
Dua hari berlalu dengan cepat. Di kediaman keluarga Mia saat ini tengah tegang karena kehadiran Tuan Dire.
Pagi hari biasanya di awali dengan kebahagiaan bersama keluarga, tetapi bagi keluarga Mia tidak ada kebahagiaan jika ada tamu yang sangat istimewa tiba di rumah mereka.
“Silahkan di nikmati tehnya Tuan.” Ucap Ibu Mia dengan meletakkan cangkir berisi teh hangat.
Tuan Dire mengangguk pelan. “Terima kasih, kita langsung ke intinya saja ya. Aku tidak suka berbasa basi.” Ucap Tuan Dire dengan tangan bertaut di lutut.
Semua tahu apa alasan Tuan Dire tiba di sini. Kekhawatir mereka pendam masing-masing, pikiran sebisa mungkin bekerja untuk mencari sebuah alasan.
Mia dan Roy tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Mei ada didepan mata, bahkan Mia sempat bersitatap dengan Kakak angkatnya itu. tetapi, Mia tidak bisa menangkap bahkan membawa Mei kembali.
“Aku tidak bisa Ibu, saat melihat Mei ... aku merasa seseorang mengawasiku hingga aku menjadi takut.”
Jawaban Mia ketika di tanya kenapa tidak menangkap Mei. Berbeda dengan sang Adik, Roy mengatakan hal lain. “Ada seseorang di sampingnya, aku tidak mengenal orang itu. tetapi, tatapannya membuat nyawaku terancam.” Jawab Roy dengan memeluk tubuhnya.
Semenjak dua anak mereka yang tidak bisa membawa Mei kembali, membuat Ibu dan Ayah Mia frustasi. Mereka semua tahu bahwa akan ada saatnya Tuan Dire kembali dan meminta Mei secepat mungkin.
Dan siapa yang menduga, hari ini Tuan Dire datang dengan beberapa pengawal di sampingnya. Semua berusaha payah menelan silva mereka.
“I-iya ... silahkan Tuan Dire, apa yang ingin anda bicarakan?” ucap Tuan Jakya dengan keringat dingin di wajahnya.
“Tuan Jakya, aku rasa sulit menunggu lama untuk Mei ini. apa bisa kamu mempertemukan aku dengannya?” tanya Tuan Dire dengan senyum yang sangat manis, tetapi di mata keluarga Mia, senyuman itu menakutkan.
“Em, begini Tuan Dire ... ada beberapa hal yang telah ter-,”
Tuan Dire menghentikan jawaban Ibu Mia. “Aku tahu, Mei saat ini tidak ada disini bukan?” tebak Tuan Dire.
Semua mematung seketika mendengar tebakkan Tuan Dire, Masing-masing dari mereka menahan nafas seakan takut untuk menghembuskannya.
“Ah itu-,” Tuan Jakya berhenti berucap ketika melihat Tuan Dire memandang datar kearahnya.
“Maaf Tuan Dire, memang benar Mei tidak ada bersama kami. Kami bukan bermaksud untuk menyuruhnya pergi. dia yang pergi-,”
“Pergi karena menolak perjodohan ini, apa kalian memaksa dirinya?” tanya Tuan Dire. Dia memotong ucapan Ibu Mia yang menjelaskan sebuah alasan.
Semua bungkam dengan kepala menunduk. Tidak ada jawaban yang terdengar di telinga Tuan Dire.
“Baiklah, tidak perlu dibahas apa dia terpaksa atau sebaliknya. Yang ku inginkan, Mei menikah denganku...,” ucap Tuan Dire dengan santai meneguk teh hangat.
“Kalian cari dirinya, aku akan menunggu hingga tiga hari. Lakukan yang terbaik, jika ia kabur patahkan saja kakinya. Yang ku perlukan hanya rahim gadis itu, jadi jangan merusak tempat untuk penerusku.” Jelas Tuan Dire.
Bagai kembang api yang memancarkan kebahagiaan. Semua keluarga Mia tersenyum dengan mengangguk bersama-sama.
“Te-tentu, kami akan membawa Mei kepadamu, Tuan Dire.” Ucap Tuan Jakya dengan pancaran semangat dimata.
