
Di ruang tamu, tampak sekumpulan pria tengah berdiskusi dengan seorang wanita. Suasana di ruangan itu sangat mencengkam, karena mereka tidak saling menyukai.
“Aku tidak ingin menerima tamu sepertimu, Dire.” Ucap Ibu Putri dengan pandangan tidak suka.
Pandangannya tidak menganggu senyum Dire. Pria yang baru saja menghancurkan keluarga sederhana dengan janji manis padanya.
“Tenang saja, kedatanganku disini akan menjadi yang terakhir kalinya.” Ucap Dire dengan santai.
Ibu Putri hanya menghela nafas dengan kasar. “Katakan, apa yang kamu inginkan?”
Dire mengangguk mendengarnya. Mulutnya ingin berucap, tetapi langkah kaki seseorang menarik perhatian mereka.
“Ibu, aku akan berangkat ke sekolah, hm....” Putri menatap kearah Pria yang mengangguk kepadanya.
Dia ingin membalas anggukkan kepala yang merupakan sapaan secara tidak langsung. Tetapi, sang Ibu dengan cepat menarik perhatiannya.
“Pergilah, pengawal!” ucap Ibu Putri. Para pengawal langsung mengangguk dan membawa Putri meninggalkan ruang tamu.
Putri menatap bingung dengan tingkah Ibunya. “Apa terjadi sesuatu?” benak Putri.
“Lanjutkan,” ucap Ibu Putri.
Dire tersenyum melihat wanita beranak satu ini. wanita yang mampu menghasilkan uang dari kerja kerasnya sendiri.
“Baiklah, aku ingin meminta bantuan kepadamu.” Ucap Dire.
Ibu Putri mengerutkan alisnya. “Bantuan, bantuan apa?”
“Anakmu berteman dengan gadis bernama Mei bukan?” tanya Dire. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Ibu Putri, tetapi Dire mendapatkan jawaban dari suasana yang menjadi dingin ini.
“Sepertinya benar. Maka, aku ingin kamu membantuku untuk menangkapnya, bagaimana?” tanya Dire.
Ibu Putri terdiam sesaat. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Tetapi, aku memiliki permintaan juga....”
“Katakan saja.” Ucap Dire dengan wajah senangnya. Dia akan mendapatkan Mei dan akan menjaganya hingga bisa mendapatkan penerus keluarga dari rahim Mei.
“Jauhkan gadis itu dari anakku!” ucap Ibu Putri, Dire mengangguk dengan puas.
...°°°...
Seperti apa yang dikatakan oleh Mei, dia akan bersekolah hari ini. seragam sudah dikenakan olehnya, rambut panjang sudah di tata dengan rapi. Mei siap bersekolah.
“Kamu yakin akan bersekolah?” tanya Findre.
Mei dengan cepat menganggukkan kepala. Dia tidak ingin waktunya terbuang sia-sia. Kepergiannya nanti akan membuat sahabatnya bersedih bukan? Jadi sebelum itu terjadi, Mei ingin membuat kenangan indah bersama sahabatnya.
“Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat.” Findre mengulurkan tangannya kepada Mei.
Melihat uluran tangan yang selalu melindunginya, Mei bergegas menyambut uluran itu. mereka berdua berangkat ke sekolah bersama.
Suasana yang sangat indah, matahari pun menyetujuinya. Jalanan ramai membuat Mei merasa tenang, dia mengenggam erat tangan Findre.
“Mei!” panggil Findre.
Mei menoleh dan menatap mata sang kekasih. “Hm? Ada apa?” tanya Mei. Findre tidak menjawab apa yang Mei tanyakan. Mereka kembali berjalan dengan suasana yang tenang.
Setiba di gerbang sekolah, Mei melihat kedua sahabatnya telah tiba. Dia bergegas untuk mendekat, tetapi sang kekasih menariknya hingga dia di peluk dengan erat.
“Fi-Findre?” Mei bingung melihat tingkah Findre. Tidak biasanya sang kekasih melakukan hal seperti ini.
Pelukkan itu tidak berlangsung lama, Mei terkejut ketika dia mendapati bahwa Findre pergi meninggalkannya.
“Kebiasaan, dia pergi tanpa pamit.” guman Mei. dia melihat bulu hitam melayang didepannya. Saat ingin menyentuh bulu itu, perhatiannya teralihkan karena teriakkan sahabatnya.
“Mei!” teriak Putri dan Lestari. Keduanya berlari mendekat kearah Mei.
Mei melambaikan tangan menyambut kedatangan sahabatnya. “Hai, gimana kabar kalian.” Sapa Mei.
Kedua sahabatnya menangis seketika, mereka memeluk Mei dengan erat.
“Mei! Kamu tidak apa-apa kan? Maafkan aku, maafkan aku.” Ucap Lestari.
Lestari melepaskan pelukkannya. Suara cegukkan bersama air mata yang mengalir membuat Lestari tampak begitu aneh.
“Ah, kalian ini ... berhentilah menangis.” Ucap Mei sambil memberikan tisu kepada sahabatnya.
