
Angin menerpa wajah Mei, rambut panjang yang terurai dipenuhi dengan embun-embun pagi. Langkah kaki yang terus berlari dengan menikmati rasa sakit karena dirinya tidak mengunakan alas kaki.
Memikirkan alas kaki, Mei lebih mementingkan keselamatannya. Tidak ada yang pernah menandingin Roy dalam olahraga, Roy memiliki nilai tinggi dibidang ini. bahkan Mei pernah mendengar bahwa Roy siswa terbaik.
Mengingat hal itu, Mei tidak bisa menurunkan kecepatannya, ia terus berlari hingga rasa lelah hadir dengan keringat yang datang.
“Aku harus cepat pergi dari desa ini, Findre pasti menungguku.” Benak Mei dengan begitu serius.
Namun sayang, Mei tersungkur karena salah mengambil langkah. Ia jatuh hingga berguling beberapa kali dan terbentur di tangga rumah.
“Oh, hanya sampai di sini?” tanya Roy dengan melangkah perlahan mendekati Mei.
Rasa sesak didada membuat Mei batuk dengan tiba-tiba. Pendengarnya kembali setelah terbentur di dinding, ia juga merasa rasa sakit di tubuhnya, mulai kepala hingga ke kaki.
“Sial, sakit ... sakit sekali!” benak Mei dengan menahan air matanya, Ia berusaha mengerakkan satu jari untuk bangun dan melarikan diri.
“Percuma, jangan pernah berpikir untuk lepas dari ku Mei, meski Jimto tidak membunuhmu ... bekas luka yang ada di kakimu itu belum sepenuhnya sembuh. Tenanglah, kamu akan bahagia setelah kami menjual dirimu.”
Roy mengangkat tubuh Mei lalu mengendong dengan santai. wajah Mei tepat dijantung Roy, detakkan jantung itu terdengar ditelinga.
“Akan ku katakan semuanya kepadamu Kakak Mei...,” Roy berucap dengan senyum yang sangat berbeda. Melihat hal itu Mei merasa ketakutan di hatinya.
“Jam 10 pagi ini kamu akan menikmati kehidupan bahagia, menikah dengan pria yang akan memberikanmu emas bahkan nasi untuk mengisi perutmu itu... ah satu lagi, kamu tidak akan pernah bertemu dengan kami.” Jelas Roy dengan nada bahagia.
“Selain itu, kami akan mendapatkan keuntungan dari menjual dirimu. 40 juta sangat cukup untuk memindahkan kami ketempat yang lebih baik lagi, dengar Mei... balas budilah kepada keluargaku, kamu sudah tinggal 2 tahun bersama kami. Setidaknya, ada balasan dari apa yang kami berikan.” Lanjut Roy.
Mei terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Roy. Ia tentu paham dengan Roy yang menjelaskan semuanya. Bukan sebuah pengingat kebaikkan, tetapi sebuah teguran bahwa Mei memiliki tanggung jawab yang kuat.
“Bersikap baiklah Mei, Aku akan mengurungmu digudang hingga acara dimulai.”
Tiba dirumah, seperti ucapan Roy. Mei di kurung dalam gudang dengan di teman tumpukkan barang tidak berguna. Selain itu, debu yang begitu padat menghambat penciuman Mei.
Berkali-kali Mei bersin di dalam sana, ia merasa sesak hingga sulit untuk melihat. “huh~ aku harus kabur sebelum Roy datang dan aku dijual. Rasanya menyakitkan mendengar keluarga ini menjual anaknya sendiri.” benak Mei.
Dengan berbekal akal, Mei mencari celah untuk bisa kabur. Bagaimana pun, gudang ini pernah dibersihkan olehnya. Jadi setidaknya ada celah yang membuatnya kabur tanpa sepengetahuan Roy.
“Yosh Mei, ayo pergi dari sini!”
Waktu berlalu dengan cepat, hasil yang didapat oleh Mei hanya kehampaan. Ia menatap kosong kearah tumpukkan barang yang ada, tidak ada sama sekali tempat untuknya keluar.
“Bagaimana ini, tidak mungkin aku hanya berdiam diri dan menyerahkan diriku. Tidak... tidak... aku tidak ingin itu terjadi,” Mei kembali mencari celah untuk bisa kabur.
“Jendela?” Mei berguman sambil memandang jendela kecil yang sudah tua. Ada pagar yang menghalangi disetiap sisinya.
“Sial, pagar ini pasti baru diperbaiki!” Mei mengunakan tangannya untuk menarik pagar yang menghalangi.
Sekuat tenaga Mei menghancurkan pagar di jendela. Semakin kuat ia mendorong pagar itu, semakin berdegup hatinya.
“Ayolah... Ku mohon, ku mohon!” Mei mendorong dengan sekuat tenaga hingga salah satu dari pagar itu terbongkar olehnya.
“Akhirnya!” Perasaan berseri-seri tampak diwajahnya. Ia melanjutkan kegiatannya, masih ada lima pagar yang harus ia hancurkan.
...°°°...
“Hahaha... Senang mendengarnya.”
Di ruang tamu, Mia dan Roy tersenyum menyambut tamu istimewa mereka.
“Tuan Dire, senang anda bisa datang kesini...,” Ayah Mia tersenyum bahagia dengan wajah kesenangannya.
Pancaran kebahagiaan itu meracuni Ibu Mia serta yang lainnya.
“Sudahlah Tuan Jakya, kamu tidak perlu sesopan itu kepadaku. Bagaimana kalau kita memulainya dengan cepat, aku tidak sabar dengan Putrimu, apakah dia yang akan menikahiku?”
Tuan Dire, seorang juragan padi yang terkenal di Desa Murya Harapan. Pria tua berusia 50 tahun, mencari gadis muda untuk menikah bersamanya.
Mia yang melihat kegatalan dari Pak Dire membuatnya merinding. Ia dengan cepat bersembunyi di belakang Roy sang Kakak.
“Bukan dirinya... Putriku yang paling tua, tunggulah... Roy jemput Kakakmu!” Ucap Ayah Jakya.
Roy mengangguk dan melangkah pergi menuju gudang. Kesenangan di matanya terpancar hingga Ia tiba di depan pintu gudang.
“Mei, Kamu siap?” Tanya Roy dengan mengetuk pintu gudang.
Mendengar tidak ada jawaban dari dalam, Roy mengerutkan alisnya. Rasa kesenangan diganti dengan perasaan khawatir.
Pintu gudang dibuka dengan cepat olehnya hingga terlihat kehampaan yang ada di sana. Angin berhembus melewati Roy melalui jendela yang di buka dengan paksa.
“Mei!” Roy menatap kesal kearah jendela yang menjadi tempat kaburnya Mei.