
Kepergian Mei membuat semua sadar dari kebengongan mereka. sang Ibu bergegas mendekati Putranya.
“Roy, katakan kepada Ibu. apa kamu benar-benar mencintai gadis itu?” tanya Ibu mereka dengan pandangan serius.
Mia bergegas mendekati Ibu dan Kakaknya. “Ibu, kakak Roy tidak mungkin mencintai gadis itu.” ucap Mia.
Sang Ibu menatap tajam kearah Putra mereka, rasa benci tampak dimatanya. Ketidak sukaan sangat jelas terlihat. Tidak ada yang menginginkan Mei berada disekeliling mereka.
“Tidak Mia, Aku memang pernah mencintainya.” Ucap Roy dengan wajah tenang. Tidak ada keraguan dari ucapan yang Roy berikan, semua yang mendengarnya tercenga.
Sang Ibu bergegas menarik kaos putranya. “Dengar Roy, buang cintamu itu sekarang juga. Karena mu, gadis itu pergi.”
Roy mengangguk mendengar apa yang Ibunya sampaikan. “Iya Bu, aku sudah membuang cinta itu semenjak tahu siapa dirinya.”
Mia menatap wajah sang Kakak, dia tahu bahwa Kakaknya diam-diam menyukai Mei. Mia sudah lama mengetahui hal ini.
Saat itu, mereka baru saja berkenalan dengan Mei. Roy tampak begitu malu berkenalan dengan kakak angkat mereka. perkenalan yang membawa rasa suka di hati Kakaknya.
Mia tidak bisa melupakan momen itu, dia bahkan melihat Roy begitu bahagia jika bersama Mei. Hingga waktu menyadarkan segalanya. Mei di jadikan pembantu di rumah ini, lalu setiap harinya Mei akan mendapatkan hukuman dari sang Ibu.
Roy yang memiliki sikap sama seperti Ibu Mereka, ikut membenci Mei hingga cintanya perlahan menghilang. Tetapi, cinta tetaplah cinta. Seberapa jauh kamu menutupinya, cinta itu akan hadir tanpa sadar.
Mia tidak menduga, Kakaknya nekat hingga ingin membawa Mei kabur. “Aku tidak tahu apa yang Kakak suka dari gadis itu.” benak Mia.
Ayah Jakya melangkah mendekati Putranya, ditepuk pundak sang putra dengan perlahan. “Dengar Roy, banyak wanita yang bisa kamu miliki. Mei bukan gadis yang pantas mendapatkan cintamu, mengerti?”
Roy mengangguk. “Iya ayah, Roy mengerti. Maaf karena aku, Dia berhasil kabur.” Kepala Roy menunduk, dia merasa bersalah karena telah lemah menghadapi Mei.
Roy akui, saat pertama kali bertemu Mei. Wajah gadis berusia 14 tahun sangat cantik baginya. Dia bahkan jatuh cinta dalam pandangan pertama saat itu. tetapi, semenjak Ibunya menyakiti Mei, rasa cinta itu berubah menjadi kebencian.
Sekarang, entah bagaimana kebencian yang tertanam selama 2 tahun menghilang. Rasa cinta muncul dalam dirinya ketika tahu Mei memiliki seorang pria asing. Mengingat Pria asing itu, Roy menatap kearah lain dengan perasaan cemburu.
“Siapa lelaki itu, dia juga tiba disini. Aku tidak mengenalnya sama sekali.” Benak Roy.
Ayah Jakya bergegas keluar untuk melihat keadaan, akan bahaya jika tetangga tahu apa yang terjadi. Tuan Dire akan menghancurkan mereka jika tahu kejadian ini.
“Roy, Mia. Sebisa mungkin kalian mencari Mei, kita tidak tahu kapan Tuan Dire datang ke sini.” Ucap Ayah Jakya.
Roy dan Mia mengangguk bersama mendengar apa yang Ayah mereka katakan.
...°°°...
Mei bangun ketika merasa tubuhnya berbaring di tempat yang lembut dan nyaman. Dia membuka mata melihat sekelilingnya. Kamar yang selalu menjadi tempat tidur untuk dia dan sang kekasih.
“Fi-Findre?” Mei berusaha untuk mengerakkan kaki yang terluka. Rasa sakit menjalar dengan cepat ketika dia mengangkat kakinya.