“Hiks, kami mendengar kalau pengawalku menghalangi mu. Aku bertanya kepada ibuku, apa yang dia lakukan. Ternyata dia bersekongkol dengan seseorang dan menangkapmu. Mei, maafkan aku ... huaaaaa!” Lestari kembali menangis setelah menjelaskan apa yang terjadi.
Tidak tinggal diam, Putri ikut berucap. “Benar, aku pun kaget pas tahu kalau kamu di bawa paksa sama Roy dan Mia. Mei, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Putri.
Mei mengingat kejadiannya saat itu. sebenarnya dia juga merasa marah ketika tahu orang tua sahabatnya ikut campur. Tetapi, dia lah penyebab semua ini terjadi. Seharusnya Mei tidak berteman dengan Putri dan Lestari.
Namun, persahabatan yang sudah terjalin begitu lama tidak bisa menghilang begitu saja. Mei tidak bisa marah kepada sahabatnya. Dia memeluk Lestari dan Putri untuk menenangkan mereka.
“Sudahlah, aku baik-baik saja kok. Yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang, bagaimana kalau kita menikmati hari ini?” ucap Mei sambil menuntun sahabatnya masuk kedalam gerbang sekolah.
Lestari dan Putri mengangguk mendengar apa yang Mei ucapkan. Mereka akan menikmati momen bersahabat ini.
“Apa yang akan kita lakukan ya....” ucap Mei sambil berpikir. Lestari dan Putri ikut berpikir melihat Mei melakukan hal itu.
“Bagaimana kalau kita bermain di-,” ucapan Lestari terhenti.
Mei menatap kearah pandangan Lestari, dua pria berdiri menghalangi langkah mereka. “Oh, Fandra dan Fandri bukan?” ucap Mei.
Fandra dan Fandri mengangguk bersama-sama. “Maaf mengangguk kegiatan kalian, tetapi ada yang ingin kami tanyakan kepadamu, Mei. Tolong jawab dengan jujur.” Ucap Fandra.
Mei mengerutkan alisnya, dia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, Putri sudah menghalanginya.
“Jika hal yang tidak penting jangan menganggu kami, Fandra!” Ucap Putri dengan peringatannya.
Fandra mengangguk. “Tenang saja Putri, ini tentang Kakak tertua kami, Findre!” ucapnya.
Mei terteguh mendengar apa yang Fandra ucapkan. Perasaan tidak enak muncul di benaknya.
“Findre, siapa dia?” tanya Lestari.
Fandri tersenyum dan mengelus kepala tunangannya. “Dia kakak pertama kami. Lebih tepatnya, penerus sebenarnya keluarga Altha.” Jawab Fandri.
Mei terkejut mendengar apa yang Fandri ucapkan. Tubuhnya tiba-tiba mundur yang membuat Fandra menahan tangannya.
“Aku tahu ini mengejutkan untukmu. Tetapi, Findre memang kakak pertama kami.” Ucap Fandra, dia melepaskan tangan Mei.
Putri dan Lestari menatap kearah Mei dan Fandra secara bergantian. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Tunggu, aku tidak mengerti dengan apa yang kalian katakan.” Ucap Mei. Pikirannya tidak berjalan, seolah terhenti di kalimat Findre 'penerus sebenarnya keluarga Altha.'
Selama tinggal bersama Findre, Mei tidak tahu apa pun. Dia hanya tahu bahwa Findre seorang pembunuh. Tetapi, setelah mendengar ucapan Fandra, Mei mengingat rumah dan Bi Ta.
“Apa semua ini cuma kebetulan?” benak Mei.
“Mei, katakan saja ... tolong jawab pertanyaan Kami.” Ucap Fandra dengan wajah lelah. Mei menjadi bingung karenanya.
“Ehm, Iya ... apa yang ingin kalian tanyakan?” Tanya Mei setelah berperang dengan dirinya sendiri.
Fandra dan Fandri tampak puas mendengarnya, mereka bergegas menjelaskan apa yang ada di benak mereka.
"Apa Pria yang bersama, bernama Findre?" Tanya Fandri. Mei mengangguk menjawab pertanyaan itu.
“Mei, tinggalkanlah Findre. Dia seharusnya tidak berada di sini.” Ucap Fandra.
Mei tambah bingung memahami segalanya. “Tunggu, Tidak berada disini? Apa yang kalian katakan?” tanya Mei.
Fandra menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat. “Mei, Findre yang bersamamu bukanlah Findre kami. Lebih tepatnya, dia seharusnya tidak ada di dunia ini.” jelas Fandra.
Hari yang bercahaya seketika berawan. Cahaya matahari tertutupi dengan awan hitam. Tidak lama, hadir rintikan hujan mengenai wajah Mei. Dia merasa hari ini tidak berjalan sesuai rencananya.
“Dua tahun yang lalu, Findre di nyatakan meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Mei, yang bersamamu bukan Findre, tetapi orang lain berwujud dirinya.” Lanjut Fandra.
Mei membeku seketika, hujan semakin deras turun. Tidak ada rasa dingin di tubuhnya, yang ada hanya pikiran kosong setelah mendengar ucapan Fandra.
“Findre ... sudah meninggal dua tahun yang lalu?” guman Mei.