
“Haru~”
Mata yang tertutup seketika terbuka, Haru melihat kearah seorang gadis mendekat kearahnya. “Eh?”
Mei memeluk Haru dengan erat, sayap hitam dengan cepat menyusut dipunggung Haru.
“Mei?” Haru menatap sekelilingnya. Seharusnya dia berada digunung milik Malaikat Penjaga Neraka.
“Haru~” sapa Mei dengan senyum yang sama. senyum yang selalu diberikan kepada dirinya.
“Apa yang kamu lakukan disini, Mei?” tanya Haru. Mei hanya tersenyum dan memeluk dirinya tanpa ingin berpisah.
Melihat tingkah orang yang dicintainya, Haru melihat didepan mereka,ada seorang Pria yang berdiri dengan wajah termenung. Tidak perlu bertanya siapa dia, Haru tahu bahwa Pria itu adalah Findre. Orang yang mengizinkannya mengambil tubuh manusia dan membawa Mei kembali.
“Apa yang terjadi?” benak Haru, tidak perlu lama menunggu jawaban. Seorang wanita datang dengan menghentikan sekelilingnya. Mei masih memeluk Haru dan Findre berdiri dengan wajah termenung.
“Penguasa menyuruhmu, Haru.” Ucap Atasannya.
Haru ingin melepaskan Mei dan menyambut kedatangan Penguasa. “Tidak apa, berdirilah Haru dan dekaplah orang yang kamu cintai.”
Tubuh Haru membeku, mendengar perkataan Penguasa. Dia tidak tahu, kalau dirinya sendiri masih mencintai seorang manusia yang bukan miliknya. dia merasa begitu bodoh hingga lupa bahwa dia adalah Malaikat yang cintanya tulus kepada Penguasa.
“Aku cemburu, Haru. Kamu mencintai dia dan sangat menyayanginya.”
Haru ingin bersujud dan meminta maaf dengan apa yang diperbuatnya. Tetapi, seluruh tubuhnya dibekukan oleh Atasan yang kini mengerahkan kekuatannya.
“Tetap peluklah dirinya, Haru.” Ucap Atasannya.
Haru dengan berat hati memeluk Mei, di dekap Mei hingga dia merasa kehangatan dihatinya.
Perasaan sedih, marah hingga hal yang tidak ada kepadanya, kini semua terasa oleh Haru. Dia melihat tubuhnya dan sayap hitam yang mulai menghilang, bulu sayapnya gugur berjatuhan.
“A-Apa yang terjadi?” tanya Haru dengan wajah panik.
“Haru, aku akan menghukummu...,”
Pandangan Haru penuh akan keterkejutan, dia menatap tidak percaya setelah mendengar apa yang Penguasa katakan.
“Kamu pasti penasaran Haru, apa dan kenapa kamu mendapatkan hukuman. Jawabnya, karena kamu berhasil mengubah takdir Mei. Seharusnya, di keindahan surga, dia bersama dengan Findre. Tetapi,”
Haru menatap Findre yang termenung, dia masih mematung karena kekuataan Atasannya.
“Kamu sudah membuat Mei mencintai dirimu. Haru, apa yang akan kamu lakukan? Jika mereka diberi kehidupan selanjutnya, apa yang akan kamu berikan kepada mereka?”
Haru diam, dia memikirkan segala yang terjadi kepadanya. Dialah yang salah, dan dia yang seharusnya bertanggung jawab. Haru mengangkat kepala dengan wajah seriusnya.
“Penguasa, Haru akan menyatukan mereka dan membuat mereka hidup bahagia.” jawab Haru.
“Bagus. Pegang apa yang kamu katakan. Haru, aku mengubahmu menjadi manusia. Gunakan kesempatan ini untuk menebus kesalahanmu. Lahirlah di jaman yang sama dan satukan pasangan ini di kelahiranmu. Dengar Haru, jika memang tidak bisa lagi bersatu, kamu berhak memutuskan segalanya.”
Haru mengangguk, dia siap menerima hukuman ini karena dia telah melakukan kesalahan. Dia tidak akan mengulanginya dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
“Haru, aku jadikan dirimu sebagai manusia dengan nama yang sama. tidak memiliki orang tua di dunia. Tugas mu adalah menyatukan kedua insan yang hampir bersama. Bimbing mereka hingga janji suci terucapkan dikedua bibir kesayanganku ini.”
“Lalu, setelah tugas mu selesai. akan ku jemput kembali dirimu dengan menjadi Malaikat Maut kesayanganku.”
Haru memejamkan matanya, tubuhnya terasa dihempas dalam gumpalan awan.
“Yang Maha Kuasa, maafkan aku yang bertanya kepadamu. Apa yang Penguasa rencanakan? Haru adalah Malaikat yang akan berada diatas kami.” Ucap Atasan Haru dengan bersujud.
“Aku sudah menciptakan kalian dan tahu seperti apa masa depan kalian. Jadi, tunggulah jawabannya. Dan latihlah Malaikat maut, penganti Haru.”
Atasan Haru terdiam, dia mengundurkan diri dan meninggalkan tempat yang tidak sembarangan orang kunjungi.
Beberapa tahun berlalu.
