Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 38: Gudang (3)



Mei menatap kearah pintu gudang. Dia berharap sang kekasih tiba disana. tetapi, lagi-lagi dia sadar bahwa harapannya tidak akan pernah terwujud.


Malam hari tiba, Mei memutuskan untuk tidur. Tidak ada yang perlu ditunggu olehnya. Hari akan berganti,jikalau takdirnya baik, Dia akan bebas di sini.


...°°°...


“Hei bangun! Hei, bangunlah!”


Mei membuka mata ketika mendengar panggilan seseorang. Dia melihat Roy tengah berdiri dengan tangan bersedekap didada.


“Sampai kapan kamu akan mogok makan? Kakak, seharusnya jaga kesehatanmu.” Ucap Roy dengan nada yang lembut.


Pria yang selalu cuek kepadanya, kini berbicara dengan tutur yang baik. Mei tidak akan tertipu dengan pria seperti ini.


“huh, pagi ini aku menyempatkan waktu untuk bertemu kakakku. Ada yang ingin ku tanyakan, Kakak siapa laki-laki yang bersamamu?” tanya Roy.


Mendengar pertanyaan itu, Mei memilih untuk bungkam. Dia tidak menduga Roy juga bertanya tentang Findre kepadanya. Entah kenapa Mei jadi berpikir tentang beberapa hari yang lalu, dimana Fandra menanyakan hal yang sama.


“Kenapa semua orang begitu penasaran dengan Findre? Bukannya mereka satu sekolah ya?” benak Mei.


Roy tampak tenang menunggu jawaban dari Mei. Dia duduk dan memilih untuk berdiam diri hingga 15 menit berlalu.


“Sepertinya, kakak memilih untuk diam. Baiklah, tidak masalah untukku. Aku juga tidak perduli sekarang....” Roy bangun dan mengendong tas di salah satu punggungnya.


“Aku pergi, nikmati hari mu ... ah ya, kemarin kakak di pukul ibu? berhati-hatilah, sepertinya hari ini juga Ibu akan marah.” Ucap Roy yang menutup pintu gudang.


Kesepian melanda bersama dengan keheningan disekelilingnya. Mei mendudukkan diri, menatap kearah hidangan yang setiap waktu diberikan.


“Aku benar-benar tidak ingin memakannya. Entah itu enak atau tidak.” Mei kembali berbaring, menatap indahnya langit-langit gudang yang berisikan sarang laba-laba.


Waktu berjalan, tidak ada rasa bosan oleh Mei ketika dia dikurung. Sudah hampir tiga hari dia berada disini, tidak ada yang menemani dan tidak ada yang memperhatikannya.


Untungnya Ibu angkat tidak lagi datang dengan cambuk. Mei merasa takut dan gelisah jika mendengar suara langkah kaki menuju kegudang.


Malam ini, Mei berniat ingin terlelap kembali, tetapi pintu gudang dibuka oleh seseorang secara tiba-tiba.


“Malam, kakak.” Sapa Roy dengan senyum ramah.


Mei bangun dengan cepat, rasa tidak enak muncul dibenaknya. “Apa yang kamu inginkan Roy?” tanya Mei.


Roy tampak tidak perduli dengan kegelisahan yang Mei berikan. Dia duduk dengan santai sambil bersandar.


“Huh~ bagaimana aku ingin mengatakannya. Sejujurnya aku tidak rela kak, jika kakak menikah dengan pak tua.” Celetuk Roy.


Mei mengerutkan alisnya. “Aku tidak akan menikahi siapapun. Apa yang ada dipikiranmu?” tanya Mei.


Roy terkekeh mendengarnya. “Kakak telah berubah ya, dulu kakak akan menundukkan kepala jika aku berbicara. Kakak, semakin berbeda.”


Perasaan tidak enak semakin menjadi dihati Mei, dia memilih untuk menjaga jarak dari adiknya. “Dengar Roy, jika ingin mengatakan sesuatu katakan saja. Jangan berbicara hal yang tidak penting.”


“Benar, seharusnya aku tidak perlu berbasa basi sekarang. Baiklah, Kakak Meiku yang cantik, Aku mencintaimu!” ucap Roy dengan menatap serius pada Mei.


“A-Apa?” Mei tercenga, dia tidak percaya akan mendengar hal ini dari adik angkatnya. “Hei Roy, apa yang kamu ucapkan?” tanya Mei.


Sang adik angkat hanya tersenyum, dia bangun dari duduknya dan menatap kearah pintu gudang. “Kakak, bagaimana kalau kita kabur dari sini.” Celetuk Roy lagi.


Mei diam dengan mata yang tidak berkedip. Jika Roy tidak berbalik menatapnya,dia tidak akan sadar. Mei memutuskan untuk berpikir positif dengan apa yang terjadi. Selama ini, dia yang paling di benci oleh Roy.


Mustahil Roy jatuh cinta kepadanya, Mei mengatur semua rasa kecemasan didalam diri. “Roy, hentikan semua ini. aku tahu kedatanganmu kesini, pasti untuk mengancamku kan?” tanya Mei.


