau?”
Wajah Haru terkejut mendengar apa yang Penguasa katakan. Menjadi dekat dengan Penguasa merupakan suatu kesempatan yang langka. Bisa dibilang, posisinya melebihi Atasannya sendiri. yang berarti, dia akan selalu didekat Penguasa.
“Maaf Penguasa, Haru menolaknya. Haru telah belajar, bahwa tugas yang diperintahkan harus segera dilakukan. Tetapi, Haru malah bermain-main dan tidak bertanggung jawab. Jadi, Haru meminta kepadamu, Penguasa...”
Haru menarik nafasnya sesaat, dia bersujud dengan tekad kuat. “Haru ingin anda mengurung Haru didalam gunung panas milik Malaikat penjaga Neraka.”
“Apa yang ingin kamu lakukan disana?”
“Ingin menjernihkan pikiran Haru dan mengembalikan tekad yang menghilang didalam diri.”
“Baiklah, jika itu keinginanmu. Datanglah....”
Haru merasa tubuhnya dirantai dengan benda panas. Benda yang bisa meleburkan apapun didekatnya. “Penguasa.” Seorang Malaikat dengan wajah tampannya bersujud.
Haru melirik Malaikat penjaga neraka. Dia dirumorkan tidak pernah tersenyum semenjak neraka dibuat. “Dia begitu tampan.” Benak Haru.
“Bawalah dia, dan kurung dia seperti keinginannya.”
Malaikat penjaga Neraka dengan cepat membawa Haru. Di kurung dirinya dalam gunung panas hingga Haru merasa bahwa membuka matanya saja begitu sulit.
“Aku harus tenang, diciptakan dalam cahaya dan disayangi oleh Penguasa. Aku harus mengendalikan diriku sendiri.”
Tidak ada perasaan yang seharusnya dirasa. Tidak ada cinta yang terucap dimulutnya. Seharusnya, Haru tetaplah Haru. Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa seseorang.
“Haru~”
..._END_...