“Ugh! Kenapa sakitnya begitu mengerikan?” benak Mei. Mengingat saat masih tinggal bersama keluarga angkatnya, dia tidak akan merasakan rasa sakit seperti ini. setiap hari di cambuk dan mendapatkan pukulan keras, Mei masih bisa bergerak dan mengerjakan sesuatu dengan santai.
Sekarang, tubuh Mei sangat lemah. Terkena luka sedikit saja, dia perlu beristirahat hingga tidak ada rasa sakit dari lukanya.
Mei melihat Findre dengan mata terkejut. Selama tinggal bersama sang kekasih, Mei sebisa mungkin menjaga jarak agar mereka tidak seperti ini.
Findre keluar dengan bertelanjang dada, dia mengenakan celana santai dan melangkah mendekat sambil mengeringkan rambutnya.
“Kalau sudah bangun, makan malam lah. Setelah itu, tidur!” ucapnya dengan santai.
Mei memalingkan wajahnya dengan cepat, wajahnya memerah melihat apa yang tidak pernah dilihatnya. “Hm.”
Findre melangkah menuju ruang ganti, karena disana seluruh pakaian berada. Tentu, pakaian Mei juga tersimpan disana. mereka seakan tinggal berdua dan sudah terbiasa dengan semua ini.
Mei mengambil bubur yang di masak oleh Findre. Di santap bubur itu dengan perlahan hingga sisa setengah mangkuk.
Findre keluar dari ruang pakaian, di lihatnya Mei memangku mangkuk berisi bubur. “Sudah kenyang?” tanya Findre.
Mei mengeleng. “Ku rasa belum.” Jawab Mei. Dia menyentuh perutnya, tiga hari tidak makan membuatnya lapar. Tetapi, entah kenapa rasa laparnya menghilang setelah menyantap bubur buatan Findre.
“Jika ingin tambah, katakan saja Mei.” Ucap Findre. Dia duduk tempat di bagian kaki sang kekasih.
Kaki Mei diangkat perlahan, di letakkan pada paha Findre. Perlahan dengan kehati-hatian, Findre mengobati luka cambuk yang Mei dapatkan.
“Lagi-lagi kamu terluka. Maaf aku terlambat datang.” Findre fokus mengoleskan obat di sekitar luka Mei.
Melihat keseriusan sang kekasih, Mei menyodorkan sesendok bubur kearahnya. “Makan?”
Findre menatap Mei dengan pandangan datar, tidak ada raut terkejut atau menolak. Bahkan Mei mendapati sang Kekasih makan dari suapannya.
“Ingin tambah?” tanya Findre. Mei mengangguk, mangkuk di tangannya segera Findre ambil dan membawa ke luar kamar.
Mei tidak lama menunggu kekasihnya kembali. Dia melihat Findre datang bersama air hangat di sana. Senyum Mei terukir ketika tahu bahwa sang kekasih juga ingin makan bersama. Porsi bubur itu bertambah banyak dari sebelumnya.
“Kita makan bersama, Findre?” tanya Mei.
Findre mengangguk dan kembali mengoleskan luka di kaki Mei. Malam yang sunyi tidak membuat mereka kesepian. Justru disuasana inilah, Mei merasakan kehangatan bersama kekasihnya.
Setelah makan malam dalam satu mangku bersama. Mei berbaring dengan Findre memeluknya. Pelukkan itu sangat hangat, bahkan Mei merasa tubuh Findre memiliki kehangatan yang tidak terkira.
Mei mendekatkan kepalanya tepat di jakun sang kekasih, di hirupnya perlahan aroma tubuh kekasihnya. Rasa ketakutan di gudang perlahan terlupakan oleh Mei.
“Jangan banyak bergerak, tidurlah!” ucap Findre dengan menutup mata Mei mengunakan tangannya. Satu ciuman mendarat di kepala dengan begitu lama.
Mei merasa kerinduan Findre mengalir di balik ciumannya. Dia memejamkan mata dengan cepat. Tidurnya belum terlalu larut, dia mendengar sang kekasih berbisik kepadanya.
“Mei, apakah aku bisa melakukannya?”
“Melakukan? Melakukan apa?” benak Mei. Rasa kantuk yang sangat kuat membuat Mei melupakan apa yang didengarnya, dia dengan pulas tidur dalam pelukkan sang kekasih.