
Mei dan Putri mengunakan sisa waktu istirahat untuk mencari Lestari. Mereka berdua melangkah menuju keseluruh kelas.
“Kita sudah mencarinya Mei, Lestari pasti membolos.” Ucap Putri dengan nada kesalnya.
Mei tahu Lestari dari kelas 10 sudah sangat bermain-main dengan sekolahnya. Tetapi, Lestari berjanji kepada mereka untuk tidak lagi bermain agar masa depan Lestari di gapai dengan sempurna.
Melihat kondisi sekarang, Putri tampak tidak begitu mempercayai apa yang Lestari janjikan. Mei yang memahami perasaan Putri bergegas untuk menenangkannya, Mei tidak ingin persahabatan mereka retak begitu saja.
“Tenanglah Putri, Lestari pasti sedang ada di suatu tempat. Ah, bagaimana kalau kita mencarinya di halaman belakang sekolah, di sana tempat yang cocok untuk membolos.” Usul Mei.
Putri dengan lemas mengangguk, mereka kembali mengambil langkah menuju ke halaman belakang sekolah.
Tiba di sana, Mei dan Putri berhenti melangkah bersamaan. Mereka saling tercenga melihat dua murid yang berdiri tepat didepan mata.
“A-,” Mei tidak melanjutkan ucapannya. dia tidak bisa berkata-kata melihat Lestari bersama seseorang.
“Wah! Sudah ku duga ya ... Lestari, Kamu benar-benar nakal ya.” Putri berdiri didepan Mei sambil menatap kearah Lestari.
“Dengar dulu Putri, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku....” Lestari berhenti berucap melihat Putri menatap datar kearahnya.
“Apa? Apa yang ingin kamu katakan Lestari? Kamu menyembunyikan ini semua dari kami, kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya. Kamu pasti menduga kami akan membencimu kan,” Putri berbicara dengan begitu serius. Dia yang bertubuh pendek mampu membuat Lestari terpojok.
“Dengar Lestari, kami tidak akan membencimu jika kamu mengatakan segalanya. Kami akan berusaha untuk memahamimu, jadi jangan menyimpan rahasia seperti ini.” lanjut Putri dengan wajah kecewa.
Mei bergegas berdiri di tengah-tengah sahabatnya. Dia tidak ingin ada lagi ungkapan kata yang berakhir mengores hati mereka masing-masing.
“Putri tenanglah, kita lebih baik membicarakan ini dengan baik. Pasti Lestari memiliki alasan dengan apa yang terjadi.” Mei menenangkan Putri yang sudah tampak begitu kecewa.
Lestari, gadis yang sangat mustahil untuk bisa mencintai lelaki. Tidak hanya itu, Lestari sangat membenci kata pacaran. Maka tidak heran, Putri kecewa saat melihat Lestari bersama dengan seorang Pria yang tidak mereka kenali. Tidak, Mei mengenali Pria itu.
“Kita lebih baik membahas ini di gazebo.” Ajak Mei. Lestari dan Putri pun mengangguk.
Tiba di gazebo, ketiganya duduk saling berhadapan. Sedangkan, seorang Pria yang bersama Lestari duduk di sampingnya.
“Oke baiklah, Lestari bisa kamu menjelaskan yang terjadi?” tanya Mei sambil menatap Pria yang tersenyum kearahnya. “Tidak salah lagi, Pria ini adalah Fandri.” Benak Mei.
“Terima kasih Mei, maaf Putri ... tidak ada niatku untuk berbohong dari kalian, aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya menyinggirkan Pria ini dariku. Bisa di bilang, Kami sudah bertunangan beberapa hari yang lalu, dan dialah yang menjadi tunanganku. Namanya Fandri, Atha Fandri.” Jelas Lestari sambil menatap acuh kepada Fandri.
Mei mengingat Fandri mengatakan bahwa dirinya telah bertunangan dengan seseorang, siapa yang menduga kalau Lestarilah tunangannya.
“Jadi kalian sudah bertunangan?” tanya Mei. Lestari dan Fandri mengangguk bersama.
“APA!” Putri mengebrak meja dengan reaksi terkejut. Dia tidak bisa mempercayai apa yang terjadi. “Hei Lestari, kamu juga bertunangan, dengan keluarga Atha?”
Mei tidak terlalu mendengar jelas Lestari memperkenalkan Findre, setelah Putri menjelaskan dengan reaksi kejutannya. Mei tersadar seketika, Atha bukan keluarga biasa. Dia tidak menduga sahabatnya bisa bertunangan dengan keluarga luar biasa itu.
Lestari mengangguk. “Yeah mau gimana lagi ... dia menceletus setelah bertemu denganku, kalian ingat saat ku izin waktu itu. saat itu hari pertunanganku diadakan. Orang tuaku sangat menyetujui hubungan kami.” Lestari tampak engan untuk menjelaskan segalanya.
Pria bernama Fandri tersenyum dengan wajah yang begitu ramah. Mei dan Putri yang melihatnya saling berpandangan.
“Mei bukan?” tanya Fandri.
Mei mengangguk seketika. “Fandri, senang bertemu kembali denganmu.” Ucap Mei.
