Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 12: Sekolah



Hari yang ditunggu telah tiba. Mei merasa senang menyambut kebebasannya. Luka ditubuh Mei telah sembuh, ia bisa membantu pekerjaan Bi Ta, dari memasak hingga Beres-beres rumah dan segala kebiasaan yang sudah menjadi keseharian Mei sendiri.


Selama Mei dalam pengawasan Findre, tidak ada rasa takut atau khawatir yang menghantuinya. Ditambah, rasa cinta yang semakin menjadi-jadi bagi Mei. Tetapi, Mei sudah menetapkan keteguhan dihati, ia tidak akan melupakan tujuannya.


“Findre!” teriak Mei dengan melangkah menuruni tangga. Aura kebahagiaan terpancar di wajah Mei, ini sudah seminggu sejak dirinya tidak masuk sekolah. Jadi, saat ini waktunya menagih janji kepada sang kekasih.


Mei masih mencintai sekolahnya, karena di sana ia bisa bertemu dengan kedua sahabat, lalu belajar untuk menambah ilmunya. Maka dari itu, Mei mencari sang kekasih untuk meminta izin, agar ia bisa kembali bersekolah.


Diruang tengah, Mei melirik ke segala arah, ia tidak melihat batang hidung sang kekasih, hingga Bi Ta yang sedang membawa tas berisi pakaian.


“Ada apa Nona Muda? “tanya Bi Ta melihat kedatangan Mei.


“Bi,dimana Findre?”tanya Mei. Entah kemanakah kekasihnya itu berada.


Bi Ta yang mendengar pertanyaannya terteguh. “Nona Muda, bukannya Tuan Muda sudah pergi tiga hari yang lalu?”


Bi Ta mengingat setelah acara makan malam pertama ia datang kesini, Findre sering keluar dan jarang pulang. Kadang Pulang pun tidak menemui Mei, Entah apa yang terjadi kepada keduanya. Dan yang Bi Ta ingat, Tuan Muda sempat mengunjunginya...


Findre datang mengetuk pintu kamar Bi Ta yang saat ini tengah tertidur.


Mendengar ketukkan pintu kamar, Bi Ta bangun dan bergegas membuka pintu. Dilihatnya Tuan Muda yang datang dengan wajah serius.


“Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?” tanya Bi Ta sambil menahan kantuk dimatanya.


“Bi Ta, selama beberapa hari nanti, aku akan jarang ke rumah. Tolong Bi Ta rawat Mei dan jaga kesehatannya.”


Mendengar ucapan dari Tuan Muda membuat Bi Ta mengerutkan alisnya. Bi Ta ingin bertanya alasan kenapa Tuan Mudanya ini datang di tengah malam, saat ingin bertanya, Tuan Muda sudah tidak ada didepannya lagi.


“Lah?”


“Eh Pergi? Apa dia tidak memberi kabar kepada Bi Ta?” tanya Mei, Ia sebenarnya sudah tahu bahwa Findre tak mungkin betah mengurusnya, Bisa saja ia tengah melayani para mangsa untuk dibunuh.


Bi Ta menggeleng. “Tuan Muda hanya memberi tahu saya untuk merawat anda.”


Mei yang mendengarnya mengangguk. sekarang Ia harus lebih memahami Findre, agar nanti dirinya tidak ditinggalkan seperti ini. masalahnya, pergi tanpa pamit dan tanpa kabar yang jelas membuat Mei khawatir.


“Sudahlah Bi, Mei tunggu saja kedatangannya. Oh ya Bi biar Mei bantu.” Mei menyerah memikirkan kepergian sang kekasih. Lebih baik ia patuh dan menepati janji, bahwa ia tidak akan keluar rumah tanpa seizin dari Findre.


Sebenarnya, hati Mei merasa sakit saat tahu Findre pergi tanpa mengabarinya, tetapi rasa sakit itu menghilang dengan keinginan Mei sendiri.


Bi Ta yang berdiri di seberang Mei terdiam. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa untuk masalah ini. sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan oleh Bi Ta. Seperti, apa Tuan Muda dan Mei sedang bertengkar? Atau Tuan mudanya tengah berselingkuh dengan orang lain, apa mungkin Tuan muda memiliki Istri utama, bisa dibilang permaisuri, atau jangan-jangan Tuan Muda memang punya dua istri?


Semakin Bi Ta memikirkannya, semakin liar pula pertanyaan yang ada di dalam pikiran. Bi Ta tidak ingin berpikir negatif tentang hal ini, ia berharap hubungan Mei dan Findre baik-baik saja.


