Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 37: Gudang (2)



“Apa? Tuan Dire tidak bisa datang untuk beberapa hari ini ... baiklah kalau begitu, terima kasih.” Jakya menutup telponnya. Pandangan mata melirik kearah sang Istri beserta kedua anak yang sedang duduk bersama.


“Bagaimana Suamiku?” tanya sang Istri dengan pandangan berharap. Tidak ada ketenangan diwajah dia karena Mei masih bersama mereka. memberi makan pun terasa sulit dilakukan olehnya.


Jakya menghela nafas sesaat, dia duduk untuk bergabung bersama keluarga kecilnya. “Tuan Dire tidak bisa datang hari ini. mereka akan datang dua hari lagi. ku rasa dua hari lagi sih....”


Penjelasan sang Ayah membuat semua terdiam mendengarnya. Sang Ibu tampak gelisah hingga berdiri secara tiba-tiba.


“Aku tidak tahan, jika dia masih disini. Lakukan sesuatu suamiku.” Ucap Istri tuan Jakya.


Jakya mengela nafas kembali. “Bertahanlah, kamu ingin uang kan?” tanyanya kepada sang Istri.


Ibu Mia hanya bisa bungkam mendengar pertanyaan dari sang suami. Dia memutuskan untuk pergi dari ruang tamu. Malam hari yang indah ini harus dilewati dengan suasana menyedihkan.


...°°°...


Mei menatap kearah dua hidang yang tersaji didepan mata. Dia tidak menyentuh makanan itu, moodnya sangat buruk kemarin. Sepertinya hari ini juga akan bertambah buruk.


“Bagaimana caraku pergi dari sini?” guman Mei. Lirikkan matanya menatap kearah cahaya matahari. Pagi sudah menyambut, sudah satu hari dia berada disini.


Mei merasa bodoh dengan keadaannya. Lemah dan tidak berdaya. Bagaimana mungkin dia begitu percaya diri untuk melawan keluarga angkat ini. membebaskan diri saja dia tidak bisa, memalukan sekali.


“Huh.” Mei menghembuskan nafasnya dengan cepat. Udara pagi membuat suhu tubuhnya menurun seketika. Rasa lapar datang bersama bunyi yang bergema, kemarin dia tidak makan dan hari ini tidak ada niat untuk memasukan satu makanan pun.


“Oh, Kakak ternyata seorang wanita yang kuat ya.” Mia datang dengan cahaya pagi yang masuk karena pintu gudang terbuka lebar.


Cahaya itu mengenai wajah Mei, membuatnya kesulitan untuk melihat keadaan Mia. “Lepaskan, lepaskan aku, Mia.” Ucap Mei ingin meraih adiknya.


Mia menepis dengan cepat tangan yang terulur, dia meletakkan sarapan baru untuk Kakaknya itu. “Kakak, kamu sangat beruntung kemarin. Suamimu tidak bisa datang menjemputmu, jadi kakak harus bersabar ya ... setelah suami kakak datang, kakak pasti akan bebas.” Ucap Mia.


Langkah kaki Mia menjauh dari gudang, pintu gudang kembali ditutup. Suara ruangan dikunci terdengar oleh Mei.


Tanpa di duga, air mata mengalir diwajah Mei. Tubuhnya berbaring dengan lantai dingin yang menyelimuti. Rasa kesal, marah dan putus asa bergabung menjadi satu. Dia merasa terjebak disini hingga bingung untuk melakukan sesuatu.


Mei memilih untuk tidur jika perasaannya seperti ini. matanya perlahan menutup, tetapi pendengarannya membuat dia bangun seketika.


“I-Ibu?” tanya Mei.


Ibu angkat datang membawa cambuk dipingangnya. Mei melihat hal itu seketika menjauh. Bayangan cambuk menghantam tubuh berhasil menghadirkan getaran dibenaknya.


