Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 17:,Aku lupa



Mei menatap kearah punggung Findre, rasa khawatir dihati Mei belum bisa ditenangkan. Saat mereka berdua bangun, sarapan bersama hingga berangkat kesekolah, tidak ada pembicaraan aneh yang terdengar ditelinga Mei, hanya hatinya yang masih gelisah.


“Apa yang dimaksud oleh Findre, semalam?” benak Mei melangkah dengan perlahan.


Pagi yang dihiasi dengan burung-burung bernyanyi disekitar mereka. Mei menatap Findre yang berhenti tepat saat mereka masuki gerbang sekolah.


“Mei, aku izin pamit.” ucap Findre dengan memberi belaian lembut dikepalanya.


Mei hanya diam ditempat, ia tidak menghentikan Findre yang meninggalkannya. Matanya melirik hingga panggilan seseorang mengambil alih pandangannya.


“MEI!” teriak Lestari dan Putri yang keluar dari mobil mereka masing-masing.


“Ah, Lestari, Putri...Apa kabar?” Mei bertanya dengan senyum yang terukir dibibir.


“Baik.” Jawab Putri dengan merangkul Mei. Rangkulan itu tidak bertahan lama, karena Pengawal Putri langsung menjaga jarak untuk mereka.


“Hei!” pekik Putri, wajahnya tidak senang dengan tingkah pengawal yang ada. Mei memberi gelengan agar Putri tidak bertindak yang bukan-bukan, Mei tidak ingin sahabatnya terkena masalah.


“Sudahlah Pak, kami juga disekolah...Ayo Putri, Mei,kita masuk kedalam kelas!” Lestari menarik Putri dan Mei masuk kedalam halaman sekolah, mereka meninggalkan empat pengawal yang ada, dua pengawal Putri dan dua pengawal lainnya milik Lestari.


Tiba didalam kelas, Mei melihat para murid yang fokus dengan ponsel pintar mereka. perhatian Mei terarah pada gadis yang duduk tidak jauh dari kursinya.


“Mia?” benak Mei, hatinya berdesir dengan cepat. Ia menjauhkan pandangan dengan melihat Lestari dan Putri duduk disamping mejanya.


“Mei, ada apa dengan kakimu?” tanya Lestari. Mei terteguh hingga menyembunyikan kakinya. “Aku sudah memperhatikan langkahmu saat kita masuk ke kelas. Apa terjadi sesuatu?”


Mei mengeleng. “Ah tidak, aku hanya terjatuh dihalaman.” Jawab Mei dengan sangat sungguh-sungguh.


Kedua sahabatnya mengangguk. “Oke, hari ini kita engak akan belajar deh, soalnya tidak lama lagi akan ada ujian, benar engak Tari?” Putri menatap kearah Lestari yang memainkan ponsel pintarnya.


“Hm...” Lestari menjawab dengan deheman dan kembali fokus menatap ponsel ditangan.


Mei dan Putri saling bertatap melihat tingkah Lestari yang tidak banyak bicara. “Ada apa dengannya?” tanya Mei, Putri menjawab dengan gelengan kepala.


“Oh ya, Putri...kamu benar-benar bertunangan dengan siapa itu, aku lupa namanya...hm,” Mei mengerutkan alisnya, berusaha untuk mengingat siapa tunangan Putri.


“Maksudmu Fandra?” tanya Putri dengan wajah cueknya. Mei mengangguk seketika, ia merasa bahagia melihat sahabatnya mendapatkan kekasih.


“Nah benar, aku tidak menduga, kalian masih muda sudah bertunangan.” Ucap Mei.


Putri mengelengkan kepalanya. “Mei, aku tidak menyetujui pertunangan itu, kamu tahu bukan...jaman sekarang engak ada yang mau bertunangan seperti orang kuno aja, aku lebih memilih mencari jodohku sendiri...” celetuk Putri dengan menghela nafas panjang.


“Kamu benar sih, tapi tidak ada yang tahu jodoh kan?” Mei kembali menatap Putri yang menghela nafas kembali.


“Mei dengar, Orang itu sudah punya banyak kekasih, jika saja pengawal tidak ada disampingku, aku yakin sih...muka ku sudah dipenuhi tepung,” Putri berucap dengan wajah serius didepan Mei, bahkan jarak wajah mereka sangat dekat, hingga Mei memundurkan tubuhnya dengan dadakkan.


“Tepung?” kaget Mei.


Helaan nafas kembali dikeluarkan oleh Putri. “Mei, kamu tahu bukan, dia Tuan muda Altha, banyak gadis yang mencintainya, dan lagi!...” Putri kembali mendekati Mei.


Mei melihat tingkah sahabatnya, berkedip dengan cepat. “Apa?” tanya Mei.


Putri menjauhkan tubuhnya. “Pria itu sangat manja, ia bahkan memintaku untuk mengandeng tangannya, tolonglah...selama ini tidak ada yang pernah ku genggam tangannya, selain kalian...”


Mei tersenyum mendengar penjelasan Putri, ia yakin sahabatnya sudah jatuh cinta dengan Tunangannya sendiri. hanya saja, tidak ada yang mengetahuinya, bahkan Putri sekalipun.


