Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP : Ekstra (Haru)



Meria diam dikasir, dia melamun mengingat perkataan Findre kepadanya. Dia tahu, bahwa Findre sudah mengetahui perasaannya.


Hubungan yang dijalani tanpa cinta terasa sulit, apa lagi cinta sepihak. Meria merasa kasihan dengan Findre. Dia juga ingin menghentikan pertunangan itu, tapi bagaimana caranya?


“Hei, Meria!”


Meria semakin bingung dengan pikirannya sendiri, dia bahkan tidak sadar seseorang sedang memanggilnya.


“Meria!” ucap Sasha dengan memukul meja kasir.


Meria yang mendengar suara pukulan segera sadar dan melihat Sasha yang menompang dagunya. “A-ada apa?” tanya Meria.


“Kamu dari tadi termenung, jika terjadi sesuatu katakan kepadaku, jangan memendamnya. Lalu, konsentrasilah, sekarang kita sedang berkerja.” Jawab Sasha sambil membawa beberapa buku ditangannya.


Meria mengangguk dengan cepat, dia bergegas melakukan pekerjaannya. Ada buku baru yang masuk hari ini dan salah satu dari buku itu, ada karya Meria disana.


Meria menatap buku yang telah publish dengan banyak pengemar yang menyukainya. Cerita seorang gadis berusia 16 tahun yang menyukai malaikat maut.


“Mencintai, kenapa begitu sulit untukku saat ini.” benak Meria.


Setelah semua pekerjaan selesai, Meria dan Sasha melangkah menuju ke cafe terdekat.


“Aku ingin larva cake dan coksu(coklat susu) dingin.” Ucap Sasha.


Meria ikut memesan menu yang sama. mereka duduk di salah satu meja dengan sama-sama melepaskan rasa penat.


“Ada apa denganmu hari ini, Meria? Apa kamu sedang banyak pikiran?” tanya Sasha.


Meria menatap kearah teman kerjanya. “Tidak, hanya ada beberapa hal yang mengangguku. Sasha, apa aku harus membatalkan pernikahan dengan Findre?” tanyanya.


Sasha mengerutkan alisnya, setelah mendengar apa yang di tanyakan oleh Meria. “Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu, kapan kamu akan menerima Findre? Lelaki itu memang cuek, tapi perhatiannya kepadamu sangat luar biasa hingga orang lain iri kepada kalian. Hanya, semua itu ada kepadamu Meria. Kamu tampak menerima tanpa memberi cinta.”


Sasha mengenggam tangan Meria. “Saranku, putuskan semuanya sebelum kalian menikah. Cinta bisa hadir bahkan setelah menikah, tapi kasus kalian berdua berbeda. Kalian sudah bersama, hanya hadirnya cinta begitu sulit. Seperti ada penghalang diantara kalian.”


Meria mengangguk, dia memahami apa yang Sasha katakan, tidak mungkin hampir satu tahun bertunangan, dia tidak bisa mencintai Findre. Pasti, ada hal yang menganggu dihatinya.


Hidangan tiba dengan cepat, keduanya segera menghabiskan makan siang mereka dan kembali ke toko buku.


Setiba disana, mereka berdua terkejut melihat seorang pria yang berdiri disamping kasir.


“Kenapa dia disini?” tanya Sasha dengan menatap kearah Meria.


Meria mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu.”


Meria dan Sasha melangkah mendekat ke kasir bersama-sama.


“Selamat siang.” Sapa Pria yang tidak lain adalah Haru. Sasha dan Meria mengangguk bersama.


“Ada yang bisa dibantu?” tanya Sasha. Haru mengeleng dengan cepat. “Kedatanganku kesini untuk berbicara dengan Meria.” Ucapnya.


Sasha melirik Meria yang menatap bingung dengan situasi sekarang. “Kalau begitu, kalian bisa bicara di ruang loker.”


Meria mengangguk mendapatkan izin Sasha, karena tugas menjaga kasir masih menjadi miliknya. “Terima Kasih, Sasha.”


Sasha mengangguk dan tersenyum dengan tepukkan hangat di bahu Meria.


“Mari,” Meria mengajak pria yang baru dikenalnya kemarin. Mereka melangkah menuju keruang loker yang tempatnya lumayan jauh.


Selama perjalanan, Meria merasakan kedekatan yang tidak bisa dijelaskan. Dia seketika mengingat sesuatu dalam bayangan kabut.


Didalam ingatannya, Meria melihat seseorang memeluknya dan memberikan kecupan singkat dikening.


Dengan gelengan kepala, Meria mempertahankan pikiran anehnya. “Apa yang aku lihat barusan?” benak Meria.


Setiba di loker, keduanya berdiri dengan saling menjaga pandangan. “Jadi, apa yang membuat anda kemari?” tanya Meria.