Namun, bagaimana dia bisa menjauh. Saat ini dia berada didalam gudang, kakinya terikat hingga pergerakkannya terbatas. Ingin menjauh? Tidak bisa dia lakukan.


Sang Ibu angkat tidak menjawab apa yang Mei tanyakan. Tangan kanannya terayun dengan baik hingga hempasan cambuk mengema di dalam ruangan.


Mata Mei tertutup dengan cepat, tubuhnya meringkuh untuk menjauhkan diri dari benda yang menyiksa itu. “Ibu, hentikan! Ku mohon!” teriaknya.


Hempasan itu semakin menjadi. Teriakkannya hanya dianggap angin lalu Ibu Angkat. Mei menangis dengan suara hancur, rasa sakit menjalar hingga ke punggungnya.


“APA YANG KAMU LAKUKAN?” tanya Tuan Jakya. Dia berniat untuk melihat kondisi Mei, tetapi siapa yang menduga kalau seperti ini kejadiannya.


Mei meringkuh dilantai, sedangkan sang Istri tengah melampiaskan amarahnya. Kemarin, Mei gagal dijemput oleh Tuan Dire. Tentu saja semua merasa kesal, karena harapan mereka hanya kepada Mei. Harapan itulah yang membuat Ibu Angkat menjadi marah. Tuan Jakya menarik Istrinya menjauh dari Mei.


“Apa yang kamu lakukan suamiku? Biarkan aku melampiaskan amarahku kepadanya.” Sang Istri menatap tajam kearah orang yang telah menjadi suaminya.


Tuan Jakya menahan istrinya dengan begitu kuat. “Jangan melukainya, kamu sudah gila ya! Tuan Dire bisa membunuh kita jika buruannya rusak.”


“Tapi, dia sendiri mengatakan tidak masalah kalau kita mematahkan kakinya. Sudahlah, kamu bilang saja, kalau kamh masih menyayangi gadis ini. anak yang tidak dianggap!” wajah kesal tampak dengan jelas.


Tuan Jakya menghela nafas berulang kali untuk menenangkan dirinya. “Dengar Istriku, jangan menyakitinya. Aku tidak menyayangi gadis ini, tetapi aku sedang menjaga hubungan baik dengan Tuan Dire. Belakangan ini aku mendengar moodnya tidak baik, jika kita melakukan kesalahan. Bukannya dapat uang, kita malah mendapatkan kematian.” Jelasnya dengan perlahan.


Sang Istri tampak tenang setelah mendengar ucapan itu. dia bergegas pergi meninggalkan gudang, meninggalkan Mei yang masih terisak setelah perbuatannya.


“Dengar Mei, jadilah anak baik ... kamu akan bahagia setelah pergi dari sini. Tentu, pergi bersama Tuan Dire.” Ucap Ayah angkat yang menutup kembali pintu gudang.


Melihat kepergian Ayahnya, Mei tidak sanggup bangun. Dia tidak bisa mengerakkan kedua kaki yang terkena hempasan cambuk. Terasa olehnya, air mengalir dengan perlahan.


Mei melirik untuk mengetahui apa yang ada disana. warna indah mengalir dengan baik, bekas sayatan dari Jinto menjadi cantik karena kehadirannya.


“Ah ... indahnya.” Ucap Mei.


Hidup dalam penderitaan yang membuat hatinya mati. Apa lagi yang diharapkan olehnya? Memikirkan harapan, bayangan wajah seseorang muncul seketika.


“Mei dengar, aku tidak bisa berjanji kepadamu untuk tidak membuat mu menangis seperti pagi tadi. Tetapi, akan ku singgirkan orang yang telah menghadirkan air mata pada dirimu dan jika bisa, aku akan menghancurkan dia hingga maut menjemputnya.”


Air mata Mei mengalir seketika mengingat janji Findre kepadanya. “Findre, aku menangis sekarang. apa kamu akan memenuhi janjimu?”