“Hei, kalian bicara engak ajak-ajak ya,” Lestari memasang wajah cemberut menatap Putri dan Mei.


“Eh, kamu sendiri sibuk dengan ponsel pintarmu itu, sudah selingkuh saja bersama ponsel, jangan bersama kami.” Putri memasang wajah marah yang dibuat-buat.


Mei tertawa melihat kedua sahabatnya yang saling bertengkar dengan gaya mereka masing-masing.


“Hah~ hari ini Nyokapku ada di rumah, aku yakin mereka pasti akan memintaku menghadiri pesta yang membosankan...” Lestari meringkuh lelah, Ia menyembunyikan kepalanya dengan menghadap ke meja.


Putri dan Mei saling melirik kembali. “Apa terjadi sesuatu?” tanya Mei.


Ucapan Lestari terhenti dengan seseorang yang mengrebek meja Mei.


“Permisi, aku ingin berbicara dengan Mei.” Ucap Mia menarik tangan Mei dengan cepat.


Mei tidak bisa menolak ketika tubuhnya ditarik dadakkan. Ia menatap kaget dengan tingkah Mia yang kini menarik tangannya.


Saat tiba di pintu, Mei berhenti melangkah karena tangannya yang lain ditarik oleh Lestari. “Apa yang ingin kamu lakukan Mia?” Lestari bertanya dengan wajah permusuhan yang membuat seluruh murid menatap kearah mereka.


Mei merasa perasaan yang sama, ia kembali menjadi inti permasalah yang ada didalam kelas.


“Tolong jangan membuat keributan, kelas kita akan dicap buruk! Hari ini sekolah melakukan penilaian kelas!” ucap wakil ketua kelas yang berdiri dihadapan Mei.


Mei ingin mengatakan sesuatu, sayangnya Mia berucap terlebih dahulu.


“Aku ada urusan dengan Kakakku ini, yang membuat masalah itu Dia!” Mia menunjuk wajah Lestari.


Semua yang melihatnya terteguh, mereka saling berbisik melihat keributan yang terjadi.


“Berani banget Mia menunjuk Nona Muda Lestari, apa dia lupa, Lestari adalah putri keluarga Berlian.”


“Sepertinya dia memang melupakan hal itu, gadis gila.”


Bisikkan murid-murid tetap terdengar ditelinga semua orang. Apa lagi Mia yang menunjukkan wajah tidak sukanya.


“Ka-,” Mia ingin kembali berucap, tetapi seorang Murid lelaki masuk tiba-tiba dengan wajah paniknya.


“Semua! Lihat kearah jendela!” ucap sang Murid.


Mendengar ucapannya, semua langsung mendekati jendela dan menatap apa yang terjadi, Mia yang menahan Mei juga ikutan melihat kearah jendela.


“Hei, apa yang terjadi dengan Jimto?”


“Tubuhnya bertato...”


“Menurutku tidak, kamu tidak melihat darah ditubuhnya itu.”


Mendengar nama Jimto, perasaan khawatir dan gelisah kembali dihati Mei. Ia dengan cepat mendekati Jendela,sayangnya seseorang menarik tubuh Mei dan membawanya pergi tanpa sepengetahuan semua orang.


“Eh, Findre!” Mei menatap kearah sang kekasih yang telah mengendongnya. Mei dibawa keatas gedung yang jarang dikunjungi para murid.


“Aku sudah memperingatkanmu untuk berada dikelas,” ucap Findre menurunkan Mei.


“Aku berada dikelas, kamu yang malah membuatku keluar dari sana.” Mei mengerutkan alis, Ia duduk dengan meluruskan kakinya.


Findre dengan cepat duduk disamping Mei, lalu berbaring dipangkuan sang kekasih.


“Apa yang kamu lakukan kepada Jimto?” tanya Mei mengusap kepala Findre.


Findre membuka matanya, dengan perlahan ia menatap kearah Mei. “Aku hanya membalas apa yang Dia lakukan.” Jawab Findre dengan membalikan tubuhnya, kini pandangan Findre terarah keperut Mei.


Mei mengangkat pandangannya menatap indahnya langit yang dihiasi gumpalan awan. “Findre, jangan membalas apa yang mereka lakukan, ada alasan mereka melakukan itu semua. Tidak mungkin-,”


“Aku tidak perduli! Mei, kamu kekasihku, aku tidak ingin barangku disentuh oleh siapapun, dan aku tidak ingin ada yang menyakitimu selain diriku. Ingat itu!” Findre memotong ucapan Mei, ia bangun dengan cepat dan melangkah meninggalkan sang kekasih.


“Findre, tunggu! Maafkan aku membuatmu marah, Findre!” Mei mengejar langkah sang kekasih yang mulai menjauh darinya.


“Ah~ aku lupa, diakan suka membunuh orang. Mei, jangan tertipu dengan keromantisannya.” Guman Mei mengejar Findre.


Mei turun tangga dengan cepat, ia melirik kekanan dan kekiri, mencari keberadaan sang kekasih. “Dia melangkah kemana?” guman Mei.


Mei ingin kembali melangkah untuk mencari snag kekasih. Tetapi, seseorang berdiri didepannya dengan pandangan serius.


“Roy?”