Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 29: Tunggulah



Mei menatap bingung dengan apa yang terjadi, Findre mengajaknya ke suatu tempat, entah kemana. Mei hapal jalan pulang, jadi dirinya bisa tahu jika Mereka sedang menuju ke arah lain.


“Findre, kita ingin kemana?” tanya Mei. Ditatapnya punggung tegap Findre yang fokus dengan perjalanan mereka.


Mei tidak mendapat jawaban dari sang kekasih memilih untuk diam. Dia mengikuti kekasihnya tanpa ragu-ragu, Mei tahu bahwa hatinya sudah sangat mempercayai Findre. Jadi, tidak ada kekhawatiran dengan apa yang Findre lakukan.


Mereka terus melangkah tanpa lelah, Mei bahkan tidak lagi perduli kemana dia di bawa. Mata Mei lebih menikmati matahari yang akan terbenam.


Sudah biasa bagi Mei dengan pandangan orang-orang yang melihatnya. Mei bahkan merasa tuli mendengar bisikkan orang tua yang dia lewati.


“Anak jaman sekarang, mereka itu tidak malu ya.”


“Sudah jangan di bicarakan, jaga saja putra putri kalian. Jangan sampai seperti mereka.”


“Jika dia putriku, aku akan mengusirnya dari rumah.”


“Kalau aku akan mengurungnya hingga dia tidak mengulangi lagi apa yang dia perbuat.”


Seperti apa yang sudah di alami, Mei tidak menghiraukan mereka. pandangan yang mengesankan sangat di sukai oleh Mei dari pada mendengar orang-orang yang menceritakannya.


“Indahnya!” Mei mengenggam erat tangan Findre yang menuntunnya. Dia merasa senang melihat semua ada didepan mata.


Hati Mei semakin senang melihat begitu banyak orang-orang membawa balon di tangan mereka. Tidak hanya itu, dia melihat ada banyak orang bermain disalah satu kios yang ada.


Mei jadi penasaran dan ingin bermain melihat banyak yang mencobanya. Findre berhenti melangkah tiba-tiba yang membuat Mei menubruk tubuh sang kekasih.


“Apa yang terjadi?” tanya Mei sambil menatap Findre.


Findre melirik kios dan menatap Mei dengan pandang datar. “Kamu ingin bermain?” tanyanya.


Mei tercenga sesaat, sadar jika Findre menawarkan sesuatu yang di inginkan Mei. Mei secepat mungkin mengangguk, “Iya aku mau!” jawab Mei.


Findre menarik tangan Mei menuju salah satu permainan yang ada. mata Mei berbinar melihat hadiah yang ada di sekitar kios.


“Tiga kali lempar ya, kenakan pada piramida kaleng ini. jika semua terjatuh, kamu akan mendapatkan hadiah, hadiahnya bisa dipilih kok.” Jelas penjaga Kios.


Findre mengangguk, dia menyerahkan tiga bola bisbol di tangan Mei. “Eh- aku?” tanya Mei dengan ragu.


Findre menatap Mei. “Aku hanya menonton, lemparlah dan dapatkan apa yang kamu inginkan,” Ucapnya.


Mei meneguk silvanya dengan paksa, dia menatap tiga bola yang ada ditangan, lalu menatap kearah piramida kaleng yang tersusun dengan rapi.


“Aku harus menjatuhkan semua itu?” tanya Mei menatap kearah Penjaga Kios.


“Benar, silahkan!” jawab Penjaga Kios dengan mengambil jarak untuk menjauh dari area pemain.


Mei menatap Findre yang berdiri di sampingnya. “Bagaimana jika aku gagal?” tanya Mei.


Findre tidak menjawab apa yang Mei tanyakan, Dia lebih memilih untuk mengusap kepala Mei sebagai penyemangat.


Merasakan dukungan Findre, Mei menarik nafas dan mengambil posisi untuk melempar bola. Dibidiknya sasaran yang akan Mei arahkan, tubuhnya menegak dengan tangan kanan yang sudah siap di posisi.


Sasaran dimata Mei sudah terkunci, tangan kanannya segera melempar bola dalam sekali ayunan. Bola itu melayang hingga mengenai pembatas kios.


“Yah, lemparannya meleset.” Mei menatap bekas bola yang di lempar olehnya. Jarak bola dan piramida kaleng begitu jauh.


Mei kembali memasang posisi untuk melempar, masih ada dua bola di tangannya. Harapan Mei lemparan kali ini mengenai sasaran.


Setelah siap, Mei melempar dengan kecepatan yang sama. lagi-lagi lemparannya meleset hingga Mei merasa kesal.


“Sial!” umpat Mei dengan tiba-tiba.