Seorang gadis tengah mendata buku yang ada diraknya. Dengan tangan kiri menulis pada kertas ditangan kanan. Mata hitam kecoklatan melirik setiap buku yang dilihat. Bibir merah ranum bergerak membaca apa yang tertulis, meski tidak ada suara yang keluar dari bibir itu.
Tubuhnya yang tinggi mampu meraih buku yang tidak bisa diraih oleh anak smp lainnya, mungkin karena tinggi badannya mencapai 163cm. Dia bisa meraih tempat yang tinggi.
“Meria!” teriak seseorang dengan begitu kencang. Gadis yang mendata buku seketika menghela nafas.
“Jangan berlari dan teriak seperti itu, Sasha.” Ucap Gadis bernama Meria.
Sasha yang mendengar ucapannya tersenyum. “Hehe, maaf! Oh ya, apa kamu tidak melihat media sosial?”
Meria mengeleng mendengar pertanyaan gadis yang lebih muda darinya. usia mereka hanya berjarak satu tahun, Meria berusia 19 tahun dan Sasha berusia 18 tahun.
“Memang, ada apa dengan media sosial?” tanya Meria dengan menaruh data rak di keranjang buku.
Sasha dengan cepat mengambil ponsel dan menampilkan berita yang ada dilayarnya. Meria membaca apa yang tertulis disana.
“Selamatzl, Kamu memenangkan lomba novel romantis!” ucap Sasha dengan wajah bahagia. dia memeluk Meria dengan pelukkan yang erat.
“Uhuk! Jangan memelukku seperti itu!” Meria menghela nafas setelah Sasha melepaskan pelukkannya.
“Maaf,” wajah Sasha tersenyum dengan ucapan maaf darinya. Meria mengeleng melihat tingkah teman kerjanya ini.
Meria berkerja di toko buku. Dia sangat suka menulis hingga membuat novel dan mempublishkannya. Sayang, tidak ada yang berhasil menarik perhatian para penerbit. Hingga, novel yang terakhir ini menarik perhatian dan dia memenangkan lomba yang di adakan.
Meria segera membawa tulisan tentang data rak yang hampir selesai. dia melangkah menuju keruang kasir.
“Hei! Jangan tinggalkan aku dong.” Ucap Sasha bergegas menyusul Meria.
Keduanya tiba di kasir. Meria bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Jangan bilang, kamu menghubungi tunanganmu?” tebak Sasha, wajahnya tidak senang ketika tebakkannya tepat.
Meria sudah memiliki tunangan dan tinggal satu bulan lagi. mereka akan menikah lalu tinggal bersama. Sudah lama menjalin pertunangan ini, meski Meria tidak jatuh cinta kepada tunangannya.
“Hallo,” sapa Meria ketika panggilannya terhubung. Suara balasan dengan begitu berat terdengar ditelinga.
“Hm, Aku ingin mengkabarimu.” Ucap Meria dengan lembut, Sasha yang mendengarnya memasang raut sedih.
“Aku tahu, pasti pria itu tidak akan mendengarkan perkataannya.” Guman Sasha.
Seperti dugaan Sasha, Meria yang ceria berubah menjadi bungkam. “Ah, maafkan aku yang menganggu rapatmu. Maafkan aku, kalau begitu aku akan mematikan ponselnya.” Ucap Meria dan segera matikan panggilan yang terjadi.
Sasha menatap kesal kearah lain. “Meria, apa yang kamu harapkan dari tunanganmu itu. dia saja tidak ramah dan menghargaimu. Seharusnya dia memberikan ucapan selamat.” Ucap Sasha.
Meria tersenyum kearah sahabatnya. “Dia sedang sibuk Sasha. Aku menganggu dirinya,”
“Apa yang menganggu? Kamu ‘kan tidak tahu! Cih, kalau aku jadi dirimu, aku akan meninggalkan pria arogan itu.” celetuk Sasha.
Meria yang mendengarnya mengeleng, “Findre mencintaiku, Sasha. Dia bahkan rela menungguku pulang kerja hanya untuk pulang bersama. Jadi, aku harus membalas cintanya.”
Sasha yang mendengar hal itu terdiam, dia memang tahu bahwa Findre, tunangan Meria. Pria itu rela menunggu dan pergi kedesa hanya untuk bertunangan dengan Meria. Dan satu hal yang Sasha tahu, Meria tidak mencintai Findre.
“Lalu, sampai kapan kamu akan membalas cintanya. Hatimu saja tidak bisa di masuki, bagaimana membalas cinta itu? jangan katakan kalau kamu akan menikah tanpa cinta, pernikahan seperti itu akan menyakitimu.”
Meria mengangguk. “Terima kasih Sasha. Tenang saja, aku yakin. Penguasa akan memberikan takdir yang lebih dari harapanku.” Ucap Meria dengan ramah dan lembut.
Sasha mengangguk. “Oke, lupakan apa yang terjadi. Lebih baik kita rayakan kemenangan novelmu. Novel ‘Malaikat Mei’ telah diterbitkan, Yeeeyyyy!”
Meria tersenyum dan memeluk temannya. Novel yang dia buat berasal dari dalam mimpi. Meria tidak tahu apa maksud dari mimpi itu, tapi dia bisa merasakan kalau mimpi itu tentang dirinya. Tentang kehidupan yang membuatnya jatuh cinta pada seorang Malaikat Maut.