Meria mengeleng kepala. “Sebenarnya, ada seseorang yang ikut campur dalam hubungan ini membuatku engan untuk mengatakan apa yang ku rasa. Tapi, kamu adalah teman baik Findre. Jadi, tidak masalah untukku.”


Meria melangkah menuju kearah cermin yang ada di setiap pintu loker. “Aku dan Findre sudah bertunangan begitu lama. Findre telah mengajakku menikah berkali-kali tapi aku menolaknya dengan alasan tidak ada cinta didalam hatiku. Sampai sekarang pun aku tidak memilikinya. Entah apa yang terjadi kepadaku ini.”


“Cinta bisa hadir dimanapun dan kapanpun. Setidaknya, terima kehadirannya di sisimu.” Ucap Haru dengan memotong perkataan Meria.


Meria mengangguk, dia tidak marah melihat seorang yang berani memotong ucapannya. “Apa kamu pernah percaya dengan takdir?” tanyanya.


Haru mengangguk dengan antusias. “Aku selalu percaya dengan takdir.”


“Maka, kamu akan tahu, ada takdir yang tidak menyatukan dua insan dan ada takdir yang menyatukan dua insan itu. Yang penting, keduanya di takdirkan bersama. Haru, aku penasaran kepadamu. Siapa kamu?” tanya Meria.


Haru terteguh mendengar apa yang dikatakan oleh Wanita didepannya. “A-Apa maksudmu?”


“Aku merasa, kita pernah bertemu. Dan hatiku bahagia melihat kedatanganmu. Haru, apa aku pernah mencintaimu?” Tanya Meria, diliatnya reaksi Haru yang penuh keterkejutan.


“Sudahlah, sepertinya hanya itu yang ingin kamu katakan. Haru, aku mengambil keputusan, kalau aku akan menikahi Findre dan belajar mencintainya.” Ucap Meria kembali. Dia melangkah keluar meninggalkan Pria yang menatap kearahnya.


...°°°...


Berbaring di tempat tidur dengan pikiran yang berjalan. Haru menatap langit-langit kamarnya. Sudah hampir selesai tugas yang diterima, tetapi hatinya semakin menderita.


“Huh~ apa yang Penguasa rencanakan?” benak Haru. Memori tentang dirinya yang menjadi malaikat tidak terhapuskan. Meski, seluruh kekuatannya menghilang.


“Meria, dia pasti reinkarnasi Mei. Kenapa aku begitu merindukannya.” Guman Haru, dia menatap kearah jendela yang memperlihatkan indahnya hari.


Setelah ini, dia akan menemui Findre dan membuat keteguhan di hati pria itu.


Haru lah yang membuat Findre mengejar Meria, Haru juga yang memberikan Findre pelajaran bagaimana memberikan perhatian kepada Meria, dan Haru juga yang menyuruh Findre untuk selalu mengajak Meria menikah.


Namun, siapa yang menduga, Meria malah semakin menutup hatinya. “Aku tidak tahu lagi, kenapa gadis itu bisa mengatakan hal yang mengejutkan.”


“Bagaimana dia bisa menebak hal yang sebenarnya.” Haru mengingatkan perkataan Meria kepadanya.


Haru, apa aku pernah mencintaimu?


Helaan nafas kembali berhembus, Haru menutup matanya. “Meria, apa kamu mengingat kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu?” guman Haru.


...°°°...


Di sebuah cafe, Findre menatap kearah seketaris kantornya.


“Ada apa Haru? Kamu mengajakku kesini karena ingin berbicara sesuatu?” tanya Findre.


Haru mengangguk dengan cepat. Findre yang melihat anggukkan itu mengubah posisi bersantai. “Baiklah, katakan apa yang ingin kau bicarakan.”


“Findre, apa kamu mencintai Haru?” tanya Haru.


Findre dengan lekas menjawab. “Bukan kah kamu yang selalu menuntun diriku untuk menikahinya. Aku bahkan memberanikan diri mencium seorang gadis untuk pertama kali. Haru, aku mencintainya, tapi ... perasaan itu semakin pudar.”


“Findre, jangan seperti ...,”


“Aku tahu, aku juga tidak ingin putus asa dan menyerah. Bagaimana pun, wanita pertama yang ku cintai adalah Meria. Jadi, aku masih memiliki cinta hingga aku ingin menikahinya segera.” Ucap Findre memotong perkataan Haru.


“Syukurlah, kamu masih mencintainya. Tenang saja, Meria akan mencintaimu.” Ucap Haru.


Findre mengangguk. “ Mencintai ‘kah?” gumannya.


Mereka mengubah pembicaraan dengan urusan kantor. Setelah semua pembahasan selesai, keduanya saling berpisah di perempatan jalan.


“Terima kasih sudah mentraktirku, Haru.” Ucap Findre. Haru mengangguk dan melambaikan tangan untuk salam perpisahan.


Kepergian Haru membuat Findre memandang datar. Dia menatap punggung teman yang selalu ada untuknya. “Kamu berbohong, Haru!”