Mei menutup mulutnya setelah mengumpat, dia menatap kearah sang kekasih yang tampak acuh dengan apa yang terjadi.


“Dia, tidak marah?” benak Mei memperhatikan Findre. Melihat kekasihnya tidak merespon apa-apa, Mei kembali fokus dalam permainannya.


“Huh, yah aku baru pertama main jadi mustahil dapat kan?” guman Mei yang mendekati ke arah sang kekasih.


“Ayo jalan lagi!” ajak Mei, tetapi sang kekasih mendekati Kios dan mengambil tiga bola.


Mei terkejut ketika Findre melesatkan bola bisbol dengan santai. piramida kaleng itu hancur seketika, yang bikin Mei tercenga, dinding penghalang retak hingga membuat Piramida yang lain ikut berjatuhan.


“Waaah! Keren!”


“Bravo! Bravo!”


“Mantap anak muda, bisa ikut lempar lebing kalau begini.”


“Setuju.”


Mei melihat banyak orang bertepuk tangan untuk Findre. Sang kekasih tampak acuh dengan apa yang terjadi, bahkan Mei di tarik dalam dekapannya.


“Pilihan Mei, mana yang kamu inginkan?” tanya Findre.


Mei tidak bisa merespon dengan baik setelah melihat kekasihnya yang luar biasa, dia pun memilih dengan asal menunjukkan jari.


Penjaga kios secepat mungkin memberikan hadiah yang Mei inginkan. Dia takut kiosnya roboh jika Findre masih ingin bermain.


Mei paham dengan kekhawatiran dari sang Penjaga Kios, dia dengan cepat membawa Findre meninggalkan tempat itu.


“Apa kamu suka dengan boneka yang ada ditanganmu?” tanya Findre.


Mei sadar kalau dirinya salah memilih.


Orang-orang yang Mei lihat membawa boneka besar hingga memeluknya. Sedangkan Mei memilih dua boneka kecil, sebesar ibu jari. Tentu saja, tidak ada yang ingin memilih boneka itu.


“Ah, maaf ... seharusnya aku memilih yang lebih baik lagi. tetapi Findre, boneka ini sangat imut kok. Kecil dengan kelembutannya.” Jawab Mei dengan mengenggam erat dua boneka kecil di tangan.


“Findre, kamu harus menyimpan satu. Karena ada warna hitam dan putih, aku akan memberikanmu warna putih.” Mei menyerahkan boneka berbentuk kelinci kepada Findre.


Sang kekasih mengambil boneka kecil itu. “Kenapa aku mendapat warna putih?” tanya Findre.


Mei menjawab dengan santai. “Karena aku menyukai warna hitam.”


Findre terdiam tidak berbicara apa-apa. Mei pun tidak ingin banyak bicara, dia lebih menikmati indahnya hadiah yang di berikan oleh Findre.


“Mei, berhenti!” ucap Findre tiba-tiba.


Mei berhenti dengan dadakkan. Matanya melihat keindahan air mancur yang dihiasi dengan lampu-lampu disekitarnya.


Malam hari yang indah ini sangat terhiasi dengan air mancur yang ada didepan mata. Mei terteguh hingga mematung di tempat.


“In-dahnya!” ucap Mei dengan senyum terukir dibibir.


Findre merangkul Mei dan mendekatkan tubuh mereka berdua. Air mancur yang bergantian memancarkan keindahannya, membuat malam itu serasa istimewa untuk Mei.


“Findre, kenapa kamu membawaku kesini? Ini namanya taman kan?” tanya Mei tanpa menatap sang kekasih.


Findre menyandarakan kepalanya di kepala Mei. “Iya ini taman Mei. Aku mengajakmu kesini karena ada hal penting yang harus kamu ketahui ... tidak lama lagi, aku akan membunuhmu Mei.” Ucap Findre dengan tenang.


Mendengar hal itu, hati Mei merasa ketegangan yang meresahkan benaknya. Dia merasa debaran jantung yang berdetak tidak beraturan.


“Kapan ... kamu akan membunuhku Findre?” tanya Mei, tidak terasa air matanya mengalir tiba-tiba. Mei dengan cepat mengusap matanya agar Findre tidak ragu dengan keputusan yang sudah di tetapkannya.


Namun percuma, Findre terlebih dahulu menatap kearah Mei. Air mata yang mengalir itu di usap lembut oleh jemari Findre.


Tangis Mei pecah seketika, hatinya sakit seakan menolak dengan apa yang didengar. Tetapi rasa bahagia muncul di benaknya ketika tahu bahwa tidak lama lagi dia akan pergi.


“Tunggulah Mei, tidak akan lama lagi ... maafkan aku, membuatmu menangis.” Findre memeluk dengan erat, tidak lupa dengan ciuman singkat di kepala Mei.