Ditatap seperti itu, Mei semakin tidak tenang. Dia merasa ada yang salah dengan Roy di sini. “Hentikan Roy! Jangan berpikir hal seperti itu.” ucap Mei mengingatkan.


Namun, Roy dengan tenang tersenyum. Dia bangun dengan cepat dan menatap kearah Mei. “Seharusnya aku tidak menyakitimu. Sayang, cintaku kepadamu hanya sebuah perasaan sesaat.” Ucap Roy dengan mendekat perlahan.


Mei berusaha bangun, tubuh yang lemah itu seketika bertenaga ketika dia merasa terancam. “Menjauh dariku!” teriak Mei.


Roy menangkap tangan Mei hingga sang pemilik terkejut melihatnya. “Jangan pergi Kakak, aku hanya ingin berbicara denganmu.” Ucap Roy.


Mei semakin kuat menarik tangannya, dia merasa Roy saat ini sedang bermain-main. “Apa yang kamu pikirkan Roy. Jika ingin menyakitiku katakan saja!”


Roy tersenyum,senyum itu tampak sedang mengejek dirinya. Tidak lama rasa sakit terasa dipipi Mei. Matanya melihat kedatangan Ibu angkat dengan wajah memerah.


“DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI! KAMU INGIN MENGODA PUTRAKU!” ibu angkat kembali menampar Mei di tempat yang sama.


Rasa panas tidak lagi bisa menjernihkan pikiran Mei. Mei meringis kesakitan dan berusaha untuk menjauh dari Ibu Angkatnya.


Namun, tubuh yang tidak makan selama tiga hari itu, tidak akan sanggup. Pijakkan Mei tidak kuat hingga dia terduduk lemas seketika.


Ibu angkat memaksa Mei untuk berdiri kembali. Ditariknya rambut Mei hingga wajah yang pucat itu meringis kesakitan. “Ti-Tidak Bu....” ucap Mei dengan menahan tangan Ibu Angkat.


“Apa yang tidak, kamu berani mengoda putraku. Aku sudah menduga, kamu ini memang seorang j*l*ng! Ibu mu pasti seorang pel*c*r!”


Mendengar ucapan Ibu angkat, Mei bangun seketika. Dia tidak ingat seperti apa ibunya. Tetapi Dia tahu, bahwa Ibunya tidak mungkin seperti itu.


Mei mengangkat tangannya, perlahan dan tepat sasaran. Dia memberikan cap manis di pipi Ibu Angkat. Semua yang melihatnya terkejut, hingga Mia dan Roy bergegas mendekat.


Tidak ada yang percaya dengan tindakan Mei. Semua memerah seketika. “APA YANG KAMU LAKUKAN, MEI!” teriak Roy.


Mei menarik baju kaos yang Roy kenakan. Tatapannya dengan tajam melihat mata Roy. “Roy, kamu yang memulai ini semua!”


Roy tidak tinggal diam, di hempaskannya tangan Mei hingga sang kakak terduduk. “Aku tidak berbohong dengan ucapanku barusan. Aku memang pernah mencintaimu!” Ucap Roy.


Mei tidak perduli lagi dengan apa yang terjadi. Rasa sakit karena tamparan sang ibu, dia juga terduduk hingga kakinya lemas tidak berdaya. Luka cambuk belum sepenuhnya sembuh, Mei berharap Findre datang dan mengendong tubuh lemah ini.


“Anak ini!” Ibu Angkat ingin mendekati.


“Selamat malam.” Ucap seseorang yang berhasil membuat semua menatap kearah pintu gudang. Seorang pria berdiri dengan wajah tenang.


Mei mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang telah datang. Matanya berbinar ketika Pria itu melangkah mendekat.


Tidak ada yang menegur kedatangan dari Pria yang tidak dikenal. Hanya, Roy yang tercenga hingga mematung ditempat.


Mei melihat Kekasihnya datang dengan wajah tenang, seketika gembiar.Pria yang dicintainya berjongkok dan mengangkat tubuhnya dengan hati-hati.


“Maaf, aku terlambat.” Ucap Findre.


Mendengar ucapan Findre, Mei menangis seketika. Dia memeluk sang kekasih yang kini melangkah pergi meninggalkan gudang.


“Permisi.” Ucap Findre dengan lembut. Tidak ada yang menegur bahkan menghalangi mereka. Mei merasa aman setelah dibawa pergi oleh kekasihnya.


“Apa kamu terluka?” tanya Findre, Mei mengeleng seketika. Pelukkannya semakin mengerat hingga dia mendapatkan teguran dari sang kekasih.


“Kamu ingin membunuhku?” Findre mengubah gendongannya menjadi ala koala. Mei dengan santai bersandar di bahu Findre.


“Kita Pulang, Mei.” Ucap Findre.


Mendengar ucapan Kekasihnya, Mei tersenyum. “Hm.”