Lestari dan Putri saling menatap bingung melihat interaksi mereka. “Oh, jadi gadis yang ingin kamu nikahi itu adalah Mei? Waah engak beres ini orang.” Lestari menatap tidak percaya dengan Fandri.
Melihat ketidakpercayaan Lestari, Fandri bergegas merangkul tunangannya. “Iya memang begitu, aku juga sudah mengatakannya kepada Mei. Sayangnya aku sudah jatuh cinta kepadamu. Jadi, aku hanya menyampaikan saja apa perasaanku.” Jelas Fandri.
Mei hanya bisa mengeleng melihat Fandri yang santai menjelaskan segalanya. Seakan-akan Fandri terbiasa dengan semua hal itu.
Berbeda dengan Lestari yang menjauhkan tangan Fandri. “jangan berharap aku akan jatuh cinta kepadamu, mengerti!”
Putri yang melihat kemesraan didepannya segera berdiri. “Mei mari pergi! kalau kita disini, kita hanya akan menjadi obat nyamuk untuk mereka.”
Mei terteguh mendengar apa yang di ucapkan oleh Putri. “Kita, jadi nyamuk?” tanya Mei, Putri mengangguk dengan cepat.
“Ayolah jangan begitu Putri. Kamu juga punya tunangan kan?” Lestari tidak tinggal diam,dia memulai ejekan karena tidak terima dengan ucapan Sahabatnya.
Putri mendengar hal itu seketika menatap tajam kearah Lestari. “Iya, lalu kenapa? Kamu juga sudah mendapatkan keluarga Atha bukan, agh Lestari jangan membuat aku mengingat si Fandra!”
“Hahaha, maaf lah ... tapi ngomong-ngomong dimana tunanganmu?” tanya Lestari dengan senyum liciknya.
Putri merasa jengkel dengan apa yang Lestari ucapkan, dia dengan segera melangkah menuju kearah Lestari.
Tidak tinggal diam, Lestari berlindung di belakang Fandri. “Apa hayo, pasti pengen mukul kan?” ledek Lestari.
Mei tertawa melihat sahabatnya yang tampak bahagia. memandang kebahagiaan mereka, Mei teringat dengan kekasihnya yang entah dimana. Apakah Findre sedang belajar atau sedang bermain dengan teman sekelasnya.
Memikirkan sang kekasih, Mei teringat dengan ucapan Findre tadi pagi.
“Tidak ada yang akan menganggumu.”
Mei menatap sekelilingnya, ucapan Findre benar. Tidak ada Mia atau Roy di sekitarnya, bukan hanya itu. di kelas, Mia tampak tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
“Apa yang Findre lakukan hingga Mia dan Roy tidak berbuat apa-apa kepadaku?” benak Mei.
“Mei jangan melamun, ayo kembali kekelas bel sudah berbunyi.” Lestari dan Putri menarik Mei bersamaan. Mereka kembali kekelas dengan berpamitan dari Fandri.
...°°°...
“Baik anak-anak, sampai disini pelajaran kita. Jangan lupa untuk istirahat dan mengerjakan tugas kalian, tidak lama lagi akan ada ujian yang harus kalian ikuti. Setelah ujian, kalian akan melakukan pekerja lapangan, jadi persiapkan dengan baik ya.”
Guru melangkah pergi meninggalkan kelas setelah memberi beberapa kata penutup.
Mei bergegas menyiapkan tasnya untuk pulang ke rumah dan bersembunyi dari kejaran Roy. Dia tidak tahu kapan Roy akan bertindak, setidaknya Mei berada didekat Findre agar dia tidak tertangkap.
“Mei, kami duluan ya.” Ucap Lestari. Mei menatap kearah pintu kelas, sang Tunangan sahabatnya sudah berada disana.
“Baiklah, hati-hati.” Ucap Mei dengan tersenyum melihat kepergian sahabatnya.
Mei menatap kembali kearah tas yang sudah siap untuk di gendong. Saat ingin meninggalkan mejanya, Mei tidak sengaja menubruk tubuh Mia yang melewati dirinya.
“Cih! Menyinggirlah.” Ucap Mia dengan decihan kasar.
Melihat kepergian adik angkatnya itu, tidak ada yang ingin menangkapnya. Mei semakin merasa aneh melihat Mia, karena mata Mia tampak tidak bernyawa.
“Apa telah terjadi sesuatu? Ah, lagi-lagi aku berpikir yang salah. Findre pasti tidak menyukai hal ini.” benak Mei, dia melangkah keluar kelas.
Tiba di halaman depan sekolah, Mei melihat sang kekasih menunggunya di dekat gerbang. Dengan segera Mei bergegas mendekat kearahnya.
Uluran tangan Findre terarah kepada Mei. Melihat sang kekasih mengulurkan tangan, Mei segera mengenggam tangan itu.
“Kamu lama sekali.” Ucap Findre sambil melangkah terlebih dahulu.
“Maaf,” Mei tersenyum melihat perhatian Findre, Berdiri dibelakang dan menatap punggung sang kekasih, Mei tahu bahwa tidak lama lagi dia akan pergi meninggalkan segalanya.
...°°°...
Di gerbang sekolah, seorang Pria dengan wajah khawatir mematung di tempat. “A-aku tidak menduganya, dia benar-benar di sini.”