...°°°...


Siang harinya...


Mei bermain dengan kertas origami yang baru saja dibelikan oleh Bi Ta. Sudah menjadi kebiasaan untuk Mei menikmati waktu luang dengan kertas Origami, Mei bisa membuat berbagai hal menarik untuknya.


“Nona Muda, boleh Bi Ta meminta izin untuk kembali ke kediaman utama?” tanya Bi Ta dengan berdiri tak jauh dari Mei. Bi Ta sudah seminggu berada di kediaman Tuan Muda, ia harus kembali untuk menemui Nyonya Besar.


Mei merasa dirinya bukan bagian dari rumah ini. dipanggil Nona Muda saja sangat sulit baginya, perlu berhari-hari untuk beradaptasi.


“Ah maaf Nona Muda, Anda pasti bingung dengan pertanyaan saya, ya sudah lebih baik menunggu Tuan Muda kembali.” Bi Ta tidak ingin meneruskan pembahasan ini lagi, ia tidak ingin melihat Mei bersedih.


“Apa Tuan Muda benar-benar menjadikan Mei sebagai gadis simpanan? Mei sampai bingung gitu dengan statusnya, akan ku tanyakan kepada Tuan Muda dan memarahinya karena meninggalkan Mei tanpa pamit.” Benak Bi Ta, ia kembali pergi setelah pamit dari Mei.


Mei menatap kepergian Bi Ta, wajah Bi Ta tampak khawatir entah karena apa.


“Bi Ta baik banget, tapi ngomong-ngomong, kenapa Findre menyuruhnya kesini?...sudahlah, lagian itu bukan urusanku.” Guman Mei, ia melanjutkan kembali rangkaian kertas origami yang sempat tertunda.


...°°°...


Malam hari telah tiba...


Mei tengah membersihkan diri dikamar mandi. Ia melantunkan nada indah yang menggema di dalam ruangan, tentu saja waktu mandi hari ini lebih lama dari biasanya. Lagi pula sang kekasih tidak akan pulang, ia sudah menunggu seharian penuh. Jadi Mei sudah memastikan, Findre tidak akan pulang hari ini.


“Aku terlalu memikirkan Findre hingga lupa dengan kedua sahabatku sendiri. bagaimana kabar mereka ya?” guman Mei. Setelah selesai menikmati waktu mandi yang begitu lama, Mei menggunakan jubah mandi yang diberikan oleh Findre kepadanya.


Perlahan Mei membuka pintu kamar mandi. Pandangannya menatap kearah sandal yang ingin ia kenakan.


“Kenapa kamu mandi begitu lama, apa mandimu itu sangat mahal hingga menghabiskan banyak waktu?”


Mei kaget mendengar pertanyaan yang ada di samping pintu. Kakinya terpeleset karena salah mengenakan sandal.


“Agh!”


Mei menutup mata ketika melihat ia sudah mendekati ubin lantai, Mei bersiap merasa rasa sakit akibat keterkejutannya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Findre membisik ditelinga Mei.


Mei yang merasa bahwa ia aman-aman saja, memberanikan diri untuk membuka mata. Ia melihat dengan jelas tubuh seseorang yang mengenakan kaus oblong berwarna biru tua.


“Findre, apa itu dirimu?” tanya Mei dengan bangun perlahan. Tetapi Findre menahan pinggang Mei dan mengembalikan Mei untuk berbaring didadanya.


“Berhenti! Jubah mandimu terbuka. ” ucap Findre yang membuat Mei langsung memperhatikan jubah mandinya.


“Maafkan aku,” Mei dengan cepat memperbaiki jubah mandinya, setelah aman Ia bangun dengan duduk di samping Findre.


“Kapan kembali?” tanya Mei berusaha untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.


Findre mengulurkan tangannya untuk membantu Mei berdiri. Mei yang melihatnya menyambut uluran tangan itu.


“Tiga puluh menit yang lalu” jawab Findre yang ingin melangkah pergi.


Mei tersenyum menatap punggung Findre, ia bergegas memeluk sang kekasih dari belakang.


“Apa yang kau lakukan?” Kaget Findre dengan menoleh ke belakang.


Keduanya saling bertatap hingga Mei berucap.“Aku merindukanmu Findre.” Setelah ucapan itu,Mei pergi dengan wajah memerah, ia tidak tahu bahwa saat itu juga Findre memantung ditempat.