Tuan Dire tersenyum , “Baiklah, ini nomor ponselku ... jika sudah menangkapnya hubungiku.”
Pengawal yang ada di sisi kanan Tuan Dire menyerahkan kartu kecil berisi nama dan nomor Tuan Dire. Ayah Mia mengangguk menyambut kartu pengenal itu.
“Baiklah, kalau begitu aku izin pamit. tidak enak di pagi buta sudah datang bertamu disini. Untuk anak muda, nikmati waktu sekolah kalian, jadi dewasa itu menyedihkan.”
Mia dan Roy hanya mengangguk mendengar ucapan Tuan Dire. Kepergian Tuan Dire membuat semua keluarga berkumpul di ruang tamu.
Sang Ibu melirik kedua anaknya yang ingin berangkat ke sekolah. “Aku tidak tahu apa yang kalian alami waktu itu, Mia, Roy. Tetapi, kalian sebisa mungkin untuk menangkap Mei. Kita harus mendapatkan uang dari hasil merawat anak sampah itu.”
Mia dan Roy mengangguk mendengar penjelasan sang Ibu. mereka berdua berangkat ke sekolah bersama-sama, keduanya saling berpikir bagaimana cara menangkap Mei.
...°°°...
Di sekolah yang tenang dengan embun pagi. Mei berhenti melangkah di gerbang, Findre akan meninggalkan dirinya jika mereka tiba di sekolah.
Usapan lembut dengan ciuman singkat di keningnya, Findre pergi entah kemana. Yang tersisa hanya kehangatan dari sang kekasih yang membekas padanya.
“Dua hari kah? Tidak, ini hari ketiga .... kapan kah waktu itu tiba.” Ucap Mei, dia mengingat janji yang Findre berikan kepadanya di depan air mancur.
Mengingat momen itu, senyum terukir di bibir. Mei tidak menyadari seseorang ada dibelakangnya hingga tepukkan kecil di punggung Mei.
“Woi Mei, melamun dengan senyum di tengah jalan itu berbahaya loh, entar di kira orang gila lagi.” ucap Lestari dengan senyum manis.
Mei merasa jantungnya hampir meledak dengan Lestari yang tiba-tiba ada menepuk punggungnya. “Tolong jangan mengejutkanku!” tegur Mei.
Lestari hanya tertawa mendengar teguran Mei. Melihat sahabatnya seperti itu, Mei hanya bisa mengelengkan kepalanya.
“Hai Mei!” sapa Fandri di samping Lestari. Mei mengangguk untuk menjawab sapaan dari tunangan sahabatnya.
“Oh ya, Putri dimana?” tanya Mei menatap kearah Lestari.
Sebelum mendapat jawaban dari Lestari, Mei sudah di kejutkan dengan Putri yang ada berdiri disamping.
“Buu!” Ucap Putri dengan topeng monster di wajah.
Mei memandang datar kearah sahabatnya. Putri yang melihat Mei tidak terpengaruh, membuka topengnya.
“Kamu engak terkejut Mei?” tanya Putri.
Mei menghela nafas dengan perlahan. “Aku terkejut, hingga tidak bisa berkata apa-apa melihat tingkah aneh mu ini.” jawab Mei dengan mengeleng kepala.
Lestari tertawa mendengar jawaban Mei. “Oh, tidak biasanya Mei sampai berkata demikian. Pasti ada yang membuat Mei berubah nih.” Ledek Lestari.
Putri menatap tajam mendengar apa yang Lestari ucapkan. “Ku rasa juga begitu, Pasti telah terjadi sesuatu!” mata Putri intes menatap Mei.
Mei jadi kelagapan melihat tingkah sahabatnya, hingga dia tersandung dengan menubruk tubuh seseorang.
“Fandra!” ucap Putri tiba-tiba.
Mei menatap kearah Fandra yang merupakan mantan kekasih Mia dan sekarang menjadi tunangan Putri.
Fandra yang di panggil hanya memandang datar, lirikkan matanya terarah pada Mei hingga tiba-tiba mengenggam tangan Mei secara paksa.
“Mei, dia tidak ada disini?” tanya Fandra.
“Hah? Dia siapa?” tanya Mei kembali.